Triana. Air mata menggenangi kedua iris birunya. Triana terus menahan agar air mata itu tidak terjatuh. Vlador telah meninggalkannya. Vlador membuangnya. Dengan langkah limbung, Triana kembali menuju kamarnya. Udara dingin yang memecut kulit dan menusuk tulangnya tidak ia pedulikan. Hatinya sakit dan ketakutan menyelimutinya. Vlador memang tidak mengembalikannya pada keluarganya, namun ia meninggalkannya di kapal yang entah berlayar ke mana. Triana hanya bodoh. Ia pikir Vlador tulus padanya. Namun ternyata hal yang sempat ia takutkan benar adanya. Yang selama ini pria itu pedulikan hanyalah kutukan mereka. Pada akhirnya, Triana menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tulus padanya. Semua orang hanya tinggal untuk memanfaatkannya. Ia hanyalah boneka yang dipamerkan, dan akan dibuang ketika sudah usang dan membosankan. Tiba-tiba sesuatu menarik lengan Triana dan membuat tubuhnya berbalik. “Triana, aku sudah berkata jangan keluar dari kamar. Apa kau t...
Triana. Kereta menarik mereka hingga ke kota Verxic, tepatnya di depan kantor perjalanan kapal di dekat dermaga untuk memeriksa apakah ada kapal yang akan berlayar dalam waktu dekat. “Berikan satu kamar terbaik di kapal itu dan bawakan semua barang kami ke sana.” Ucap Vlador seraya meletakkan uang di atas meja. Tanpa menggerakkan kepalanya, Triana melirik kepingan koin tersebut. Vlador bahkan tidak ragu meminta satu kamar tanpa bertanya tentang pendapatnya terlebih dahulu. Mengingat kejadian di tub darah, jika mereka tinggal dalam satu kamar selama di kapal, apa yang akan terjadi? Mungkin pikirannya terlalu kotor, namun bukankah wajar jika hal itu muncul di benaknya? “Ini adalah kapal pertama yang berlayar dalam satu bulan ini. Angin musim dinginnya masih belum berakhir, namun tidak sebesar dua hari terakhir.” Jelas petugas pria dengan kumis tebal dan bekas luka panjang di punggung tangan hingga lengannya. Petugas itu menyodorkan selembar kertas. “Tolong isi perse...