Rombongan Grace masuk ke dalam hutan dengan hanya sedikit pencahayaan agar tidak memancing perhatian. Grace menunggang seekor kuda di samping Damian.
Setelah memastikan posisi mereka sudah cukup jauh dari istana, Damian mengangkat satu tangannya hingga rombongan berhenti. “Buka kereta barang bawaan!”
Lalu Damian segera melompat turun dari kudanya, diikuti oleh Grace. Ia memanjat kereta barang kecil yang ditarik seekor kuda itu, dan membuka sebuah peti senjata yang diletakkan di tumpukan teratas.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Damian seraya menarik keluar seorang gadis berpakaian laki-laki.
“Jocelyn, apa kau baik-baik saja?” Tanya Grace tidak sabar dari bawah kereta.
Mengatur napasnya yang agak sesak, Jocelyn mengangguk. “Aku baik-baik saja. Terima kasih,”
“P-Putri Jocelyn? Bagaimana kau bisa ada di dalam sana?” Tanya seorang prajurit yang menjadi kepala kelompok pengawal.
Damian menggendong Joclyn turun dari kereta itu. “Renggangkan dahulu kakimu. Itu pasti terasa pegal setelah menekuk sangat lama.”
Kemudian, Damian menoleh pada keempat prajurit yang menatapnya tidak percaya. “Putri Jocelyn ikut di dalam misi ini – Tidak ada pertanyaan lagi. Kita akan beristirahat selama lima menit, lalu melanjutkan perjalanan.”
Setelah istirahat singkat itu, perjalanan mereka berlanjut. Tidak Grace sangka, Gua Kematian berjarak sangat jauh dari istana. Medan yang harus dilaluipun cukup sulit dan kegelapan seakan nyaris menelan mereka. Beruntung, sejak mendeklarasikan niatnya untuk membantu dalam peperangan ini, Grace mendapat kesempatan berlatih berkuda dan bertarung sehingga kemampuannya sudah cukup untuk menjadi bekal dalam misi ini.
“Kita akan menuruni lembah. Perhatikan sekeliling kalian karena monster purba mungkin bisa muncul.” Ucap Damian.
Grace mengangguk sembari mengeratkan pegangannya pada tali kuda. Ia melirik kuda di sebelahnya yang membawa Damian dan Jocelyn. Ia merasa kasihan pada Jocelyn yang nampak ketakutan. Beruntung, gadis itu memiliki Damian yang terus melindungi di sampingnya.
Curamnya lembah yang dituruni membuat mereka beberapa kali harus terhenti karena kuda yang terpeleset dan kereta barang yang tersangkut. Namun setidaknya, tidak ada monster yang muncul menyerang mereka. Damian yang memimpin perjalanan berdasarkan petunjuk dari mendiang Raja Absolen juga membuat mereka bisa sampai di Gua Kematian tanpa luka.
Langit mulai menerima cahaya hingga menyamarkan kelap-kelip lautan bintang. Gerombolan Grace berhenti di pinggir hutan. Mereka menyembunyikan kuda-kuda dan kereta barang di dekat semak besar. Setelah mengambil setengah perbekalan dan seluruh senjata, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tidak perlu berjalan terlalu jauh, Grace melihat sebuah mulut gua besar telah menunggu mereka. Ia mengerjap menatap gua gelap tersebut. Jalan masuk guanya tidak terlalu lebar, namun tingginya setara rumah tiga lantai.
“Kita sudah sampai. Gua Kematian,” Ucap Damian.
Grace menarik napas dalam-dalam. Tangannya meraih pedang yang tersangkut pada sabuk pinggangnya, lalu menggenggam gagangnya erat. “Kau bisa melakukan ini, Grace,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Lalu, Grace menoleh ke arah Timur, di mana matahari belum menampakkan dirinya namun cahayanya sudah mulai menerangi sekelilingnya. “Kita bisa melakukan ini, Adro. Kita harus menepati janji kita,”
***
Adro menatap langit terbuka yang dikelilingi pegunungan yang menutupi matahari yang hendak terbit. Apakah Grace sudah sampai di Gua Kematian? Apakah perjalanannya lancar? Apa ia baik-baik saja?
“Aku harap kau bisa melihat betapa indahnya fajar pagi ini, Grace.” Gumam Adro, lalu menghela gusar. “Aku percaya padamu. Kau pasti berhasil - Dan kau akan kembali, sesuai janji kita,”
“Hi Hi Hi Hi!” Suara tawa penyihir yang saling bersahutan terdengar semakin nyaring.
Adro kembali menatap ke depan. Di sampingnya, ayahnya, Raja Groendez sedang menatap hal yang sama. “Ini akan menjadi perang terakhir kita. Aku menaruh harapanku pada kekasihmu.”
Menatap ayahnya dengan kening mengkerut, Adro bergumam, “Apa?”
Raja Groendez menatap Adro sambil tersenyum tipis. “Kau sangat mencintainya. Maaf aku bersikap kasar padanya dan menentang hubungan kalian. Aku hanyalah seorang pria tua yang harus memilih antara putraku atau rakyatku.”
Adro terdiam sejenak, lalu menundukkan wajahnya. “Terima kasih sudah memilih putramu. Percayalah, Grace pasti berhasil.”
“Aku tidak pernah melihatmu seyakin itu pada orang lain.” Raja tersenyum.
“Karena itu, ia harus berhasil dan kembali dengan selamat,” Ucap Adro sambil menatap langit.
“Matahari sudah hampir muncul. Apakah kalian sudah siap?” Raja Volev menghampiri.
“Aku tidak pernah sesiap dari ini.” Jawab Raja Groendez sebelum menarik pedangnya.
Raja Volev terkekeh kecil. Kemudian, ia memacu kudanya menuju posnya, di mana seluruh prajurit kerajaannya sudah berbaris rapih dengan membawa bendera mereka sendiri.
Pergabungan antara enam kerajaan menciptakan lautan prajurit di tengah padang rumput luas. Namun, di hadapan mereka adalah lautan lainnya yang berisi monster-monster dan seluruh klan penyihir pembenci manusia.
“Aku akan menghabisi para penyihir penunggang sapu itu.” Ucap Vincent.
“Aku paling membenci mereka.” Vizo mengangguk.
“Berhati-hatilah, anak-anak. Mereka bukan lagi penyihir biasa setelah menerima kekuatan dari Julius.” Ucap Lady Camelia yang berdiri di balik kereta perang yang ditarik oleh kuda bertanduknya.
“Tsk! Tidak bisa dipercaya; Julius berhasil menghasut seluruh klan penyihir dalam waktu semalam. Kini tugas pasukan sorcerer menjadi semakin berat.” Keluh Vizo.
Lady Camelia hanya diam dengan senyum tipisnya. Lalu, ia menoleh ke arah pegunungan yang cahaya di baliknya semakin benderang. “Kami bergantung padamu, Nona Menken,” bisiknya.
Kemudian, matahari bergerak muncul dari balik pegunungan itu. Suara terompet perang dari semua kerajaan berbunyi serentak dan saling sahut menyahut.
Tapal kuda pertama yang bergerak adalah milik Raja Groendez, lalu disusul oleh putra mahkotanya, dan kemudian seluruh prajuritnya. Di hadapan mereka, para monster mulai berlari membabibuta sambil mengaum-aum.
Sambil menghunuskan pedangnya ke udara, Adro menyipitkan matanya untuk menatap seorang pria berjanggut yang duduk di atas monster bertubuh seperti gajah dengan tinggi sepuluh meter yang berada di tengah-tengah pasukannya.
“Dasar pengecut!” Geram Adro sambil terkekeh kecil, lalu menghentakkan kendali kudanya agar berlari lebih cepat lagi. “Aku akan mengirimmu ke neraka!”
***
Ini adalah pertama kalinya Grace masuk ke dalam gua. Ia pikir, gua yang dimaksud memiliki ukuran seperti lorong. Namun, gua ini terasa seperti sebuah dunia lain di dalam dunia. Di dalamnya terdapat hutan penuh tanaman kerdil dan bahkan aliran sungai. Kini, tinggi guanya dua kali lipat dari bagian luarnya.
“Perhatikan langkah kalian. Terdapat banyak jurang di sini.” Ucap Damian pada Grace dan Jocelyn yang berjalan berdampingan.
Kemudian, Grace mengeluarkan kertas kecil dari kantung celananya. Kertas itu sudah kusut parah karena ia telah beberapa kali mengeluarkan dan memasukkannya kembali selama perjalanan sebagai petunjuk arah jalan.
“Aliran sungai memberi makan tanaman yang melidungi tempat berharga. Semakin tinggi nutrisinya, semakin lebat tanamannya.” Baca Grace.
“Sumber aliran sungai ini adalah mata air. Mata air memberikan nutrisi besar untuk dibagikan pada tanaman.” Ucap Damian.
“Jadi tempat itu berada di dekat mata air?” Simpul Grace, mendapat anggukan dari Damian.
“Itu bagus. Kita hanya perlu mengikuti sungai ini.” Jocelyn tersenyum riang. “Ternyata ini tidak sesulit-“
“Sstt!” Damian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, kemudian mengeluarkan pedangnya perlahan. “Ada sesuatu mendekat,”
Grace dan Jocelyn saling menatap dengan mata membulat besar. Lalu, mereka segera mengeluarkan senjata masing-masing. Di sisi lain, para prajurit sudah bersiaga untuk menyerang apa pun yang nantinya akan muncul.
Tiba-tiba, sesuatu yang panjang dan besar muncul dari balik rimbunnya tanaman, lalu memecut dua orang prajurit hingga terpental.
“Awas!” Seru Damian.
Tiba-tiba, seekor ular Kobra raksasa muncul. Ular tersebut menegakkan setengah tubuhnya hingga setinggi lima meter.
“Ya Tuhan!” Gumam Grace dengan kepala terdongak ke atas.
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat ke arah kepala ular itu. Meski nyaris mengenai mata ular itu, panahnya meleset.
Grace dan Damian langsung menoleh pada Jocelyn yang posisi tangannya baru selesai melepas tembakan panah. Gadis itu menatap mereka dengan napas terengah. “Tanganku … terpeleset,”
Ssss!
Ular raksasa itu mendesis marah dan langsung bergerak menyerang mereka.
“Lari!” Seru Damian, memberi sinyal pada kedua gadis itu untuk mengikutinya.
Bergerak dengan gesit, ular tersebut menggunakan kepalanya untuk mengejar Damian yang berlari memasuki hutan dan menggunakan ekornya untuk menyapu para prajurit yang hendak melukai tubuhnya.
“Kita harus berpencar!” Ucap Damian sambil berlari. “Biarkan dia mengejarku.”
Grace mengangguk. “O-ke…”
Kemudian, saat menemukan pepohonan yang tumbuh melintang, Grace langsung berlari ke baliknya bersama Jocelyn. Saat menoleh ke belakang, mereka mendapati ular tersebut benar terus merayap mengejar Damian.
“Da-Damian…” Jocelyn melambatkan laju larinya.
“Kita … kita harus kembali … ke sana,” Ucap Grace, berhenti berlari. “Apa kau tidak apa-apa?”
Jocelyn menggeleng sambil terengah. “Aku … tidak tahu mengenakan celana bisa … membuatku berlari secepat ini,”
Grace tertawa kecil. “Kerja bagus. Ayo kita pergi,”
“Maaf. Karena panahku meselet, aku membuat ularnya marah,” Ucap Jocelyn.
“Itu tidak perlu. Ularnya tetap akan menyerang pada akhirnya. Justru, kau memiliki keberanian dan inisiatif untuk langsung menyerangnya.”
“Terima kasih, Grace,” Ucap Jocelyn.
Tiba-tiba, terdengar suara dari pepohonan. Kedua gadis itu langsung mematung dan menahan napas. Perlahan, Grace mengarahkan obornya ke arah pepohonan dan suara gesekan dedaunan itu terdengar semakin jelas.
“Oh, tidak…” Gumam Grace sambil melangkah mundur saat sepasang mata kuning besar muncul dari dalam kegelapan.
Seekor ular kobra dengan tubuh sebesar kuda merayap sambil berdesis mendekatinya. Lutut Grace semakin lemas ketika ia melihat empat ekor ular lain dengan ukuran yang sama tiba-tiba muncul dari berbagai arah.
.png)
Komentar
Posting Komentar