Vlador
Kekehan perlahan mengalir dari mulut Vlador. “Dari mana kau tahu aku memiliki tanda itu? Jika kau pernah mengabdi pada keluarga Raja Dracount, kau pasti tahu bahwa aku adalah pangeran yang dikucilkan sejak lahir.”
“Tentu aku tahu, pangeran.” Jawab Frederick, lalu melanjutkan, “Namun tidakkah kau berpikir bahwa mungkin saja mereka memiliki alasan untuk melakukan itu? Pertama, mereka mungkin memang tidak menginginkanmu atau kedua, mereka mungkin takut padamu.”
“Mereka pantas takut padaku karena aku adalah pangeran terhebat yang bahkan bisa menghabisi mereka semua.” Desis Vlador.
Senyum merekah di bibir Frederick. “Kau benar. Dan itu adalah salah satu tanda bahwa kau adalah pemegang tanda itu.”
“Dengar; aku tidak tertarik pada tawaranmu. Batalkan pencarian-“
“Pangeran,” Frederick memotong kalimat penolakan Vlador. “Kami tahu di mana letak prajurit vampir purba disembunyikan. Kita hanya perlu memastikan bahwa kau benar-benar memiliki tanda itu, maka kau bisa membangkitkan masa jaya vampir kembali. Vampir akan menguasai dunia dan kau akan menjadi raja atas semuanya. Kau akan menjadi raja kami.”
Kalimat Frederick membuat Vlador terdiam sesaat. Ia menarik napas singkat dari mulutnya, lalu mengatupkannya lagi.
“Aku tidak perlu memeriksa tanda itu untuk bisa melakukannya.” Ucap Vlador.
Senyum tipis terbentuk di bibir Frederick “Jika benar begitu, apa yang menundamu selama ini?”
Menatap mata Frederick, Vlador tertawa kecil. “Aku akan memberitahukannya padamu jika kau berhasil mempertemukanku dengan penyihir Elix.”
“Kau memang cerdik.” Senyum Frederick semakin lebar.
“Aku adalah Pangeran Vlador. Aku tidak pernah mempedulikan siapa pun selain diriku sendiri. Kau harus mengingat itu sebelum mengajukan syarat padaku, Frederick.”
“Aku mengerti.” Frederick mengangguk, lalu melanjutkan, “Kalau begitu aku akan mengambil semua resikonya. Aku akan tetap mencoba membantumu sebelum angin musim dingin datang. Tapi jika aku berhasil mempertemukanmu dengan penyihir itu, aku harap kau mau mempertimbangkan tawaranku.”
“Aku akan mempertimbangkannya.” Jawab Vlador.
***
Triana
“Kau yakin mereka tidak akan membunuhmu pada waktunya?”
“Orangtuaku masih hidup sampai sekarang. Aku rasa mereka adalah vampir-vampir dengan prinsip.”
Triana menghela panjang hingga uap mengepul di depan hidungnya. “Apa kau tidak memiliki pikiran untuk pergi mencari kehidupan yang lebih baik?”
Elijah menggeleng pelan. “Keluargaku sudah mengabdi pada mereka. Tangan kami juga sudah berlumuran darah bangsa kami sendiri. Tidak ada tempat untuk kami selain di sini.”
“Mungkin Tuan Vlador bisa membantumu keluar jika kau mau. Mereka kelihatan sangat menghargainya,” Saran Triana dengan setengah berbisik dan melihat sekeliling taman yang ditutupi salju putih.
“Tapi… keluargaku ada di sini.” Jawab Elijah dengan wajah tertunduk. “Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Bagiku keluarga sangat penting. Mereka adalah hidupku.”
“Oh,” Triana nyaris menggigit bibir bawahnya, lalu kembali menghela panjang. “Aku mengerti perasaan itu. Kau pasti sangat mencintai mereka.”
“M’m” Elijah mengangguk sambil tersenyum tipis. Lalu ia menarik napas panjang dan kembali menatap Triana. “Ngomong-ngomong, apakah kau dan Pangeran Vlador adalah pasangan?”
“Apa?” Mata Triana membesar. Ia segera menggeleng. “Bukan. Kami bukan pasangan.”
“Oh, maafkan kelancanganku.” Elijah menutup mulutnya dengan tangan.
Triana berdehem. “Ke-kenapa kau bertanya begitu?”
“Maaf, itu… karena menurutku kalian terlihat begitu.” Elijah sedikit mengangkat kedua bahunya dan menenggelamkan lehernya. “Pangeran terlihat terus berusaha melindungimu. Maksudku… aku melihat ayahku melindungi ibuku dengan cara yang sama. Ia berkata itu karena ia mencintai ibuku.”
Penjelasan Elijah mengukir senyum sendu di wajah Triana. “Cinta di antara ayah dan ibumu sangat indah, Elijah. Sayangnya itu bukanlah kondisi kami. Tuan Vlador memiliki alasan tersendiri untuk melindungiku, dan alasan itu jauh berbeda dari yang kau pikirkan.”
“Sayangnya?” Ulang Elijah, lalu mengerjap beberapa kali. “Apa kau, mungkin, menyukainya?”
Triana menekan kedua bibirnya untuk beberapa saat, lalu bertanya balik, “Bagaimana kelihatannya?”
“Eum… Aku takut dianggap lancang-“
“Oh, Tuhan…” Triana memotong keraguan gadis itu. “Aku yakin kau bukan orang yang terlalu mempedulikan hal itu, benar? Lagipula sejak awal aku sudah berkata untuk menganggapku sebagai gadis biasa.”
Memberikan senyum kecut, Elijah mengangguk kecil. “Sejujurnya, di mataku, kau terlihat jatuh sedalam-dalamnya pada Pangeran Vlador.”
“Apa menurutmu ia mungkin menyadarinya?” Tanya Triana.
“Aku tidak tahu. Ia terlihat baik hanya padamu seorang. Tapi sepertinya ia adalah pria dingin yang tidak memikirkan perasaan orang lain.” Jawab Elijah.
“Ya, dia memang pria yang seperti itu.” Triana menghela lelah. “Bagaimanapun, aku tidak bisa berharap apapun padanya. Kebersamaan kami pun hanya bersifat sementara. Pada akhirnya aku tetap akan berpisah darinya dan kami akan menjalani hidup masing-masing.”
“Kenapa? Apa karena ia vampir dan kau manusia?”
“Aku harap itu alasannya.” Jawab Triana pelan. “Tapi aku rasa ia hanya tidak mau aku berada di sekitarnya. Sejak awal, ia membenciku. Mungkin hingga saat ini ia masih merasa terganggu padaku namun berusaha menutupinya agar tidak merusak suasana di antara kami selama perjalanan.”
“Oh, sayangku…” Elijah mengambil tangan Triana dan menggenggamnya. “Kau adalah seorang lady cantik dan cerdas. Kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya, Lady Triana.”
“Terima kasih. Aku harap kau juga memiliki masa depan yang indah, Elijah.” Balas Triana sembari meletakkan satu tangannya di atas tangan Elijah, namun mengurungkan niatnya saat melihat banyak garis-garis keunguan gelap di punggung tangan gadis itu.
“Apa yang terjadi pada tanganmu?” Tanya Triana seraya menarik tangannya lepas dari genggaman Elijah.
“Oh, ini karena larutan getah pohon yang kami gunakan untuk mencuci pakaian.” Jawab Elijah sembari mengusap-usap kedua tangannya. “Apa kau tidak merasa udaranya semakin dingin? Bagaimana jika kita masuk ke dalam?”
“Aku rasa kau benar,” Triana bangkit berdiri, kemudian pandangannya menangkap sosok Vlador yang sedang berjalan bersama Frederick dan seorang gadis.
“Oh, kau di sini?” Sapa Vlador saat Triana menghampirinya.
Triana mengangguk dan secara naluriah melirik gadis berambut pirang dengan mata merah yang dibingkai oleh riasan gelap yang berdiri di dekat Vlador.
“Lady Triana, aku yakin kau sudah pernah melihat putriku. Namanya adalah Elizabeth Anne Verdonix.”
Elizabeth menekuk lututnya dan mengangkat kedua sisi gaunnya. “Senang berkenalan denganmu, Lady Triana.”
Melakukan hal yang sama, Triana membalas, “Begitu pula denganku, Nona Elizabeth.”
“Karena urusan kita sudah selesai, kami akan kembali ke ruangan kami.” Ucap Vlador.
Meski tidak sopan, Vlador yang memotong perbincangan mereka yang baru saja akan dimulai memberikan angin sejuk untuk Triana. Ia tidak pernah menyukai vampir-vampir itu, dan ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman tentang Elizabeth yang terus memperhatikannya bahkan ketika mereka berjalan pergi.
Kejanggalan dari para vampir itu memaksa Triana mengatupkan kedua bibirnya hingga mereka masuk ke dalam kamar.
“Jadi, apa yang kalian bicarakan?” Tanya Triana pada Vlador yang baru saja mengunci pintu kamar.
“Sebuah perjanjian yang masih aku pertimbangkan.” Jawab Vlador, lalu duduk di sofa panjang yang menghadap ke jendela. Ia menepuk bagian kosong di sampingnya. “Kau terlihat bersemangat.”
“Aku yakin kau juga akan penasaran jika berada di posisiku.” Sahut Triana seraya duduk di samping Vlador. “Apa persyaratannya seberat itu?”
Terdiam sejenak, Vlador menjawab “Itu lebih ke rumit.”
“Aku akan senang membantu jika kau membutuhkannya.” Tawar Triana.
Tersenyum tipis, Vlador menepuk ringan puncak kepala Triana. “Untuk kali ini aku bisa mengurusnya sendiri. Kau hanya perlu mejaga dirimu dengan baik dan menghindari masalah.”
“Yap. aku bisa melakukan itu.” Triana memutar matanya.
Vlador kembali tertawa kecil. “Aku sempat melihatmu mengobrol bersama budak itu. Apa ia memperlakukanmu dengan pantas?”
Mengerutkan keningnya, Triana menatap Vlador nyalang. “Namanya adalah Elijah. Ia adalah gadis baik; tolong jangan menyebutnya Budak Itu.”
“Kelihatannya kalian cepat akrab hingga kau sangat terganggu hanya karena aku memanggilnya budak.”
“Bukan kehandaknya menjadi budak. Elijah masih muda dan pintar. Ia bisa saja kabur dari sini untuk hidup bebas, namun ia tetap tinggal karena ia mencintai keluarganya yang terperangkap di sini.” Jelas Triana.
Lalu ia menghela panjang dan meneruskan, “Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang sama denganku. Mengobrol dengannya meringankan beban yang memberatkan pundakku.”
“Apa itu artinya kau masih memikirkan keluargamu?” Tanya Valdor dengan senyum yang entah sejak kapan telah menghilang dari wajahnya.
Berdehem, Triana membuang pandangannya ke bawah. “Aku lahir dan tumbuh besar dihujani cinta oleh keluargaku. Bahkan setelah mereka membuangku, semua kenangan manis dan hangat yang aku miliki tetaplah berasal dari mereka. Meski caraku melihat kedua orangtuaku sekarang sudah berbeda, aku tidak akan pernah bisa membenci mereka. Dan pada akhirnya, mereka tetaplah keluargaku.”
Melihat Vlador hanya diam, Triana kembali berdehem, dan melanjutkan, “Aku selalu menyimpan perasaan ini untuk diriku sendiri. Berbincang dengan Elijah yang memiliki keluarga yang ia cintai membuatku merasa lebih lega.”
“Kau bisa bercerita padaku jika memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkanmu.” Ucap Vlador.
![]() |
| Parfum >>> |
![]() |
| Sepatu sandal >>> |


Komentar
Posting Komentar