Grace tertegun menatap Damian dan Jocelyn yang berdiri di hadapannya.
“Aku akan berusaha tidak menyusahkan kalian. Aku berjanji.” Ucap Jocelyn.
“Ja-jangan berkata begitu, putri,” Ucap Grace.
Adro menarik napas panjang, “Bukan itu yang kami khawatirkan, putri, tapi ayahmu. Kau tidak memberitahunya tentang hal ini – Dengan kata lain, kau kabur bersama Damian dan Grace.”
“Aku berjanji akan membela kalian dengan nyawaku jika nantinya ayah marah pada kalian. Aku mohon ijinkan aku ikut,” Mohon Jocelyn.
“A-aku tidak keberatan jika Putri Jocelyn ikut. Tapi… mereka berkata bahwa perjalanannya berbahaya, jadi aku akan menyerahkan keputusannya pada Pangeran Damian,” Grace menatap pria yang tengah melipat lengan di depan dada itu.
Damian menggidik bahu. “Aku sudah berkata pada Adro; aku bisa melindungi kalian berdua sekaligus. Jocelyn juga tidak selemah yang kalian pikirkan. Selama ini ia sering belajar memanah bersamaku.”
Jocelyn tersenyum lembut. “Terima kasih, Damian,”
Damian mengedipkan sebelah matanya. “Itu kenyataannya.”
“Kalau begitu, Jocelyn harus menyamar atau diselundupkan untuk keluar dari istana.” Ucap Adro, lalu melanjutkan, “Sebaiknya kalian bersiap sekarang karena perjalanan akan dimulai malam ini.”
“Aku sudah selesai berkemas. Jika kau butuh bantuan berkemas, aku bisa melakukannya, putri,” Ucap Grace pada Jocelyn.
Gadis berambut blonde itu tersenyum lembut. “Karena harus sembunyi-sembunyi, aku tidak bisa meminta siapapun membantuku. Aku sangat berterima kasih jika kau mau membantuku, Nona Menken,”
“Kalian para perempuan bisa mengemas barang pribadi kalian – Aku dan Damian akan mengurus sisanya. Panggil kami jika kalian sudah selesai.” Ucap Adro sebelum pamit pergi bersama Damian.
Pintu kamar tertutup, meninggalkan Grace dan Jocelyn yang masih berdiri berhadapan. Namun, mata keduanya terus menghindari satu sama lain.
‘Ini sangat canggung. Dari mana aku harus memulai?’ Pikir Grace.
“Aku akan mengambil tas,” Ucap Jocelyn tiba-tiba.
Grace sedikit terpenjat. Ia mengangguk. “I-itu benar. Ayo kita mulai berkemas karena waktu kita tidak banyak.”
“Sebenarnya, aku tidak paham apa saja yang harus dibawa dalam perang atau perjalanan kasar.” Tutur Jocelyn, lalu ia menggeleng kecil sambil sedikit terkekeh, “Tidak. Aku bahkan tidak pernah mengemas barangku sendiri selama ini.”
“Kau adalah seorang putri raja. Sudah sewajarnya kau memiliki pelayan yang membantumu sejak kecil.” Ucap Grace sambil menghampiri gadis itu. Lalu, ia menunjuk koleksi tas yang berada di dalam lemari kaca. “Apa aku boleh memilihkan salah satu tasnya untukmu?”
“Tentu. Aku tidak tahu ukuran tas mana yang tepat untuk aku bawa. Namun, aku yakin aku hanya diijinkan membawa satu agar tidak merepotkan,” Jocelyn tertawa kecil.
Grace ikut tertawa. “Mereka bilang di sana ada banyak monster, jadi kita mungkin akan banyak berlari.”
Kemudian, Grace mengambil salah satu tas selempang kain berwarna gelap. “Bagaimana dengan yang ini? Kau bisa menggantungnya di bahumu dan warnanya juga tidak mencolok. Aku yakin ini cukup untuk membawa perbekalan dan sedikit senjata.”
“Itu bagus. Aku akan menggunakannya. Terima kasih,” Ucap Jocelyn. “Lalu, apa lagi menurutmu yang harus aku bawa?”
“Makanan kecil, air, pisau kecil, minyak pengecoh monster, dan beberapa obat. Adro berkata; itu semua adalah hal terpenting yang ia bawa setiap mengembara.” Jawab Grace.
“O-oh,” Tanggap Jocelyn. “A-aku akan menyiapkannya, kalau begitu,”
Mata Grace perlahan membesar. Ia mengepalkan kedua tangannya. Bodoh! Bagaimana bisa ia lupa bahwa gadis yang sedang bicara dengannya saat ini adalah mantan tunangan Adro?
Jocelyn mengambil beberapa barang yang tadi Grace sebutkan, dan mengumpulkannya ke atas ranjang. Di sisi lain, Grace hanya berdiri canggung di samping ranjang itu.
Selesai mengumpulkan barangnya, Jocelyn duduk di atas ranjang untuk mengemas seluruh barang itu ke dalam tas. Lalu, ia menyadari Grace terus berdiri di tempat yang sama, sehingga ia memanggilnya, “Kau bisa duduk, Nona Menken. Aku akan memanggil pelayan untuk menyajikan kita teh dan kudapan setelah ini, bagaimana?”
Grace menatap Jocelyn. Setelah ia sakiti, gadis itu bahkan masih bisa tersenyum semanis itu padanya. “Itu terdengar bagus,” ucapnya pelan seraya duduk di pinggir ranjang itu.
“Putri Jocelyn, jika ada hal yang ingin kau katakan padaku, aku siap mendengarkan,” Ucap Grace tiba-tiba.
Jocelyn terdiam. Lalu, ia menggeleng dan tersenyum tipis sambil terus merapihkan barang-barangnya. “Tidak ada yang ingin aku katakan, Nona Menken.”
“Aku minta maaf.” Ucap Grace pelan. “Maaf telah menyakiti hatimu dan menghancurkan masa depanmu. Bahkan setelah semua yang telah aku lakukan padamu, aku masih memiliki muka untuk duduk di sampingmu seperti ini.”
“Sejujurnya, aku tidak tahu harus mengatakan apa, Nona Menken.” Jocelyn mengangkat wajahnya untuk menatap Grace. “Awalnya, aku kecewa dan marah padamu dan Adro. Namun setelah memiliki waktu untuk menenangkan diri dan berpikir, aku menyadari bahwa selama ini Adro tidak pernah mencintaiku. Pernikahan kami adalah pernikahan politik. Kami saling menyayangi karena kami berteman sejak kecil, namun, kami mungkin menganggap bahwa kami saling mencintai karena kami akan menikah nantinya.”
“Setelah melihat bagaimana Adro menatapmu dan memperlakukanmu, aku mengerti bahwa kau memiliki tempat khusus di hatinya yang tidak akan pernah bisa aku tempati. Itu terasa aneh bagiku; bagaimana seseorang bisa menatap orang lain seperti tatapannya padamu padahal pertemuan kalian masih seumur jagung. Bagaimana hubungan singkat kalian bisa mengalahkan hubungan kami yang terjalin sejak kami masih anak-anak. Namun, bukankah hal tidak masuk akal itu yang memperjelas bahwa yang berada di tengah-tengah kalian adalah cinta sejati?” Lanjut gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak awal, aku tahu Adro memiliki calon istri. Saat itu, kami berusaha menjaga jarak, namun setelah waktu berlalu, kami tidak kunjung menemukan jalan pulang untuknya. Aku berdosa telah berpikir Adro bisa menjalani hidup baru denganku – Membiarkannya melupakan dunia asalnya,” Ucap Grace dengan suara bergetar.
“Tapi pada akhirnya kau yang membawanya kembali ke sini. Kau sangat berani.” Jocelyn tersenyum lembut. Lalu, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. “Rasa bersalahmu tidak perlu kau perpanjang lagi, Nona Menken. Aku sudah menerima kenyataan bahwa Adro tidak mencintaiku. Bahkan jika kami berakhir bersama pun, akan menyakitkan jika harus bersanding bersama pria yang melihatku sebagai pemutus hubungannya dengan orang yang ia cintai.”
“Aku sungguh minta maaf…” Gumam Grace lagi, menundukkan wajahnya.
“Sejak kembali dari dunia itu, Adro memiliki pandangan yang berbeda. Meski awalnya sulit menerima itu, aku menyadari perubahannya bukanlah sesuatu yang buruk. Matanya nampak lebih hidup, terlebih saat ia memandangmu, seakan ia adalah seorang anak tersesat yang akhirnya menemukan rumahnya.” Tutur Jocely, lalu tersenyum sendu. “Aku iri pada kalian berdua. Kalian dapat menemukan cinta sejati kalian dan berani memperjuangkannya.”
“Kau juga bisa melakukannya, putri. Aku yakin,”
“Terima kasih, Nona Menken. Mungkin ini semua adalah takdir. Karena itu, kau tidak perlu menyalahkan dirimu lagi. Aku tahu kau adalah gadis yang baik. Daripada membencimu, aku lebih tertarik berteman denganmu.” Ucap Jocelyn.
Grace tersenyum haru, lalu menjulurkan tangannya. “Adro berkata perempuan di negri ini tidak boleh bersalaman. Namun di duniaku, bersalaman dilakukan oleh semua orang dan dilakukan saat kita berkenalan atau berbaikan. Sebuah kehormatan bagiku bisa berteman denganmu, putri. Kau bisa memanggilku Grace,”
“Ini sangat menarik.” Jocelyn segera membalas jabatan tangan Grace dengan gerakan canggung tanpa bisa berhenti tersenyum. “Dan kau bisa memanggilku Jocelyn.”
“Baiklah, Jocelyn,” Grace tertawa kecil.
“Sejujurnya, aku sangat tertarik dengan duniamu. Apa kau bisa menceritakan seperti apa dunia itu dan bagaimana kehidupan kau dan Adro di sana?”
“Tentu. Aku akan menceritakan semuanya padamu,” Grace mengangguk semangat.
***
“Ia akan baik-baik saja. ‘kan?” Bisik Grace pada Adro yang berjalan bersamanya.
“Ia tidak pernah terkurung di tempat sempit, ia mungkin cukup terkejut. Namun, ini adalah latihan yang bagus baginya sebelum benar-benar masuk ke tempat semenantang Gua Kematian.” Jawab Adro.
“Aku akan menjaganya,” Ucap Grace.
Genggaman tangan Adro seketika menguat. Ia melirik gadis itu. “Jangan membahayakan dirimu demi siapapun, bahkan aku.”
Grace tersenyum lalu mengangkat tangan mereka berdua, dan menempelkan punggung tangan Adro di pipinya. “Ingatlah; rasa khawatirku padamu sama besarnya dengan rasa khawatirmu padaku. Karena itu, jangan terlalu mengkhawatirkanku jika tidak ingin aku melakukan hal yang sama. Bertarunglah dengan baik dan pulanglah dengan selamat.”
“Hei, dari mana kau tahu rasa khawatirku sebesar milikmu? Apa kau tahu seberapa inginnya aku mematahkan kaki kuda-kuda di depan untuk menghalangi kau pergi?”
“Astaga… aku tidak tahu kau sesadis itu, Adro,” Grace menaikkan kedua alisnya.
Adro menghela gusar. “Aku sedepresi itu, kau tahu?”
“Semua sudah siap, pangeran,” Ucap kepala prajurit begitu mereka tiba di sebuah pintu kecil kastil yang mengarah ke hutan Utara.
“Baiklah. Kita harus berpisah di sini,” Ucap Damian sambil melirik dengan frontal tangan sang kakak yang masih menggandeng tangan kekasihnya.
Menatap wajah Grace, Adro memasangkan kupluk jubah biru tua yang gadis itu kenakan. “Berhati-hatilah. Ingat perjanji kita; kita akan bertemu kembali di istana ini dalam keadaan HIDUP.”
Grace tersenyum. “Aku akan menepatinya dan kau juga harus. Aku mencintaimu, Adro.”
Adro mengangguk sembari meraih pinggang dan belakang leher Grace. Ia menundukkan punggungnya, dan menempelkan bibir mereka sambil memejamkan mata.
Hangat bibir Adro dan berat deru napasnya membuat air mata yang sejak tadi Grace tahan akhirnya mengalir keluar. Begitu ciuman mereka terlepas, ia langsung memeluk tubuh Adro yang sudah terbalut kerasnya pakaian perang. “Aku sangat mencintaimu. Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat. Berjuanglah.”
Adro mengelus kepala Grace sambil mendekapnya erat. “Semua akan baik-baik saja. Setelah ini, kita akan bersama lagi dan melanjutkan hidup bahagia selamanya seperti di film-film dongeng itu,”
Kemudian, Adro melepas pelukan mereka, dan tersenyum lembut pada Grace sambil mengusap air mata gadis itu. “Aku sangat mencintaimu, lebih dari apapun. Dan aku percaya padamu.”
.png)
Komentar
Posting Komentar