"Grace," Jocelyn menatap gadis itu sambil mengeluarkan panahnya dengan tangan gemetar.
"Kita harus lari dari sini," Ucap Grace setengah berbisik dan menyiagakan pedangnya. "Dalam hitungan ke tiga, tembak yang menghalangi jalan kita, dan lari,"
Jocelyn mengangguk. Sementara itu, ular-ular tersebut mendesis semakin keras dan merayap semakin dekat.
"Satu."
"Dua."
Grace mengeratkan genggaman tangannya pada pedang sambil menarik napas panjang. "Tiga!"
Whush!
Panah Jocelyn melesat cepat, dan menancap tepat di leher ular yang berdiri di depan mereka. Hal itu membuat ular yang lainnya marah dan berusaha menyerang mereka.
Salah satu ular terdekat bergerak secepat kilat untuk mematok Grace, namun ia mengayunkan pedangnya secepat mungkin hingga melukai ular tersebut. Sebelum serangan ular lainnya mengenai mereka, mereka berlari kabur sekuat tenaga.
"Oh... sial..." Ucap Grace seraya terus berlari.
Jocelyn menoleh ke belakang hanya untuk mendapati ular-ular itu merayap dengan sangat cepat hingga hampir mengejar mereka. Di saat yang sama, kakinya yang tidak terlatih untuk berlari juga mulai menyerah.
"Bertahanlah!" Seru Grace, bisa membaca kondisi Jocelyn.
Melihat seekor ular berhasil mengejar langkah kaki Jocelyn, Grace melempar pedangnya hingga menancap di sisi tubuh ular tersebut dan membuatnya seketika melambat. Jocelyn terselamatkan dari serangan ular, namun Grace kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur.
"Grace!"
"Tidak! Terus lari!" Seru Grace saat melihat Jocelyn ingin menolongnya.
Kemudian, Grace menggelindingkan tubuhnya ke samping saat ular yang telah ia lukai berusaha menyerangnya. Sayangnya, ia menemukan ular lain telah menunggu di sisi lainnya sehingga ia tidak bisa menghindar lagi.
"Oh, Tuhan!" Seru Grace saat sebuah kepala ular dengan mulut terbuka lebar hingga memperlihatkan kedua taring tajam melesat ke arahnya.
"GRACE!" Seru Jocelyn, berlari menghampiri gadis itu.
"Nona Menken! Oh, sial!" Damian yang baru saja tiba bersama para pengawal berlari di depan Jocelyn.
Para pengawal langsung menyerang sisa ular yang masih hidup. Sementara itu, Damian dan Jocelyn menghampiri ular yang menyerang Grace. Tubuh besar ular tersebut menutupi tubuh gadis itu hingga sosoknya menghilang.
"Grace! Oh, Tuhan... Aku mohon bertahanlah..." Tangis Jocelyn seraya membantu Damian menggelindingkan tubuh ular itu.
"Ularnya ... mati," Gumam Damian, menyadari dirinya seperti sedang menggelindingkan sebuah batang pohon tak bernyawa.
Begitu tubuh ular tersebut berhasil disingkirkan, sosok Grace nampak berbaring dengan mata terpejam dan tubuh bersimbah darah.
"Tidak! Grace!" Jocelyn mengguncang tubuh gadis itu.
"Tidak..." Gumam Damian, segera meletakkan kedua jarinya di leher Grace. Ia pikir semuanya telah berakhir bagai mimpi buruk, namun ia merasakan angin segar yang menghapuskan keputusasaan ketika jarinya masih merasakan denyut nadi di sana.
Kening Grace mengkerut. Perlahan, kedua matanya terbuka.
"Grace! Oh, syukurlah! Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Jocelyn, berusaha membantu gadis itu duduk.
"Ularnya..." Grace menoleh ke sekeliling, dan berhenti pada sebuah kepala ular yang tergeletak tepat di sampingnya. Kemudian, ia mengangkat satu tangannya dan menatap sebuah pisau yang berada dalam genggamannya.
Damian tersenyum. "Kau membunuh ularnya,"
Masih dengan napas terengah, Grace bergumam, "Pisau ini ... Suzan," Sekelibat, pisau berlumuran darah merah itu memancarkan cahaya kehijauan.
"Itu bukan pisau biasa. Itu pisau yang sudah diberikan sihir hebat. Cahaya hijau itu adalah sihir milik penyihir pintu. Semakin banyak darah yang diserap olehnya, semakin besar kekuatannya," Jelas Damian, mengingat kembali salah satu buku kutukan penyihir yang ia baca di perpustakaan istana.
"Pisau ini diberikan oleh putri Julius padaku." Tutur Grace.
"Apa? Kau tidak membicarakan tentang Julius musuh kita, 'kan?" Jocelyn membulatkan matanya.
Grace mengangguk tipis. "Itu adalah Julius yang kita kenal. Namun, putrinya tidak jahat. Ia bernama Suzan, dan kami berteman dengannya. Ceritanya panjang, namun ialah yang membantu kami menyebrang ke dunia ini."
"Aku pernah mendengar Adro membahas singkat tentang hal itu." Damian menjulurkan tangannya pada Grace, lalu membantu gadis itu berdiri. "Anggap saja penjelasan panjangnya adalah hutang yang harus kau tamatkan saat kita kembali dari sini. Aku minta maaf telah lalai melindungimu. Hampir saja aku mati di tangan kakakku,"
Grace menggeleng. "Kau sudah melakukan yang terbaik, tidak perlu minta maaf."
"Grace, maaf kau nyaris tewas untuk melindungiku," Ucap Jocelyn sambil berderai air mata. "Terima kasih telah menyelamatkanku,"
"Itu tidak apa, Jocelyn," Grace memeluk gadis itu sambil tersenyum lembut. "Berhentilah menangis. Kita harus melanjutkan perjalanan,"
Kemudian, mereka tiba di pinggir sungai yang mengalir lambat. Di sana, Grace membasuh wajah dan tubuhnya yang terkena cucuran darah ular yang berhasil ia sayat menggunakan pisau sihirnya.
"Seorang prajurit terluka cukup parah. Apakah ia bisa melanjutkan perjalanan?" Tanya Jocelyn pada Damian yang sedang merapihkan anak-anak panah yang telah ia kumpulkan kembali.
"Salah satu kakinya patah, namun ia masih bisa berjalan dan bertarung. Tidak perlu khawatir, ia tidak akan memperlambat kita," Damian tersenyum.
Namun, jawaban pria itu malah membuat Jocelyn cemberut. Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan pisau kecil untuk merobek bagian bawah kemejanya. "Kau tahu bukan itu yang aku khawatirkan, 'kan? Kenapa kalian para pria tidak memiliki perasaan? Kenapa harus memaksa orang dengan kaki patah ikut bertarung?"
"Putri Jocelyn yang baik hati, itu adalah hal lumrah bagi para kesatria seperti kami. Di medan perang, bahkan mereka yang sudah kehilangan kaki dan tangannya tetap harus bertarung selagi nyawa masih menempel dalam raga," Jawab Damian.
Kemudian Jocelyn meraih tangan kekar Damian dan perlahan menggulung lengan bajunya yang sobek dan ternodai oleh darah. Menggunakan potongan dari kemejanya, ia membalut luka robek pada lengan pria itu. "Selama ini aku tidur nyeyak di atas penderitaan para pejuang. Ngomong-ngomong, kalian sangat hebat bisa mengalahkan ibu ular raksasa itu dan datang menyelamatkan kami,"
Damian tersenyum lembut seraya menyematkan helaian rambut yang menggantung di depan wajah Jocelyn kembali ke belakang telinganya. "Terima kasih. Tujuan kami bekerja sekeras itu adalah agar keluarga kami bisa tidur nyaman di rumah. Sama sepertimu sekarang yang ikut ke dalam perjalanan ini demi berkontribusi untuk keselamatan manusia,"
Jocelyn hanya terdiam sambil terus membalut lengan Damian. "Ini tidak serapih yang seharusnya, tapi aku harap bisa menghambat darahnya keluar,"
"Ini lebih dari cukup. Kau sangat membantu, Jocelyn. Terima kasih," Damian menatap kedua mata biru gadis itu.
"Ehm,"
Mereka berdua menoleh pada suara deheman itu dan mendapati Grace sudah berdiri di dekat mereka dengan wajah sedikit basah.
"Maaf, apakah aku menggangu?" Grace tersenyum canggung.
"Oh, tentu saja tidak," Jocelyn bangkit berdiri. "Kau sudah selesai? Haruskah kita melanjutkan perjalanan?"
"Aku rasa begitu. Kita dikejar oleh waktu, mengingat yang lain sedang berperang di luar sana," Jelas Grace perlahan.
Damian ikut bangkit berdiri. "Nona Menken benar. Kita tidak boleh membuang-buang waktu." Lalu ia menoleh pada prajurit yang sedang beristirahat dan berseru, "Kemasi semua barang! Kita kembali berjalan sekarang!"
Perjalanan berlanjut. Sesuai petunjuk milik Raja Absolen, mereka harus berjalan mengikuti sungai. Namun, perjalanan tidak semulus itu. Nyatanya, pertemuan dengan ular raksasa hanyalah sebuah pembukaan ringan karena setelah itu, mereka harus menghadapi lebih banyak monster aneh yang lebih berbahaya. Yang lebih parah, sungai yang mereka temui sejak masuk dari mulut gua, menghilang ketika mencapai sebuah area tandus seakan itu adalah belahan dunia berbeda.
"Panahku hampir habis!" Seru Jocelyn.
Mengayunkan pedangnya, Damian berhasil menebas tangkai tanaman perdator rakasasa yang memiliki duri-duri seperti gigi runcing di sekeliling kelopaknya yang menyerupai mulut ikan.
Lalu ia menoleh ke belakang, "Bertahanlah. Gunakan pedangmu!"
"Berlindunglah bersamaku," Ucap Grace pada Jocelyn.
Gadis itu mengangguk, lalu menarik pedangnya keluar dengan napas terengah. "Aku ... tidak pernah melihat ... tanaman seperti ini,"
"Aku pun juga," Ucap Grace sebelum menebas kepala tanaman yang hendak menyerangnya.
"Kita harus lari dari sini. Tanamannya tidak berhenti muncul," Grace berseru pada Damian.
"Aku memiliki ide lain!" Pria itu berlari ke arah Grace dan Jocelyn yang sama-sama sedang sibuk menyerang tanaman predator bersama dua pengawal tersisa. "Aku butuh obor!"
Salah satu pengawal melemparkan obor yang ia genggam pada Damian yang sedang berlari ke arah hutan tempat tanaman-tanaman predator itu muncul. Hanya dengan pengelihatan dari ekor matanya, Damian mengangkat tangan kirinya tepat ketika obor tersebut mendekat padanya.
"Damian! Apa yang kau lakukan?!" Seru Jocelyn seraya menarik panahnya kembali dari punggung, lalu menembak salah satu kepala tanaman berbentuk kuncup bunga yang hendak menyerang pria itu. "Damian!"
Mata Grace membulat besar saat Damian hampir sampai pada kumpulan tanaman yang siap melahapnya. "Dia akan..." Gumamnya, lalu segera menggenggam lengan Jocelyn. "Lari dari sini!"
"Apa? Bagaimana dengan Dami-"
"Ia akan meledakkan area ini!" Seru Grace seraya menginstruksikan kedua pengawal mereka untuk lari bersamanya.
.png)
Komentar
Posting Komentar