Kali ini aku tidak akan mengalah. Aku tidak takut meski aku akan tersiksa – Bahkan jika harus mati.’
Grace menundukkan wajahnya dan memegangi kepalanya yang terus berdenyut. Ia masih tidak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari mulutnya di hadapan raja dan banyak orang. Namun, ia tidak menyesal; Ia hanya terkejut bahwa ia telah menjadi seberani itu.
Setelah perseteruan di ruang takhta tadi, ratu berhasil menenangkan raja dan Adro. Selain itu, ratu juga memerintah pengawal membawa Grace kembali ke kamarnya.
Sudah cukup lama Grace tidak merasakan perasaan seperti ini. Dahulu, setiap ia sedang dirundung sangat parah namun ia menyadari Bella dan Sarah terlalu sibuk, ia selalu memendam semuanya sendirian. Sama seperti sekarang, ia hanya bisa menatap langit melalui jendela dan berbicara satu arah dengan orangtuanya.
Tiba-tiba pintu kamar Grace diketuk. Kemudian, pintu itu terbuka tepat ketika Grace selesai menyeka air matanya dan turun dari kursi.
“Y-Yang Mulia,” Grace memberi hormat pada ratu yang tengah melangkah masuk.
Ratu Groendez tersenyum pada Grace – Bukan senyum teramah yang pernah ia lihat. Meski begitu, Grace membalas senyuman palsu tersebut dengan senyum sopan.
“Apakah Pangeran Adro sempat kemari?” Tanya ratu.
Grace menggeleng. “Tidak, Yang Mulia.”
Ratu mengangguk pelan. “Itu artinya ia mengikuti saranku untuk membiarkanmu menenangkan kondisi hatimu sendirian. Anak itu sangat tidak berpengalaman dengan wanita sehingga ia sering bertindak ceroboh.”
“Adro adalah pria dewasa …” Gumam Grace, lalu menekan kedua bibirnya.
Ratu menatap gadis itu beberapa detik, lalu berdehem singkat. “Mungkin teh mint hangat akan melegakan tenggorokanmu setelah menangis. Silahkan duduk,”
“Terima kasih,” Ucap Grace sebelum kembali duduk dan berdehem perlahan. Apakah suaranya sepurau itu?
Setelah pelayan wanitanya pergi untuk membuat teh, ratu melanjutkan bicaranya dengan Grace. “Kau adalah perempuan pemberani. Sejujurnya, aku merasa kagum,”
Grace menunduk sedikit. “Terima kasih, Yang Mulia.”
“Namun, keberanian yang terlalu besar akan berdampak buruk bagimu dan merugikan orang-orang di sekitarmu,” Lanjut ratu perlahan.
Grace mengangkat pandangannya dan menatap ratu. Wanita dengan mata hijau itu tersenyum sendu. “Aku harap aku memiliki keberanian sepertimu saat itu, namun terlalu banyak yang bergantung padaku.”
“…” Grace mengerutkan keningnya.
“Sebagai bangsawan, kami tidak mengenal cinta di luar keluarga. Kami tidak berani mencintai lawan jenis karena itu hanya akan menyakiti hati kami. Pada akhirnya, kami akan menikah dengan orang yang dipilih oleh orangtua kami; Itulah pernikahan politik.” Lanjut ratu perlahan. Lalu ia menarik napas dalam dan menghembuskannya berat. “Seperti kebanyakan wanita bangsawan lain, aku tidak mencintai suamiku saat baru menikahinya.”
Mata Grace membesar. “K-kau … tidak mencintai raja?”
“Saat itu, aku sudah memiliki pria yang aku cintai. Namun, tentu aku harus mengalah demi kerajaanku. Beruntung, aku menikahi pria yang tepat; seorang raja kuat dan sangat berkuasa. Ia juga memperlakukanku dengan baik.”
“Tapi … kau berakhir mencintainya, ‘kan?” Tanya Grace.
“Karena ia sekarang adalah keluargaku, maka aku mencintainya.” Jawab ratu.
Grace menggeleng pelan. Ia tahu ratu berbohong. Wanita itu memang menghormati dan menyayangi suaminya, namun ia tidak pernah mencintainya. Sungguh miris!
“Aku tidak mau putraku mengalami hal yang sama denganku. Karena itu, sejak ia dijodohkan dengan Putri Jocelyn, aku mengarahkan mereka untuk terus bermain bersama dan membatasi teman-teman perempuan Adro; membuatnya tidak terbiasa berada di dekat perempuan kecuali Jocelyn. Akhirnya, Adro dan Jocelyn saling mencintai sehingga keduanya akan benar-benar bahagia saat menikah nanti,”
“A-apa?” Grace tertegun menatap ratu.
“Namun, semua yang telah aku lakukan menjadi sia-sia karena Adro terjebak di dunia yang tidak bisa aku jangkau. Di sana, ia bertemu gadis lain untuk pertama kalinya dan menghabiskan waktu bersamanya sebagai pria dewasa. Ia berakhir jatuh cinta pada gadis itu dan dengan mudah melupakan cinta masa kecilnya.” Sambung Ratu.
Grace meremas gaunnya sambil meneguk liur yang terasa seperti sebongkah batu. Lalu ia menjawab, “Aku minta maaf jika kau menganggap bahwa aku telah mengubah putramu. Namun, aku ingin menegaskan satu hal; Aku tidak pernah sengaja membuat Adro mencintaiku. Perasaan kami tumbuh dengan sendirinya dan itu berada di luar kehendak kami – Dan aku yakin, itu adalah cinta yang sesungguhnya.”
“Nona Menken, aku harap kejadian tadi dapat membuka matamu dan hatimu. Adro adalah keluarga kami dan ia memiliki peran penting untuk kerajaan ini. Kau telah mendorong raja hingga ke batas kesabarannya. Meski ia membiarkanmu sekarang, ia akan segera menyingkirkanmu jika kau melakukan sedikit saja kesalahan.” Ucap Ratu cepat.
“Yang Mulia Ratu, aku melakukan ini semua dengan kesadaran penuhku. Dan aku akan tetap pada pendirianku; Mengalahkan Julius. Dengan begitu, aku akan menjadi pasangan yang layak untuk Adro.”
“Kau-“ Ratu menghentikan kalimatnya ketika tehnya datang. Sementara pelayan menata set cantik di atas meja kecil di tengah mereka, ia berusaha mengatur napasnya.
“Aku akan meminta sorcerer Pentapore terhebat untuk membuka portal untukmu. Lebih baik kau segera pulang karena dunia ini sangat berbahaya – Nyawamu terancam. Sadarlah; kau hanya gadis biasa. Mana mungkin kau bisa mengalahkan penyihir sehebat Julius?” Ucap ratu dengan setenang mungkin.
“Maaf, namun aku harus menolaknya, Yang Mulia. Aku sudah bilang, bahkan jika harus mati, aku akan tetap berusaha-“
“Kau tidak akan bisa!” Potong ratu geram. “Kau tetap tidak akan berguna seperti sekarang dan malah menyusahkan semua orang nantinya. Dan orang yang akan berkorban paling banyak untukmu adalah putra sulungku!”
Ratu berusaha mengendalikan napasnya lagi, lalu meneguk tehnya cepat. Mungkin ini adalah sikap terkasar yang pernah ia tunjukan seumur hidupnya selama menjadi perempuan bangsawan. Di hadapannya, Grace hanya diam dengan rahang mengeras.
Setelah napasnya kembali stabil, ratu melanjutkan, “Aku akan membayar sepadan jasamu yang telah membantu Pangeran Adro kembali ke sini. Emas, berlian, permata, perak – Apa pun itu. Aku akan memberikan sangat banyak agar kau hidup melebihi makmur di dunia asalmu. Pulanglah dan jangan kembali lagi,”
Grace menggeleng pelan. “Aku tidak membutuhkan itu semua. Jika Adro berada di sini, maka aku juga.”
“Dengarlah, Nona Menken, bahkan jika kau bisa bersanding dengan Adro, kau tidak akan pernah bisa menjadi ratu. Akan ada seseorang yang bersanding dengannya sebagai pemimpin dan kau hanya berdiri di belakangnya sebagai selir. Itulah hal terbaik yang bisa kau dapatkan di sini!” Ucap ratu sebelum bangkit berdiri.
Tetap duduk kursinya, Grace menatap calon ibu mertuanya yang melangkah meninggalkannya dengan kemarahan. Ketika pintu itu tertutup, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah keluar.
***
Adro membuka kotak kecil berbalut kain satin berwarna hijau emerald. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang seraya menutup kotak tersebut.
Menyimpan kotak itu di dalam kantungnya, Adro kembali memeriksa kedua tangan dan lehernya, memastikan semua luka akibat peperangannya telah tertutup dengan baik. Kemudian, ia segera membenahi posisi berdirinya saat mendapati sosok Grace sudah datang mendekat bersama seorang pelayan di belakangnya.
“Grace,” Adro tersenyum lebar, menghampiri gadis itu.
Sama seperti Adro, Grace juga tidak bisa menahan kegembiaraannya atas pertemuan mereka setelah beberapa hari terpisah. Melihat Adro baik-baik saja meski memiliki beberapa luka di wajahnya, Grace merasa seperti sebuah tanaman kering yang akhirnya menerima guyuran hujan.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Adro, lalu menggeleng, “Tidak. Tidak seharusnya aku mempertanyakan hal bodoh itu. A-aku … aku minta maaf sudah membiarkan hal seburuk itu terjadi padamu. Aku tidak tahu ayahku akan bertindak sejauh itu,”
“Adro,” Grace melekatkan telapak tangannya di pipi pria itu. “Aku baik-baik saja. Ini sungguh melegakan bahwa kau kembali dengan selamat. Maaf untuk hasil perang yang tidak sesuai harapanmu,”
“Itu bukan salahmu, tidak perlu meminta maaf.” Sahut Adro cepat. Lalu, ia meraih tangan Grace dan menggenggamnya erat. “Suasana hatimu sedang buruk. Aku harap pemandangan taman ini bisa sedikit memperbaikinya,”
“Adro,” Grace menahan kakinya di lantai. “Bisakah kita bicara di tempat lain?”
“Oh, tentu,” Adro mengangguk. “Bagaimana dengan perpustakaan atau di taman luar?”
“Di mana saja selain taman ini,” Jawab Grace pelan.
Akhirnya, Adro membawa Grace ke perpustakaan istana, tempat paling tenang namun memiliki arsitektur indah. Di sepanjang perjalanan mereka, Grace terus diam dan Adro belum berani menanyakan apa pun padanya. Ia tahu ada yang sangat salah dengan Grace sehingga ia harus berhati-hati dengan kata-katanya.
“Padahal dahulu aku pernah berjanji akan menunjukan keindahan istanaku padamu, namun aku bahkan kesulitan menghabiskan waktu bersamamu sejak menginjakkan kaki di istana ini.” Ucap Adro begitu mereka duduk di sebuah sofa dekat jendela besar berkaca patri.
Grace tersenyum tipis dan menggeleng. “Tidak apa. Kau memiliki hal yang lebih penting. Aku mengerti,”
“Eum, Grace,” Panggil Adro pelan, membuat gadis itu menoleh padanya. “Kau menyukai film fantasi, di mana terdapat pemandangan indah buatan komputer di dalamnya. Aku yakin seharusnya kau menyukai tamanku, tapi … kenapa kau terlihat seakan taman itu menyesakkanmu?”
.png)
Komentar
Posting Komentar