Langsung ke konten utama

Postingan

Update Terbaru

67. Di Tengah Badai Salju // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador   Ia adalah vampir yang berhasil mengalahkan ratusan vampir di masa perang. Nyawa manusia yang meregang di tangannya pun tak terhitung jumlahnya. Namun hanya dengan sihir penyihir, sang pangeran kegelapan jatuh di atas kedua lututnya dan terkurung di penjara kastilnya sendiri hingga seratus tahun lamanya. Vlador tidak tahu ia mampu melepaskan diri dari rantai sihir penyihir sehebat klan Elix. Dan ia yakin, Elijah adalah salah satu yang tidak boleh diremehkan. Sayapnya menghantam patah jeruji yang mengurungnya. Lalu cakarnya menyambar salah satu jeruji tersebut sebelum melemparnya ke arah Frederick yang hendak membawa Triana kabur. Naas, bahkan untuk sesama vampir, Frederick tidak mampu menyaingi kecepatan gerakan Vlador, terlebih ketika ia sedang murka. Tiang besi itu menghantam kepalanya hingga ia terlempar ke depan. “Hentikan dia!” Seru Elijah, hendak menembakkan sihirnya ke arah Vlador. Namun mata merah Vlador mengerling pada sosok penyihir berambut putih ...
Postingan terbaru

66. Upacara Langit Hitam // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Seorang wanita berkulit coklat masuk ke ruang besar itu. Vlador mengenali wajahnya, ia adalah gadis pelayan yang ditugaskan mendampingi Triana. Ia sempat berpikir gadis itu hanyalah pelayan biasa yang akan menjadi teman Triana untuk sementara, namun ternyata ia telah lengah hingga tertipu oleh mata-mata itu. Elijah yang melangkah dengan dagu terangkat dan pundak tegap membuat Vlador mengerutkan keningnya. Rasanya tidak mungkin pelayan itu bersikap seangkuh itu hanya karena ia telah menjalankan tugasnya dengan benar sebagai mata-mata; ia adalah manusia. Selain Elijah, keluarga Vampir Verdonix yang lain juga memasuki ruangan. Mereka berdiri melingkari kadang yang mengurung Vlador, namun Elijah berdiri beberapa langkah dari jeruji yang memenjarai Vlador. Senyum terbentuk di bibir Elijah. “Aku sudah berkata, kalian tidak perlu menutup matanya. Ia bisa melihat segalanya bahkan di jurang tergelap sekalipun. Sihirku sudah cukup kuat terbalur pada rantainya.” “Siapa kau sebenarn...

65. Penangkapan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana.   “Dia di sini.” Kalimat Elijah membuat Triana menoleh ke belakang. Matanya membesar melihat Vlador melangkah cepat menuju ke arahnya. “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Vlador. Triana terdiam, tanpa sadar menelisik wajah kalut Vlador yang hampir tidak pernah ia lihat. Namun selain itu, pria tersebut juga terlihat berantakan, yang ia tahu mengapa. “Hei, apa kau baik-baik saja?” Vlador memegang kedua pundak Triana dan mengguncangnya sedikit hingga mendapatkan fokusnya. Meneguk liur, Triana menggelengkan kepalanya yang tegang. Bibir Vlador mengatup, namun kedua matanya memperhatikan Triana dan kaki hingga kepala dan berhenti di kedua matanya, membuat Triana harus mengalihkan pandangannya ke samping. Triana melangkah mundur, melepaskan kedua pundaknya dari cengkraman Vlador. “Maaf, aku mendapat mimpi buruk jadi aku terbangun.” Masih memperhatikan Triana dengan mata menyipit dan kening sedikit mengkerut, Vlador bertanya pelan, “Apa kau… mungkin baru saja datang da...

64. Perpustakaan Panas Elizabeth // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador   Dua sosok terlukis di dalam gulungan usang tersebut. Vlador mengenali kedua wajah itu karena terlihat sangat mirip dengan kakeknya dan ayahnya, namun ayahnya masih anak-anak. Ia cukup yakin, itu adalah mereka. Selain lukisan kakeknya dan ayahnya, terdapat sosok manusia setengah gagak yang terlukis di antara tulisan-tulisan penyihir. “Gagak hitam,” Vlador bergumam. “Hm, kelihatannya kau menemukan sesuatu yang penting,” Tebak Elizabeth. “Penyihir itu benar berada di sini. Pasti ada ruang rahasia atau sesuatu.” Vlador meletakkan gulungan kertas itu di atas meja, lalu menoleh pada Elizabeth dengan kening mengkerut. “Kau yakin keluargamu tidak ada yang tahu tentang ini?” “Perpustakaan ini adalah ruang bermainku sejak kecil. Tidak ada yang peduli, untuk apa aku peduli mengatakannya pada mereka?” Jawab Elizabeth. “Aku harus memanggil mereka kembali,” Ucap Vlador seraya menghela gusar. Lalu Vlador membereskan gulungan kertas itu dan menyatukannya dengan buku bersam...

63. Kekhawatiran // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Vlador Ingatan itu bagai sebuah buku usang yang hanya terbuka untuk mencabik dada Vlador. Namun, seperti biasa, hal menyakitkan itu malah menarik sebuah senyum di bibirnya. Sudah sangat lama sejak terakhir ia bicara sepanjang itu pada seseorang. Orang terakhir yang mendengarnya adalah ibunya. Apakah ia bicara terlalu banyak? Tertawa kecil, Vlador mengembalikan fokus matanya pada Triana. “Sudah cukup dongeng-“ Lidahnya mendadak kaku dan kedua bibirnya membeku. Aroma hangat darah bercampur bunga-bunga kering menggerayangi hidungnya. Helai-helai rambut dengan lembut terjatuh dan membelai pipi dan lehernya. Sebuah dekapan hangat menyelumbunginya. “Anak malang. Tidak seharusnya kau mengalami itu semua,” Suara setengah berbisik Triana bergetar di samping telinga Vlador. “Kau pantas mendapatkan hidup bahagia. Maafkan aku.” Mata Vlador terpaku kosong ke depan sementara udara dingin berlalu di ujung lidahnya. Kalimat itu, suara itu, dan dekapan itu seharusnya adalah milik penyihi...

62. Masa Lalu Vlador // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Triana Matanya melebar dan ia harus menahan napasnya untuk beberapa saat. “Eum…” Ia berdehem, lalu berucap, “Terima kasih banyak. Namun aku takut menyinggung perasaanmu karena keluargamu tidak memberikan cinta keluarga yang seharusnya padamu. Karena itu aku tidak yakin kau bisa mengerti perasaanku karena kau tidak tahu rasanya mencintai keluargamu.” “Pft!” Tawa hampir menyembur dari mulut Vlador. “Aku benar-benar minta maaf atas kalimatku yang memang terdengar jahat. Tapi itulah alasan jujurku, Tuan Vlador. Kau berkata untuk tidak bersikap kaku, ‘kan?” Triana berusaha menjelaskan. Masih dengan tawa tipis, Vlador menatap Triana, “Apa aku mengatakan sesuatu atas pernyataanmu? Aku lebih menyukai kejujuran itu.” Kalimat terakhir Vlador membuat Triana tanpa sadar mengigit bibir bawahnya. Ia segera membuang wajahnya ke arah jendela. “Kau hanya suka melihatku merasa bersalah.” Menyandarkan sikunya di sandaran kursi dan pipinya di telapak tangan, Vlador menatap Triana sambil ber...