Vlador “Aku mencintaimu.” Mata Vlador berkedut. Apa ia tidak salah dengar? Tubuhnya mematung. Tatapannya terpaku pada seorang gadis yang duduk di lantai sambil menatapnya dengan kedua mata jernih yang digenangi air, bagaikan danau kecil di tengah hutan. “Aku minta maaf jika aku membebanimu. Aku tahu yang kau inginkan adalah kesendirian dan kebebasan. Namun bolehkan aku menempati sebuah sudut kecil dalam hidupmu?” Pertanyaan Triana menusuk telinga Vlador. Ia tidak tahu alasan jantungnya terasa sakit karena itulah yang Triana rasakan atau itu karena kalimat yang dialunkan dengan nada bergetar itu. Triana benar. Kesendirian dan kebebasan adalah hal yang paling Vlador inginkan selama ini. Namun yang gadis itu tidak tahu adalah betapa sulitnya Vlador mempertahankan keinginannya untuk tetap sama. Vlador bahkan tidak tahu sejak kapan ia mulai asing pada kesendirian dan mulai terbiasa pada rantai yang mengikatnya dengan Triana. “Aku tahu perasaanku ini mungkin terdengar m...
Triana. “Mereka bukan sekedar ingin menyiksanya. Mereka ingin memastikan ia memiliki hal yang mereka harapkan.” Ucap Shebsa. “Apa hal itu?” Tanya Triana. “Perasaan.” Jawaban Shebsa membuat Triana termenung. Jadi selama ini Vlador menahan diri untuk tidak meminum darahnya? Sementara jika ia ingin, ia bisa saja meminum darah Triana tanpa membunuhnya. Jika Triana memikirkannya kembali, belakangan ini Vlador tidak pernah menyebut ingin meminum darahnya. Perasaan. Apakah itu artinya Vlador memang memiliki perasaan peduli padanya? Apakah Vampir Verdonix menganggap perasaan adalah kelemahan Vlador? Triana mengangkat wajahnya kembali. “Aku harap aku bisa segera bertemu Tuan Vlador. Aku sangat mengkhawatirkannya dan… ingin melihatnya.” “Mungkin salah satu dari saudari kita ada yang bersedia mengantarmu setelah makan.” Ucap Shebsa, menatap para penyihir muda yang saling menoleh. “Yah, karena aku adalah yang paling pemberani di sini, aku akan mengantarmu.” Ucap penyihir yang...