Langsung ke konten utama

2. Vampir Penghuni Kastil Terkutuk // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

Sebuah kereta kuda hitam yang ditemani sepuluh pengawal berkuda melaju di jalan yang membelah hutan rindang.

Di dalam kereta kuda yang terus berderik dan berguncang keras itu, seorang gadis berkulit layaknya hamparan salju di bawah mentari pagi terus mengintip ke luar jendela hanya untuk meneguk liurnya untuk yang kesekian kalinya.

Sejak lahir, Triana selalu berada di dalam lingkup perlindungan nyaman kedua orangtuanya. Kastil, istana, dan bangunan-bangunan indah adalah tempat yang boleh ia datangi. Jalanan dengan bata tersusun rapih adalah apa yang boleh kaki lembutnya pijak. Ia bahkan tidak pernah diijinkan keluar dari kastilnya setelah jam menunjukkan pukul lima sore, ketika langit menggelap.

Namun kini, Triana duduk sendirian di dalam kereta kuda yang melaju di jalan berbatu dan berlumpur yang membelah hutan paling ditakuti di Galvadea, Hutan Kegelapan. Undangan raja membuat ibunya harus menemani sang ayah ke istana sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, mengunjungi penyihir untuk meminta kecantikan abadi adalah sebuah rahasia di antara Triana dan kedua orangtuanya, yang bahkan tidak diketahui oleh kedua saudarinya.

Penyihir selalu dibenci dan ditakuti oleh semua orang. Kebanyakan bahkan dibakar hidup-hidup oleh warga jika tertangkap. Bekerjasama dengan penyihir akan mencoreng nama keluarga Galev di mata semua orang, termasuk raja.

Selain kekhawatiran dan rasa takut pada apa yang akan datang, sesungguhnya sebagian besar pikiran Triana dipenuhi oleh pertanyaan yang ingin ia singkirkan namun tidak kunjung pergi.

Jika boleh bertanya, sebenarnya kenapa ia harus melakukan semua ini? Sesungguhnya yang selama ini orang-orang sayangi adalah dirinya atau kecantikannya?

Triana menggelengkan kepalanya lagi. 'Hentikan pikiranmu itu, Triana! Ayah dan ibu menyayangimu. Semua orang menyayangimu. Mereka ingin kau mempertahankan kecantikanmu karena ingin melihatmu bahagia.'

Setelah berjam-jam perjalanan yang membuat bokong Triana nyeri dan kepalanya beberapa kali terbentur, ia merasakan kereta kudanya berhenti, diikuti oleh ketukan pada pintu keretanya.

"Lady, kita sudah sampai."

Pintu kereta terbuka, lalu Triana menyembulkan kepalanya keluar hanya untuk mendapatkan terpaan udara dingin pada rambutnya yang terkepang setengah.

"Ini... adalah tempatnya, benar?" Tanya gadis itu, meski ia sudah tahu jawabannya.

"Benar, Lady. Ini adalah kastil Tevac." Jawab kepala pengawal seraya menjulurkan tangannya.

Setelah meneguk liur, Triana meletakkan tangannya di sana. "Terima kasih, Grivin." Ucapnya setelah berhasil memijak tanah.

"Kastil itu dikelilingi oleh kutukan kuat. Gerbang depannya bahkan dibiarkan terbuka. Apa kau yakin kita bisa masuk ke dalam?" Tanya kepala pengawal bernama Grivin itu.

"Penyihir itu berkata bahwa sihir pelindung kastilnya hanya berlaku untuk vampir dan penyihir lain." Jawab Triana sambil menatap bangunan kastil berukuran agak kecil namun menjulang tinggi yang berdiri di depan mereka. Lalu ia bergumam dengan suara bergetar, "Aku bahkan tidak yakin seseorang bisa tinggal di dalam sana."

Ditemani lima orang pengawal, Triana masuk ke dalam kastil yang penuh dengan sarang laba-laba dan kelelawar itu. Dua pengawal membawa lentera untuk menerangi jalan mereka yang gelap gulita.

Mereka menuruni tangga hingga mencapai ruang bawah tanah. Kepala pengawal kembali membuka peta yang sebelumnya digambarkan di atas secarik kertas oleh si penyihir. Kemudian, ia kembali memimpin menuju sebuah pintu besi dengan jendela jeruji kecil di bagian tengahnya.

"Ini adalah penjaranya." Bisik Grivin.

Triana mengangguk. Jantungnya tidak berhenti berdegub keras, dan semakin keras ketika mereka telah berjalan semakin jauh ke dalam kastil.

"Baiklah. Tolong buka pintunya," Pinta Triana.

Mengangguk, Grivin mendorong pintu tersebut terbuka. Suara besi berkarat yang saling beradu bergema di lorong kosong dan lembab itu hingga membuat siapa pun yang mendengarnya mengerenyit.

Udara dingin dan hawa lembab menyapa mereka. Meski kakinya seakan ingin berlari kabur, Triana tidak memiliki pilihan lain selain melangkahkan masuk ke dalam ruangan menyeramkan itu.

"Tolong lampunya," Triana menadahkan tangannya ke samping.

Salah satu pengawal pembawa lentera mengangguk dan memberikan lenteranya pada Triana.

Menahan napas, Triana melangkah lebih dalam dengan tangan menenteng lentera di depan tubuhnya. Cahaya lenteranya perlahan mencapai ujung ruangan gelap tersebut.

Tangan Triana semakin bergetar ketika ia melihat tiga untai rantai yang tergeletak di lantai batu. Meneguk liur, ia mengarahkan lenteranya mengikuti rantai-rantai yang agak panjang itu, lalu ia terhenti saat mendapati bahwa rantai-rantai tersebut mengikat sepasang kaki.

Ketika cahaya lenteranya bergerak lebih tinggi, jantung Triana seakan diremas kuat saat ia mendapati bahwa pemilik kaki itu adalah seorang pria yang nampak seperti tengkorak terbungkus kulit keriput.

Sepasang mata coklat terang menyorot Triana. Kedua mata tersebut seperti bersinar di dalam kegelapan dan sangat tajam, seakan mampu membaca pikiran siapa pun yang ia tatap.

Meneguk liurnya lagi, Triana, dengan tangan dingin dan bergetar membuka tas kulit kecil yang melekat pada ikat pinggang melingkari pinggang rampingnya. Ia menarik secarik keras yang terlipat dua dan membukanya. "Tu-Tuan... V-Vlador Lev Dracount?"

Mata sayu itu mengedip perlahan. Meski tatapannya tajam, ia nampak seperti seekor singa sekarat yang kehilangan gigi dan kuku untuk menerkam mangsanya.

"Apa yang membawamu ke sini?"

Suara berat dan agak serak itu membuat Triana menoleh ke sekeliling. Kemudian ia tersadar bahwa suara tersebut berasal dari tengkorak hidup yang terbalut di dalam pakaian kerajaan kuno lusuh di depannya.

"Ma-maaf," Ucap Triana sambil berdehem.

"Namaku Triana Rexa Galev, putri termuda dari Duke Stevanus Galev. Aku datang ke sini untuk memintamu meminum ini." Ia kembali mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, lalu menunjukkannya para vampir berwujud mengerikan itu.

Tawa merendahkan mengalir dari bibir kering dan keriput Vlador. "Kau datang untuk memerintahku? Tahun berapa sekarang? Kelihatannya itu masih saja seperti dulu; gadis cantik memiliki otak bodoh."

Triana mengatupkan bibirnya keras. Ia tidak pernah mendapatkan hinaan sekejam itu dari siapa pun. Seumur hidupnya, telinganya hanya mendengar ribuan pujian.

Gadis cantik memiliki otak bodoh? Seperti jaman dulu? Jangan bilang, selama ini orang-orang menganggapnya bodoh di belakang punggungnya?

Namun Triana segera menggelengkan kepala. Ia tidak memiliki waktu lagi. Ini adalah malam terakhir ketika bulan sedang bersinar penuh, yang juga menjadi penyebab ia terpaksa datang ke tempat mengerikan ini tanpa pengawalan orangtuanya.

"Tolong bantu aku, Tuan Dracount. Kau harus meminum ini. Memberikanmu ramuan ini adalah syarat agar aku bisa menyelamatkan masa depanku." Mohon Triana seraya memperlihatkan botol ramuan tersebut di depan wajah.

Sepasang mata coklat bersinar itu bergerak menatap tangan mungil Triana yang bergetar di udara. Kemudian, tatapannya kembali pada kedua mata biru gadis itu.

"Siapa yang menyuruhmu? Kenapa aku harus meminum itu?" Tanya Vlador.

"Itu... Itu adalah seorang penyihir. Dia berkata bahwa... ramuan ini akan... um... membuatmu kembali muda." Jawab Triana.



Komentar