Vlador
Dua sosok terlukis di dalam gulungan usang tersebut. Vlador mengenali kedua wajah itu karena terlihat sangat mirip dengan kakeknya dan ayahnya, namun ayahnya masih anak-anak.
Ia cukup yakin, itu adalah mereka.
Selain lukisan kakeknya dan ayahnya, terdapat sosok manusia setengah gagak yang terlukis di antara tulisan-tulisan penyihir.
“Gagak hitam,” Vlador bergumam.
“Hm, kelihatannya kau menemukan sesuatu yang penting,” Tebak Elizabeth.
“Penyihir itu benar berada di sini. Pasti ada ruang rahasia atau sesuatu.” Vlador meletakkan gulungan kertas itu di atas meja, lalu menoleh pada Elizabeth dengan kening mengkerut. “Kau yakin keluargamu tidak ada yang tahu tentang ini?”
“Perpustakaan ini adalah ruang bermainku sejak kecil. Tidak ada yang peduli, untuk apa aku peduli mengatakannya pada mereka?” Jawab Elizabeth.
“Aku harus memanggil mereka kembali,” Ucap Vlador seraya menghela gusar.
Lalu Vlador membereskan gulungan kertas itu dan menyatukannya dengan buku bersampul kulit ular untuk ia bawa. “Kami mencarinya susah payah di luar sana, ternyata apa yang kami cari sangat dekat dengan tempat kami tidur. Aku tidak tahu apa motifmu…”
Kalimat Vlador terhenti begitu ia membalik tubuhnya. Keningnya mengkerut pada sesuatu yang ia tidak percaya sedang ia lihat.
Senyum merekah di bibir Elizabeth. Tangannya melepas gaun tebal yang kemudian membuat suara bump saat mendarat di atas lantai kayu.
“Karena aku sudah memberimu keuntungan sesuai janji, kau harus mengabulkan permintaanku.” Ucap Elizabeth.
Vlador tersenyum miring. Meski Elizabeth hanya mengenakan korset dalamannya, ia tetap fokus menatap geram kedua mata berani wanita itu.
“Jadi kau adalah pelacur,” Desis Vlador.
Seraya membuka tali korsetnya dengan tenang, Elizabeth menjawab, “Mulutmu setajam cakarmu, yang mulia. Kau benar adalah pangeran yang kejam.” Lalu ia menaikkan pandangannya dan tersenyum lebar. “Aku menyukainya.”
“Apa yang kau harapkan dengan melakukan ini? Apa kau sengaja ingin menampar harga diriku sebagai keturunan Raja Dracount atau berharap aku berbagi benih vampir bangsawan untuk keluargamu?” Tanya Vlador.
“Tidak keduanya.”
Jawaban Elizabeth mengalun selaras dengan jatuhnya korsetnya ke atas lantai. Kedua kaki jenjang dan rampingnya melangkah keluar dari lingkaran garmen yang membalut tubuhnya satu detik yang lalu. Langkah itu berlanjut hingga ia berdiri tepat di hadapan Vlador.
“Aku hanya seorang wanita kesepian yang, untuk pertama kalinya, tertarik pada lawan jenis. Aku hanya ingin merasakan dipuaskan oleh pria yang membuat jantungku yang sudah lama mati ini berdetak.”
Penjelasan Elizabeth membuat Vlador mengeratkan rahangnya. Ia tersenyum tipis. “Kau sangat percaya diri hingga melepas semua pakaianmu meski belum mendengar persetujuanku.”
Satu alis Elizabeth terangkat. Ia mengangkat tangannya dan meletakkan jemari lentiknya di atas dada Vlador. “Oh, aku percaya ini tidak ada ruginya untukmu, pangeran. Apa kira-kira yang membuatmu ragu?”
Vlador terdiam. Ia menatap kedua mata menggoda Elizabeth, namun pikirannya berada di kamar hangat tempat Triana terlelap.
Ia sudah meniduri banyak gadis dan wanita sepanjang hidupnya, seharusnya yang satu ini bukanlah masalah. Tapi sebuah perasaan aneh yang tidak dapat ia jelaskan benar-benar mengganggunya.
Itu adalah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Perasaan itu pertama kali muncul ketika ia melihat ibunya ditinggal oleh Raja Dracount.
“Kenapa, pangeran? Kenapa aku melihat keraguan di wajah indahmu ini?” Bisik Elizabeth sambil mengusapkan ujung jarinya mengikuti garis rahang Vlador.
Vlador mengembalikan fokusnya pada kedua manik merah Elizabeth yang terus menatapnya penuh rasa lapar. Seyum miring terbentuk di bibir merah wanita itu.
“Rumor berkata kau adalah pangeran yang tidak berbeda dengan vampir-vampir pria lainnya. Bukankah kalian akan menancapkan taring kalian di daging segar manapun ketika kalian lapar?” Tanya Elizabeth.
“Atau…” Wanita itu melanjutkan seraya menurunkan tangannya kembali ke dada Vlador. “…ada seseorang yang membuatmu harus menahan diri?”
Vlador menahan air di wajahnya untuk tidak beriak. Dan itu sungguh menguras energinya kali ini. Hasratnya untuk membunuh wanita itu hampir meledakkan kepalanya.
“Aku tahu aku berhutang budi padamu. Namun aku hanya menyentuh perempuan yang berhasil menghiburku.” Ucap Vlador seraya mengulas senyum miring.
Kemudian ia menyambar rahang mungil Elizabeth dan mengusap keras bibir tebalnya dengan jempolnya. “Aku adalah seorang pangeran, jalang.”
Begitu Vlador melepas rahangnya, Elizabeth terkekeh dan mengangguk. “Selama hidupku, hanya kau yang menyebutku jalan dan pelacur. Kau bahkan memberiku detail untuk benar-benar terlihat seperti itu. Menyenangkan sekali. Aku suka permainan ini.”
Kemudian Elizabeth melangkah mundur dan mengangkat kedua tangannya. Tatapannya tidak lepas dari kedua mata Vlador sementara ia mulai menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan kanan, disusul oleh gerakan-gerakan lain yang pernah Vlador lihat dalam tarian para penari wanita dari timur. Gerakan mereka sama-sama lugas, bedanya wanita jalang itu melakukannya tanpa musik dan tanpa satu pun helai benang menutup tubuhnya.
“Selama ini aku belajar menari untuk mengisi waktu. Tidak aku sangka akan melakukan pertunjukan pertamaku seperti ini.” Ucap Elizabeth sambil mengelilingi Vador.
Sementara itu, Vlador hanya berdiri diam menahan letupan amarahnya sambil terus melekatkan tatapannya pada Elizabeth yang bergelayutan dan menggesekkan tubuhnya padanya seperti anjing birahi.
Sungguh menyedihkan karena Vlador tidak lagi memiliki alasan untuk menolak. Bahkan jika ia menunjukkan sedikit saja isi pikirannya di wajahnya, Elizabeth akan curiga ia memiliki perasaan untuk Triana. Dengan begitu, mereka akan memanfaatkan Triana untuk mengendalikan dirinya.
Sebuah belaian menarik rahang Vlador, menuntutnya untuk menatap kedua mata Elizabeth lebih dekat.
“Aku harap kau cukup terhibur, pangeran,” Bisik wanita itu sebelum melangkah mundur untuk duduk di sofa panjang. Lalu ia mengangkat kedua kakinya yang terbuka lebar.
Tangannya bergerak dari bawah ke atas hingga keduanya berhenti di atas kepalanya dan mencengkram sandaran sofa. Kemudian ia mendesah, “Aku tidak tahan lagi untuk segera merasakanmu. Aku mohon, Pangeran Vlador.”
Mengeratkan rahangnya, Vlador tersenyum miring seraya membuka ikatan celananya. Ia akan menyelesaikan ini dengan cepat. Setelah ia berhasil menemukan penyihir Elix, ia bersumpah akan mengubah wanita jalang itu menjadi abu.
Vlador melangkahkan kakinya menghampiri Elizabeth seraya menurunkan celananya setengah. Tanpa berkata apa pun lagi, ia memberikan apa yang wanita itu terus pinta.
Erangah keras bergetar keluar dari bibir basah Elizabeth ketika Vlador memasuki dirinya. Ia memeluk leher Vlador dan bergerak ingin menciumnya, namun Vlador mengelak dengan menahan kedua tangan wanita itu di atas. Ia tidak suka dipegang oleh sembarang wanita.
Suara yang Elizabeth hasilkan kian mengganggu pendengaran Vlador, namun ia harus tetap memuaskan wanita itu sambil menahan amarah yang terus membakar dadanya.
Apakah ia hancurkan saja wanita itu sekalian?
Ia bisa mengatakan pada keluarga Elizabeth bahwa ia terlalu berhasrat hingga tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Namun itu artinya kegiatan mereka akan diketahui semua orang termasuk Triana, ‘kan?
Tiba-tiba sensasi aneh muncul di dalam dada Vlador, hingga membuat lamunannya buyar. Keningnya mengerut dan ia mengerinyit ketika sensasi itu berubah menjadi rasa menusuk.
Meski baru pertama kali merasakan sakit yang seperti itu, ia mengetahui bahwa itu berasal dari jantung Triana.
Mata Vlador terbelalak. Ia langsung menghentikan pergerakan kasarnya dan melepas tubuhnya dari Elizabeth tanpa aba-aba.
“A-ada apa, pangeran?” Tanya Elizabeth dengan napas terengah dan suara serak.
Vlador tidak menjawab. Ia hanya mengenakan celananya secepat mungkin dan pergi keluar dari perpustakaan itu, meninggalkan Elizabeth yang masih duduk kebingungan di atas sofa.
***
Triana.
Tangan mungilnya menutup mulutnya agar tidak bersuara. Air mata sudah menggenang di atas kedua iris birunya, siap untuk jatuh namun masih bisa ditahan.
Triana tidak percaya apa yang ia baru saja saksikan.
Ia menggeleng kasar, berusaha menenangkan dan menyadarkan dirinya sendiri.
Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Vlador bebas bersenang-senang dengan siapa saja dan wanita manapun. Namun Triana tidak dapat menahan air matanya untuk berakhir terjatuh.
Sebuah tangan mengusap punggung Triana, membuatnya menoleh untuk bertemu sepasang mata coklat hazel yang menatapnya penuh penyesalan.
“Aku benar-benar minta maaf, lady. Tidak seharusnya aku mengajakmu ke taman belakang. Aku pikir taman itu cukup indah, jadi aku…”
Triana menggeleng pelan. “Ini bukan salahmu, Elijah. Kau tidak tahu apa-apa. Mungkin Tuhan memang ingin menunjukkan itu semua padaku.”
![]() |
| Sendal Kodok >>> |
![]() |
| Pants >>> |


Komentar
Posting Komentar