Langsung ke konten utama

99. Harus Terpisah // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Julius … bajingan itu!” Geram Adro.

“Ini akan menjadi perang terbesar dalam sejarah. Bukan sebuah perang yang menentukan kerajaan mana yang akan berkuasa, melainkan perang yang menentukan masa depan manusia.” Tutur Raja Pentapore.

Raja Groendez menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kedua tangannya saling membungkus dan mengambang di depan wajahnya. Setelah hampir lima menit berpikir di tengah keributan para raja di ruang pertemuan itu, ia akhirnya angkat bicara,

“Kita tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi penyihir itu. Julius tidak memiliki etika perang. Tujuannya adalah menghancurkanku, dan ia akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya.”

Kemudian, Raja Groendez berhenti sejenak sebelum menatap semua orang yang berada di sana dan melanjutkan, “Seperti yang kalian ketahui, sejatinya perang ini adalah milik keluarga Groendez. Aku tidak akan menahan kalian untuk meninggalkan kami, namun jika kalian tinggal, maka kalian harus ikut dalam peperangan ini.”

Semua terdiam dan saling bertukar pandang. Lalu, Raja Volev bertanya, “Bagaimana dengan gadis yang berasal dari dunia lain itu? Bukankah ia akan pergi menghancurkan batu sakti itu?”

“Apakah hal itu akan berhasil atau tidak, masih belum jelas,” Sahut Raja Lamos.

“Setidaknya kita memiliki harapan.” Timpal Raja Pentapore. Lalu ia bangkit berdiri dan menyandarkan kedua telapak tangannya di atas meja. “Peperangan ini … meski Julius menawarkan perdamaian bagi kerajaan yang membelot dari Groendez, aku tidak bisa menerima jika harus berlutut pada pemimpin monster-monster tidak berotak itu. Pada akhirnya, dunia tidak akan sama jika Julius yang berkuasa. Karena itu, apapun hasilnya nanti, Pentapore akan tetap berperang demi masa depan manusia.”

“Kelihatannya kegigihan gadis kecil itu telah mempengaruhi pikiranmu, Raja Pentapore,” Raja Lamos tersenyum miring.

“Siapa pun dirinya, ia memiliki tekad besar. Aku memiliki firasat positif tentang rencananya. Karena itu, aku bersedia menaruh harapanku padanya.”

Kalimat Raja Pentapore membuat Raja Groendez membisu sejenak. Lalu ia menoleh pada Adro yang sejak tadi hanya diam dikarenakan ia tidak boleh menginterupsi percakapan para raja sebelum diijinkan. Ia tidak pernah melihat putra pertamanya tersenyum sebangga itu.

“Tanganku terbuka bagi pihak manapun yang ingin berperang bersama Groendez a Lend. Aku bersumpah; jasa kalian tidak akan sia-sia – aku akan membalasnya dengan setimpal.” Ucap Raja Groendez.

“Aku akan merundingkannya dengan orang-orangku.” Tutur Raja Volev.

“Aku akan mengorbankan segalanya dalam perang ini.” Ucap Raja Gorendez. “Aku akan turun memimpin peperangan ini sendiri.”

“Apa?” Adro menatap ayahnya yang wajahnya kian hari kian kusut.

“Raja Groendez, apa kau yakin?” Tanya Raja Pentapore.

“Julius tidak akan menahan diri kali ini. Ia akan menghancurkan kerajaanku dan membunuh rakyatku beserta semua keturunan mereka. Ini akan menjadi perang terbesar dan terakhir. Jika harus mati, aku akan mati di dalam peperangan ini.” Tutur Raja Groendez.

Raja Pentapore merenung sejenak, lalu bertanya, “Apakah karena tidak ada lagi tempat untuk berlindung?”

“Bahkan jika ada pun … aku tidak mungkin membiarkan prajurit-prajuritku kembali berperang sendirian lagi.” Gumam Raja Groendez.

Adro mengepalkan tangannya erat. Tiba-tiba, sang ayah menatapnya hingga membuatnya terkejut. Ia tidak kuasa memalingkan pandangannya ke bawah dengan rahang mengeras.

“Dalam klan Groendez, setiap putra tertua memiliki kekuatan turunan terbesar. Itu ditandakan dari terangnya warna mata kristal kami.” Ucap Raja Groendez sambil terus menatap Adro. “Pangeran Adro, kau dibutuhkan dalam perang ini.”

Adro langsung mengangkat pandangannya kembali menatap sang ayah. “Aku tidak bisa meninggalkan Grace pergi ke gua itu sendirian. Ia membutuhkan perlindungan untuk mencapai batu itu.”

“Gua kematian hanya dihuni oleh monster-monster purba yang memang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Namun, jika Julius menyadari kau tidak ada dalam perang nanti, ia akan mencarimu dan malah mengetahui misi penghancuran batu tersebut.”

Penjelasan sang ayah hanya dibalas dengan kebungkaman oleh Adro. Sesungguhnya, ia sudah menebak hal ini sejak mendengar kabar penyerangan besar-besaran yang akan Julius lakukan, namun ia tidak kunjung menemukan jalan keluar.

“Aku akan mengutus prajurit-prajurit terbaik untuk mengawal Nona Grace.” Ucap Raja Groendez.

Adro menggeleng. “Tidak bisa. Mereka tidak cukup kuat – aku tidak bisa mempercayai mereka sebesar itu. Kita harus mengutus orang lain untuk menggantikan Grace,”

***

Tangan Grace mengambang di atas tas kain yang masih terbuka lebar. Pandangannya seketika kosong dan tubuhnya mendingin.

“Bukan hanya kerajaan ini yang berada di ambang kehancuran, namun seluruh rakyat kami; orang tua dan anak-anak, bahkan bayi – Julius akan membunuh semuanya.” Jelas Adro perlahan.

Grace meletakkan pisau pemberian Suzan kembali ke atas kasur. Lalu, ia menarik napas panjang sebelum memutar tubuhnya untuk menghadap Adro. Tersenyum, Grace menjawab, “Baiklah. Itu tidak apa. Aku akan baik-baik saja.”

Namun, ketegangan masih nampak pada wajah Adro. Ia bergerak untuk duduk di samping gadis itu. “Grace, yang aku maksud adalah kau tidak perlu pergi mencari batu itu. Kita akan mengirim orang lain untuk melakukannya.”

“Apa?” Kening Grace mengkerut. Ia menatap Adro dengan mata membulat besar. “A-apa maksudmu?”

“Kau mengerti maksudku, Grace,” Jawab Adro pelan. “Misi itu terlalu berbahaya jika kau pergi hanya dengan perlindungan dari pengawal dan prajurit. Kau tidak perlu khawatir, orang yang akan kami utus adalah jendral-“

“Tidak.” Grace memotong kalimat Adro. Meski air mata telah menggenang, ia tetap menatap pria itu tajam. “Ini adalah misiku. Aku yang telah memulainya, maka aku harus memperjuangkan dan menyelesaikannya. Aku tidak peduli bahkan jika harus pergi ke sana sendirian tanpa pengawalan.”

“Grace, aku mohon-“

“Aku mohon padamu, Adro,” Grace kembali memotong kalimat Adro. “Kau sudah berjanji akan membiarkanku berjuang. Tolong percayalah padaku.”

“Aku takut, Grace. Aku benar-benar takut akan kehilangan dirimu. Aku tidak bisa membayangkan kau pergi sendirian ke tempat mematikan itu di luar pengawasanku. Bagaimana jika kau tidak kembali?” Tanya Adro dengan mata berkaca-kaca.

Grace menarik napas panjang, lalu memegang pipi kekasihnya. “Aku akan kembali. Aku berjanji,” ucapnya lembut. “Dan kau juga harus berjanji untuk kembali dengan selamat dari perang itu.”

Adro menatap Grace sendu, lalu memeluk gadis itu erat. “Maaf aku tidak bisa melindungimu,”

“Kau telah melindungiku dengan baik, Adro. Namun, dibandingkan sebuah perlindungan, aku lebih mengharapkan kepercayaan darimu,” Tutur Grace.

Kemudian, Grace melepaskan pelukan mereka perlahan. Ia menatap kedua mata kristal Adro, dan tersenyum lembut. “Aku akan baik-baik saja. Aku telah melalui berbagai hal buruk sejak kecil. Dan percayalah; aku yakin apa yang akan terjadi nanti tidak lebih buruk dari masa kelam itu.”

***

Adro duduk termenung di kursi perpustakaan. Ia kembali mendecak dan memegangi kepalanya yang terus berdenyut. Jujur saja, ia masih tidak setuju Grace pergi ke gua kematian tanpa dirinya.

“Kau pasti sangat khawatir,”

Merasakan seseorang duduk di sampingnya, Adro bergeming, masih memejamkan matanya.

“Tidak ada yang lebih memalukan bagi seorang pria dari ketidakmampuan melindungi wanitanya.”

Membuka matanya, Adro menoleh hingga pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata biru cerah milik sang adik. “Ini bukan soal harga diri.”

“Aku tahu.” Jawab Damian. “Aku hanya ingin membuatmu serius menanggapiku. Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Apa?” Tanya Adro, berusaha sabar.

“Aku sudah mendengar keseluruhan hasil perundingan peperangannya. Aku akan menggantikanmu pergi bersama Nona Grace.” Ucap Damian.

Kening Adro mengerut. Ia membuka mulutnya setengah, lalu menutupnya lagi karena tidak ada kata yang bisa keluar dari sana.

“Seperti yang aku duga, kau tidak akan menolaknya.” Damian tersenyum tipis. “Aku memiliki kekuatan turunan klan Groendez meski tidak sebesar milikmu. Namun setidaknya, aku masih lebih kuat dari semua anggota tim pengawal khusus yang ayah buat. Julius juga tidak pernah memperhatikanku, jadi absensiku pada perang nanti tidak akan disadarinya.”

Adro menghela gusar, lalu mengangguk singkat. “Kau benar; Aku tidak bisa menolaknya.”

“Tapi jika aku harus pergi bersama Nona Grace, aku tidak bisa melindungi Jocelyn di sini.” Ucap Damian.

“Aku percaya Jocelyn akan baik-baik saja dikawal oleh para pengawalnya yang biasa.”

Namun, Damian menggeleng. “Bagaimana jika aku memiliki cara lain? Aku akan melindungi mereka berdua sekaligus karena Jocelyn akan ikut bersama kami.”

“Apa? Kau gila?” Mata Adro membulat.

“Maaf menginterupsi percakapan kalian,”

Adro menoleh ke arah rak-rak buku. “Kau … ada di sini?”

Jocelyn mengangguk seraya melangkah mendekat dengan sedikit ragu. “Aku dan Damian berada di sana sejak tadi. Aku harap kau mengijinkanku pergi membantu Nona Grace, Adro.”




Komentar