Damian terus meringis saat luka bakar pada punggung dan kakinya disirami air oleh Jocelyn.
“Ini adalah obat yang diberikan Lady Camelia sebelum aku pergi. Aku harap ini bisa meringankan luka Pangeran Damian,” Grace memberikan sebuah botol hitam kecil pada Jocelyn.
“Mata air yang kita temukan tidak mengarah pada apapun. Itu artinya Raja Absolen mengatakan mata air yang lain,” Tutur Damian dalam posisi tengkurap.
“Terima kasih sudah menyelamatkan kami hingga kau terluka parah seperti ini.” Ucap Grace.
“Tugasku adalah melindungi kalian. Dan aku mungkin sudah menjadi abu sekarang jika kalian tidak menolongku.” Damian tertawa kecil.
“Itu tidak lucu.” Gumam Jocelyn seraya mengusap air matanya yang kembali mengalir. Ia menundukkan wajahnya ketika Damian bangkit duduk.
“Maaf telah membuatmu khawatir. Terima kasih sudah mengobatiku,” Ucapnya seraya menghapus air mata gadis itu.
Kemudian Damian bangkit berdiri seraya mengambil pedangnya. “Aku akan memeriksa kondisi di luar.”
“Kau perlu istirahat, Damian. Elvaro dan Kederic sudah keluar mencari kayu obor.” Jocelyn ikut berdiri.
“Ada hal lain yang harus aku periksa. Tunggulah sembari beristirahat, aku tidak akan lama.” Damian mengusap kepala Jocelyn singkat sebelum melangkah pergi dari gua kecil itu.
“Kalian … terlihat dekat,” Grace berdehem begitu Damian menghilang.
Jocelyn melirik Grace sebelum kembali memaku tatapannya ke bawah dan duduk di samping gadis itu. “Aku peduli padanya karena ia telah menjagaku selama ini.”
Grace tersenyum tipis. “Aku bisa melihatnya. Dan ia juga terlihat sangat peduli padamu.”
“Aku bahkan tidak tahu apakah ia melakukannya karena tugas atau karena ia benar peduli padaku,”
“Jika boleh bertanya … Apa yang kau harapkan ia rasakan?” Tanya Grace perlahan.
Jocelyn menatap Grace beberapa saat. “Aku … Aku berharap ia menganggapku lebih dari tugas.”
“Sebagai orang luar, aku melihatnya seperti itu.” Tutur Grace.
Mata membulat, Jocelyn menatap Grace dalam-dalam. “Kau yakin?”
Grace mengangguk. “Kau berkata kau dapat melihat bagaimana cara Adro menatapku. Aku rasa, itu adalah pemandangan yang sama saat aku melihat cara Damian menatapmu.”
“Tapi,” Jocelyn kembali menunduk. “Bahkan jika ia benar peduli secara tulus padaku, ia mungkin sudah kecewa sekarang. Sejak kecil, aku tidak pernah memandang Damian, namun saat Adro menghilang, aku sangat bergantung padanya. Ketika Adro kembali, aku berpaling darinya lagi. Kini, aku tanpa sadar bergantung padanya lagi karena Adro telah mencampakkanku-”
“Ah, maaf, aku tidak bermaksud mengait-ngaitkan hubungan kalian dengan kondisi kami,” Ucap Jocelyn cepat.
Grace menggeleng. “Itu tidak apa; aku mengerti. Namun jika boleh bercerita sedikit, aku pernah melakukan yang lebih parah karena aku sengaja memanfaatkan seorang pria tidak bersalah untuk menghindari Adro.”
Kening Jolceyn mengkerut. “Kau melakukan hal seperti itu?”
“Saat itu aku jatuh cinta pada Adro dan mengetahui bahwa Adro juga merasakan hal yang sama padaku. Namun, aku tidak ingin kami melanjutkan apapun karena Adro memiliki calon istri yang menunggunya. Aku telah menyakiti dua pria sekaligus, namun hanya satu pria yang memaafkanku dan bertahan mencintaiku.”
“Pria itu adalah Adro,” Sambung Jocelyn.
Grace mengangguk. “Pria lainnya marah padaku dan meninggalkanku setelah mengetahui aku hanya memanfaatkannya. Namun Damian berbeda; ia terlihat masih sangat peduli padamu.”
“Me-menurutmu begitu? Tapi… aku tidak tahu apakah ini adalah sesuatu yang benar,” Jocelyn menundukkan kepalanya.
“Tidak ada salah dan benar dalam cinta. Cinta adalah perasaan yang tidak dapat kau kendalikan.” Ucap Grace, membuat Jocelyn terdiam menatapnya.
Kening Grace mengkerut. Ia menoleh ke belakang, pada sisi gua yang gelap gulita.
“Ada apa?” Jocelyn langsung menyambar panahnya yang tergeletak di sampingnya.
“Maaf, ini bukan seperti yang kau pikir,” Ucap Grace, lalu bangkit berdiri. “Aku rasa aku mendengar suara aliran air,”
“Benarkah?” Jocelyn turut bangkit berdiri.
Grace mengangguk. “Suaranya berasal dari dalam sana. Mungkinkah ada mata air?”
“Ada apa?”
Grace dan Jocelyn menoleh ke belakang dan mendapati Damian dan kedua pengawal sudah kembali.
“Aku mendengar suara air dari sana,” Grace menunjuk bagian dalam gua.
“Tadi aku sudah memeriksa ke arah sana dan menemukan gua ini buntu.” Ucap Elvaro.
“Aku tidak mendengar apa-apa, tapi ayo kita periksa,” Damian mengarahkan obornya ke depan.
Grace dan Jocelyn segera mematikan api unggun sebelum ikut ke dalam bersama Damian. Setelah berjalan beberapa meter, mereka menemukan jalan buntu, sama seperti yang Elvaro katakan.
“Dari mana suara air tadi berasal? Aku sungguh mendengarnya,” Ucap Grace.
“Mungkinkah suaranya berasal dari luar?” Tanya Jocelyn.
“Sttt,” Damian membuat semua berhenti bicara. Keningnya mengkerut, lalu ia memberi gestur pada yang lain untuk memasang pendengaran mereka lebih tajam lagi.
Mata Grace membesar. “Itu terdengar lagi.”
Jocelyn mengangguk. “Ya, aku mendengarnya sekarang!”
“Suaranya hilang dan timbul,” Gumam Damian seraya melangkah mencari dari mana asal suara air itu.
“Itu berasal dari ini. Ada celah di balik batu ini!” Ucap salah satu pengawal.
Itu adalah sebuah batu setinggi dua meter dan lebar satu meter yang terletak hampir menempel dengan dinding gua. Siapa yang sangka batu itu memiliki celah di bagian bawahnya yang mengarah ke bawah tanah.
“Ini seperti sebuah pintu,” Ucap Damian sembari mengarahkan obornya masuk ke dalam celah tersebut. “Aku dapat mencium bau air dari sini,”
“Mungkinkah ini adalah jalan menuju batunya?” Gumam Grace.
“Kita pikir sungai yang mudah ditemukan akan mengarahkan kita pada batu yang begitu istimewa. Tidakkah kita terlalu naif?” Ucap Damian.
“Jika jalannya semudah itu, batunya tidak mungkin sulit ditemukan,” Jocelyn mengangguk-angguk.
“Aku akan masuk,” Ucap Grace.
“Maaf, Nona Menken, namun untuk kali ini, tolong biarkan aku berjalan di depan karena kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana,” Damian melangkah maju.
“Oh, baiklah. Dan kau bisa memanggilku; Grace,”
“Tentu, Grace,” Damian tersenyum sekilas sebelum melangkah masuk. “Perhatikan langkah kalian. Jalannya sangat curam.”
Satu per satu, kelima orang itu masuk melalui celah batu tersebut. Kegelapan total menyambut mereka di bawah sana. Berbeda dengan keadaan di atas, di bawah memiliki udara yang lembab dan aroma yang agak aneh.
“Suara airnya semakin terdengar jelas,” Ucap Grace seraya terus menggerakkan obor di tangannya.
“Apakah itu tanaman?” Jocelyn menyipitkan matanya ke arah lain. Panah telah siaga di tangannya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang muncul menyerang mereka.
“Tanamannya … merambat di dinding,” Gumam Grace, menatap kumpulan tanaman yang tumbuh lebat menempel pada dinding batu di sekeliling mereka. “Padahal tidak ada cahaya matahari di sini.”
“Aliran sungai memberi makan tanaman yang melidungi tempat berharga. Semakin tinggi nutrisinya, semakin lebat tanamannya. - Ini bukan mata air biasa karena telah menerima kekuatan dari batu sakti.” Tutur Damian.
Setelah berjalan beberapa meter, mereka mendapati tanaman-tanaman itu menjalar hingga ke seluruh permukaan tanah batu di depan mereka. Tidak memiliki pilihan, mereka harus melewati tumpukan tanaman rambat tersebut karena tidak ada jalan lain.
Elvaro melangkah maju untuk memastikan karpet tanaman rambat itu aman untuk diinjak dan tidak ada sesuatu di bawahnya. “Ini aman,” ucapnya setelah sudah berjalan sampai ke tengah.
“Di sini tanamannya semakin lembab,” Ucap Grace sambil terus melangkah perlahan menyusuri gua bawah tanah yang mengarah entah ke mana itu.
Jocelyn mengangguk. “Aku merasakan kakiku basah.”
Damian mengarahkan obornya ke bawah. “Mungkinkan mata airnya berada di-“
SRUKK!
Tiba-tiba, Elvaro yang berjalan di paling depan terperosok ke sebuah lubang besar yang tertutupi oleh tanaman rambat yang tumbuh rapat.
“Hua!!” Grace dan Jocelyn berteriak saat kedua kaki mereka tertarik oleh taman itu menuju lubang yang sama.
Bukan hanya kedua gadis itu, namun Damian dan Kederic juga ikut tertarik oleh tanaman rambat yang dengan cepat melilit kaki mereka dan menarik mereka.
Grace tidak tahu seberapa dalam ia terjatuh karena kegelapan membutakan pengelihatannya. Namun, ia bisa mendengar teriakan teman-temannya dan merasakan tubuhnya beberapa kali menghantam batu dan tersangkut tanaman, hingga akhirnya mendarat dengan keras di atas tanah basah.
“A-aduh…” Erang Grace sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar.
“Jocelyn!” Suara Damian menggema.
“Damian! Kau ada di mana?” Jawab Jocelyn lirih.
Bangkit duduk, Grace segera merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan korek gas yang ia bawa dari dunianya. Ketika benda itu menyala, Damian langsung menghampirinya.
“Grace. Kau tidak apa-apa?”
Grace menggeleng, lalu memberikan korek itu pada Damian. “Apakah obormu masih ada? Milikku hilang,”
“Ada. Aku akan mencoba menyalakannya lagi.” Damian menerima korek yang sudah banyak menyelamatkan perjalanan mereka itu. “Suara Jocelyn terdengar jauh.”
“Pangeran! Kami di sini!”
Damian dan Grace menoleh ke atas saat menyadari ada cahaya kuning samar yang berasal dari sana.
Sambil mengayun-ayunkan obornya yang masih menyala, Elvaro bertengger di pinggir jurang dengan tinggi sepuluh meter di atas Damian dan Grace.
“Pangeran! Apa kau melihatku? Kami bertiga ada di sini. Kaki Putri Jocelyn terluka.” Ucap pria itu.
“Ya, aku melihatmu. Apa lukanya parah?” Tanya Damian cepat.
“Itu adalah luka sobek. Kederic sedang mencoba mengobatinya.”
“Aku baik-baik saja, Damian. Jangan khawatir,” Seruan Jocelyn terdengar samar.
“Aku akan segera ke sana. Tunggulah sebentar,” Ucap Damian sebelum terburu-buru berusaha menyalakan obornya lagi.
“Aku harap obornya tidak terlalu basah-“ Kalimat Grace terhenti ketika api muncul mengelilingi tangkai kayu tebal yang dililit kain khusus yang dibuat oleh para sorcerer. “Hah… Syukurlah,”
“Ada jalan,”
“Apa?” Grace menatap Damian yang sedang memperhatikan sesuatu di balik punggungnya. Karena itu, ia memutar tubuhnya, dan menemukan sebuah lorong sempit yang lantai batunya dialiri air.
.png)
Komentar
Posting Komentar