Langsung ke konten utama

Postingan

Update Terbaru

73. Menahan Diri // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana.   Air mata menggenangi kedua iris birunya. Triana terus menahan agar air mata itu tidak terjatuh. Vlador telah meninggalkannya. Vlador membuangnya. Dengan langkah limbung, Triana kembali menuju kamarnya. Udara dingin yang memecut kulit dan menusuk tulangnya tidak ia pedulikan. Hatinya sakit dan ketakutan menyelimutinya. Vlador memang tidak mengembalikannya pada keluarganya, namun ia meninggalkannya di kapal yang entah berlayar ke mana. Triana hanya bodoh. Ia pikir Vlador tulus padanya. Namun ternyata hal yang sempat ia takutkan benar adanya. Yang selama ini pria itu pedulikan hanyalah kutukan mereka. Pada akhirnya, Triana menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tulus padanya. Semua orang hanya tinggal untuk memanfaatkannya. Ia hanyalah boneka yang dipamerkan, dan akan dibuang ketika sudah usang dan membosankan. Tiba-tiba sesuatu menarik lengan Triana dan membuat tubuhnya berbalik. “Triana, aku sudah berkata jangan keluar dari kamar. Apa kau t...
Postingan terbaru

72. Sendirian // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana.   Kereta menarik mereka hingga ke kota Verxic, tepatnya di depan kantor perjalanan kapal di dekat dermaga untuk memeriksa apakah ada kapal yang akan berlayar dalam waktu dekat. “Berikan satu kamar terbaik di kapal itu dan bawakan semua barang kami ke sana.” Ucap Vlador seraya meletakkan uang di atas meja. Tanpa menggerakkan kepalanya, Triana melirik kepingan koin tersebut. Vlador bahkan tidak ragu meminta satu kamar tanpa bertanya tentang pendapatnya terlebih dahulu. Mengingat kejadian di tub darah, jika mereka tinggal dalam satu kamar selama di kapal, apa yang akan terjadi? Mungkin pikirannya terlalu kotor, namun bukankah wajar jika hal itu muncul di benaknya? “Ini adalah kapal pertama yang berlayar dalam satu bulan ini. Angin musim dinginnya masih belum berakhir, namun tidak sebesar dua hari terakhir.” Jelas petugas pria dengan kumis tebal dan bekas luka panjang di punggung tangan hingga lengannya. Petugas itu menyodorkan selembar kertas. “Tolong isi perse...

71. Pengangkatan Kutukan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana   Matanya mengerjap cepat, seakan ingin meruntuhkan bulu mata lentiknya seperti ranting pohon menggugurkan daunnya di musim gugur. “Bukankah tidak sopan membuat Shebsa menunggu seperti ini?” Ucap Vlador sebelum memegang kedua pundak Triana dan memutar tubuhnya. Vlador membawa Triana kembali menghadap Shebsa yang menyambut mereka dengan senyum lembut. Sementara itu, Triana berusaha mengendalikan wajahnya yang terasa panas. “Kelihatannya kalian sudah selesai. Ikutlah denganku.” Ucap Shebsa. Kemudian wanita dengan gaun lurus yang menyapu lantai es itu mengantar mereka pada sebuah altar yang berada di tengah-tengah sarang Elix. Altar itu adalah titik yang mendapatkan cahaya paling terang di tempat itu. “Ini adalah pertanyaan terakhirku.” Ucap Shebsa, berdiri di hadapan Triana dan Vlador. “Apakah kalian ingin mengangkat kutukan yang mengikat kalian?” Pertanyaan Shebsa menumbuhkan duri di kerongkongan Triana. Dengan leher agak kaku, ia menoleh pada Vlador dan menya...

70. Milikku // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador   “Aku mencintaimu.” Mata Vlador berkedut. Apa ia tidak salah dengar? Tubuhnya mematung. Tatapannya terpaku pada seorang gadis yang duduk di lantai sambil menatapnya dengan kedua mata jernih yang digenangi air, bagaikan danau kecil di tengah hutan. “Aku minta maaf jika aku membebanimu. Aku tahu yang kau inginkan adalah kesendirian dan kebebasan. Namun bolehkan aku menempati sebuah sudut kecil dalam hidupmu?” Pertanyaan Triana menusuk telinga Vlador. Ia tidak tahu alasan jantungnya terasa sakit karena itulah yang Triana rasakan atau itu karena kalimat yang dialunkan dengan nada bergetar itu. Triana benar. Kesendirian dan kebebasan adalah hal yang paling Vlador inginkan selama ini. Namun yang gadis itu tidak tahu adalah betapa sulitnya Vlador mempertahankan keinginannya untuk tetap sama. Vlador bahkan tidak tahu sejak kapan ia mulai asing pada kesendirian dan mulai terbiasa pada rantai yang mengikatnya dengan Triana. “Aku tahu perasaanku ini mungkin terdengar m...

69. Monster dan Parasit // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana.   “Mereka bukan sekedar ingin menyiksanya. Mereka ingin memastikan ia memiliki hal yang mereka harapkan.” Ucap Shebsa. “Apa hal itu?” Tanya Triana. “Perasaan.” Jawaban Shebsa membuat Triana termenung. Jadi selama ini Vlador menahan diri untuk tidak meminum darahnya? Sementara jika ia ingin, ia bisa saja meminum darah Triana tanpa membunuhnya. Jika Triana memikirkannya kembali, belakangan ini Vlador tidak pernah menyebut ingin meminum darahnya. Perasaan. Apakah itu artinya Vlador memang memiliki perasaan peduli padanya? Apakah Vampir Verdonix menganggap perasaan adalah kelemahan Vlador? Triana mengangkat wajahnya kembali. “Aku harap aku bisa segera bertemu Tuan Vlador. Aku sangat mengkhawatirkannya dan… ingin melihatnya.” “Mungkin salah satu dari saudari kita ada yang bersedia mengantarmu setelah makan.” Ucap Shebsa, menatap para penyihir muda yang saling menoleh. “Yah, karena aku adalah yang paling pemberani di sini, aku akan mengantarmu.” Ucap penyihir yang...

68. Sarang Penyihir Elix // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador.   “Apa itu adalah seorang vampir, Artexia?” Wanita dengan jubah silver dan tongkat putih yang memiliki batu kristal biru di atasnya menatap Vlador. Ia mengangguk sekali. “Aku rasa begitu.” Anak perempuan yang penuh dengan pertanyaan itu mengerutkan keningnya ketika kembali memperhatikan Vlador. “Ia terluka dan terlihat berbeda dari vampir lain.” Pandangan Vlador mulai kehilangan ketajamannya, seakan diselimuti oleh kabut yang kian menebal. Ia menatap seorang wanita dan gadis kecil yang memiliki rupa yang sama itu. Ia mendesis karena mereka adalah penyihir. Vlador yakin mereka adalah Penyihir Elix yang selama ini ia cari. Itu adalah sebuah harapan besar yang seharusnya membuatnya bersukacita. Namun seperti yang sudah ia alami dengan Elijah, mereka makhluk jahat. Sayangnya Vlador tidak berdaya. Triana yang sudah sekarat mempengaruhi kekuatannya, bahkan kesadarannya. Jantungnya terasa terbakar dan ditikam secara bersamaan. “Aku rasa kau benar, Eanna. Yang satu ...

67. Di Tengah Badai Salju // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador   Ia adalah vampir yang berhasil mengalahkan ratusan vampir di masa perang. Nyawa manusia yang meregang di tangannya pun tak terhitung jumlahnya. Namun hanya dengan sihir penyihir, sang pangeran kegelapan jatuh di atas kedua lututnya dan terkurung di penjara kastilnya sendiri hingga seratus tahun lamanya. Vlador tidak tahu ia mampu melepaskan diri dari rantai sihir penyihir sehebat klan Elix. Dan ia yakin, Elijah adalah salah satu yang tidak boleh diremehkan. Sayapnya menghantam patah jeruji yang mengurungnya. Lalu cakarnya menyambar salah satu jeruji tersebut sebelum melemparnya ke arah Frederick yang hendak membawa Triana kabur. Naas, bahkan untuk sesama vampir, Frederick tidak mampu menyaingi kecepatan gerakan Vlador, terlebih ketika ia sedang murka. Tiang besi itu menghantam kepalanya hingga ia terlempar ke depan. “Hentikan dia!” Seru Elijah, hendak menembakkan sihirnya ke arah Vlador. Namun mata merah Vlador mengerling pada sosok penyihir berambut putih ...