Langsung ke konten utama

91. Persiapan Perang // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Jadi namanya adalah Julius, ya?” Lady Camelia meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

Mata Grace membulat. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan. “A-apakah ini seharusnya adalah rahasia?”

“Tidak juga. Ini adalah informasi yang ditunda penyampaiannya hingga rapat peperangan besar nanti.” Jawab Camelia.

“Kau bahkan tidak tahu apa yang boleh kau katakan dan tidak.”

“Dan ia berjanji bisa membantu. Sungguh konyol.”

Grace menatap lelah pada sepasang pria kembar yang akhirnya ia ketahui bernama Vizo dan Vincent.

“Mungkin benar ada hal yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang, namun itu hakmu untuk mengatakan apa yang kau tahu.” Ucap Lady Camelia.

Grace menggigit bibir bawahnya. Semua informasi yang ia dapat dari Suzan, ia tidak tahu apakah isinya bisa ia sebarkan kepada sembarang orang di istana ini. Namun, Lady Camelia benar; ia memiliki hak untuk menyebarkannya atau tidak. Jika ia ingin mecapai tujuannya, ia harus mengatakan apa yang ia tahu kepada para sorcerer ini.

“Jika aku mengatakan apa yang aku tahu, apakah kalian akan membantuku?” Tanya Grace.

“Kita memiliki tujuan yang sama, yaitu mengalahkan musuh. Namun, sebagai pemimpin sorcerer kerajaan ini, aku hanya patuh kepada raja. Jika Yang Mulia melarang, maka kau harus berjalan sendiri.”

Grace mengangguk kecil. “Itu tidak masalah.”

“Jadi, apa informasi yang kau miliki itu?” Tanya Vizo, menyipitkan matanya.

“Cepatlah katakan sebelum teh kami habis.” Tambah Vincent.

Grace mendengus diam-diam. ‘Kalian bahkan sengaja tidak meminum teh kalian. Katakan saja jika kalian memang penasaran dengan informasinya!’

“Sebelumnya, Julius adalah penyihir biasa. Namun, karena sebuah batu sakti, ia menerima kekuatan sekaligus kutukan. Batu itu membuatnya buruk rupa dan mengurungnya di dunia bawah tanah, tempat para monster tinggal. Namun, batu itu juga memberinya keabadian dan kekuatan besar, sekaligus kuasa untuk mengendalikan para monster.” Jelas Grace.

“Batu sakti?” Ulang Lady Camelia.

Grace mengangguk. “Batu itu ia temukan di sebuah gua kematian, namun aku tidak tahu di mana letak gua itu.”

“Lalu kenapa ia ingin menyerang kerajaan ini?” Tanya Vincent.

“Soal itu, aku tidak bisa mengatakannya. Hanya saja, ia ingin membunuh Raja Groendez beserta semua keturunannya. Aku datang pada kalian untuk meminta kalian membantuku mencari tahu kelemahan Julius; aku yakin itu memiliki kaitan dengan batu saktinya.” Jelas Grace menggebu.

“Secara logika, kau benar. Aku sendiri pernah mendengar tentang mitos batu sakti yang dapat mengabulkan permintaan, namun tidak pernah mendengar di mana letak gua kematian itu.” Jawab Lady Camelia.

“Sebenarnya... Julius … penyihir itu adalah teman Raja Groendez terdahulu.” Tutur Grace dengan suara memelan.

Ketiga sorcerer itu mengerutkan dahi mereka. “Apa katamu?” tanya Vizo.

“Julius dan Raja Absolen dahulu berteman. Mereka yang menemukan keberadaan batu sakti itu.”

“Tidak mungkin…” Gumam Vizo dan Vincent. Lalu, Vincent melanjutkan, “Sejak awal, bangsa kami selalu bermusuhan dengan penyihir. Mana mungkin raja terdahulu berteman dengan penyihir sejahat Julius?”

“Nona Grace, apakah kau berpikir untuk mencari keberadaan gua itu melalui mendiang Raja Absolen?” Tanya Lady Camelia.

Mata Grace membesar dan kedua alisnya meninggi. Ia mengangguk keras. “Apa kalian bisa membantuku? Aku yakin, jika pada akhirnya mereka menemukan gua itu, mereka pasti sudah memiliki petunjuk jalannya sebelumnya.”

“Tunggu dulu, gadis asing.” Potong Vincent. “Jika dahulu mereka berteman, kenapa itu tidak dikatakan di dalam sejarah?”

“Dan, untuk apa Raja Absolen ingin mencari batu sakti?” Tambah Vizo.

“Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya,” Jawab Grace pelan.

“Hey-“ Si kembar hendak protes.

“Nona Grace memiliki hak untuk mengatakan dan tidak mengatakan apa yang ia tahu. Informasi yang ia berikan sudah cukup untuk menjadi alasan mengapa kita harus membantunya.” Potong Lady Camelia.

Senyum merekah lebar di wajah Grace. “Terima kasih, Lady. Sungguh, terima kasih!”

***

Gerbang raksasa terbuka lebar untuk memberi jalan masuk bagi pasukan berkuda dan berjirah tebal. Berhasil kembali dari peperangan dengan nyawa di dalam tubuh mereka adalah satu-satunya hal yang bisa mereka syukuri. Raut suram dan guyuran darah pada baju jirah mereka cukup menggambarkan berita buruk apa yang mereka bawa sebagai buah tangan.

“Dari seribu orang, hanya sekitar tiga ratus yang berhasil kembali selamat, itu pun setengahnya mengalami luka parah.”

Adro mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Penjelasan dari asisten raja membakar telinganya. Seribu prajurit? Bahkan, Damian dan Leo berada di sana. Sebenarnya sekuat apa pasukan monster Julius hingga mampu menyapu pasukan sekuat Kuda Putih?

Seorang pria berambut pendek dengan mata tajam melangkah memasuki pintu istana. Ia tahu keluarganya sudah menunggu, namun ia tidak menyangka kakak yang selama ini menghilang ternyata juga berada di sana.

Menghentikan langkahnya, mata lelah Damian seketika membulat. Di hadapannya, Adro berdiri menatapnya tanpa senyuman – di mana ia tidak heran karena kakaknya pasti telah mendengar tentang kekalahannya. Meski begitu, kepulangan sang kakak adalah penawar rasa pahit dari hasil memalukan peperangannya.

“Adro,” Ucap Damian.

Melangkah menghampiri adiknya, Adro menepuk pundak pria itu. “Maaf telah membuatmu berjuang sendirian. Kali ini, aku akan bertarung bersamamu hingga mereka rata dengan tanah.” Ucapnya sebelum memeluk sang adik.

“Sebaiknya kau menepatinya.” Damian tersenyum tipis.

Di samping kedua kakak beradik yang sudah bersatu itu, ayah dan ibu mereka menatap penuh haru. Meski hasil perang tidak sesuai harapan, keluarga mereka yang kembali utuh memberikan sebuah harapan baru.

“Rapat peperangan selanjutnya harus segera dilaksanakan. Aku membawa berita penting.” Ucap Damian sembari melepas pelukannya.

“Sebaiknya kau beristirahat dulu, nak,” Pinta ratu pelan.

Damian menggeleng. “Ini sangat genting. Aku bisa beristirahat sebentar setelah pertemuan ini.”

Raja menoleh pada asistennya. “Persiapkan ruangan dan panggil para petinggi. Rapat perang akan diselenggarakan lima menit lagi.”

“Baik, Yang Mulia.” Jawab sang asisten sebelum bergegas pergi.

“Di mana Leo? Ia harus ikut,” Adro menoleh ke sekeliling.

Namun, pertanyaan Adro membuat Damian tertunduk diam. Melihat sikap adiknya, Adro mengerutkan dahi.

“Damian, di mana Leo?” Tanya Adro.

Menarik napas panjang, Damian mengangkat wajahnya untuk menatap kedua mata Adro. “Leo gugur sebagai pahlawan di medan pertempuran.”

Mata Adro terbelalak. Ia seakan tidak dapat merasakan pijakannya, seakan dunianya bergetar. Leo adalah prajurit terbaiknya - Prajurit yang paling setia dan dapat diandalkan – Sahabatnya sejak kecil. Namun, salah satu orang yang paling ingin ia temui begitu kembali ke rumah ternyata telah mati sebelum mereka sempat bertatap wajah.

“Julius … aku akan membunuh pria itu.” Geram Adro.

***

Grace menarik napas dalam-dalam. Ia membalik tubuhnya dengan sebuah rompi jirah berat di pelukannya. Pandangannya bertemu dengan sepasang mata biru kristal yang menatapnya hangat.

“Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja.” Ucap Adro.

“Kau tahu aku tidak bisa, ‘kan? Pelayan berkata pasukan yang kembali hanya tiga ratus pria dari seribu.” Jawab Grace pelan sembari membantu Adro memasang rompinya. “Aku tidak tahu kostum berperang seberat ini,”

Adro tertawa kecil. “Aku sudah bilang, tidak perlu membantuku memakai ini. Kita berada dalam peperangan asli tapi kau masih berpikir untuk meniru adegan di film,”

“Aku hanya ingin mengantarmu dengan benar. Setidaknya aku mengetahui sedikit bebanmu hanya dengan membantumu mengenakan pakaian perang.” Jelas Grace dengan suara agak bergetar, menyadari Adro harus mengenakan satu set pakaian besi sementara hanya rompinya saja sudah membuat ia kewalahan mengangkatnya.

“Ini bukan apa-apa; aku sudah sering berperang sejak remaja. Tapi aku berterimakasih karena kau sudah mengkhawatirkanku.” Adro mengusap kepala Grace. “Jangan bersedih. Aku masih hidup,”

“Tapi kau sudah lama tidak berperang. Maaf, sejujurnya aku lebih suka melihatmu bekerja sebagai model,”

Adro kembali tertawa, lalu menelangkup kedua pipi Grace dan mengecup bibirnya. “Tidak perlu minta maaf. Aku pun lebih menyukai berpose di depan kamera daripada menumpahkan darah. Doakan aku, oke?” ia mengedipkan sebelah mata.

Grace menghela panjang, lalu mengangguk. Sembari membantu Adro mengenakan bagian-bagian pakaian perangnya, ia berdehem, “Jadi … kalian akan langsung menyerang markas Julius?”

Adro mengangguk. “Penemuan markas Julius mengorbankan ratusan pasukan kami termasuk sahabatku, Leo. Kami akan langsung menyerangnya dan membunuh penyihir sialan itu.”

“Tapi … bukankah Julius sangat kuat? Tidakkah kita harus mencari tahu kelemahannya dahulu?” Tanya Grace berhati-hati.

“Kemampuan besar Julius yang dianugerahi oleh batu sakti itu hanyalah pengendalian monster dan menciptakan monster baru. Untuk pertahanan diri dan bertarung, ia memiliki kekuatan setara penyihir biasa.”

“O-oh… begitu,” Grace berdehem.

Sikap Grace membuat Adro menatapnya dengan mata menyipit. “Kenapa kau tiba-tiba membahas tentang kelemahan Julius? Kau tidak merencanakan apa-apa, ‘kan?”

Grace segera menggeleng. “I-itu… entah mengapa hal itu muncul begitu saja di pikiranku.”

Adro tersenyum tipis, lalu mengencangkan pelindung lengan besinya. “Sementara aku pergi, tolong tetap berlindung di kamarmu. Ada banyak buku menarik yang bisa kau baca; pelayan akan membawakannya ke sini.”

Grace hanya tersenyum tipis dan mengangguk sekali meski ia merasa harus membuat simbol silang dengan kedua jari tangannya.




Komentar