Langsung ke konten utama

97. Perdamaian dan Kepercayaan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Menarik napas panjang, Adro mengetuk pintu di hadapannya. Tidak lama, pintu itu terbuka, dan Adro tersenyum lembut.

“Maaf mengganggu istirahatmu,” Ucap Adro.

Grace segera menggeleng, meski raut terkejut masih belum lepas dari wajahnya. “Ti-tidak apa. Tapi kenapa kau ke sini?”

“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.” Jawab Adro, lalu ia merenung sejenak dan melanjutkan, “Ini hanya sebentar – Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi dan mungkin akan kembali sibuk dengan rapat peperangan.”

Grace memejamkan matanya seraya menggeleng singkat. Ia membuka pintu kamarnya lebih lebar dan menggeser tubuhnya. “Maaf. Tentu saja. Silahkan masuk,”

Begitu Grace duduk di pinggir kasurnya, Adro mengeluarkan sebuah kotak perak dengan ukiran burung-burung. Ia duduk di samping gadis itu seraya menyodorkan kotak tersebut. “Ini adalah manisan kesukaan kami – hanya dibuat khusus untuk anggota kerajaan.”

Grace menatap kotak cantik tersebut dan menerimanya sambil berterimakasih. Ketika ia membukanya, ia mendapati susunan permen beragam bentuk yang terlihat empuk dan diselimuti bubuk putih salju.

“Itu adalah Frucida; buah yang dimasak dengan madu dan rempah-rempah, lalu dibungkus dengan pasta kacang dan dibaluri gula bubuk. Biasanya kami memakannya saat musim dingin bersama teh atau kopi, tapi aku meminta juru masak membuatkan satu kotak untukmu.” Jelas Adro.

Mengambil satu buah Frucida yang memiliki ukuran sekali lahap itu, Grace memasukkannya ke dalam mulut dan langsung terkesima pada rasa manis, gurih, dan aroma harum yang memenuhi mulutnya.

Melihat senyum lebar merekah di wajah Grace, Adro ikut tersenyum lega. Ia menatap kedua mata gadis itu yang agak sembab, lalu mengusapnya pelan. “Aku tahu manisan itu tidak cukup untuk membantuku mendapat maaf darimu, tapi aku harap itu cukup membantu membuat suasana hatimu menjadi lebih baik.”

“Maafkan keegoisanku. Maaf aku telah meragukanmu dan mematahkan semangatmu.” Lanjut pria itu.

Grace meletakkan kotak manisannya ke samping. Lalu ia meraih tangan Adro dari pipinya dan menggenggamnya. “Aku juga minta maaf telah mengatakan hal buruk tentangmu, Adro. Padahal kau lelah setelah berperang. Kau juga melakukannya karena mengkhawatirkan keselamatanku. Tidak seharusnya aku marah-marah padamu.”

Menarik napas dan menghembuskannya panjang, Grace melanjutkan, “Sejujurnya, sejak awal aku sudah terlalu emosional karena aku cemburu pada Putri Jocelyn. Kau membangun taman seindah itu untuknya dan kalian membagi banyak kenangan di sana. Selain itu, semua orang, bahkan keluargamu terus menginginkan kalian untuk bersama. Namun yang paling membuatku mengecil dan tertekan adalah kesempurnaan Putri Jocelyn yang membuatnya pantas mendapatkan semua kasih sayang itu,”

“Grace,” Adro segera mengusap titik air mata yang terjatuh di pipi gadis itu. “Jocelyn memang gadis sempurna di mata dunia. Aku memang memperindah taman itu untuknya dulu. Tapi, saat ini, yang aku cintai adalah dirimu – Bukan karena kau sempurna di mata dunia, namun karena kau yang secara alami mampu mengisi kekosongan dalam jiwaku.”

“Terima kasih, Adro.” Grace tersenyum sendu. “Sebenarnya aku tahu itu, namun hatiku terus terasa sesak. Sepertinya aku hanya membutuhkan seseorang terpercaya untuk berbicara,”

“Aku tahu. Mohon bersabar sedikit lagi - Aku berjanji masalah ini akan segera selesai, dan kita akan langsung pulang ke Torbern,” Ucap Adro.

Grace mengangguk, lalu ia bersuara, “Um… Jadi, itu artinya kau tidak akan mengirimku pulang sendirian, ‘kan?”

“Tidak. Kita akan pulang bersama,” Adro mengecup kening gadis itu sekilas.

“Apakah itu juga artinya kau akan mempertimbangkan jika aku membantu?”

Melihat kedua mata berbinar-binar Grace yang menatapnya, Adro menarik napas dan menghembuskannya gusar. “Sejujurnya, ini terasa sangat berat bagiku. Aku sungguh takut melihatmu terluka. Tapi, Damian berkata aku harus belajar mempercayai orang lain. Jadi, bantuan apa yang ingin kau lakukan?”

“Sebenarnya, selama ini aku sering bertemu dengan sorcerer kerajaanmu. Aku meminta mereka membantuku mencari tahu letak batu sakti yang dahulu memberi Julius dan kakek buyutmu kekuatan.” Jelas Grace perlahan.

Kening Adro mengkerut. “Kau melakukan itu? Lalu, apa mereka membantumu? Maksudku, Lady Camelia; ia bukan seseorang yang mudah membantu dan mempercayai orang lain.”

Grace mengerjapkan matanya beberapa kali sambil berpikir. “Benarkah? Ia tidak nampak sempat berpikir dua kali untuk meminta si kembar membantuku saat itu,”

“Itu artinya ia memiliki sebuah firisat tentangmu.” Ucap Adro.

“Aku harap itu adalah sesuatu yang bagus!” Harap Grace.

“Itu memang sesuatu yang bagus. Lady Camelia lebih bijaksana dan sensitif dari kelihatannya. Ia hampir berusia seratus tahun sekarang.”

“Tidak mungkin!” Grace hampir tersedak. “Ia bahkan tidak terlihat lebih dari tiga puluh tahun!”

“Jangan lupa bahwa ia adalah seorang sorcerer. Ia telah mempelajari sihir yang berhubungan dengan jiwa dan raga manusia.” Sahut Adro.

Grace termenung sejenak, “Itulah mengapa ia bisa memanggil memori orang mati,”

“Memori … orang mati?” Ulang Adro.

Grace mengangguk. “Tidak ada yang tahu letak batu sakti maupun gua kematian. Satu-satunya orang yang masih hidup dan mengetahui letak guanya adalah Julius, namun kita tentu tidak bisa bertanya padanya. Karena itu, kami berpikir untuk menarik memori Raja Absolen dengan harapan dapat menemukan petunjuk letak batu itu.”

“Anggap saja akhirnya kalian berhasil menemukan posisi batunya – Lalu apa yang akan kau lakukan?” Adro melipat lengannya di depan dada sambil menatap Grace lekat-lekat.

Grace berdehem, lalu menjawab, “Karena batu itu yang memberi Julius kekuatan, aku yakin kelemahannya juga ada di sana. Aku berencana untuk menghancurkan batu itu.”

Menarik napas dalam-dalam, Adro berusaha menenangkan dirinya selama beberapa detik sambil memejamkan mata. Lalu, ia kembali menatap Grace setenang mungkin. “Dengar, Grace. Aku sungguh sedang berusaha mempercayaimu sekarang, namun kau tahu betapa berbahayanya hal itu, ‘kan? Gua itu dinamakan Gua Kematian bukan tanpa alasan. Suzan berkata Julius dan Raja Absolen bahkan hampir mati di sana, ingat?”

“Aku ingat dan mengetahuinya dengan jelas, Adro. Tapi aku sudah membulatkan tekadku. Tolong biarkan aku mencoba,” Mohon Grace.

Adro kembali menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Baiklah - Namun aku pergi bersamamu.”

Senyum Grace merekah lebar. “Kalau begitu, aku pasti akan aman! Trimakasih, Adro!” ucapnya seraya memeluk pria itu.

***

Pasangan itu berdiri memperhatikan ketiga sorcerer yang sedang duduk mengelilingi sebuah makam yang terletak di dalam ruangan khusus. Jika bukan karena status Adro sebagai putra mahkota, mereka tidak akan diijinkan masuk ke dalam makam para raja.

Grace kembali menoleh ke belakang, lalu berbisik pada Adro. “Kau yakin penjaga di depan tidak akan masuk memeriksa kita?”

“Aku tidak yakin,” Jawabnya, tetap fokus memperhatikan Lady Camelia dan si kembar Vincent dan Vizo yang sedang menjalankan praktik sihir mereka.

“Kau serius?!” Mata Grace membesar.

“Penjaga makam raja memiliki tugas dan kuasa berbeda dari penjaga biasa. Mereka bahkan bisa mengusir ratu jika menilai ratu melanggar peraturan ziarah.”

“Ya Tuhan, kita berada dalam masalah,” Gumam Grace, mengusap lengannya.

Adro tertawa kecil. “Apakah aku bisa membiarkan gadis penakut ini masuk ke gua kematian?”

Grace hanya bisa terdiam dengan bibir manyun mendengar ejekan Adro, sementara reaksinya malah menjadi hiburan bagi pria itu.

Ketika Lady Camelia membuka mata dan bangkit berdiri, fokus Adro dan Grace kembali dan mereka langsung menghampiri wanita anggun tersebut.

“Lady?” Panggil Adro.

“Seperti yang sudah diperkirakan, tubuh Raja Absolen sudah terlalu kering dan tua. Kita tidak bisa melihat ingatannya secara langsung.” Jelas Lady Camelia.

“Apakah ada cara lain, Lady?” Tanya Grace penuh harap.

“Bagaimana denganmu, Nona Menken? Apakah kau memiliki sesuatu di pikiranmu?” Lady Camelia bertanya balik padanya.

Grace merenung beberapa saat, lalu menjawab, “Sebenarnya… aku sempat berpikir apakah mungkin Raja Absolen memiliki ruang rahasia atau semacamnya. Dari film-film yang aku tonton, biasanya di sebuah kastil terdapat ruangan rahasia. Jika ternyata Raja Absolen memilikinya, ia mungkin menyimpan petunjuk lokasi batu saktinya di sana.”

Lady Camelia tersenyum, lalu menunjukkan sebuah bola seukuran bola kasti yang entah sejak kapan berada di dalam genggamannya. “Ini adalah Kristal Pembaca Jejak. Menggunakan kristal ini, kita bisa mengestrak ingatan orang mati, bahkan yang sangat tua sekalipun. Kristal ini akan menunjukkan jalan-jalan yang paling diingat dan dianggap sangat penting oleh orang mati itu.”

“Itu bagus! Gunakanlah cara apa pun untuk membuat misi ini berhasil.” Ucap Adro.

Kemudian, Lady Camelia membawa bola kristal itu dan meletakkannya di atas makam. Bersama Vincent dan Vizo, mereka menarik cahaya keunguan dari penutup makam dan menyerapnya ke dalam bola tersebut.

Kembali ke kediaman sorcerer, Lady Camelia menyerahkan bola kristal yang memiliki cahaya ungu yang berputar-putar di dalamnya kepada Grace. “Bola ini akan bertahan selama tiga hari – Setelah itu, ia akan pecah dan asap ingatan akan kembali ke cangkangnya. Kami hanya bisa membantu kalian sejauh ini. Semoga beruntung,”




Komentar