Vlador Angin berhembus kuat. Suhu dinginnya seperti pisau yang menusuk tulang-tulang dan mengikis kulit, namun hal itu tidak memengaruhi Vlador. Ia berdiri diam di atap tertinggi kapal. Matanya memandang ujung lautan, namun pikirannya sedang berkelana di dalam kekalutannya sendiri. Akhir-akhir ini Vlador minum dengan baik. Mungkin Triana tidak menyadarinya karena ia bersembunyi seperti kalelawar di malam gelap, namun ia telah meminum darah secara rutin untuk mencegah rasa hausnya timbul. Hanya saja ada hal yang tidak ia mengerti - rasa haus itu terus muncul dan terasa semakin kuat saat ia berada di dekat Triana. Apakah sisa kutukan itu masih ada di dalam dirinya? Suara pintu yang tertutup keras hingga terdengar seperti suara bantingan membuat Vlador menoleh ke bawah. Seorang pria berpakaian tebal muncul sambil menarik sebuah barel, lalu menuangkan isinya ke laut lepas. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, Vlador perlahan turun menuju dek kapal. Ia berdir...
Triana. Air mata menggenangi kedua iris birunya. Triana terus menahan agar air mata itu tidak terjatuh. Vlador telah meninggalkannya. Vlador membuangnya. Dengan langkah limbung, Triana kembali menuju kamarnya. Udara dingin yang memecut kulit dan menusuk tulangnya tidak ia pedulikan. Hatinya sakit dan ketakutan menyelimutinya. Vlador memang tidak mengembalikannya pada keluarganya, namun ia meninggalkannya di kapal yang entah berlayar ke mana. Triana hanya bodoh. Ia pikir Vlador tulus padanya. Namun ternyata hal yang sempat ia takutkan benar adanya. Yang selama ini pria itu pedulikan hanyalah kutukan mereka. Pada akhirnya, Triana menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tulus padanya. Semua orang hanya tinggal untuk memanfaatkannya. Ia hanyalah boneka yang dipamerkan, dan akan dibuang ketika sudah usang dan membosankan. Tiba-tiba sesuatu menarik lengan Triana dan membuat tubuhnya berbalik. “Triana, aku sudah berkata jangan keluar dari kamar. Apa kau t...