Langsung ke konten utama

93. Mengungkap Kebenaran // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Menggunakan monster yang ia kendalikan dengan paksa, Adro berhasil mendekati gerbang benteng musuh. Berbagai monster mencoba menghalanginya, namun kemampuan panah Damian dan kehebatan sorcerer penyergap sangat hebat sehingga tidak ada satu pun monster yang berhasil menyentuhnya.

Melihat Adro hampir sampai di gerbang, Albertus segera membentuk sihir menggunakan racikan elemen sihir terakhirnya yang memang sejak awal sudah ia persiapkan untuk hal ini.

“Ini datang!” Seru Albertus.

Mendengar teriakan itu, Adro langsung merebahkan tubuhnya ke depan. Detik itu juga, Adro merasakan angin panas melewati tepat di atas punggungnya. Setelah itu, sebuah ledakan muncul di depan wajahnya.

Adro menurunkan lengannya yang menutupi setengah wajahnya. Ia pikir ia sudah mati karena ledakan barusan. Namun, ketika ia menatap sekeliling, ia menyadari sebuah tameng sihir berbentuk segitiga tengah melingkupinya.

Di sisi lain, Albertus terengah-engah sambil menatap Adro. Ia dan beberapa pasukan penyergap andalannya telah mengeluarkan kekuatan maksimal mereka untuk membuat tameng sekuat itu demi melindungi Adro.

Gerbang raksasa yang dihiasi duri-duri besi besar itu runtuh. Ini adalah kesempatan mereka untuk menemukan Julius dan menghabisinya. Namun, mereka semua tercengang ketika mendapati seekor monster berbentuk seperi Ogre namun memiliki postur lebih besar dan lebih menyeramkan, seakan itu adalah Ogre yang dimodifikasi dengan tambahan taring dan duri-duri pada otot kekarnya.

Yang lebih mengejutkan, monster-monster yang nampak mematikan itu berjumlah sangat banyak. Ternyata, Julius menyembunyikan senjata-senjata mematikannya di balik benteng itu. Ia telah mempermainkan mereka.

“Adro!” Seru Damian dari kejauhan. “Adro!”

Rahang Adro mengeras. Ia menatap jajaran monster di hadapannya dengan sisa kesabarannya. Seruan Damian dan yang lain tidak ia hiraukan.

Sebuah seringai kecil muncul di bibir Adro. Lalu, ia menarik pedangnya keluar. “Kau pikir kau bisa memukulku mundur hanya dengan mengeluarkan kumpulan raksasa tak berotak?”

“Kau mungkin tidak akan mundur, namun bagaimana dengan prajurit lainnya?”

Sebuah suara pria menggema, membuat semua orang dan para monster menghentikan pertarungan mereka.

“Adro Alymer Groendez, betapa naifnya dirimu; mengingatkanku pada seseorang yang hampir aku lupakan,” Lanjut suara itu.

Meski wujud pemilik suara itu tidak terlihat, insting kuat Adro memberinya petunjuk di mana penyihir itu berada. Ia segera menarik pisaunya yang menancap pada kepala monster yang ia naiki, lalu melemparnya ke arah langit di sisi kirinya. Seperti yang ia duga, pisaunya terpental meski seakan tidak menabrak apa pun.

“Hm … ha … ha … ha …”

Sosok pria berjubah hitam muncul di udara tepat ketika pisau yang Adro lemparkan terjatuh. Kemunculannya membuat para monster berseru-seru.

“Julius,” Geram Adro.

“Lama tidak berjumpa, Pangeran Adro,” Sapa Julius, tidak menurunkan pandangannya sedikitpun.

“Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu,” Sahut Adro.

Julius tersenyum tipis. “Aku mengingat seorang anak yang sangat dilindungi oleh orangtuanya.”

“Sudah terlalu lama kau bersembunyi, Julius. Sekarang bertarunglah seperti seorang pria bermartabat!” Ujar Adro sebelum melompat turun dari monster yang wajahnya telah hancur terkena ledakan.

Namun, kalimat Adro ditanggapi oleh Julius dengan tawa merendahkan. “Sebagai keturunan Groendez, kau bahkan bisa menyinggung soal Pria Bermartabat?”

Mata Adro terbelalak. Ia menatap Julius tajam sambil mengeratkan rahangnya.

Kemudian, Julius mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia mengangguk-angguk tipis sebelum berbicara lantang, “Dengan jumlah pasukan kalian sekarang, kalian tidak akan bisa bertahan melawan monster-monsterku yang tidak akan berhenti muncul dari dunia bawah.”

Para prajurit yang sudah kelelahan dan terluka parah itu saling menatap horror. Jadi benar, ini bukan hanya perasaan mereka, namun monster-monster itu memang terus bermunculan. Jika terus seperti ini, pertarungan tidak akan berakhir hingga mereka semua benar-benar mati.

“Aku akan menghentikan perang ini.”

Ucapan Julius yang kali ini lebih mengejutkan daripada kalimatnya yang sebelumnya. Namun, siapa orang bodoh yang bersedia mempercayainya?

“Apa yang kau rencanakan?” Desis Adro.

Julius kembali tersenyum miring. “Aku akan menghentikan peperangan ini, meniadakan penyerangan monster, dan bahkan mengurung para monster kembali ke dunia bawah … hanya jika kalian semua membelot dari kerajaan Groendez. Turunkan Raja Groendez beserta semua keluarganya dan berlututlah padaku sebagai raja baru kalian.”

“Menganggapmu, penyihir pengecut, sebagai raja kami? Aku lebih baik mati melawan monster-monstermu daripada menundukkan kepalaku seinci saja untukmu!” Geram Albertus.

“Hentikan omong kosongmu, penyihir sampah! Jika memang harus mati, aku akan mati demi membela nasib manusia daripada bisa hidup namun berajakan penjahat sepertimu!” Damian menambahkan.

“Anak-anak naif.” Julius tertawa kecil. “Kalian mengatakan hal-hal buruk tentangku tanpa mengetahui seberapa kotor tangan leluhur kalian.”

“Tidakkah aku benar, Adro Groendez?” Julius melirik Adro yang tengah menatapnya tajam. “Kau bisa kembali ke sini dengan bantuan putriku, benar? Dengan sifatnya, aku yakin ia telah menceritakan sebuah sejarah yang terdengar menakutkan bagimu. Apakah aku … benar?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Tanya Albertus, menatap Adro dan Julius secara bergantian.

“Darah lebih kental dari air.” Ucap Julius. “Bahkan setelah beberapa generasi, kelicikan dan kemunafikan Groendez tetap sama.”

“Perhatikan lidahmu sebelum aku memotongnya!” Damian hendak melangkah maju seraya menarik keluar pedangnya. “Kami keluarga Groendez adalah keturunan suci yang berasal langsung dari dewa! Leluhur kami menyelamatkan bangsa manusia dari monster-monster hina sepertimu!”

“Jika memang benar seperti yang kau katakan, mengapa tidak meminta Putra Mahkota Groendez menceritakan ulang tentang sejarah yang dihapuskan?” Sahut Julius.

Serentak, semua orang menatap Adro. Namun, pria itu hanya bungkam dengan tatapan terpaku ke tanah.

Kekehan Julius kembali terdengar. “Pria yang diam meski tidak bisu, memiliki banyak hal di dalam pikirannya.”

“Meski Pangeran Groendez enggan mengungkapkan kebenaran, kalian pantas mengetahuinya. Dan aku, pantas mendapatkan keadilan,” Lanjut Julius, mengepalkan kedua tangannya.

Setelah itu, Julius menceritakan sejarah kelam yang selama ini dikubur hidup-hidup oleh sahabatnya, orang yang mengkhianatinya, leluhur Groendez; Absolen. Kini, seluruh dunia akan mengetahui seberapa kotornya keturunan Groendez yang selama ini dianggap suci dan selalu dipuja-puja. Kali ini, ia harus mendapat keadilan setelah beratus tahun dinggap sebagai monster jahat menjijikan.

“Yang menyelamatkan manusia adalah diriku. Demi melihat dunia damai tanpa monster, aku mendapat kutukan dan terkurung dalam penderitaan di Under World. Namun karena pengkihanat itu, aku malah dibenci dan dihina oleh orang-orang yang telah aku selamatkan. Aku dibuang dan dilupakan. Sejarah menuliskan namaku sebagai penjahat dan semua orang berbondong-bondong ingin membunuhku.” Ucap Julius.

Semua orang bungkam. Hanya suara deru angin dan napas berat para monster yang mengisi kesunyian di tengah-tengah mereka.

Tiba-tiba, kulit wajah Julius bergejolak dan mulai kendur, seakan hendak lepas dari dagingnya. Lalu, tulang punggungnya perlahan membungkuk ke depan dan pundaknya menciut. Dalam beberapa detik, sosoknya berubah menjadi penyihir buruk rupa.

“Oh… Nampaknya pria itu baru saja mati,” Ucap Julius dengan suara tua dan bergetarnya.

Kemudian, ia mengayunkan tangannya ke samping dan cahaya keluar dari telapak tangannya. Cahaya tersebut menyambar seorang prajurit yang berdiri paling dekat dengannya. Dalam sekejap, wujudnya dan prajurit pria itu tertukar.

“A-apa?! Apa yang terjadi?! Apa yang kau lakukan?!” Seru prajurit itu, menatap kedua tangannya sendiri. Baju zirah yang sebelumnya nampak gagah di tubuhnya, kini sangat kebesaran dan terasa teramat berat. Ia tidak dapat meluruskan punggungnya yang bungkuk dan lututnya yang bengkok.

“Selama ini, aku harus menukar wujudku dengan manusia biasa. Dengan begitu, aku bebas berkeliaran tanpa memancing perhatian karena wujud buruk rupaku.” Jelas Julius, lalu menatap prajurit itu. “Selama kau masih hidup, kau akan menggunakan wujudku dan meminjamkan wujudmu padaku.”

“Kau berdusta!” Seru Damian. “Dari mana kami bisa tahu bahwa kau mengatakan kebenaran? Pria jahat sepertimu sangat mungkin mengarang cerita untuk mendapatkan keinginanmu!”

“Itu semua terserah kalian ingin percaya atau tidak.” Jawab Julius. Lalu ia menatap Albertus sambil melanjutkan, “Namun satu janjiku pada kalian; Jika aku menjadi raja, menggantikan kedudukan Groendez, aku akan menjadikan monster-monster sebagai pembantu manusia. Tidak ada lagi ketakutan atas gangguan monster. Selain itu, aku juga akan memberikan wilayah dan pembagian kemakmuran yang adil kepada seluruh kerajaan tanpa memerlukan pernikahan politik. Semua kerajaan di bawahku akan memiliki kedudukan yang sama.”

Adro tertawa kecil. “Kau pikir memimpin sebuah kerajaan besar semudah itu? Penawaranmu penuh dengan kenaifan. Setelah hidup beratus-ratus tahun, kau bahkan tidak pernah belajar.”

“Naif?” Julius tersenyum, lalu melanjutkan, “Kau benar. Sekarang, aku sudah mengingat jelas seseorang yang mirip denganmu itu; Diriku yang dulu,” 

 



Komentar