Langsung ke konten utama

98. Pintu Rahasia // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng


 "Letakkan kristalnya di lantai, maka ia akan berjalan seperti langkah pemilik ingatannya," Adro membaca kertas yang tadi diberikan oleh Vizo.


"Aku harap ia tidak memiliki terlalu banyak tempat yang menurutnya sangat penting," Ucap Grace seraya meletakkan bola kristal itu di atas lantai. "Aku tidak tahu diri karena memiliki pertanyaan ini - Tapi kenapa mereka hanya membantu kita setengah jalan seperti ini?"

"Karena sorcerer hanya ditugaskan dan diijinkan menggunakan sihirnya untuk keperluan pertahanan kerajaan. Yang mereka lakukan untukmu akan dianggap pelanggaran kecuali kau berhasil menemukan guanya." Jelas Adro.

Grace menyipitkan matanya. "Apakah kerajaanmu sekejam itu?"

Adro tersenyum datar. "Tidak semua hal di negri dongeng indah, sayang,"

Tiba-tiba, Kristal Pembaca Jejak itu bersinar dan mulai bergerak.

"Kristalnya!" Ucap Grace, sebelum bola tersebut menggelinding pergi.

"Ayo ikuti," Adro mengambil langkah besar.

Waktu tengah malam membuat kondisi istana menjadi sangat sepi. Penjaga hanya berkeliling di waktu-waktu tertentu dan kebanyakan berjaga di depan pintu kamar-kamar anggota keluarga Kerajaan. Berkat hal tersebut, Adro dan Grace bisa lebih leluasa mengikuti bola kristal mereka tanpa dicurigai.

Bola kristal tersebut terus menggelinding, menuruni tangga, ruangan, dan aula. Lalu, ia berhenti di depan sebuah pintu besar berlapis emas.

Adro berdehem seraya lanjut melangkah maju, membuat kedua penjaganya langsung membukakan pintu tersebut. Tanpa mereka ketahui, sebuah bola kristal juga menunggu pintu itu terbuka di samping kaki mereka.

"Ruang takhta?" Tutur Grace Ketika mereka telah masuk ke dalam ruang megah itu.

Kemudian, bola tersebut berhenti tepat di depan panggung takhta raja, membuat Adro memungutnya.

"Apakah mungkin..." Adro bergumam seraya melangkah menuju kursi takhta raja.

Lalu, ketika Adro meletakkan bola tersebut di atas kursi paling besar dan suci di istana itu, bola tersebut tidak lagi bergerak dan kembali memancarkan cahaya.

"Sudah kuduga," Adro menghela lelah.

Di samping Adro, Grace memberikan reaksi yang sama. "Tempat yang penting dan sangat diingat. Tentu saja; Takhtanya,"

Mengambil bola itu lagi, Grace mengulas senyum. "Ini baru percobaan pertama,"

"Aku suka semangatmu," Adro tertawa kecil.

Kemudian, Grace mengembalikan bola kristal itu ke atas lantai, membiarkannya kembali menggelinding menuju tempat lainnya. Sayangnya, bola tersebut malah menggelinding ke kamar bekas pangeran terdahulu, dan kamar pribadi Raja Absolen.

Ketika Grace dan Adro mulai merasa lelah mengikuti benda yang malah mengarahkan mereka ke tempat-tempat tidak penting itu, akhirnya mereka diarahkan ke ruang kerja Raja Absolen. Di dalam sana, bola berhenti tepat di depan sebuah lukisan keluarga besar kerajaan pada masa itu.

"Apakah mungkin..." Grace menatap Adro dengan mata membesar.

"Kelihatannya begitu." Jawab Adro, lalu ia melangkah menghampiri lukisan tersebut dan memeriksa sisi-sisinya. "Jika memang ada pintu rahasia, kita harus menemukan cara membukanya."

Grace mengangguk sebelum memeriksa seluruh ruangan megah itu. Ia memeriksa meja-meja, dekorasi ruangan, bahkan menarik semua buku dari raknya - Ia melakukan semua berdasarkan film-film fantasi yang pernah ia tonton.

"Apakah ruangan itu sungguhan ada?" Keluh Grace sembari menghela panjang.

Adro hanya tersenyum kecut. "Sepertinya kita sudah lima belas menit mencari. Apa kau sudah lelah?"

"Lumayan," Jawab Grace sembari melangkah ke kursi terdekat, dan melempar tubuhnya di sana. "Tapi aku tidak menyerah. Hanya perlu sedikit melemaskan kakiku yang tegang karena sepatu-sepatu di kerajaanmu tidak ramah pada kaki."

"Benarkah? Setelah aku pikir, kami memang tidak terlalu memperhatikan kenyamanan sepatu wanita karena di sini, wanita tidak berjalan kaki terlalu lama." Jawab Adro seraya melepaskan sepatunya. Lalu, ia menghampiri Grace untuk berlutut di hadapannya.

"H-hei... Apa yang kau lakukan?" Grace hampir bangkit berdiri ketika Adro memegang kakinya.

"Kau bisa mengenakan sepatuku jika sepatumu terasa sakit," Ucap Adro seraya melepaskan sepatu berbentuk kerucut yang membungkus kaki Grace. "Beauty is pain - Itulah yang dikatakan teman-teman model wanitaku. Aku tidak menyadari hal itu ternyata juga terjadi di dunia asalku."

"Namun, terkadang hasil dari rasa sakit itu setimpal," Grace tersenyum lalu bangkit berdiri. "Sepatumu sangat nyaman, namun bentuknya kurang menarik,"

Adro bangkit berdiri. "Hei... hargailah pengrajin kerajaanku. Mereka telah mendekorasinya mati-matian agar tidak terlihat sejelek itu,"

Grace tertawa. "Tapi ini memang sangat nyaman." Ucapnya sembari membawa sepatu kebesaran itu berjalan mengelilingi ruangan. "Jika harus berjalan jauh, aku pun tidak akan peduli pada bentuk sepatu ini dan akan-"

"Awas!" Seru Adro, segera berlari ke arah Grace yang tersandung sepatunya sendiri hingga tubuhnya terhuyung ke depan.

"Uah!" Grace segera berpegangan pada kain gorden. "A-aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa."

Namun tiba-tiba, gorden yang tengah menopang seluruh berat tubuh Grace itu bergerak turun dengan cepat hingga membuat gadis itu memekik.

Tadinya, mereka pikir gorden besar berwarna biru itu akan rubuh dari penyangganya, namun itu tidak terjadi. Gorden itu hanya bergerak turun sekitar sepuluh centi. Namun, itu disusul oleh suara bergerumuh dari dinding yang menyangga foto keluarga Raja Absolen.

Dinding tersebut bergerak maju dan terbuka, menunjukkan sebuah lorong bercahaya minim yang bersembunyi di baliknya.

"Itu dia," Gumam Adro, lalu menoleh pada Grace. "Kau menemukan pintunya, Grace!"

"Kau benar!" Grace tersenyum lebar. Kemudian, ia berusaha bangkit berdiri.

"Ups! Maaf," Adro segera membantu gadis itu.

Kemudian, Adro mengambil lampu minyak dari atas meja. Ia menghampiri lorong rahasia itu dan berdiri di depannya. Angin dingin dan lembab berhembus pelan menggoyangkan helai rambut yang terjatuh di atas dahinya.

"Semoga isi ruang rahasia ini sesuai harapan kita," Grace berdiri di samping Adro.

"Apa kau akan baik-baik saja masuk ke dalam dengan sepatu kebesaran?" Adro menoleh pada Grace.

Gadis itu mengangguk. "Kali ini aku akan berhati-hati."

"Baiklah." Adro menyodorkan lengannya yang tertekuk. "Berpegan padaku. Kita masuk sekarang,"

Melangkah masuk ke dalam, Adro mendapati kakek buyutnya memasang batu-batu ajaib yang mengeluarkan cahaya putih di kegelapan pada sepanjang lorong, di mana batu tersebut seharusnya berasal dari lembah para penyihir. Ini semakin membenarkan bahwa kakeknya pernah berteman dengan penyihir.

Lorong tersebut tidak memiliki panjang yang terlalu berarti. Hanya berjalan sekitar lima puluh meter, mereka sampai pada ruang penyimpanan harta yang memiliki ventilasi-ventilasi kecil di bagian bawah dinding batunya.

Peti-peti harta diletakkan menumpuk di satu bagian. Di bagian lainnya, berbaris beberapa tong berisi koin-koin emas, permata, dan mutiara. Namun, bukan benda-benda berkilau itu yang menarik perhatian Adro dan Grace, melainkan sebuah meja yang menyokong setumpuk buku-buku, gulungan kertas, dan beberapa kotak perhiasan.

"Buku-buku di ruang harta?" Tutur Adro sembari mengambil salah satu buku itu.

"Aku akan memeriksa gulungan-gulungan kertasnya, oke?" Tanya Grace.

Adro mengangguk. "Tentu."

Kemudian, Grace membuka salah satu gulungan kertas yang sudah berdebu. "Kelihatannya ini hanya surat perjanjian kerajaan atau semacamnya,"

"Dan ini adalah petunjuk menuju gua kematiannya," Adro menunjukkan buku pertama yang ia buka.

***

Raja Groendez dan Raja Pentapore menatap halaman buku tua yang tergeletak di hadapan mereka. Sementara itu, Adro dan Grace berdiri di sisi luar meja besar mereka.

"Apa kau yakin petunjuknya sudah benar?" Tanya Raja Pentapore.

Adro mengangkat wajahnya, menatap raja itu dingin. "Kau meragukan tulisan leluhur kami?"

"Aku sudah mengirim orangku untuk menelusuri jalan sesuai petunjuk itu. Gua tersebut tersembunyi di lembah yang aksesnya tertutupi oleh hutan bambu padat. Gua itu benar berada di sana." Adro melanjutkan.

"Lalu, kalian berdua akan pergi ke sana?" Raja Groendez menatap Adro dan Grace bergantian.

Grace mengangguk. "Itu benar, Yang Mulia. Aku dan Pangeran Adro akan menghancurkan batu sakti yang memberi Julius kekuatan. Dengan begitu, aku percaya, kekuatannya juga akan sirna."

"Kau sangat percaya diri pada hal yang belum kau ketahui jelas." Ucap Raja Groendez. Lalu, ia menatap Grace dengan dagu terangkat. "Taukah kau; membawa putra mahkota kami ke gua kematian sama saja dengan percobaan menghancurkan kerajaan ini?"

"Ayah!" Adro menatap nyalang ayahnya. "Aku sendiri yang memaksa ikut pergi bersama Grace! Akuilah; kalian pun menganggap idenya tentang menghancurkan batu sakti itu luar biasa, 'kan? Ia juga telah menemukan jalan menuju gua itu. Tidakkah kalian miskin kebijaksanaan jika masih berusaha memojokkannya seperti ini?"

Suara lantang Adro bergema di ruang itu, dan semua orang bungkam, termasuk para raja. Bukan hanya ketegasannya, namun kebenaran kata-kata sang putra mahkota yang membuat raja yang paling dihormati pun merasa malu.

"Jika Pangeran Adro celaka dalam misi itu, maka Nona Menken harus menerima hukuman mati." Ucap Raja Groendez.

Sebelum Adro sempat menyuarakan keberatannya, Grace segera menjawab, "Aku akan menerima hukuman apapun jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena itu, aku mohon, ijinkanlah aku pergi mencari batu sakti itu, Yang Mulia."

Adro menatap Grace yang menundukkan kepalanya. Ia dapat melihat pundak gadis itu agak bergetar. Ia membenci semua orang yang menyakiti Grace, namun kenapa ayahnya yang selalu ia sayangi harus menjadi bagian dari orang-orang itu?

"Baiklah." Jawab Raja Groendez. "Bersama kalian, akan ikut satu regu pengawal. Pastikan misi itu akan berhasil."

Senyum merekah di bibir Grace. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap raja dan berucap, "Terima kasih, Yang Mulia."

"Akan aku pastikan misi itu berhasil, Yang Mulia." Tambah Adro, tersenyum geram.

"Yang Mulia! Yang Mulia!" Tiba-tiba seorang pembawa pesan dengan kening berlumuran darah datang berlari-lari, lalu mensungkurkan tubuhnya di lantai.

"Yohan! Apa yang terjadi?" Raja Groendez bangkit dari duduknya. Tidak seharusnya pembawa pesan menerobos masuk ke dalam pertemuan penting seperti sekarang. Ini pasti sesuatu yang sangat serius.

"Julius ... Ia akan menyerang kita fajar nanti. Seluruh dataran barat ... semua akan diratakannya. Ia telah mengumpulkan semua klan penyihir untuk menghadapi sorcerer Pentapore!"



Komentar