“Taman itu … bukankah kau membuatnya untuk Putri Jocelyn?”
Pertanyaan pelan Grace membuat Adro terkesiap. “I-itu…”
“Kalian juga menghabiskan waktu bersama sejak kecil di taman itu. Kalian membagi banyak memori indah.” Lanjut Grace. Lalu, senyum sendu terbentuk di bibirnya dan ia mengusap kedua lengannya sendiri. “Aku sangat tega dan sangat tidak tahu malu jika berani berduaan bersamamu di taman itu.”
Adro memejamkan matanya keras. Tentu saja – Ia benar-benar ceroboh! Bagaimana mungkin ia tidak terpikirkan tentang kemungkinan Grace mendengar kisah tentang taman itu dari ratusan mulut pelayan yang mengelilinginya. Atau yang terburuk, ia mendengarnya langsung dari Jocelyn. Ia hanya membuat dirinya sendiri terlihat seperti pria berengsek.
“Adro,” Grace menyadarkan pria itu dari lamunannya. Ia tersenyum tipis. “Tidak perlu terlalu memikirkannya. Aku hanya merasa buruk jika menghabiskan waktu bersamamu di taman itu. Jika Putri Jocelyn melihatnya, hatinya akan sangat sakit.”
Adro menghela gusar, lalu mengangguk. “Baiklah, aku mengerti. Maaf aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Aku terlalu ceroboh,”
“Ohya,” Adro segera merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak hijau. Ia membuka kotak tersebut dan menarik keluar sebuah liontin dengan sebuah batu berwarna biru kehijauan.
Mata Grace membesar. Ia menatap batu berbentuk oval yang disanggah oleh bingkai dan tali emas. “Indah sekali! Aku tidak pernah melihat batu seperti ini,”
“Ini adalah Permata Castanea yang berasal dari satu-satunya sungai yang mengalir dari gunung Velo, Sungai Castanea. Sejauh ini, hanya tiga batu yang baru berhasil di tambang dari sana. Saat aku kecil, nenekku memberikan batu ini dan berkata bahwa aku harus memberikannya pada istriku saat aku dewasa nanti.”
Kemudian, Adro bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang punggung Grace. Ia menyeka rambut panjang gadis itu dan melingkarkan kalung tersebut di lehernya. “Sekarang, liontin ini adalah milikmu. Kau harus tahu, apa pun yang terjadi, di mana pun kau dan aku berada, kita akan bersatu kembali karena kita adalah pasangan.”
Grace memegangi liontin yang kini sudah menggantung di bawah lehernya. Ini adalah batu tercantik yang pernah ia lihat, bahkan lebih cantik dari batu berlian di salah satu toko perhiasan termewah yang pernah ia masuki.
“Terima kasih, Adro,” Grace memeluk pria itu. “Aku akan menjaga liontin ini dengan nyawaku,”
Adro tertawa kecil, mengusap punggung Grace. “Tolong jangan lakukan itu. Utamakanlah nyawamu bagaimanapun caranya.”
Grace melepas pelukannya, lalu kembali menatap batu itu. “Permata ini memiliki warna sama persis seperti matamu. Di dalamnya seakan benar-benar terdapat sungai jernih yang mengalir.”
“Ah, ini sungguh melegakan bahwa kau menyukainya,” Adro menghela sembari mengusap kepala Grace.
Namun, senyum Adro perlahan memudar dan degub jantungnya berangsur menjadi cepat. Ia berdehem pelan, lalu memanggil, “Grace,”
“Ya?” Grace mengalihkan pandangannya pada Adro.
“Aku sudah bicara dengan Albertus. Ia dan kelompok inti sorcerernya bisa membuka portal menuju dunia modern. Aku ingin kau kembali ke sana, lalu aku akan menyusul jika masalah di sini sudah selesai,” Jelas Adro perlahan.
Kening Grace mengkerut. Ia melepaskan liontin yang sedang ia pegang dan menggunakan satu tangannya lagi untuk menyingkirkan tangan Adro dari kepalanya. “K-kau ingin aku pergi?”
“Lebih tepatnya; berlindung di tempat yang jauh lebih aman.” Jawab Adro. Lalu ia meraih kedua tangan Grace dan menggenggamnya. “Grace, selain para monster, ayah dan ibuku juga menjadi ancaman untukmu. Aku juga tidak bisa membiarkanmu mencari cara membantu peperangan ini. Semuanya terlalu berbahaya untukmu. Karena itu, aku mohon berlindunglah dahulu. Aku berjanji akan kembali padamu,”
“Tidak.” Jawab Grace tegas. Ia menarik tangannya dan menatap Adro tajam dengan matanya yang mulai berair. “Kenapa kau bersikap seperti ini, Adro? Apakah kau sadar, aku dipandang seperti benalu oleh semua orang di sini karena kau selalu melarangku melakukan berbagai hal?”
“A-apa maksudmu?” Tanya Adro.
“Aku selalu ingin membantu, namun kau terus melarangku bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Karena itu, aku terlihat seperti gadis manja tidak berguna. Orang-orang di istana ini, termasuk kedua orangtuamu semakin membenciku.”
“Grace, aku melakukan ini untuk melindungimu. Dunia ini sangat berbahaya saat ini. Jika kau mencoba membantu, kau akan terluka. Untuk saat ini, ini adalah jalan terbaik. Aku mohon mengertilah,” Jelas Adro.
Namun Grace menggeleng. “Kenapa, Adro? Di tempat ini, kenapa semakin lama aku semakin tidak mengenalimu? Di duniaku, kau selalu bersedia dibantu dan kau selalu mempercayai bahkan menyemangatiku untuk menjadi berani. Namun, di sini kau sangat egois. Kau menganggap dirimu yang paling benar dan kuat sehingga tidak memerlukan bantuan.”
“Grace,” Gumam Adro, menatap air mata yang mengalir menuruni pipi gadis itu.
“Apakah karena di sini kau adalah Pangeran Adro? Putra mahkota? Tapi … yang aku cintai dan kagumi adalah Adro yang aku kenal, bukan Pangeran Adro yang sangat asing bagiku.” Lanjut Grace. Lalu ia bangkit berdiri. “Maaf. Aku ingin beristirahat. Terima kasih telah meluangkan waktumu untukku,”
“Grace …” Adro hendak menghentikan gadis itu, namun ia mengurung niatnya.
“Ibu benar. Kau perlu belajar banyak tentang wanita,” Suara seorang pria terdengar begitu Grace keluar dari pintu perpustakaan.
Adro langsung menoleh, dan mendapati Damian sedang melangkah keluar dari salah satu lorong rak buku.
“Sejak kapan kau berada di sana?” Adro menatap adiknya.
“Dua jam yang lalu, mungkin?” Damian mengingat-ingat. “Apakah kau bahkan melupakan bahwa aku sering datang ke tempat ini, hingga berpikir untuk menghabiskan waktu berdua dengan kekasihmu di sini?”
“Aku pikir kau sedang beristirahat di kamarmu,”
“Pelayan yang mengatakannya? Ya, aku berusaha menghindari para putri. Jika mereka tahu aku ada di sini, mereka akan datang.” Sahut Damian, lalu duduk di kursi panjang yang tadi Grace duduki. “Kelihatannya kemampuan barumu adalah menyakiti hati perempuan?”
Adro mendecak seraya menghempas tubuhnya untuk duduk kembali di kursi itu. “Aku tidak melakukannya dengan sengaja.”
“Tentu saja kau tidak sengaja. Itu bukan pembelaan yang pintar,” Sahut Damian. “Namanya Grace Menken, ‘kan? Aku mengerti kenapa ia mengatakan hal itu,”
Adro mengerutkan keningnya. “Kau mengerti? Lalu, sebenarnya apa yang salah?”
“Kau masih bertanya? Ia sudah mengatakannya dengan jelas; Kau telah memandangnya rendah dan tidak mempercayainya di saat kau meminta ia mempercayaimu sepenuhnya. Ia ingin melakukan sesuatu namun kau malah mematahkan semangatnya.” Jelas Damian.
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin melindunginya,” Ucap Adro, memijat batang hidungnya sambil memejamkan mata.
“Apakah melindungi seekor burung adalah dengan mengurungnya di sangkar dan membiarkan sayapnya melemah? Kau hanya merampas kebebasan dari jiwanya dan kehidupan dari matanya.” Sahut Damian seraya menghela panjang. “Aku harap kau berhenti terus meragukan orang lain, dan membiarkan orang lain membantumu,”
Adro membuka matanya dan menoleh pada Damian dengan kening mengkerut.
“Nona Menken hanya mempertegas semuanya. Itu adalah sifatmu sejak dulu; Kau selalu menganggap remeh orang lain dan berpikir dirimu adalah yang terbaik dan paling benar. Hal sama terjadi di hari pernikahanmu, di mana kau memutuskan untuk pergi sendiri. Namun pada akhirnya, kau malah tersesat di dunia lain; Penyihir itu berhasil menjebakmu.” Lanjut pria itu.
Adro terdiam mendengar penjelasan Damian. Apakah ia sungguh separah itu? Selama ini, ia tidak menyadarinya. Namun setelah memikirkannya kembali, itu memang benar; Sebagai pangeran tertua, ia tidak pernah membiarkan orang lain membantunya. Kelihatannya memiliki gelar sebagai Putra Mahkota dan memiliki talenta bertarung yang hebat telah menjadikannya sombong.
Namun, selama berada di dunia modern, satu pun kelebihan yang Adro miliki itu sia-sia. Ia harus memulai segala sesuatu dari nol dan tanpa sadar menerima semua bantuan Grace yang kala itu muncul seperti malaikat penyelamat. Tidak heran jika Grace terkejut pada perubahan sikapnya ketika mereka berada di dunia ini.
“Kau benar; Aku terlalu egois selama ini. Terima kasih telah menjelaskannya padaku.” Ucap Adro, lalu bangkit berdiri. “Aku harus berbicara lagi dengan Grace,”
“Kau harus,” Damian mengangguk. “Gunakanlah waktumu sebaik mungkin sebelum kita harus kembali berperang,”
“Baiklah,” Jawab Adro sebelum melangkah. Namun, ia segera berhenti dan berbalik pada Damian yang terlihat hendak melanjutkan membaca bukunya.
“Soal hal yang kita bicarakan sebelumnya – Tentang Jocelyn,” Ucap Adro. “Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Berpoligami hanya akan menyakiti hati Grace.”
“Lalu bagaimana dengan hati Jocelyn? Apa kau sungguh tidak mau memikirkannya?” Damian menatap Adro tajam.
“Aku menyesal terpaksa menyakitinya. Ini membuatku menjadi pria jahat dan berengsek, namun aku memiliki prioritas.” Adro menghela panjang, lalu ia menatap tatapan geram Damian dengan sendu. “Kau sangat peduli pada Jocelyn. Aku akan menjamin masa depannya, jadi kau tidak perlu terlalu khawatir. Tapi selama itu, bisakah kau membantuku menjaganya?”
“Aku telah melakukannya dan akan selalu melakukannya tanpa kau pinta.” Desis Damian.
“Tentu saja. Karena itu, aku tidak sekhawatir itu, meski aku tahu ini malah membuatmu kesal.” Adro mengangguk, lalu melangkah pergi.
“Meski sekarang kau tidak lagi menganggapnya, ia tetaplah gadis istimewa di mata banyak orang.” Tutur Damian.
Adro tersenyum tipis tanpa menghentikan langkahnya atau menoleh ke belakang. “Aku bisa merasakannya,”
.png)
Komentar
Posting Komentar