Triana
Senyum merekah di bibir hitam pekat itu. Pipi tirus dengan hidung dan dagu lancip membuat wajah penuh keriputnya terlihat panjang. Rambut putih tipisnya tidak ditutupi topi lusuh kali ini, hanya untuk membuatnya terlihat lebih mengerikan.
Triana, seorang gadis berambut blonde terang, berdiri di sisi ruangan berantakan dan berbau tidak sedap itu. Ia adalah kebalikan dari penyihir di sebrangnya. Tubuh moleknya yang terbalut gaun cantik penuh bordiran rumit, mengeluarkan wangi bunga-bungaan dan buah-buahan kering. Kedua matanya menggambarkan langit cerah di musim semi.
“Kecantikan abadi?” Kekehan berbau busuk lepas dari bibir yang mengurung barisan gigi runcing kehitaman.
Suara melengking itu membuat Triana tersontak dari fokusnya memperhatikan kondisi rumah kecil reot itu. Bahkan ia yakin kandang ayam di peternakan pamannya jauh lebih bagus dari tempat ini.
Kedua tangan saling mengait, Triana mengangguk cepat. “I-itu benar. Bisakah... kau melakukannya?”
“Pertanyaanmu merendahkanku, nona muda. Aku bahkan terkejut kau dan puluhan pengawalmu bisa mencapai rumahku! Hihihihi…” Penyihir kurus dan bungkuk itu bangkit dari kursi goyangnya. “Bukankah perjuangan kerasmu menyatakan bahwa hanya aku penyihir terhebat di sini?”
“Kau benar, nyonya. Kau adalah yang terhebat; Setidaknya itulah yang ibuku katakan,” Gumam Triana.
“Hm...” Penyihir tersebut melirik Triana. Ia melangkah menghampirinya dan berdiri tepat di depan wajahnya.
Jari telunjuk penyihir itu terangkat dan menyentuh dagu Triana dengan kukunya yang runcing dan kotor. “Siapa namamu tadi?”
Menahan napas, gadis itu meneguk liurnya dan menjawab, “Triana. Triana Rexa Galev.”
“Oh… nama yang cantik untuk gadis yang cantik,” Penyihir itu tertawa seraya berlalu melewati Triana.
“Suamiku adalah Duke Stevanus Galev. Ia telah membantu banyak peperangan dan adalah salah satu kesayangan raja.” Jelas seorang wanita paruh baya anggun yang berdiri di samping Triana.
“Mengesankan. Namun… apakah aku bertanya? Hihihi…” Jawab penyihir itu.
Triana melirik ibunya yang memiliki ekspresi kengerian yang sama dengannya. Penyihir itu sungguh aneh, bahkan lebih aneh dari kabar yang beredar.
“Jadi, apakah kau bisa mengabulkannya untuk putriku? Kami akan memberikan imbalan yang sangat memuaskan untukmu,” Ucap ibu Triana. Namanya adalah Catherine Rovenia Galev.
“Uang. Uang dalah kebahagiaan; Itulah yang selalu kalian, orang-orang serakah andalkan. Bahkan kecantikan itu …” Si penyihir menoleh pada Triana. Ia tersenyum lebar. “… kau menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan, benar?”
Ucapan sang penyihir membuat Triana menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu ini adalah kebetulan atau apa, namun ia memang baru saja menyadari hal tersebut.
Terlahir dengan kecantikan mempesona membuat banyak orang mengagumi Triana, bahkan ketika ia masih bayi. Seorang raja langsung membuat perjanjian dengan ayah Triana untuk menikahkannya dengan pangeran ke-tiganya ketika Triana telah berusia 19 tahun. Sayangnya, hingga di usianya yang ke-21, pangeran itu tidak kunjung kembali dari misi besarnya menakhlukan kerajaan negri sebrang.
Ibu, kakak-kakak, tante, dan ayahnya sendiri berkata kepada Triana bahwa ia tengah berada di masa puncaknya. Namun layaknya sekuntum bunga, itu tidak selamanya mekar. Setelahnya, ia akan menguncup dan layu.
Jika kecantikan Triana layu ketika pangeran kembali, pangeran mungkin akan membatalkan pernikahan mereka karena tidak puas pada rupa Triana yang tidak lagi seperti harapannya. Ia akan mencari wanita yang lebih muda dan cantik. Di saat itu terjadi, seluruh harapan keluarga Galev akan runtuh.
Triana disadarkan bahwa kecantikannya adalah sumber kebahagiaan dan kasih sayang yang ia terima selama ini. Ia tidak mau berakhir seperti mereka yang memiliki rupa tidak menarik sehingga selalu terpinggirkan. Ia ingin mempertahankan kecantikannya; kebahagiaannya.
“Tuhan telah memberkatiku dengan kecantikan agar aku berguna bagi keluargaku. Bukan hanya kepadaku, kecantikan ini juga adalah sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingku. Kecantikan ini memiliki makna lebih dari yang kau sebutkan. Hanya orang-orang yang memilikinya yang mengerti tentang itu.” Ucap Triana.
“Sayang… kau tidak harus mengatakan itu padanya,” Bisik Catherine.
Kening Triana mengkerut. “Itu adalah apa yang ayah katakan padaku. Ia berkata bahwa aku harus membanggakan kelebihanku. Dan aku sedang melakukannya sekarang,”
“Kau harus memahami situasinya, sayang,” Balas Catherine, menghela lelah.
Tiba-tiba, suara tawa membuat kedua wanita itu sontak menoleh dengan mata membulat besar.
Sambil mengusap ujung bibirnya yang berliur karena tawanya terlalu keras, penyihir itu mengangguk-angguk. “Kau adalah gadis pemberani, sayang. Kata-katamu benar. Kau telah diberkati dengan terlahir begitu indah. Tentu kau harus memanfaatkan, mempertahankan, dan membanggakan itu,” ucapnya. Lalu tawa tersebut memudar, dan ia melanjutkan, “Untuk menghormati kecantikanmu, aku akan mengabulkan keinginanmu, namun dengan sebuah syarat.”
“Apa syarat itu? Berapapun harganya, akan kami bayar,” Ucap Catherine cepat.
“Hihihi... Aku sudah bilang aku tidak butuh uang, ‘kan? Aku ingin kau melakukan sesuatu, gadis cantik,” Penyihir itu menunjuk Triana.
Lalu ia mengambil sebuah botol kaca kecil berisi cairan hijau menyala, dan melangkah mendekati Triana. “Di tengah Hutan Kegelapan, terdapat sebuah kastil terbengkalai yang mengurung seorang vampir, keturunan Raja Dracula. Buat ia meminum ramuan ini.”
“Vampir? Bukankah… mereka telah dibantai dalam peperangan seratus tahun yang lalu?” Tanya Catherine.
Penyihir tersenyum lebar. “Masih tersisa satu yang terkuat.” Lalu ia mengibaskan tangannya di depan hidung dan melanjutkan, “Tapi kau tidak perlu takut. Ia dirantai dengan sihir yang sangat, sangat kuat. Aku memiliki dendam pada keluarganya dan ingin membuatnya menderita, namun aku tidak bisa melakukannya sendiri. Dan kau... kau yang akan melakukannya untukku,”
Triana dan Catherine saling menatap sejenak. Lalu Catherine mengangguk pelan sebelum kembali pada penyihir itu.
“Baiklah. Aku akan melakukan-“
“Ops!” Penyihir itu menarik ramuannya kembali saat tangan Catherine hendak menyambar botol ramuannya. “Aku berkata bahwa gadis cantik itu yang harus melakukannya. Siapa di sini yang ingin mendapatkan kecantikan abadi?”
“Oh, apakah itu... sungguh harus?” Tanya Catherine, setengah berbisik.
Mata penyihir itu menyipit. Ia menatap ibu dan putri di depannya. “Apakah ini harus dilakukan atau tidak?”
“Aku akan melakukannya sendiri. Tapi bersumpahlah bahwa kecantikanku sungguh akan abadi.” Ucap Triana langsung.
“Hm... Hihihi...” Penyihir itu tersenyum lebar. “Aku akan bersumpah jika kau juga bersumpah,” ucapnya seraya membuka penutup botol di tangannya.
“Aku bersumpah akan melakukannya sendiri.” Ucap Triana lagi meski terdengar getaran tipis pada suaranya.
Dengan senyum yang masih awet di wajahnya, penyihir itu menjulurkan telapak tangannya pada Triana. “Tanganmu,”
Setelah kembali bertukar pandang dengan ibunya sekilas, Triana meletakkan tangan mungilnya di atas telapak tangan kasar dam berkeriput milik penyihir itu.
Membalik tangan Triana yang telah berada di dalam genggamannya, penyihir itu menekan satu kuku tajamnya pada ujung jari telunjuk gadis itu.
“Ouch!” Triana menggigit bibir bawahnya saat kuku itu menembus daging lunak jarinya hingga berdarah.
Cubitan pada jari Triana yang dilakukan oleh si penyihir membuat darah mengalir keluar semakin banyak dari luka tersebut. Lalu, si penyihir mengarahkan jari itu pada mulut botol ramuannya. Darah menetes ke dalam.
Senyum kembali merekah di wajah si penyihir. Ia melepaskan tangan Triana. Lalu, ia pergi ke rak ramuannya dan menambahkan setetes cairan ungu ke dalamnya hingga ramuannya berubah warna menjadi hijau gelap.
“Sumpahmu sudah menyatu di dalam ramuan ini. Jika kau tidak memberikannya pada vampir itu secara langsung, tidak hanya kau gagal memiliki kecantikan abadi, kau juga akan menjadi buruk rupa selama lima puluh tahun,”
“Apa?!” Seru Triana dan ibunya bersamaan.
“Hahaha!” Penyihir itu tertawa keras sambil menatap Triana dan Catherine dengan mata membulat besar..
“Kenapa kau melakukan ini?!” Tanya Catherine keras, sementara Triana mulai menangis di pelukannya.
Si penyihir menggidik bahu seraya melangkah kembali ke kursi goyang berderitnya. “Bukankah kau telah bersumpah akan melakukannya? Jika kau memang tidak berniat menipuku...” ia tersenyum lebar seraya menatap kedua wanita itu bergantian, “… seharusnya kalian tidak takut sekarang.”
Komentar
Posting Komentar