Langsung ke konten utama

70. Milikku // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador

 

“Aku mencintaimu.”

Mata Vlador berkedut. Apa ia tidak salah dengar?

Tubuhnya mematung. Tatapannya terpaku pada seorang gadis yang duduk di lantai sambil menatapnya dengan kedua mata jernih yang digenangi air, bagaikan danau kecil di tengah hutan.

“Aku minta maaf jika aku membebanimu. Aku tahu yang kau inginkan adalah kesendirian dan kebebasan. Namun bolehkan aku menempati sebuah sudut kecil dalam hidupmu?”

Pertanyaan Triana menusuk telinga Vlador. Ia tidak tahu alasan jantungnya terasa sakit karena itulah yang Triana rasakan atau itu karena kalimat yang dialunkan dengan nada bergetar itu.

Triana benar. Kesendirian dan kebebasan adalah hal yang paling Vlador inginkan selama ini. Namun yang gadis itu tidak tahu adalah betapa sulitnya Vlador mempertahankan keinginannya untuk tetap sama.

Vlador bahkan tidak tahu sejak kapan ia mulai asing pada kesendirian dan mulai terbiasa pada rantai yang mengikatnya dengan Triana.

“Aku tahu perasaanku ini mungkin terdengar menjijikan bagimu. Namun sebelum kutukannya diangkat, aku ingin kau tahu bahwa rasa takut akan kembali pada keluarga yang sudah membuangku bukanlah alasanku ingin ikut denganmu, Tuan Vlador.” Jelas Triana.

Rahang Vlador mengeras, lalu ia berusaha menarik senyum miring. “Apa kau bahkan menyadari kau sedang berurusan dengan siapa.”

“Aku tidak pernah sesadar ini.” Triana bangkit dari duduknya, lalu melangkah untuk berdiri di hadapan Vlador. “Aku tidak pernah menyadari dan mengenali diriku yang sebenarnya sebelum bertemu denganmu.”

“Aku tidak bisa memberimu apa-apa selain kegelapan, tempat di mana aku berasal dan di mana aku harus tinggal.” Ucap Vlador.

Triana menggeleng. “Tidak. Kau tidak harus tinggal dalam kegelapan. Aku akan menujukkannya padamu.”

Kening Vlador mengkerut. Kedua mata Triana menatapnya tajam. Ia bahkan tidak tahu kedua mata indah itu bisa menggoyahkan pendiriannya.

“Dengarlah,” Vlador memegang rahang Triana dan menurunkan tubuhnya agar wajah mereka menatap sejajar.

Ia memaku kedua mata Triana dengan mata merahnya yang biasa memakan jiwa-jiwa. “Aku adalah jurang kegelapan. Sekali kau terjatuh ke dalamnya, kau tidak akan bisa keluar.”

“Aku mencintaimu, Tuan Vlador.”

Kalimat itu kembali Triana ucapkan, meyakinkan Vlador bahwa ia memang tidak salah mendengar.

“Entah ke mana kau akan membawaku dan entah apa yang akan terjadi padaku, selama aku tetap berada di sisimu, aku percaya aku akan baik-baik saja. Aku akan tetap mencintaimu bahkan jika hal itu akan membunuhku.”

Kalimat Triana mengirim sengatan ke dalam dada Vlador. Matanya bergetar, menatap kedua jendela biru Triana yang memperlihatkan betapa hangat jiwa di baliknya.

Melepaskan kepalan tangannya yang bergetar, Vlador menelungkup kedua rahang Triana. Dalam kesempatan itu juga, ia menyambar bibir gadis itu dengan miliknya.

Itu bukan pertama kalinya bibir mereka saling bersentuh, namun itu adalah pertama kalinya mereka berciuman.

Vlador tidak tahu bagaimana rasanya keindahan hingga pada momen ia meruntuhkan pendiriannya itu.

Di tengah bibir mereka yang menempel, Vlador menatap tajam kedua mata Triana yang terbelalak seakan ia baru saja melihat monster paling mengerikan.

Vlador mengecup bibir itu keras sebelum melepaskan ciumannya, dan tersenyum lebar dengan memperlihatkan kedua taringnya.

“Kau telah memilih neraka. Sekarang tidak ada jalan keluar untukmu. Penyesalan tidak ada artinya.” Ucap Vlador sambil menahan rasa nyeri di dalam dadanya.

Mata terbelakak Triana mengerjap. Mulutnya yang berlumuran darah masih terbuka sedikit. Ia seakan tidak bernapas karena terlalu takut.

Vlador sudah menduganya. Siapa manusia sebodoh itu yang masih menginginkannya setelah melihat sisi tergelapnya?

Triana pasti menyesal.

Namun tiba-tiba Triana mendekatkan wajahnya dan meletakkan bibirnya di bibir Vlador. Kedua mata indahnya terpejam dan lengan kurusnya melingkar di leher Vlador yang licin oleh darah.

Apakah Vlador salah menilai? Karena ia pun hanya bisa terbelalak karena terkejut.

Melepaskan ciumannya, Triana menatap Vlador dengan mata jernihnya. “Aku tidak akan pernah mau keluar dari jurang itu.”

Vlador nyaris menggigit lidahnya sendiri. Namun daripada melakukannya, ia menggeram dan langsung menyambar bibir Triana lagi. Ia tidak sungkan untuk mengulum bibir lembut yang terbalut oleh darah manusia itu.

Vlador tidak pernah merencanakannya, namun Triana yang memaksa terjun ke dalam jurangnya. Bahkan jika nantinya Triana ingin melepaskan diri darinya, ia mungkin akan mematahkan kedua kaki gadis itu agar tetap tinggal di sisinya.

Seraya terus melumat bibir Triana seperti makan malam mewah, Vlador mengangkat gadis itu masuk ke dalam bak. Tanpa melepaskan ikatan mereka yang saling tarik menarik, ia perlahan mendudukkan Triana, membuat tubuhnya terendam darah hingga ke leher.

“Emm,” Triana menggeram dengan kening mengkerut, membuat Vlador melepaskan ciuman mereka.

Membuka matanya, Triana menoleh ke sekeliling dengan wajah horor. Namun Vlador memegang pipi Triana perlahan untuk mengambalikan fokus gadis itu padanya.

“Ini hanya sedikit dari neraka yang aku janjikan. Apa kau takut?” Tanya Vlador pelan.

Triana terdiam beberapa saat, menatap Vlador nanar sambil beberapa kali mengerjap, seakan sedang mengumpulkan kewarasannya.

“Namun kau duduk bersama penguasanya. Jadi jangan takut, dan mulailah terbiasa.” Ucap Vlador dengan senyum miring, sebelum kembali menenggelamkan Triana dalam ciumannya, pelukannya, dan belaiannya.

 

***

 

Triana.

 

Ia terjaga dengan tubuh terhentak.

Triana menoleh ke sekeliling untuk mendapati dirinya tengah berbaring di sebuah kamar yang pernah ia lihat. Interior serba kristal dan langit-langit bertabur butiran kristal berkilau.

“Baguslah kau sudah sadar.”

Triana menoleh pada penyihir muda yang berdiri di ambang pintu yang terbuka.

“Apa yang terjadi? Apa aku… bermimpi?” Gumam Triana sambil memegangi kepalanya.

“Seperti manusia pada umumnya, kau rajin pingsan.” Ucap penyihir yang sebelumnya pernah Triana temui dari makan malam terakhirnya.

“Tuan Vlador,” Gumam Triana seraya meraba bibirnya yang terasa kebas dan agak bengkak. Apa kejadian itu kenyataan? Apa ia benar-benar telah menyatakan perasaannya pada Vlador dan mereka berciuman?

“Kau sedang apa?” Tanya penyihir itu, lalu menunjuk nakas di samping ranjang Triana. “Minumlah jika kau merasa mulutmu kering. Kau mungkin alergi pada daging rusa kemarin malam hingga membuat bibirmu bengkak. Aku pernah mendengar daging itu memang bukan untuk semua orang.”

Alergi?

Triana termenung seraya turun dari ranjang. Apa benar itu semua hanya mimpi?

“Seingatku, aku masuk ke dalam ruangan aneh dan gelap untuk bertemu Tuan Vlador. Apa kau tahu kenapa aku bisa pingsan dan berakhir di sini?” Tanya Triana.

“Kami sudah berkata padamu untuk menunggu daripada menghampirinya. Tidak seharusnya kau masuk ke sana. Hal mengerikan yang ada di dalam sudah pasti akan membuat manusia muntah dan bahkan pingsan.” Jelas penyihir itu, lalu menggidik. “Bahkan penyihir seperti kami enggan berada di sana. Pangeran vampir itu yang membawamu ke sini.”

Penjelasan itu membuat Triana termenung.

Apa mungkin ia pingsan setelah melihat darah sebanyak itu dan mayat bergelantungan? Ia sudah gila karena tidak lagi bisa membedakan mimpi dan kenyataan karena terlalu banyak hal tidak masuk akal yang ia alami.

Lalu Triana kembali meraba bibirnya. Namun ciuman itu terasa sangat nyata. Ia bahkan masih mengingat amis darah yang masuk ke dalam mulutnya.

“Nyonya Shebsa sudah menunggumu bersama pangeran vampirmu.” Lanjut penyihir itu.

“I-ia bukan-“ Triana membatalkan kalimatnya ketika penyihir itu melangkah pergi.

Mengikuti penyihir muda itu, Triana tiba di taman tempat Shebsa biasa duduk. Pemimpin penyihir Elix itu duduk bersama Vlador di sisi kursi lain.

Menyadari kedatangan Triana, Vlador bangkit dari duduknya dan menghampiri. “Bagaimana keadaanmu?”

Tidak bisa menahan pandangannya untuk terjatuh ke tanah, Triana mengangguk kecil. “Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat kegaduhan.”

Shebsa mendekati mereka. “Lady, kau pingsan karena kondisi tubuhmu belum benar-benar pulih. Namun aku bisa melihat kau sudah lebih baik sekarang.”

Triana tersenyum, lalu menundukkan kepala sekali. “Itu karena kalian merawatku dengan baik. Terima kasih.”

“Lalu kapan kalian berencana untuk menjalankan ritual pencabutan kutukannya?” Tanya Shebsa, lalu menatap mereka berdua dengan mata lebih menuntut, “Atau, apakah keinginan itu sudah lenyap?”

Vlador menatap Triana. “Jika kau sudah sehat, bukankah kita bisa melakukannya sekarang? Apa kau sudah siap?”

Menekan kedua bibirnya, Triana menarik tangan Vlador. “Sebenarnya ada yang harus aku bicarakan. Kami permisi sebentar.”

Lalu ia membawa Vlador menjauh dari yang lainnya.

“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?” Tanya Vlador begitu Triana melepaskan tangannya.

“Tuan Vlador, bolehkah aku tetap ikut denganmu setelah ini? Aku benar-benar memohon padamu untuk mempertimbangkannya.” Tanya Triana cepat.

Menghela panjang, Vlador membalas, “Harus berapa kali kau menanyakan hal yang sama?”

Kening Triana mengkerut. “Memangnya… aku sudah bertanya lagi?”

Terdiam sejenak, Vlador malah meraba bibir Triana dengan ibu jarinya. “Ada apa dengan bibirmu?”

Sentuhan Vlador membuat Triana refleks menghindar. “Aku alergi pada daging rusa.”

“Apa kau yakin?” Vlador menurunkan tangannya.

Triana mengangguk. “Itu yang dikatakan salah satu penyihir itu.”

Kemudian Triana kembali menatap Vlador dengan menuntut. “Jadi bagaimana?”

“Kenapa kau menanyakan itu lagi? Aku sudah menjawabnya kemarin malam. Jangan berkata kau tidak ingat?”

Jawaban jengah Vlador membuat mata Triana terbelalak. “A-aku ingat, tapi… aku kira, aku mungkin bermimpi.”

Tawa kecil berhembus dari mulut Vlador. “Mimpi? Apa yang kau mimpikan, Lady?” tanyanya seraya mengusap pipi Triana.

Merasakan panas pada kedua pipinya, Triana menunduk. Jadi itu semua adalah kenyataan? Semua ciuman gila itu?

Ia tidak bisa menatap wajah Vlador.

Tiba-tiba napas berhembus di samping telinga Triana. Tanpa ia sadari, wajah Vlador telah berada di samping wajahnya.

“Kau milikku sekarang. Tidak ada jalan kembali. Aku sudah memperingatkanmu.” Bisik Vlador.

(Klik) Lihat produk >>

(Klik) Lihat Produk >>


 


Komentar