Bukan berita tentang kekalahan perang yang kini membuat semua orang tertegun, melainkan informasi yang dibawakan oleh adik laki-laki dari Putri Vivian Scarez, putri tertua ketua kelompok sorcerer Eastar yang menikah dengan salah satu putra Raja Pentapore.
“Target Penyihir Julius adalah keluarga Groendez. Dendam atas pengkhianatan Raja Groendez terdahulu yang membuatnya membabibuta menyerang manusia.” Jelas Albertus.
Semua raja yang terlibat di dalam Rapat Setelah Perang itu masih terdiam, termasuk Raja Groendez sendiri. Di salah satu kursi rapat, Albertus melirik Adro yang nampak kaku wajahnya.
Terdengar suara tarikan napas agak keras dari Raja Pentapore hingga semua orang serentak menoleh padanya. “Terlepas dari kebenaran mengenai sejarah yang katanya telah dihilangkan itu, penawaran Penyihir Julius sudah jelas. Targetnya hanyalah Kerajaan Groendez.”
“Apakah kau mengatakan kau bersedia membelot dariku dan berlutut kepada Julius untuk menjadi raja barumu?” Raja Groendez menatap Raja Pentapore.
Raja Pentapore berdehem kecil. “Sebagai raja bagi rakyatku, aku harus menjamin keselamatan dan kedamaian hidup mereka. Aku juga telah kehilangan sangat banyak prajurit.”
“Aku bertanya padamu; Apa yang sedang kau coba katakan?” Tanya Raja Groendez.
“Aku mengatakan; Pendirianku tidak lagi sekuat sebelumnya untuk ikut campur di dalam peperangan ini, terlebih, kita tidak memiliki hubungan keluarga karena anak-anak kita tidak jadi menikah. Pada dasarnya, Julius menaruh dendam hanya pada Keluarga Groendez – Tidak seharusnya kerajaan lain terkena imbasnya.”
Jawaban Raja Pentapore membuat raja-raja lainnya saling menatap satu sama lain. Gumaman-gumaman meramaikan ruang rapat itu, seakan menyudutkan Raja Groendez dan putra mahkotanya.
Tidak dapat dipungkiri, apa yang dikatakan Raja Pentapore adalah benar. Penyebab Julius mengerahkan monsternya untuk menyerang para manusia adalah dendamnya terhadap leluhur Groendez. Namun, semua kerajaan yang tidak terlibat harus terkena imbasnya dan mengalami kerugian besar. Untuk apa mereka terus berperang dan melihat orang-orang mereka berguguran jika bisa menghentikan kekacauan ini dengan cara sangat sederhana; yaitu meninggalkan kerajaan Groendez?
Saat ini, Kerajaan Pentapore memegang posisi kuat dalam peperangan berkat pasukan sorcerer mereka. Jika Raja Pentapore memutuskan untuk mundur dari peperangan, sudah dipastikan Kerajaan Groendez dan sekutunya akan runtuh hanya dalam waktu singkat. Demi mengamankan diri, semua kerajaan akan mengikuti jejak kerajaan Pentapore.
***
“Ia bukanlah raja yang sederahana, namun ia tidak membawa barang berharga di dalam petinya. Anehnya, barang berharganya yang disimpan di dalam ruang hartanya juga tidak sebanyak yang aku pikirkan.” Ucap Vincent.
“Jadi, itu adalah jalan satu-satunya …” Gumam Grace. Lalu ia mengangkat wajahnya untuk menatap si kembar. “Aku akan bertanggungjawab apa pun konsekuensinya. Ini harus dilakukan.”
Vizo melipat lengannya di depan dada. “Raja Absolen telah mati lebih dari seratus tahun yang lalu. Semakin tua sebuah mayat, semakin sulit memanggil memorinya.”
“Namun itu bukannya tidak bisa dilakukan, ‘kan? Jangan takut – Aku bersumpah akan menanggung semua resikonya. Bahkan jika harus mati pun … aku tidak akan menyerah,” Ucap Grace.
“Hey, apa aku pernah mengatakan bahwa aku takut?” Sahut Vizo, menaikkan satu alisnya. “Aku hanya memberikan gambaran padamu seberapa tipis kemungkinan rencanamu akan berhasil.”
“O-oh, begitu, yah.” Grace meringis kecil. “Terima kasih untuk informasinya, namun aku tetap akan melakukannya, seberapa kecil pun kemungkinan untuk berhasil.”
Tiba-tiba, seorang penjaga datang hingga membuat ketiga orang itu menghentikan perbincangan mereka.
“Ada apa?” Tanya Vincent.
“Yang Mulia Raja memanggil Nona Grace Menken ke ruang takhta.” Tutur penjaga itu.
“Y-yang Mulia memanggilku?” Ulang Grace, setengah bergumam.
Grace tidak tahu apa yang menyebabkan raja memanggil dirinya. Apakah Adro dan para prajurit sudah kembali? Namun, Adro berkata peperangan mungkin memakan waktu hingga tujuh hari sementara sekarang adalah hari ke-lima sejak pria itu pergi. Mungkinkah kemenangan mereka lebih cepat dari perkiraan berkat Adro yang menjadi pemimpinnya?
“Nona Grace sudah di sini,” Ucap penjaga yang mengantar Grace kepada penjaga pintu ruang takhta.
Setelah penjaga tersebut menyerukan kedatangan Grace, ia diperkenankan masuk ke dalam ruang mewah dan luas itu. Di sana, ia mendapati raja tengah berdiri di depan takhatanya dengan ratu yang masih duduk di kursi emasnya.
“Yang Mulia,” Grace memberi hormat begitu ia berdiri di bawah panggung singgasana raja. “A-apa ada yang bisa aku bantu? Ma-maksudku, kenapa kau memanggilku, Yang Mulia?”
Tiba-tiba, suara pedang yang bergesek dengan pembungkusnya membuat Grace mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Matanya membesar dan pupilnya menyusut saat ia mendapati ujung pedang panjang telah melayang tepat di depan batang hidungnya.
“Yang Mulia!” Ratu segera menghampiri sang raja. “Tolong tenanglah,”
Masih mengacungkan pedangnya ke arah wajah Grace, Raja Groendez mendesis, “Kau datang untuk menabur garam pada luka kami. Mungkinkah kau adalah bagian dari penyihir bajingan itu?”
Dengan leher tegang, Grace menggerakkan kaki gemetarnya untuk mundur dari ujung pedang yang sedikit lagi menembus jembatan antara kedua matanya.
“Jika kau berani bergerak, aku akan memenggal kepalamu di sini.” Ancam Raja Groendez, membuat tubuh Grace kembali mematung sebelum ia berhasil melangkah mundur.
Kemudian, raja melirik dua pengawal yang berdiri di dekat singgahsananya. Oleh instruksinya, kedua pengawal pria itu menghampiri Grace untuk menahan kedua tangannya.
“Yang Mulia… Aku mohon tenanglah,” Pinta ratu lagi. “Kau tidak pernah menodong pedangmu pada orang tidak bersalah. Ia adalah gadis yang membawa Adro kembali,”
“Kita belum memeriksa apakah ia sungguh tidak bersalah. Kita pun tidak tahu apakah membawa Adro kembali ke sini adalah bagian dari rencana buruknya bersama penyihir itu!”
“A-aku tidak bersekutu dengan penyihir. Aku mohon percayalah… Aku membantu Adro kembali karena ingin menolongnya dengan tulus,” Jelas Grace dengan suara bergetar. Air mata sudah menggenangi kedua matanya.
“Kau membawa kemalangan untuk kerajaan ini – Untuk keluargaku. Kau telah meracuni putra pertamaku dengan bisamu hingga ia rela menyakiti orang-orang yang dahulu ia cintai.” Desis raja. Lalu, ia menggerakkan pedangnya turun dan berhenti di bawah dagu Grace. “Jika kau tidak ingin mati, pergilah dari istana ini – Tinggalkan putraku!”
“Adro! Tidak!” Tiba-tiba ratu berseru.
“Turunkan pedangmu darinya.” Ucap Adro, menahan geram.
Raja Groendez melirik sebuah pedang yang bertengger di samping lehernya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya keras. “Sadarkah kau bahwa kau sedang menodongkan pedangmu pada ayahmu sendiri – Pada rajamu sendiri?”
“Jika kau menyadari bahwa kau sedang menodongkan pedangmu pada calon istri putramu, maka sesadar itulah diriku.” Jawab Adro.
Masih dengan tubuh mematung, Grace menyaksikan Adro mengarahkan pedangnya ke leher ayahnya sendiri. Tanpa ia sadari, air matanya telah mengalir membasahi pipinya.
“Adro, tolong berhentilah. Ia adalah ayahmu!” Ratu berusaha menarik tangan Adro, namun sang putra bergeming.
“Grace bukan bagian dari penyihir itu. Aku sangat mengenalnya dan ia adalah wanita yang aku cintai!” Ucap Adro. “Jika kau berani menyakitinya, aku tidak segan memutus nadimu dengan pedangku meski kau adalah ayahku sendiri.”
“Lihatlah seberapa parah ular itu telah meracunimu, nak,” Geram Raja Groendez.
“Turunkan pedangmu jika kau tidak ingin mati di tangan putramu sendiri.” Adro kembali memperingati.
Mengeratkan genggaman pada pedangnya, Raja Groendez akhirnya menurunkan benda tajam itu. Ia melirik putranya nyalang dengan mata memerah. Putranya benar-benar telah disihir!
Adro menurunkan pedangnya perlahan, lalu menatap kedua pengawal yang sedang memegangi Grace. “Lepaskan dia!”
Kedua pengawal itu menatap raja mereka, lalu menerima anggukan tipis. Barulah mereka melepaskan gadis tersebut.
“Penyerangan yang Julius lakukan adalah balas dendam pada mendiang Raja Absolen. Ia memiliki monster yang tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan jika Pentapore tetap bersekutu dengan kita, perang akan terus berlanjut, dan perlahan prajurit akan habis.” Ucap Adro, mengahadap ayahnya yang masih berdiri menatap ke depan. “Itu adalah kenyataannya. Lalu kenapa kalian menyalahkan semuanya pada Grace hanya karena aku lebih memilihnya dibandingkan gadis yang kalian jodohkan denganku?”
“Kerajaan ini telah dibangun dengan darah dan air mata leluhur kita.” Raja perlahan menoleh pada Adro, menatapnya tajam. “Menikah dengan anggota kerajaan kuat adalah praktik turun temurun untuk memperkuat kerajaan ini dan mensejahterahkan rakyat. Kerajaan Groendez dan Pentapore memiliki pasukan terbanyak dan terkuat. Seberapa banyakpun monster itu, dapat kita kalahkan jika kita bekerja sama.”
Adro tertawa kecil. “Apakah kau tidak melihat apa yang aku bawa dari perang terakhir?; Mayat-mayat prajurit kita dan Pentapore.”
“HENTIKAN!”
Seruan Grace membuat semua orang menatapnya, sekaligus menghentikan adu mulut Adro dan Ayahnya.
“Aku bukan penjahat. Aku tidak memilki niat buruk untuk kerajaan ini. Aku bertemu Adro saat ia baru saja terdampar di duniaku dan bertahun-tahun mencoba mencari cara untuk membawanya kembali ke dunia ini. Namun … jika mencintai putra mahkota kalian adalah sebuah kejahatan, maka aku benar adalah penjahat!” Ucap Grace sambil berlinang air mata.
“Grace-“
“Akan tetapi …” Grace memotong ucapan Adro. “… meski kalian menentangku untuk menjadi pasangan putra kalian, aku tidak akan pernah mundur. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih layak dari putri kerajaan Pentapore itu. Aku akan melakukan apapun untuk membantu kalian mengalahkan Julius,”
.png)
Komentar
Posting Komentar