Hembusan kecil angin dingin membuat kulit Grace meremang. Padahal, udara di bawah tanah ini sudah dingin sejak awal, namun seakan lorong gelap tersebut memiliki sesuatu mengerikan yang menunggu mereka.
“Ada sesuatu di sana,”
Grace menoleh pada Damian yang masih menatap lurus lorong itu. “Kau merasakannya juga?”
Damian menatap Grace dan mengangguk. “Aku pikir kita harus memeriksa ke dalam.”
“Kita memiliki pikiran yang sama.” Grace mengangguk. “Lalu bagaimana dengan yang lain?”
“Kita hanya perlu memanjat tanaman rambat itu untuk sampai ke atas menjemput Jocelyn, namun aku takut ia tidak bisa mengikuti perjalanan lebih jauh lagi.”
“Aku tidak masalah masuk ke dalam tanpa pengawalan. Aku sungguh memiliki firasat ada sesuatu di dalam sana,” Ucap Grace sedikit berbisik.
Damian mengangguk sekali, lalu menoleh ke atas. “Elvaro!”
“Ya, Pangeran?”
“Kami menemukan lorong di sini. Kami akan memeriksa ke dalam; Kalian tunggulah di sana.”
“Damian,” Suara lemah Jocelyn terdengar.
“Jocelyn, tunggulah di sana dan jangan banyak bergerak. Elvaro dan Kederic akan melindungimu. Aku akan berusaha kembali secepatnya. Tapi jika kami tidak kembali sekitar dua jam … kalian harus keluar dari gua kematian ini.” Tutur Damian.
“Tapi-“
“Jocelyn, kita sedang berada di dalam misi. Aku dan Grace bisa melindungi diri kami sendiri, namun kau sedang terluka.” Damian memotong komplain Jocelyn secepatnya. Mendengar tidak ada lagi suara dari gadis itu, Damian berucap keras, “Kalau begitu, kami pergi.”
“Jaga diri kalian, teman-teman,” Ucap Grace.
Suara alas sepatu yang beradu dengan aliran air di atas batu terdengar bergema di lorong dengan lebar satu meter itu. Satu-satunya sumber cahaya yang memungkinkan Grace dan Damian dapat melihat adalah obor yang Damian pegang tinggi-tinggi.
Napas Grace terasa berat. Ia tidak tahu apakah itu dikarenakan oksigen yang tipis di dalam lorong ini atau karena rasa takut yang meremas jantungnya semakin kuat.
“Ke mana lorong ini mengarah?” Gumam Damian, namun suaranya dapat didengar jelas oleh Grace akibat kesunyian lorong itu.
“Sha vsha haisha…”
“Apa?” Grace menoleh pada Damian.
“Apa?” Pria menatap Grace balik dengan kening mengkerut.
“Tadi kau berbisik apa?” Tanya Grace.
“Ke mana lorong ini mengarah?” Ulang Damian.
Grace menggeleng cepat. “Bukan. Setelah itu,”
“Aku tidak mengatakan apa-apa setelah-“ Damian terhenti. Ia langsung memutar tubuhnya dan menggerakkan obornya ke kanan dan kiri dengan satu tangan siap menarik pedangnya.
“A-ada apa?” Tanya Grace, menggenggam pedangnya ke depan.
“Aku mendengar bisikan sangat dekat di telingaku.” Jawab Damian.
Mata Grace membesar. “Apakah itu bisikan berbahasa tidak jelas? Aku juga mendengarnya barusan, karena itu aku bertanya padamu.”
Damian mengangguk. Tiba-tiba, suara bisikan itu kembali terdengar – kini, sekaligus oleh mereka berdua, membuat mereka saling menatap penuh arti.
“Ayo kita kembali berjalan. Siagakan senjatamu,” Ucap Damian, setengah berbisik, dan ditanggapi dengan anggukan kaku oleh Grace.
Dengan langkah lebih cepat namun juga lebih berhati-hati, mereka kembali berjalan lebih jauh hingga Damian menangkap sebuah cahaya kemerahan di ujung lorong.
“Apakah itu sebuah pintu?” Bisik Grace setelah meneguk liur.
“Sepertinya begitu,” Jawab Damian.
Seperti yang terlihat dari kejauhan, cahaya kemerahan itu benar berasal dari sebuah pintu yang terbuka. Saat mengintip ke dalam, Grace dan Damian mendapati sebuah ruangan seukuran ruang takhta istana Groendez.
Itu adalah ruang kosong dengan lantai batu dan dinding batu yang memiliki barisan obor di setiap sisinya. Ruangan itu terlihat tidak lebih dari ruangan seram yang ada di dalam game horor. Namun, satu hal yang membuat Graca dan Damian yakin bahwa ruang itu adalah tempat yang selama ini mereka cari: Sebuah altar kecil di ujung ruangan yang menyangga sebuah batu seukuran telur ayam di atasnya.
“Batunya! Kita menemukannya!” Ucap Grace.
“Jangan gegabah!” Ucap Damian cepat. “Ingatlah, benda ini yang memberikan Julius kutukan. Kau tidak ingin bernasib sama sepertinya.”
Grace menahan tangannya yang hampir menggapai batu berwarna merah yang sedikit bersinar tersebut. Napasnya mendadak menjadi berat. Kenapa ia seceroboh ini? Jika bukan karena Damian, ia sudah menyentuh batu itu dan semua perjuangannya dan semua orang akan sia-sia.
“Aku sungguh minta maaf,” Ucap Grace. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Semua orang termasuk para raja turun ke medan perang. Tidak ada orang di istana, sehingga kita harus menghancurkan batunya di sini.” Jawab Damian seraya mengeluarkan pedangnya. “Tolong mundur sedikit,”
Grace mengangguk, lalu melangkah mundur sambil menyaksikan Damian memegang pedangnya di atas kepala.
‘Aku mohon … Jadikan ini berhasil,’ Doa Grace dalam hati.
Menarik napas dalam-dalam, Damian mengayunkan pedangnnya untuk membelah batu tersebut. Namun, sesuatu yang keras seakan menghantam tubuhnya hingga ia terpental jauh ke belakang.
“Damian!” Seru Grace, berlari menghampiri pria itu. “Kau tidak apa-apa?”
Sambil meringis, Damian bangkit duduk. “Sial…”
“Batu itu mengeluarkan cahaya merah tadi. Sepertinya ia memiliki pelindung.” Ucap Grace seraya membantu Damian berdiri.
Namun, belum juga Damian merespon, suara bebatuan bergeser membuat mereka menoleh ke kanan dan kiri.
“A-apa yang terjadi?” Gumam Grace, menatap horor dinding di sekeliling mereka yang permukaannya menyembul-nyembul.
“Oh, sial!” Umpat Damian lagi saat menyaksikan beberapa monster keluar menembus dinding.
Grace segera mengeluarkan pedangnya ketika tiga monster setinggi hampir dua meter itu menyerang mereka.
“Damian! Apa yang harus kita lakukan?” Seru Grace sembari mengayunkan pedangnya.
“Aku tidak tahu! Sepertinya batunya tidak bisa dihancurkan dengan cara biasa!” Jawab pria itu sebelum menebas kepala salah satu monster.
Di saat yang sama, Grace juga berhasil membunuh monster yang sedang menyerangnya. Tidak lama, Damian berhasil membunuh monster terakhir.
“Apakah batunya harus dibawa keluar? Haruskah kita menggunakan sebuah benda untuk-“
Krrrkk! Krrkk!
Suara bebatuan kembali terdengar, membuat Grace menghentikan kalimatnya dan menatap horor ke dinding di sampingnya. Matanya membulat besar saat melihat lima monster keluar dari dinding yang sama.
“Berengsek!” Seru Damian, berlari untuk membantai monster-monster tersebut.
Namun, meski Grace dan Damian telah berhasil membunuh semua monster itu, monster-monster lainnya kembali muncul dengan jumlah yang lebih banyak seakan melipatgandakan jumlah monster yang mati.
“Ini tidak ada habisnya,” Gumam Grace seraya terus menyerang monster yang mengerubungi mereka. “Tenagaku semakin terkuras,”
Menoleh pada Damian, ia mendapati pria itu masih menggebu-gebu membantai monster-monster yang terus bermunculan.
‘Sampai kapan Damian dapat bertahan? Kami bahkan tidak tahu kapan monster-monster itu akan berhenti bermunculan. Apa yang harus aku lakukan?’
Kemudian, Grace menoleh ke arah altar yang menyangga batu sakti. Seketika, segalanya seakan bergerak melambat, memberinya waktu untuk membuat keputusan yang sejatinya hanya diambil dalam waktu singkat.
“GRACE! APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Seruan Damian adalah apa yang terakhir Grace dengar. Ia bahkan tidak sadar bagaima ia bisa menembus kumpulan monster yang sedang mengerubungi mereka untuk mencapai batu sakti itu. Namun, ketika ia tersadar, tangannya sudah menggenggam batu tersebut.
Dan…
Cahaya menyilaukan membuat kening Grace mengkerut. Ia tidak tahu sejak kapan ia telah menutup matanya hingga ia harus membukanya sekarang hanya untuk mendapati dirinya tengah berdiri di sebuah ruang putih terang tidak berujung.
Grace memutar tubuhnya. “Damian! Damian!”
“Sudah cukup lama sejak terakhir aku melihat manusia berhasil masuk ke tempat ini.”
Mata Grace membesar. Ia segera membalikkan tubuhnya lagi untuk mencari sumber suara pria itu.
“Siapa kau?” Tanya Grace saat mendapati seorang pria tua bertubuh pendek dan berkulit kemerahan tengah berdiri beberapa meter darinya.
“Aku adalah Batu Sakti yang baru saja kau sentuh.” Jawab pria itu, lalu ia terkekeh panjang. “Pasti sangat sulit menahan keinginan untuk menyentuhku, ‘kan?”
Menodongkan pedangnya pada pria setinggi seratus lima puluh centimeter dengan sepasang bola mata hitam besar itu, Grace berucap, “Tarik semua monstermu kembali ke dunia bawah tanah!”
“Apakah itu adalah permintaanmu? Mari kita buat perjan-“
“Tidak ada perjanjian!” Potong Grace, melangkah mendekati pria tersebut. “Aku tidak akan menerima kutukan apapun darimu. Jika kau tidak melakukan apa yang aku minta, aku akan membunuhmu! Aku akan menghancurkan batu itu!”
“Ha … Ha ha ha!” Batu Sakti tertawa. “Bodoh sekali. Kau memintaku menuruti keinginanmu dengan sukarela? Kau pikir kau bisa membunuhku dengan lengan kurus itu?”
“Cabut kekuatan Julius, kerdil!” Grace tidak menanggapi ejekan pria itu.
“Julius? Oh… Ya, tentu aku tahu dia. Ia adalah hiburan terbesarku sekarang - Pria yang menderita sedang membuat semua orang sengsara. Itu adalah tontonan yang sangat bagus.”
Rahang Grace mengeras. “Berhenti bicara omong kosong! Cepat lepaskan kutukanmu darinya atau kau akan segera mati!”
Namun, ancaman Grace ditanggapi dengan senyuman oleh Batu Sakti. “Bahkan jika aku mati, aku tidak akan mengabulkannya. Harga diriku terlalu tinggi untuk mengabulkan keinginan bodohmu, tahu?”
“Kalau begitu, mari bertaruh,” Ucap Grace cepat. “Aku menantangmu untuk berduel. Siapa pun yang kalah harus mengabulkan keinginan si pemenang.”
“Berduel?” Ulang si Batu Sakti sambil mengusap dagunya.
“Benar. Aku bukanlah petarung yang hebat sehingga kau adalah pengecut jika menolak tantanganku.” Sahut Grace, lalu ia melanjutkan, “Jika aku menang, kau harus mencabut kutukanmu dari Julius dan mengurung semua monster kembali ke dunia bawah tanah untuk selamanya.”
Menaikkan satu alisnya, Batu Sakti menatap Grace dengan senyum yang semakin lebar hingga menyentuh kedua rahangnya. “Baiklah. Namun jika kau kalah, kau akan berubah menjadi monster buruk rupa yang harus memakan daging manusia dan menjadi budakku untuk selamanya.”
.png)
Komentar
Posting Komentar