Langsung ke konten utama

68. Sarang Penyihir Elix // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

 

“Apa itu adalah seorang vampir, Artexia?”

Wanita dengan jubah silver dan tongkat putih yang memiliki batu kristal biru di atasnya menatap Vlador. Ia mengangguk sekali. “Aku rasa begitu.”

Anak perempuan yang penuh dengan pertanyaan itu mengerutkan keningnya ketika kembali memperhatikan Vlador. “Ia terluka dan terlihat berbeda dari vampir lain.”

Pandangan Vlador mulai kehilangan ketajamannya, seakan diselimuti oleh kabut yang kian menebal. Ia menatap seorang wanita dan gadis kecil yang memiliki rupa yang sama itu. Ia mendesis karena mereka adalah penyihir.

Vlador yakin mereka adalah Penyihir Elix yang selama ini ia cari. Itu adalah sebuah harapan besar yang seharusnya membuatnya bersukacita. Namun seperti yang sudah ia alami dengan Elijah, mereka makhluk jahat.

Sayangnya Vlador tidak berdaya. Triana yang sudah sekarat mempengaruhi kekuatannya, bahkan kesadarannya. Jantungnya terasa terbakar dan ditikam secara bersamaan.

“Aku rasa kau benar, Eanna. Yang satu ini berbeda dari para vampir itu.”

“Oh, lihat,” Anak perempuan bernama Eanna itu menunjuk apa yang Vlador miliki dalam pelukannya. “Ia membawa gadis manusia. Aku rasa ia tidak sedang memakannya.”

Penyihir wanita itu mendekat dan meyentuh Vlador dengan ujung tongkatnya. “Kutukan darah. Siapa yang melakukan ini pada kalian?”

“Aku rasa Nyonya Shebsa harus melihat mereka. Ia berkata kita bisa membiarkan vampir mati, tapi tidak dengan manusia tak bersalah.” Ucap anak itu.

“Aku rasa kau benar.”

 

***

 

Triana.

 

Matanya terbuka bersama hentakan pada tubuhnya.

Langit bertabur bintang menyapanya. Awalnya ia pikir begitu, namun ketika pengelihatannya semakin jelas, ia menyadari bahwa itu adalah langit-langit berhiaskan kristal-kristal biru kecil.

Mengertukan kening, Triana memegangi kepalanya yang terasa bergoyang. Kerongkongan dan mulutnya juga terasa sangat kering, sekan tidak tersentuh air selama berhari-hari. Meski begitu, tidak banyak yang Triana pikirkan selain sebuah nama.

“T-Tuan… Vlador.” Ia berusaha memanggil, namun hanya berhasil bergumam.

Triana melihat sekeliling dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang didominasi oleh warna biru dari kristal, kaca, dan dinding batu.

Di mana ia?

“Oh, kau sudah bangun.”

Suara seorang gadis kecil membuat Triana menoleh. Ia mendapati anak berkulit putih pucat dengan mata biru menyala dan rambut putih keperakan berdiri di samping pintu.

Kaki kecil anak itu berlari masuk mendekati ranjang Triana. Kedua tangan mungilnya meletakkan segelas air di atas nakas di sampingnya.

“Tunggulah sebentar. Aku akan memanggil Nyonya Shebsa,” Ucap anak itu, lalu berlari ke arah pintu.

Tiba-tiba ia berhenti dan membalik tubuhnya. “Ohya, minumlah air di gelas itu. Kau akan merasa jauh lebih baik.”

Triana nyaris memanggil anak itu untuk tidak pergi, namun ia mengurungkan niatnya. Ia berusaha bangkit duduk dan mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi.

Elijah ternyata adalah penyihir Elix. Ia menipunya dan menangkap ia dan Vlador. Setelah itu Vlador berhasil membawanya kabur dari mansion Verdonix.

Triana tidak pernah merasa sekedinginan dan sekelelahan itu. Di dalam pelukan Vlador, kesadarannya menurun dan ia tidak mengingat apa-apa lagi selain sebuah mimpi gila dan samar di mana Vlador mencium bibirnya.

“Kau bahkan sudah bisa duduk. Itu bagus,”

Suara berat seorang wanita menarik Triana dari pikirannya. Kedua alisnya terangkat. Ia tidak pernah melihat wanita secantik itu. Tidak. Itu bukan cantik, melainkan indah.

Rambut seputih salju, mata sebiru geltser, dan kulit putih pucat layaknya mutiara yang bersinar. Ia terlihat seperti peri.

Wanita itu melirik gelas di atas nakas, lalu tersenyum lembut. “Airnya aman untuk diminum. Percayalah, itu akan membuatmu lebih baik.”

Berdehem, Triana berusaha bicara dengan selayak mungkin. “Namaku Triana. Aku datang bersama seorang pria. Namanya adalah Vlador.”

“Dan ia adalah seorang pangeran vampir. Kalian terikat oleh kutukan darah dan baru saja kabur dari kejaran Vampir Verdonix.” Sambung wanita indah itu seraya menggerakkan jarinya.

Kursi yang berada di samping nakas seketika bergerak dengan sendirinya dan berhenti di samping ranjang Triana.

“Aku adalah Shebsa, Penyihir Elix yang kalian cari.”

Triana terkesiap. Itu benar. Rambut seputih salju dan mata sebiru gletser. Wanita bernama Shebsa itu memiliki semua ciri-cirinya meski ia sama sekali tidak terlihat seperti penyihir pada umumnya.

“Aku harap aku sudah mendapat kepercayaanmu, Lady Triana.” Ucap Shebsa seraya duduk di kursi di samping ranjang Triana. “Pangeran Vlador mengkhawatirkanmu, sehingga kau harus meminum air itu agar tubuhmu kembali sehat.”

“Tuan Vlador… ia ada di mana? Apa ia baik-baik saja?” Tanya Triana langsung.

“Ia baik-baik saja. Ia sedang beristirahat.” Jawab Shebsa.

Menatap gelas di atas nakas, Triana meraihnya dan memperhatikannya sejenak.

Apa ia boleh percaya begitu saja pada penyihir itu? Vlador hampir celaka karena kebodohannya.

Kemudian Triana memejamkan matanya erat dan menggeleng. Bagaimanapun, ia tidak berdaya sekarang. Entah ia meminum atau tidak meminum airnya, ia tetap berada dalam bahaya jika penyihir di sampingnya jahat seperti Elijah.

Triana meneguk air itu hingga tak bersisa. Tidak lama, sakit pada kepalanya menghilang dan tubuhnya tidak lemas lagi.

Menatap Shebsa dengan mata berbinar, Triana berucap, “Ini berhasil.”

“Senang mendengarnya.” Shebsa tersenyum.

“Terima kasih banyak, Nyonya Shebsa. Sekarang aku harus bertemu dengan Tuan Vlador. Apa kau bisa mengantarku padanya?” Tanya Triana.

“Tidak sekarang, sayang.” Jawab Shebsa. “Pangeran Vlador mengalami luka parah dan tubuhnya kesulitan memulihkan diri karena kutukan itu.”

“Kutukannya,” Mata Triana membesar, lalu ia meraih kedua tangan Shebsa. “Nyonya, apa kau bisa mengangkat kutukan kami? Kami selama ini menyari-cari Penyihir Elix untuk mencabut kutukan yang mengikat kami.”

“Tentu aku bisa.” Jawaban Shebsa membuat Triana menghela bahagia. “Aku sudah menarawakannya pada Pangeran Vlador, namun ia menolak.”

“Itu tidak mungkin.” Kening Triana mengkerut. “Apa alasan ia menolak?”

“Ia menunggumu sadar.”

“Kenapa?”

Shebsa menggeleng kecil. “Ia tidak memberi tahu alasannya.”

Triana meletakkan pandangannya ke bawah dengan kening yang masih mengkerut. “Bukankah jika kutukannya diangkat, ia akan pulih lebih cepat?”

“Secepat matahari terbit.” Jawab Shebsa.

Desahan panjang mengalir dari bibir Triana. Ia bersandar seraya meremas jemari tangannya sendiri. “Tuan Vlador berkorban sangat banyak untukku. Bahkan ia terluka parah karena kebodohanku.”

“Kalian dijebak oleh Vampir Verdonix. Penyihir yang bekerjasama dengan mereka memiliki nama asli Mareth. Ia mengkhianati klan Elix karena keserakahan. Kalian berdua hanyalah korban.” Jelas Shebsa.

“Mereka sudah merencanakan itu semua dari awal. Dan karena kenaifanku, rencana mereka berhasil.” Ucap Triana, lalu ia menatap Shebsa. “Sekarang kami sudah bertemu denganmu. Rencana mereka akan gagal jika kutukan ini dicabut. Dengan begitu Tuan Vlador tidak memliki kelemahan karena ia tidak lagi terikat denganku.”

Shebsa menatap Triana dan tersenyum lembut. “Aku pikir situasinya tidak sesederhana itu, sayang.”

“Apa kau bisa menjelaskannya padaku, Nyonya? Aku rasa aku kurang memahaminya.” Tanya Triana dengan kening kembali mengkerut.

“Pemahaman itu harus kau temukan sendiri, Lady. Kami, Penyihir Elix, tidak boleh terlibat terlalu dalam pada kehidupan makhluk lain. Sihir kami mungkin bisa merubah sesuatu, namun nasib seseorang ditentukan oleh keputusan dan perasaannya sendiri.”

Jawaban Shebsa membuat Triana termenung.

Keputusan dan perasaan? Apa maksudnya?

“Kemarilah. Jika kau sudah sanggup berjalan, ada jamuan yang sudah kami persiapkan untukmu.” Shebsa bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.

 

***

 

Triana.

 

Ia tidak pernah melihat tempat seindah itu. Mereka berada di dalam gua, namun dengan luas setara istana megah yang dibangun berkeliling dengan jembatan-jembatan es yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.

Hampir semua hal berwarna biru dan terbuat dari kristal atau bongkahan es. Beberapa perkakas terbuat dari batu dan kayu. Ketika ia menoleh ke atas, ia mendapati langit-langit biru luas dan sangat tinggi yang merupakan gletser tebal. Yang ajaib, ia sama sekali tidak merasa kedinginan.

Di meja makan panjang yang terbuat dari kristal, Triana duduk di samping Shebsa yang duduk di kursi utama. Bersama mereka, duduk beberapa Penyihir Elix untuk menikmati makanan di atas meja.

“Sudah sangat lama sejak terakhir kami memiliki tamu makan malam. Apakah ini seorang manusia?”

Triana menoleh. Penyihir muda yang duduk di sampingnya tersenyum.

“Ia adalah gadis manusia yang dibawa oleh vampir yang terluka itu.” Sahut penyihir muda yang duduk di sebrang mereka.

“Pangeran vampir yang sedang menyembuhkan diri itu? Kalian memiliki situasi yang rumit.” Ucap penyihir itu sebelum meraih potongan daging.

“Di sarang ini, kami semua adalah saudari.” Ucap Shebsa, membuat Triana menoleh padanya. “Kau berada di wilayah kami, maka kau adalah salah satu saudari kami. Aku harap kecerewetan mereka tidak mengurangi selera makanmu.”

Triana tersenyum dan menggeleng. “Aku juga memiliki dua saudari. Kalian mengobati kerinduanku pada mereka.”

Mengambil mangkuk kecil berisi potongan daging, Shebsa memberikannya pada Triana. “Daging rusa asap adalah yang terbaik di sini. Kau harus mencobanya bersama sup.”

Triana tersenyum. “Terima kasih.”

“Kau memiliki kutukan darah bersama pangeran vampir itu. Bagaimana kau bisa hidup dengan hal itu?” Tanya gadis di samping Triana.

Tersenyum kecut, Triana menjawab, “Sebenarnya itu tidak seburuk kedengarannya.”

“Bagimu tidak buruk, namun pasti sangat buruk bagi vampir itu.” Sahut penyihir yang lain. “Ia harus selalu menahan diri untuk tidak meminum darahmu.”

“Itu adalah sihir kejam yang ditambahkan ke dalam kutukannya. Mereka benar-benar ingin menyiksa pangeran vampir itu.” Penyihir yang duduk di samping Triana menggeleng-geleng sebelum menggigit dagingnya.

 

Sepatu >>>

Rok Midi >>>


Komentar

Posting Komentar