“Aku harap kau akan menemukan pria yang bisa memperlakukanmu dengan baik dan tulus,” Ucap Adro dengan senyum lembut.
Grace menatap kedua mata kristal itu dengan hati berdebar. Ia merasa hampir terhipnotis oleh tatapan tulus itu. Namun, ia harus segera tersadar bahwa ia tidak boleh terlalu dekat dengan Adro. Selain karena dunia mereka berbeda, Adro adalah tunangan seorang wanita.
Berdehem untuk memecah fokus mereka, Grace tertawa kecil. “Maaf telah mengatakan hal yang tidak perlu. Ah… lihatlah. Aku sudah mahir menggunakan tongkatnya. Ini berkatmu, trimakasih.”
Adro tersenyum dan mengangguk sekali. “Senang bisa membantumu. Kau sangat mandiri,”
“Semua orang akan menjadi mandiri jika keadaan memaksa. Nenekku berkata bahwa sebagai manusia, kita harus mampu cepat beradaptasi – Meski aku masih kesulitan dengan itu, sejujurnya.” Sahut Grace dengan suara yang semakin mengecil hingga terdengar seperti gumaman.
“Nenekmu adalah perempuan yang bijak. Tidak mengherankan kau tumbuh menjadi wanita dengan hati yang indah. Tidak perlu menghakimi dirimu sendiri,” Ucap Adro.
“Terima kasih. Sepertinya aku tumbuh menjadi wanita biasa yang cukup pemalu. Ngomong-ngomong, apa kau lapar?” Tanya Grace.
***
Dengan matahari di luar jendela yang mulai terbenam, Grace dan Adro menikmati beberapa potong cheese cake yang Grace simpan di kulkas sebagai pengganjal perut karena ini belum waktunya makan malam.
Ketika matahari benar-benar terbenam, Adro membantu Grace untuk menutup semua gorden-gorden apartmentnya. Di samping itu, Grace menepati janjinya kepada Adro unuk menunjukkan dan menjelaskan berbagai benda elektronik di rumahnya, sekaligus menjelaskan banyak hal tentang dunia ini.
Ini adalah hari di mana Grace banyak tersenyum karena melihat reaksi Adro terhadap berbagai benda canggih yang tidak ada di dunia asalnya. Meski begitu, Adro sangat cepat belajar dan mampu mengembangkan sendiri apa yang sudah ia pelajari. Hanya dalam beberapa jam saja, ia mampu menggunakan hampir semua alat elektornik di rumah Grace seakan pria itu sudah terbiasa dengan itu semua.
Malam akhirnya turun dan mereka harus tidur. Namun Grace merasa kebingungan karena ia hanya memiliki satu kamar dan satu tempat tidur di rumahnya.
“Aku akan tidur di sofa sampai kau kembali ke dunia asalmu,” Ucap Grace.
“Kau? Di sofa? Tidak. Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di sana, terlebih kakimu sedang cedera.” Jawab Adro tegas.
Sebenarnya Grace memahami bahwa yang Adro katakan itu benar. Sebagai pria yang menghargai wanita, ia tentu tidak akan membiarkan perempuan terluka tidur di sofa, sedangkan dirinya tidur di ranjang yang nyaman.
Namun, Grace meringis saat melihat penampakan sofanya. Itu bukan karena sofa tersebut jelek atau kotor. Ya, sofa itu memang sudah cukup tua, namun masih sangat layak dan bersih. Yang menjadi masalah adalah ukurannya yang terlalu kecil untuk pria sebesar Adro. Tubuh pria itu akan terasa tidak nyaman jika tidur sambil menekuk kaki hingga pagi.
“Tapi sofanya terlalu sempit untukmu,” Ucap Grace dengan ringisan canggung seraya mengusap lengannya sendiri.
“Aku tahu. Tapi itu tidak masalah. Aku juga tidak akan lama berada di sini,” Jawab Adro ringan.
“Kau yakin? Maksudku... bukankah kau adalah pangeran? Kau biasa tidur di kasur megah dan nyaman, ‘kan?”
“Itu benar.” Jawab Adro. “Namun sebagian besar hidupku aku habiskan dengan mengembara dan berperang. Selama itu, aku tidak jarang tidur di tempat-tempat tidak layak. Aku bahkan sering tidur di atas punggung kudaku. Karena itu, kau tidak perlu khawatir,”
“Oh... Baiklah, aku mengerti sekarang. Maaf jika aku seakan memandangmu lemah,” Ucap Grace.
Adro menggeleng. “Tidak perlu. Aku mengerti kau hanya ingin menjamu tamumu dengan baik. Namun kau harus ingat bahwa aku bukan sekedar bertamu di rumahmu, melainkan menumpang tinggal dan meminta pertolongan. Seharusnya aku tidak merepotkanmu lebih dari itu,”
Grace mengangguk mengerti. “Kalau begitu aku akan tidur sekarang. Kau bisa mengetuk pintu kamarku jika kau butuh sesuatu,”
“Aku mengerti. Trimakasih, Grace. Selamat malam,” Ucap Adro.
“Selamat malam,” Jawab Grace.
Kemudian Grace masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. Ia melangkah dengan bantuan tongkat menuju ranjangnya yang terletak tepat di samping pintu. Seraya menahan napas, ia menjatuhkan bokongnya di pinggir ranjang.
“Hah… Aku tidak tahu cedera kaki akan sangat merepotkan seperti ini,” Gumamnya seraya menyandarkan tongkatnya di samping kepala ranjang.
Grace merebahkan kepalanya di atas bantal dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sudah berapa lama sejak terakhir ia melewatkan malam di rumahnya dengan orang lain?
“Rasanya aneh ketika harus mengingat ada seseorang di rumah ini dan itu adalah seorang pria,” Gumam Grace.
Menoleh ke samping, Grace mendapati sebuah bantal yang kala itu meresap semua curahan air matanya.
‘Jika bantal ini adalah manusia, ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa saat itu aku hendak bunuh diri…’
“Tunggu dulu!” Grace langsung bangkit duduk dengan kedua mata terbelalak lebar. “Catatan bunuh diriku!”
Menyambar tongkat berjalannya, Grace segera turun dari ranjang. Mengingat bahwa ada Adro di luar, ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan.
Grace tidak dapat melihat apakah Adro sudah tidur atau belum karena posisi sofa yang tidak menghadap ke pintu kamarnya maupun jalan yang akan ia lewati dari kamar menuju dapur.
Sesunyi mungkin, Grace melipir menuju dapur untuk memeriksa pintu kulkasnya. Ia sendiri tidak merasa melihat kertas itu di pintu kulkasnya seharian ini. Ia benar-benar lupa bahwa ia sempat membuat surat pesan terakhir dan menempelkannya di sana. Ketika Sarah meminjam kuci rumahnya, dengan bodohnya Grace memberikan itu tanpa beban.
“Sial! Di mana benda itu?” Gumam Grace seraya meraba-raba pintu kulkasnya tanpa guna.
Ya, Grace memang memiliki banyak tempelan kertas pengingat di pintu kulkasnya. Mungkin itulah yang membuatnya lupa telah membuat catatan bunuh diri. Sialnya, saat ini, tidak ada satu pun dari kertas-kertas kecil itu yang berisikan catatan bunuh dirinya.
‘Siapa yang mengambil kertasnya? Apa itu terjatuh? Jika Sarah yang mengambilnya, kenapa ia tidak mengatakan apa-apa padaku?’ Pikir Grace.
Wajah Grace meringis saat ia mencoba merendahkan tubuhnya untuk memeriksa apakah kertas itu terjatuh ke kolong kulkas.
‘Ugh.. Ini sulit sekali. Aku menyesal tidak pernah berolahraga. Ah… Jika aku terjatuh, aku mungkin akan membangunkan-‘
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Hua!” Grace sangat terkejut mendengar suara pria bergema di belakangnya ketika ia sedang berusaha untuk menekuk satu-satunya kaki yang menopang tubuhnya.
Dengan sigap, Adro langsung menahan tubuh Grace yang hampir terjatuh ke belakang.
Grace menatap kedua mata Adro yang tengah menatapnya heran. Ia berdehem dan segera berusaha bangkit ke atas satu kakinya dengan bantuan tongkat.
“A-apa aku membangunkanmu?” Tanya Grace terbata.
Adro menggeleng. “Tidak. Aku tidak bisa tidur. Apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku… sedang mencari sesuatu,” Jawab Grace pelan dengan kepala menunduk.
“Apa sesuatu itu? Aku akan membantumu mencarinya,”
“Itu adalah… sebuah kertas putih persegi berukuran agak kecil. Aku pikir itu mungkin terjatuh ke bawah kulkas,” Jelas Grace.
“Oh,” Adro mengangguk dan hendak menurunkan tubuhnya menyamai lantai untuk melihat apakah benda yang Grace cari itu sungguh berada di sana.
Namun, Adro terhenti saat ia hampir menekuk kedua lututnya. Ia termenung. Tidak seharusnya seorang pangeran berlutut sembarangan dan meletakkan kepalanya setara dengan lantai. Bukan hanya pangeran, namun semua keluarga bangsawan.
Adro baru beberapa hari berada di dunia asing ini. Namun ia bahkan hampir melupakan tata krama kerajaan yang sudah tertanam di jiwanya semenjak ia terlahir ke dunia.
“Ah, tentu saja,” Grace bergumam.
Kemudian gadis itu membuka salah satu laci meja dapur, dan mengeluarkan lampu senter dari sana. Ia memberikan benda panjang kecil hitam itu pada pangeran yang tengah berdiri di sampingnya.
“Kau bisa menggunakan ini untuk melihat di bawah sana,” Ucap Grace seraya menekan tombol nyala pada senter itu.
Adro menatap benda kecil yang dapat menembakkan cahaya sangat terang tersebut. Ia bukannya merasa takjub melihat senter. Otaknya sudah bisa mensingkronisasikan segala kecanggihan di dunia ini. Dibandingkan itu, ia tengah berpikir apakah ia sungguh harus merendahkan dirinya untuk membantu gadis yang baru ia kenal dalam beberapa hari ini.
.png)
Komentar
Posting Komentar