Vlador
Ingatan itu bagai sebuah buku usang yang hanya terbuka untuk mencabik dada Vlador. Namun, seperti biasa, hal menyakitkan itu malah menarik sebuah senyum di bibirnya.
Sudah sangat lama sejak terakhir ia bicara sepanjang itu pada seseorang. Orang terakhir yang mendengarnya adalah ibunya.
Apakah ia bicara terlalu banyak?
Tertawa kecil, Vlador mengembalikan fokus matanya pada Triana. “Sudah cukup dongeng-“
Lidahnya mendadak kaku dan kedua bibirnya membeku. Aroma hangat darah bercampur bunga-bunga kering menggerayangi hidungnya. Helai-helai rambut dengan lembut terjatuh dan membelai pipi dan lehernya.
Sebuah dekapan hangat menyelumbunginya.
“Anak malang. Tidak seharusnya kau mengalami itu semua,” Suara setengah berbisik Triana bergetar di samping telinga Vlador. “Kau pantas mendapatkan hidup bahagia. Maafkan aku.”
Mata Vlador terpaku kosong ke depan sementara udara dingin berlalu di ujung lidahnya.
Kalimat itu, suara itu, dan dekapan itu seharusnya adalah milik penyihir karena tidak ada satu makhluk hidup di dunia yang mampu membuatnya membatu selain mantra penyihir yang sangat hebat.
Namun kenapa gadis manusia itu membuatnya kehilangan arah?
Ia adalah seorang gadis dengan segala hal yang Vlador benci. Ia adalah penyebab Vlador harus mengalami penderitaan baru yang lebih panjang. Seharusnya ia menderita selama kutukannya masih mengikat mereka.
Seharusnya mereka saling membenci.
Kutukannya harus diputuskan dan mereka harus berpisah.
Mengatupkan mulutnya, Vlador memegang kedua pundak Triana dan mendorongnya perlahan hingga pelukan hangat itu lepas. Hal pertama yang ia lihat adalah kedua mata biru yang mengalirkan air seperti mata air kecil yang tersembunyi di hutan gelap.
“Masa laluku bukan tanggungjawabmu. Air mata itu tidak seharusnya mengalir karenaku.” Ucap Vlador seraya mengusap singkat bulir air dari pipi Triana. Lalu ia terkekeh dan berucap, “Itik bodoh.”
“Kau lebih bodoh karena tidak paham empati.” Balas Triana seraya mengusap air matanya sendiri. “Aku rasa kau jadi seperti itu karena hal tragis yang kau alami saat kecil.”
Vlador menggeleng dan menatap Triana lekat. “Kau salah. Itu karena vampir tidak memiliki perasaan seperti manusia. Itulah mengapa kami disebut makhluk tanpa hati dan berdarah dingin.”
“Tapi-“
“Dengar aku, Itik,” Vlador memotong bantahan Triana. “Manusia akan sengsara jika hidup bersama vampir. Contoh jelasnya adalah ibuku. Kau tidak bisa mengharapkan cinta dari seorang vampir karena vampir tidak memiliki itu.”
Kalimat Vlador membuat Triana terdiam. Kedua iris gadis itu melebar, seakan hendak menyerap Vlador ke dalamnya. Pemandangan itu menciptakan rasa tidak nyaman di dada Vlador.
Kelihatannya apa yang Vlador pikirkan benar. Dan seharusnya ia tidak merasa takut akan itu. Seharusnya ia tidak peduli, namun ia tidak bisa mengabaikannya. Karena itu ia harus menghentikannya selagi ia masih mampu mengendalikannya.
Kisah masa kecil menyedihkan Vlador bagaikan sebuah dongeng yang menghantarkan Triana tidur dengan mata sembab.
Vlador harap Triana mengerti dengan jelas maksud dari kalimatnya. Ia harap itu menghentikan segala rencana yang ada di benak Triana yang melibatkannya.
“Aku tidak boleh ada di dalam masa depanmu.” Gumam Vlador sambil menatap wajah terlelap Triana.
Ia memejamkan matanya sejenak untuk merasakan jantung Triana yang berdetak teratur dan merasakan hembusan napas panas yang mengalir dari kedua bibir merah yang sedikit terbuka itu. Ketika ia membuka matanya, wajah cantik gadis itu kembali menyapanya.
Seharusnya ia tidak peduli pada satu makhluk pun di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Namun untuk kali ini saja, ia harap gadis polos di hadapannya tidak bernasib sama seperti ibunya.
Jangan lagi ada bunga tercantik di taman yang layu dan hancur hanya karna keegoisan sang kegelapan.
“Itik bodoh, masih ada masa depan cerah di sana. Aku akan mengusahakannya untukmu.” Ucap Vlador sembari tersenyum tipis.
Kemudian ia bangkit dari kursinya dan menarik selimut Triana lebih tinggi hingga menutupi dagu bulat gadis itu.
Kediaman vampir tidak pernah cocok untuk manusia yang mudah kedinginan.
Vlador meninggalkan Triana di dalam kamar. Langit masih gelap meski pagi akan bangkit tidak lama lagi. Seperti yang ia duga, Triana tidak akan mudah terbiasa pada waktu aktivitas vampir yang bertolak belakang dengan manusia.
Mereka berkata angin musim dingin seharusnya sudah datang, namun alam mungkin sedang berpihak pada mereka karena angin itu masih belum memberikan tanda-tanda kedatangannya. Sialnya, tanda-tanda tentang keberadaan penyihir Elix pun sama-sama tidak terlihat.
Jika hingga tanda angin dinginnya datang mereka masih belum berhasil menemukan penyihir Elix, Vlador terpaksa mengikuti rencana yang Triana usulkan, yaitu menginap di penginapan hingga angin musim dinginnya berlalu.
Masalahnya, ia tidak yakin bisa menahan dirinya selama itu. Dan jika Triana akan melanggar batas lagi, ia terpaksa harus menggunakan cara keras yang tidak ingin ia gunakan dan pastinya akan menyakiti gadis itu.
“Yang mulia,”
Suara wanita itu menarik Vlador keluar dari pikirannya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita muda bermata merah tengah berdiri di sisi lorong dan tersenyum padanya.
“Aku dengar hasil pencariannya kurang bagus. Itu pasti membebani pikiranmu.” Ucap wanita itu seraya melangkah menghampiri Vlador.
“Bukankah kau adalah putri Frederick? Aku tidak tahu bahwa kau adalah perempuan kurang ajar.” Tanya Vlador.
“Namaku adalah Elizabeth, jika kau mungkin melupakannya.” Ucap wanita itu, masih dengan senyuman berani yang sama. “Maaf jika sikap asliku ini mengganggumu, pangeran. Ayahku tidak berada di sini.”
“Kau benar menggangguku.” Vlador melipat lengannya di depan dada. “Enyahlah jika kau masih ingin melihat hari esok. Aku tidak segan mencabikmu di rumahmu sendiri.”
“Mereka benar bahwa kau adalah pangeran terkejam.” Elizabeth terkekeh singkat. “Namun bagaimana jika aku berkata bahwa aku memiliki sesuatu yang mungkin berguna untukmu?”
“Bagaimana kau tahu itu berguna untukku?” Tanya Vlador acuh.
“Aku pikir kau mencari-cari informasi mengenai penyihir Elix, benar?” Elizabeth memiringkan kepalanya sedikit.
Vlador terdiam sejenak, namun ia tidak membiarkan pancingan wanita itu mengeraskan wajahnya. “Kau terlihat sangat yakin bahwa infomasi yang kau miliki sepenting itu di saat ayahmu tengah mengirim pria-pria dan anjing-anjing peliharaannya untuk bertarung nyawa di luar sana.”
Tertawa kecil, Elizabeth melipat lengannya di depan dada. “Aku adalah vampir, pangeran. Bukankah kau juga?”
“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Vlador, membaca wanita itu dari kaki hingga kepala. Ia merasa seperti sedang bercermin.
Menggidik bahu, Elizabeth melangkah melewati Vlador. “Aku hanya mencari teman setelah terjebak puluhan tahun di dataran menyedihkan ini.”
“Keluargamu memang membosankan.” Sahut Vlador seraya mengikuti langkah Elizabeth. “Biar aku tebak; Tidak ada yang menanggapi sikap kurang ajarmu?”
“Lebih tepatnya, tidak ada yang kurang ajar di sini selain diriku… hingga aku bertemu denganmu.” Jawab Elizabeth sebelum mengedipkan satu matanya dan tersenyum miring.
“Kau harus berharap informasi itu benar-benar penting agar lidahmu yang kotor itu masih menetap di mulutmu besok.” Ucap Vlador.
“Kau pikir aku takut pada ancaman-ancamanmu meski kau adalah seseorang yang dipanggil ‘Yang Mulia’? Hidup dalam kebosanan ini akan membuatmu berpikir untuk berubah menjadi abu dan terbang bersama angin.”
Kalimat Elizabeth membuat Vlador terdiam. Ia gadis yang kurang ajar, namun apa yang ia katakan bisa Vlador terima. Terkurung di penjara bawah tanah selama seratus tahun juga membuatnya berpikir bahwa mati akan lebih menyenangkan.
Elizabeth membawa Vlador ke sayap kiri mansion. Di sana terdapat sebuah perpustakaan yang berukuran lebih kecil dari milik Cresentia.
“Ini adalah ruang belajarku, anggap saja rumahmu sendiri.” Ucap Elizabeth seraya menghampiri sebuah meja tulis yang agak berantakan oleh buku-buku dan alat tulis.
Di laci meja tersebut, gadis itu mengambil sebuah kunci yang terbuat dari tembaga.
“Tidak ada yang mengetahui benda ini selain diriku.” Elizabeth melirik Vlador yang berdiri di samping meja tulisnya. Lalu ia tersenyum tipis dan membuka sebuah lemari sempit yang menyatu dengan rak buku di belakang kursi belajarnya.
Dari lemari itu, ia mengeluarkan sebuah buku usang tipis dengan sampul dan tali kulit ular. Kening Vlador sedikit mengkerut karena perkakas berbahan kulit ular identik dengan penyihir.
“Kabarnya klan kami bukan penghuni pertama mansion ini. Dan aku meyakininya saat aku menemukan buku ini.” Elizabeth meletakkan buku tersebut di depan Vlador.
Mengambil buku itu, Vlador membukanya dan menemukan tulisan-tulisan penyihir yang cukup mirip dengan yang ada di catatan penyihir tanah yang mengutuknya dan Triana.
“Buku ini milik penyihir.” Gumam Vlador, menahan geraman sambil membuka-buka lembaran buku tersebut. “Mansion ini pasti pernah dihuni penyihir.”
Menatap Vlador sambil tersenyum tipis, Elizabeth menutur, “Setelah beberapa lama memperhatikan, aku yakin kau adalah pria yang suka bernegosiasi, benar?”
Mengatupkan rahangnya, Vlador menghela tipis seraya menutup buku yang sudah selesai ia periksa itu. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Elizabeth. “Apa lagi yang kau tahu?”
“Hm, kelihatannya kau mulai tertarik.” Bibir merah wanita itu tertarik lebih lebar.
Ikut tersenyum, Vlador membalas, “Kau bisa untuk tidak mengulur waktu selama kesabaranku masih tersisa untuk bernegosiasi. Memaksa adalah cara cadangan yang selalu aku pilih tanpa berpikir dua kali.”
Tidak berkata apa-apa namun masih tersenyum lebar, Elizabeth kembali berbalik badan dan membuka laci di lemari yang sama. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas sepanjang lengan bawah pria dewasa yang sama usangnya dengan buku penyihir sebelumnya.
“Bukalah, pangeran,” Ia memberikan gulungan kertas itu pada Vlador.
Dengan kening mengeras, Vlador membuka gulungan tersebut. Kemudian matanya terbelalak lebar melihat isinya.
![]() |
| Makeup >>> |
![]() |
| Sepatu Sandal >>> |


Komentar
Posting Komentar