Triana
Pintu berwarna hitam dengan ukiran bunga mawar dan duri-durinya itu terbuka. Sebuah ruangan dengan langit-langit tinggi yang memperlihatkan dua lantai koleksi buku-buku di dindingnya menyapa mereka.
Seorang wanita berambut putih tersanggul, kulit pucat, dan mata merah menoleh. Ia meletakkan bukunya ke atas meja dan bangkit dari kursinya.
“Aku pikir kau akan menolak undanganku, Lady Triana,”
“Nyonya Cresentia, menolak undangan tuan rumah adalah hal memalukan ketika aku telah dijamu sebaik ini.” Jawab Triana.
“Oh, kau tidak perlu berpikir sekritis itu, lady.” Ucap Cresentia, lalu menoleh pada Vlador yang berdiri di samping Triana. “Bahkan aku lebih tersanjung karena Pangeran Vlador ikut berkunjung ke perpustakaanku yang sederhana ini.”
“Aku datang bukan untuk menikmati apa pun atau menyenangkan siapa pun. Aku hanya ingin memastikan tidak seorang pun meletakkan jarinya di tubuh Triana.” Jawab Vlador.
“Oh, haha,” Cresentia tertawa kecil. “Aku menggali kuburanku sendiri jika berani menyentuh seseorang yang begitu penting bagi Pangeran Vlador.”
Kalimat itu mengirim rasa tidak nyaman di dada Triana. Diam-diam ia melirik Vlador dan mendapati pria itu hanya diam menatap Cresentia.
Ia harap ia benar merupakan seseorang yang penting bagi Vlador. Sayangnya, ia penting hanya karena mereka terikat dalam kutukan.
Triana berdehem dan menarik senyum tipis. “Mereka berkata ada yang ingin kau bicarakan denganku, nyonya. Aku penasaran hal apa itu,”
Cresentia tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada sofa yang berhadapan dengan kursinya. “Silahkan duduk,”
“Sebenarnya ini hanya obrolan wanita biasa.” Ucap Cresentia seraya duduk di kursinya dengan elegan. “Sebagai kepala perempuan di mansion ini, aku merasa bertanggungjawab untuk menemanimu. Kau mungkin akan merasa kurang nyaman dan kesepian karena Pangeran Vlador akan berkumpul bersama pria-pria lainnya.”
Sebagai putri bangsawan, Triana memang sudah terbiasa dengan budaya para perempuan bangsawan yang berkumpul dalam pesta teh, sementara para laki-laki biasanya berkumpul untuk membicarakan politik atau berburu. Pada dasarnya, Cresentia tidak salah dengan pendapatnya.
“Kau sangat perhatian.” Ucap Vlador, mengembalikan fokus Triana. “Namun Triana tidak perlu bergaul bersama kalian. Ia akan menikmati waktunya membaca buku dalam ketenangan di kamar.”
“Oh, aku mohon jangan seperti itu, pangeran.” Cresentia memberi tatapan sendu. “Pada dasarnya, perempuan adalah sama. Tidak ada gadis muda yang suka berdiam sendirian, apalagi di tempat yang asing baginya.”
“Aku mengerti bahwa kalian datang ke mansion ini bukan untuk bertamu. Kami yang mengundang kalian ke sini, jadi aku tidak akan terlalu banyak bertanya, mengingat Lady Triana adalah seorang manusia yang mungkin merasa tidak nyaman dikelilingi oleh vampir.” Lanjut Cresentia, lalu menaikkan tangannya dan menjentikkan jari.
Salah satu pelayan datang bersama seorang gadis berambut hitam legam dan mata cokat hazel. Ia mengenakan gaun sederhana yang tidak lebih baik dari milik para pelayan.
“Ia adalah salah satu budak manusia kami. Aku memilihnya karena ia terlihat memiliki usia sepantaran Lady Triana dan memiliki tubuh paling bersih di antara budak-budak yang lain. Aku harap ia bisa menemani Lady Triana di saat Pangeran Vlador sibuk dengan urusannya.”
“Kau memberinya teman seorang budak?” Protes Vlador.
Namun Triana segera memegang tangan pria itu dan memberinya tatapan penuh peringatan.
Cresentia tersenyum, lalu menggerakkan jarinya lagi. “Perkenalkan dirimu,”
Gadis bermata coklat itu membungkuk. “Yang mulia … lady, perkenalkan, aku Elijah Pamelo. Aku bersedia melayani Lady Triana selama berada di Mansion Verdonix.”
“Maaf, namun kami hanya memiliki budak jika itu adalah seorang manusia. Jika kau tidak berkenan, aku akan mengembalikannya ke belakang, lady.” Tanya Cresentia.
“Tidak.” Triana menggeleng dan tersenyum. “Aku sama sekali tidak keberatan. Semua manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Itulah yang aku percayai.”
Sebuah senyum lembut merekah di wajah Cresentia. “Hati yang indah. Sayangnya, kami tidak memilikinya.”
“Pemandangan yang tidak pernah aku lihat.”
Suara seorang pria membuat mereka semua menoleh. Senyum lebar dari bibir merah menyapa mereka.
“Cresentia tidak pernah mengundang siapa pun ke perpustakaannya, bahkan seorang vampir sekali pun. Ini adalah pertama kalinya perpustakaan ini terasa ramai.” Ucap Dyan begitu ia mencapai tempat mereka duduk.
“Keputusanku didasari oleh betapa berisiknya kalian, terutama dirimu, Dyan.” Ucap Cresentia.
“Kenapa kau selalu menjadikanku sebagai contoh terburuk?” Gerutu Dyan sebelum melanjutkan, “Aku datang untuk mengacaukan obrolan kalian. Frederick mengundang Pangeran Vlador untuk membicarakan bantuan yang sudah kami siapkan.”
“Apakah kau memiliki waktu sekarang, pangeran?” Ia menatap Vlador.
“Tentu.” Vlador bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Triana.
“Eum, maaf, pangeran. Tapi Frederick ingin pembicaraannya lebih tertutup sehingga kau bisa datang sendirian.” Ucap Dyan.
Saling menatap, Triana hendak menarik tangannya dari telapak tangan Vlador. Namun ia gagal karena pria itu langsung menggenggamnya.
Bangkit berdiri sambil berdehem kecil, Triana mendekat pada Vlador dan setengah berbisik, “Kau bisa pergi. Aku yakin aku akan baik-baik saja.”
“Aku rasa itu tidak akan lama, pangeran. Aku berani menjamin mansion ini adalah tempat yang sangat aman untuk Lady Triana.” Ucap Cresentia.
Menatap wanita berambut putih itu dengan tajam, Vlador mendesis, “Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau atau salah satu dari orang-orangmu melakukan hal yang tidak aku sukai padanya.”
“Aku tahu jelas, dan aku percaya kau pun tahu bahwa aku tidak berani.” Jawab Cresentia sambil tersenyum tipis.
Menarik napas dalam dan menghelanya panjang, Vlador kembali menatap Triana. “Aku akan segera kembali.”
Triana mengangguk dan melepas tangannya dari genggaman Vlador. “Gunakanlah waktumu.”
Kemudian Vlador dan Dyan melangkah pergi meninggalkan mereka.
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Triana menoleh pada Cresentia. “Maaf? Apa kau baru saja mengatakan sesuatu?”
Cresentia tersenyum dan menggeleng, “Itu hanya gumaman wanita tua yang terlalu banyak menghabiskan waktunya sendirian bersama buku-buku.”
“Semalam aku melihat seorang wanita muda di meja makan. Aku pikir kalian terlihat cukup akur untuk bisa saling menemani?” Tanya Triana.
“Elizabeth. Ia adalah putri Frederick. Kami semua berkeluarga. Namun tidak seperti manusia, vampir lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.” Jelas Cresentia.
“Aku rasa itu adalah pilihan,” Gumam Triana.
Senyum kembali terbentuk di wajah Cresentia. “Matahari cukup mengusik mataku, namun yang aku tahu, manusia menyukai cahayanya. Kau bisa berkeliling mansion ini jika kau suka. Elijah akan menemanimu.”
“Oh, bolehkan?” Triana tersenyum lebar.
“Kau datang bersama Pangeran Vlador. Itu adalah hak istimewa yang kau miliki di mansion ini, lady.” Jawab Cresentia.
***
Vlador.
Dyan membawanya ke bagian timur mansion, di mana terdapat lebih sedikit jendela hingga mereka berakhir di sebuah ruangan yang memiliki beberapa patung batu berbentuk vampir penjaga kuno dengan sayap-sayap menutup.
Sebuah meja berukuran cukup besar terletak di tengah-tengah ruangan itu. Terlihat Frederick dan dua vampir laki-laki lain sedang berbincang di samping meja tersebut.
“Oh, Pangeran Vlador!” Panggil Frederick saat menyadari kedatangan Dyan dan Vlador. “Akhirnya kau datang juga,”
Ia segera membuka sebuah gulungan kertas yang besarnya seluas setengah meja. “Ini adalah denah daratan Verxic. Aku sudah menandai beberapa titik lokasi yang akan kami periksa. Aku sudah membuat beberapa kelompok pencari.”
Menatap kertas itu, Vlador melipat lengannya di depan dada. Frederick benar-benar telah menyiapkan semuanya. Ia pun sempat melihat kereta salju dan kandang srigala yang Dyan tunjukan dalam perjalanan menuju ruangan itu.
“Apa imbalannya?” Tanya Vlador.
Frederick terdiam sejenak. Lalu Vlador menatap wajah pria itu hingga membuatnya berdehem. “Apa kau tidak mau melihat kelompok-kelompok yang aku bentuk dahulu?”
“Kenapa kau terus mengulur waktu, Frederick? Apa imbalannya sebesar itu sampai kau begitu takut untuk mengatakannya?”
Pertanyaan Vlador membuat Frederick kembali bungkam sesaat. Lalu pria itu menarik napas panjang dan menatap semua yang ada di ruangan itu. “Tolong tinggalkan kami berdua. Pastikan tidak ada yang masuk ke sini.”
“Baik,” Jawab Dyan sebelum beranjak pergi bersama dua pria lainnya.
“Silahkan duduk, pangeran,” Frederick mengarahkan Vlador untuk duduk di sofa panjang di sisi ruangan.
“Ini memang adalah hal yang besar. Namun permintaan ini bukan semata-mata berasal dariku saja, melainkan dari Klan Verdonix dan aku yakin ini juga keinginan vampir-vampir yang mungkin masih selamat di luar sana.” Tutur Frederick.
Kening Vlador mengkerut. “Apa yang kau mau?”
“Pangeran Vlador, kau adalah satu-satunya keturunan Arvadus yang masih hidup, dan kami percaya kau mewarisi tanda raja vampir yang bahkan tidak dimiliki oleh Raja Dracount. Kau adalah satu-satunya vampir yang bisa menyelamatkan bangsa vampir yang tersisa. Hanya kau yang mampu membangkitkan pasukan tentara vampir yang dikunci oleh leluhur Arvadus.”
![]() |
| Blow Dryer Rambut >>> |
![]() |
| Minyak Kemiri Rambut >>> |


Komentar
Posting Komentar