Langsung ke konten utama

62. Masa Lalu Vlador // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana

Matanya melebar dan ia harus menahan napasnya untuk beberapa saat.

“Eum…” Ia berdehem, lalu berucap, “Terima kasih banyak. Namun aku takut menyinggung perasaanmu karena keluargamu tidak memberikan cinta keluarga yang seharusnya padamu. Karena itu aku tidak yakin kau bisa mengerti perasaanku karena kau tidak tahu rasanya mencintai keluargamu.”

“Pft!” Tawa hampir menyembur dari mulut Vlador.

“Aku benar-benar minta maaf atas kalimatku yang memang terdengar jahat. Tapi itulah alasan jujurku, Tuan Vlador. Kau berkata untuk tidak bersikap kaku, ‘kan?” Triana berusaha menjelaskan.

Masih dengan tawa tipis, Vlador menatap Triana, “Apa aku mengatakan sesuatu atas pernyataanmu? Aku lebih menyukai kejujuran itu.”

Kalimat terakhir Vlador membuat Triana tanpa sadar mengigit bibir bawahnya. Ia segera membuang wajahnya ke arah jendela. “Kau hanya suka melihatku merasa bersalah.”

Menyandarkan sikunya di sandaran kursi dan pipinya di telapak tangan, Vlador menatap Triana sambil berkedip pelan. “Daripada itu, aku ingin bertanya; kenapa kau seyakin itu pada penilaianmu tentangku tanpa bertanya kebenarannya padaku?”

Kembali menatap Vlador, Triana berkedip beberapa kali. “Itu… aku…”

“Kenapa kau sangat yakin bahwa aku tidak tahu rasanya mencintai keluargaku?”

Menarik napas panjang, Triana menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Maafkan aku, sungguh. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

Tersenyum miring, Vlador menjawab, “Tidak masalah. Itu bagus bahwa kau melontarkan semuanya dengan jujur dan tanpa berpikir dahulu. Setidaknya aku tahu apa isi pikiranmu tentangku.”

Mengatupkan kedua bibirnya, Triana berusaha tidak menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi Vlador membuatnya merasa tidak nyaman. Untuk apa pria itu ingin mengetahui isi pikirannya?

“Tapi, Lady…” Vlador mengangkat satu alisnya dan tetap menatap Triana lekat. “Apa yang kau pikirkan tentangku itu salah.”

“Be-benarkah?” Triana mengembalikan fokusnya pada wajah Vlador.

“Aku memang membenci keluargaku, namun bukan berarti aku tidak memiliki seseorang yang aku pedulikan.” Ucap Vlador.

“Apa mungkin…” Triana mengerutkan keningnya. “… kau memiliki seseorang…”

“Aku peduli pada ibuku. Ia adalah satu-satunya orang penting bagiku.” Sambung Vlador.

“Oh,” Triana diam-diam menghela panjang. Ia pikir seseorang itu adalah wanita yang mengisi hati pria itu.

“Maaf. Selama ini aku pikir kau sedingin itu hingga abai terhadap ibumu sendiri. Apa… ia juga meninggal karena perang itu?” Tanya Triana.

“Ia mati jauh sebelum perang itu terjadi; ketika aku masih remaja.” Jawab Vlador.

“Apa ia sakit?” Tebak Triana.

“Ia dibunuh.” Jawab Vlador.

“Oh, Tuhan… itu pasti sangat berat untukmu.” Triana menatap Vlador sendu meski pria itu masih memasang ekspresi santai yang sama. “Tapi, jika bukan karena perang, siapa penjahat yang membunuh ibumu?”

“Aku.” Jawab Vlador.

“Apa?” Triana mengerutkan keningnya.

“Aku adalah penjahat yang membunuh ibuku.”

“Kau… apa kau sedang mengerjaiku?” Tanya Triana.

“Untuk apa?” Vlador bertanya balik.

“Ta-tapi… kenapa?” Triana meneguk liur susah payah.

“Karena aku tidak suka melihatnya menderita.”

“Tapi… tapi kau peduli pada ibumu, ‘kan? Kenapa kau memilih jalan membunuhnya?” Tanya Triana cepat.

Menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang, Vlador menarik turun tangannya dari sandaran kursi. “Dunia ini terlalu keras untuk seseorang selembut dirinya dan ia terlalu indah untuk dunia yang buruk ini.”

Triana menggeleng pelan. “Aku masih tidak mengerti. Aku pikir ada jalan lain yang bisa kau gunakan selain menghilangkan nyawa ibumu sendiri.”

“Tidak ada,” Jawab Vlador, lalu berpikir sejenak dan melanjutkan, “Atau mungkin aku sudah terlalu jengah untuk mencari lebih lama lagi. Ia sangat tersiksa hinga ia bukan dirinya lagi. Ia telah mati, bahkan sebelum aku membunuh raganya.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Triana pelan. Ia menggeser duduknya mendekat pada Vlador dan memajukan tubuhnya. “Jika kau tidak keberatan, aku bersedia mendengarkan dan menutup rapat mulutku setelahnya.”

Vlador menatap kedua mata Triana sejenak. Lekukan tipis terbentuk di satu sisi bibirnya, namun itu bukan senyum bengis yang biasa pria itu buat. Triana tidak mengerti, namun ia tidak melihat ancaman atau ejekan di sana.

“Ibuku seorang manusia.”

Kalimat pertama Vlador membuat rahang Triana tidak kuasa terjatuh. “Apa?”

“Ia adalah seorang gadis cantik dan murni, seperti setangkai Lily putih. Sayangnya kecantikan itu menjadi petaka untuknya. Cahayanya terlalu terang hingga menarik perhatian kegelapan. Raja Dracount merampas bunga tercantik di taman itu untuk ia nikmati sendirian. Setelahnya, aku, anak dari hubungan terlarang itu lahir.”

“Apakah itu artinya… kau adalah setengah manusia?” Tanya Triana dengan mata membulat besar.

Kekehan tipis keluar dari mulut Vlador. “Aku terlahir sebagai vampir. Namun kenyataan bahwa aku memiliki darah manusia membuat para vampir murni itu menolak menganggapku sebagai bagian dari mereka.”

“Oh, Tuhan. Ini sungguh sulit dipercaya. Ibumu juga harus menderita selama itu. Keluarga ayahmu pasti memperlakukannya lebih buruk lagi karena ia adalah manusia,” Triana berdecak frustasi.

“Tidak. Mereka tidak berani menyentuhnya atau bahkan sekedar menatap matanya.” Jawab Vlador, setengah tertawa.

“Sungguh? Kenapa?” Tanya Triana.

“Ibuku adalah permata kesayangan Raja Dracount. Ia sangat diistimewakan oleh raja hingga raja pernah nyaris membunuh salah satu anak dari istrinya yang lain hanya karena bersikap tidak sopan pada ibuku.” Jelas Vlador.

“Tunggu dulu,” Triana memiringkan kepala dan menarik tubuhnya mundur. “Apakah aku salah jika berpikir bahwa ayahmu mencintai ibumu?”

“Aku tidak tahu dan aku tidak peduli apa yang pria itu rasakan. Namun ia yang membuat ibuku gila dan ia juga yang akhirnya membuang ibuku.”

Jawaban Vlador kembali membuat kening Triana mengkerut. Ia menatap pria itu penuh tuntutan untuk menjelaskan lebih detail tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Sama sepertimu, aku terlahir dengan seseorang ibu yang melindungiku. Aku tidak memiliki banyak kenangan bagus tentang raja karena ia selalu datang hanya untuk ibuku. Ia bahkan sering membuatku bermain sendirian di kediaman ibuku karena ia akan mengajak ibuku pergi keluar untuk menikmati waktu menyenangkan bersama.

Semasa kecil, aku hanya satu kali menginjakkan kaki ke istana. Dengan alasan keselamatan dan demi kenyamanan ibuku, raja membuat kami tinggal di mansion khusus dengan taman megah. Di sana, ibuku membesarkanku dengan baik. Jika kau selalu berkata tentang Cinta, aku rasa ia membesarkanku dengan Cinta itu.

Masa kecilku menyenangkan dengan ibu di sisiku. Namun ketika aku berusia sembilan tahun, ibuku terkena wabah mematikan. Sakitnya semakin parah hanya dalam waktu satu tahun. Raja yang putus asa memutuskan untuk melakukan ritual terkutuk untuk menyelamatkan ibuku dari kematian.”

“Ritual terkutuk?” Ulang Triana. Ia kembali memajukan tubuhnya dan menatap Vlador serius.

“Aku tidak tahu banyak tentang ritual itu, namun raja membawa ibuku yang nyaris mati selama beberapa hari. Saat kembali ke mansion, ibuku sudah sembuh. Namun ia telah berubah menjadi vampir dan menjadi gila.” Jelas Vlador.

“Astaga,” Gumam Triana sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Manusia… bisa berubah menjadi vampir?”

“Itu adalah rahasia Raja Dracount. Ritual itu tidak pernah aku dengar sebelum dan setelah itu dilakukan pada ibuku. Aku rasa hanya sedikit orang yang tahu.” Sahut Vlador.

“Tapi bagaimana mungkin ibumu menjadi gila? Apakah itu adalah efek samping ritualnya?” Tanya Triana.

“Aku yakin itu benar, meski raja tidak memberiku penjelasan apapun. Seluruh ingatan ibuku menghilang. Ia melupakan segalanya, bahkan namanya sendiri. Ia seperti patung dengan tatapan kosong. Terkadang ia mengamuk dan menangis tanpa sebab. Hal itu semakin parah setiap ia melihatku dan raja.

Ibuku berubah drastis. Baik raja, maupun aku, tidak mengenalnya lagi. Kami telah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan kewarasan ibuku, namun tidak berhasil. Raja akhirnya lelah dan tidak pernah mengunjungi ibuku lagi. Ia membuang kami di mansion itu.

Selama bertahun-tahun aku terkurung bersama teriakan dan tangisan ibuku. Mansion yang tadinya cerah, menjadi suram. Di sisi lain, istri-istri raja yang lain dan saudara-saudaraku mulai mengusik hidup kami. Mereka membuat kondisi kejiwaan ibuku semakin buruk dan raja membiarkannya.

Ibuku sudah menjadi vampir, seorang immortal seperti kami, namun tubuhnya masih sama seperti manusia yang tidak memiliki kekuatan. Ia adalah vampir lemah dan gila.

Malam itu, tepat di hari ulangtahun raja, aku mengambil pedang dan menebas kepala ibuku di balkon kamar tempat kami biasa memandangi bintang ketika aku kecil. Setelah itu aku membakar tubuhnya, lalu membawa abu dan kepalanya kepada raja yang sedang menggelar pesta besar di aula istana.

Di hadapan semua tamu, raja tertawa melihat kepala ibuku menggelinding di bawah kakinya. Lalu ia memperkenalkanku sebagai salah satu pangerannya yang tidak memiliki nama keluarga Arvadus. Itu adalah pertama kalinya dunia luar mengenalku. Dan mereka menjulukiku sebagai pangeran yang membunuh ibunya sendiri.”

Trimakasih banyak supportnya teman2!!

Sendal >>>

Pencegah Bau Badan >>>



Komentar