Langsung ke konten utama

107. Memenuhi Janji // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 


Kegelapan yang membungkus Grace perlahan memudar. Ia terjatuh di atas kedua kakinya dan samar-samar melihat Batu Sakti tengah berlutut, masih di tempat yang sama.

Mata Grace menyipit dan keningnya mengkerut. Jika tidak salah dengar, sepertinya tadi Batu Sakti mengutuknya untuk berjalan di atas perut dan kepalanya akan terus menunduk. Namun kenapa posisi pandangannya masih sama seperti sebelumnya?

“K-kau…” Batu Sakti terbata. Cahaya merah yang bersinar di sekitar tangannya yang tengah menutup luka tusuknya perlahan padam. “Ba … bagaimana bisa?”

Mengalihkan tatapannya dari Batu Sakti yang tengah termenung menatapnya, Grace mengangkat tangannya yang masih menggenggam pedang dan mendapati ia masih memiliki tubuh manusianya. “Aku … tidak berubah?”

“Ti-tidak mungkin!” Gagap Batu Sakti. “Aku jelas-jelas sudah mengutukmu. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa bebas dari kutukanku setelah menyentuhku!”

Kalimat pria tua itu membuat sebuah senyum merekah di bibir Grace. Lalu ia mengeratkan genggamannya pada pedangnya dan berkata, “Sayangnya, aku bukan orang dari dunia ini.”

“Jangan! Jika kau membunuhku, keluarga Groendez akan kehilangan kekuatan mereka!”

Tanpa basa-basi lagi, Grace langsung mengayunkan pedangnya menyamping sambil berucap, “Maaf. Itu lebih baik.”

Kepala Batu Sakti menggelinding di tanah sementara tubuhnya masih berada dalam posisi berlutut sebelum akhirnya terjatuh ke depan. Grace memalingkan wajahnya dengan napas tersendat-sendat. Tangan dan lututnya gemetar, bukan karena ia kelelahan dan kehilangan banyak darah, namun karena ia baru saja memenggal kepala seseorang hingga tewas.

Menarik napas dalam-dalam, Grace menggeleng cepat. “Kuatkan dirimu, Grace,”

Kemudian, ia melangkah menghampiri kepala Batu Sakti dan melihat wajahnya. Kedua mata pria tua itu masih melotot besar dan pangkal kepalanya masih mengucurkan darah. Sambil menahan napas, Grace menyenggol kepala tersebut dengan kakinya untuk meyakinkan dirinya bahwa pria itu sudah mati.

Krrkk!

Tiba-tiba, suara retakan kembali terdengar dari langit seperti guntur. Grace refleks menoleh ke atas dan melihat retakan-retakan lebar muncul di langit putih itu dan merambat ke sekelilingnya.

Grace tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun tempat itu sertinya akan segera hancur. Semakin banyak retakannya, semakin menggelap ruang putih itu. Tidak ada tempat untuk Grace berlari. Ia hanya berdiri diam di tempat hingga kegelapan menyelimutinya.

“GRACE!”

Grace membuka matanya dengan terkejut. Ia mengerjap sekali untuk mengumpulkan kewarasannya dan mendapati sebuah altar berada di hadapannya.

“Grace!” Damian menghampiri gadis itu.

“Damian. Apa kau baik-baik saja?” Grace menoleh pada pria yang seluruh tubuhnya dibasahi peluh dan merah darah merembes di berbagai bagian pakaiannya.

“Semua monsternya tiba-tiba berhenti bergerak. Apa yang terjadi?” Tanya Damian.

“Tadi aku-“

“Batunya.” Damian tanpa sengaja memotong jawaban Grace.

“Batu?” Grace menoleh pada apa yang sedang Damian tatap. Batu saktinya telah hancur berkeping-keping.

“Apa kau memegang batunya?” Damian meraih pundak Grace.

Gadis itu mengangguk. “Tadi aku bertemu dengan dewa Batu Sakti itu dan berhasil membunuhnya. Aku rasa itu penyebab-“

Suara gemuruh membuat Grace menghentikan bicaranya. Bebatuan kecil mulai berjatuhan dari langit-langit ruangan itu.

“Tempat ini akan rubuh.” Ucap Damian seraya memperhatikan sekeliling. “Kita harus pergi sekarang,”

Berlari secepatnya, Grace dan Damian dengan mudah keluar dari ruangan itu karena monster-monster yang tadi menyerang mereka sudah mati berjatuhan.

“Ayo, Grace!” Damian menarik tangan Grace karena larinya sangat lambat. Namun, ia menyadari bahwa kaki gadis itu terluka.

“Ma-maaf. Kakiku…”

“Sejak kapan kakimu terluka?” Tanya Damian, menatap kaki Grace. Namun, suara gemuruh terdengar semakin keras. “Aku akan menggendongmu,”

Tanpa menunggu persetujuan dari Grace, Damian langsung menarik gadis itu ke punggungnya. Sambil menggendong Grace, Damian berlari sekencang-kencangnya di lorong gelap dan sempit itu hanya dengan bermodalkan cahaya obor yang hampir padam. Beruntung, ia berhasil keluar dari sana.

“Aku akan memanjat tanaman ini ke atas. Tolong pegang obornya!” Damian menyerahkan obor mereka pada Grace. “Berpeganganlah yang erat.”

Grace mengangguk sembari mengeratkan lingkaran lengannya di leher kekar Damian dan mengeratkan kedua kakinya pada pinggul pria itu. “Kau yakin bisa melakukannya?”

“Jangan khawatir.” Sahut pria itu singkat sebelum mulai memanjat tanaman rambat yang menempel di dinding.

“Sepertinya Jocelyn dan yang lainnya sudah lari keluar,” Ucap Grace saat mereka sudah sampai di lantai teratas, tempat mereka sebelumnya terjerumus.

“Itu bagus.” Sahut Damian, lalu mulai berlari lagi. “Apa kau baik-baik saja di sana?”

“Ya, hanya sedikit pusing,” Sahut Grace pelan. Adrenalin yang sudah turun membuatnya bisa merasakan sakit pada luka di kakinya. Perlahan, pandangannya juga memburam.

“Bertahanlah. Kau berhasil. Batunya sudah hancur. Kita akan segera keluar dari sini.” Ucap Damian.

“Terima kasih, Damian,” Sahut Grace.

Sementara itu, gua kematian mulai runtuh sehingga Damian harus menghindari batu-batu yang berjatuhan dari atas.

Di atas punggung Damian, Grace hanya dapat memandangi segala kekacauan yang ia lewati. Ia tidak menyangka Damian bisa berlari seakan ia sedang mengendarai sepeda motor. Selama itu, Grace juga menyaksikan tubuh monster-monster dan tanaman-tanaman predator yang telah mati. Kelihatannya, ia benar telah berhasil.

***

Sensasi perih dan nyeri pada kakinya membuat Grace terjaga. Perlahan, ia membuka matanya yang berat dan mengerutkan keningnya karena kondisi ruangan yang agak terang.

“Grace! Kau sudah sadar?”

Suara itu - Grace mengenalnya.

‘Adro?’

“Grace, aku di sini. Kau aman sekarang,” Grace merasakan buaian pada rambutnya dan genggaman hangat menyelimuti tangan kirinya.

Cairan panas mulai menggenang di kedua mata Grace. Pandangannya memang masih buram, namun ia tahu wajah yang berada di hadapannya adalah milik seseorang yang membuatnya bertahan sejauh ini – seseorang yang ia nantikan untuk temui.

“Ja … janjiku…” Bisik Grace dengan suara serak.

Tidak bisa menahan air matanya untuk menetes, Adro segera mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kau benar, sayang. Kau telah menepati janjimu. Terima kasih. Terima kasih telah menyelamatkan kami semua. Terima kasih telah kembali padaku. Sungguh, terima kasih banyak,”

Merasakan dekapan hangat Adro, Grace tersenyum tipis dan memejamkan matanya kembali. ‘Aku berhasil,’

***

“Tiba-tiba, semua monster berhenti bergerak, lalu mereka berjatuhan dan mati. Kami langsung menyerang semua pasukan penyihir Julius dengan mudah karena kekuatan mereka juga ikut melemah. Di saat itu, aku mengetahui bahwa kau telah berhasil.” Jelas Adro.

Bibir pucat Grace menarik senyuman. “Syukurlah. Lalu, bagaimana dengan Julius?”

“Kutukannya sudah menghilang dan ia kembali pada wujud aslinya sebagai penyihir tua. Ia tidak berdaya.” Jawab Adro seraya menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut Grace lagi.

Grace menerima suapan itu. “Apakah itu sendok terakhir?”

Adro mengangguk. “Kelihatannya kau kelaparan. Apa kau ingin menambah porsinya atau memakan makanan lain? Katakan saja apapun yang kau mau. Aku akan menyediakannya.”

“Tidak perlu. Aku sudah cukup kenyang dan tenagaku telah terisi,”

“Kau pingsan selama seharian setelah menjalani perjalanan melelahkan dan pertarungan hebat. Tentu saja kau kelaparan. Andai saja di sini kami memiliki infus, setidaknya kau bisa menerima cairan dan nutrisi selagi kau beristirahat.” Adro menghela panjang.

“Semua itu tidak berarti karena kita sudah berhasil.” Ucap Grace, lalu menatap Adro dengan mata berkaca-kaca. “Jadi, apa kita sudah bisa bersama tanpa halangan sekarang?”

Tersenyum sendu, Adro mengangguk seraya menyelipkan tangannya ke sisi leher hangat gadis itu. “Maaf telah membuatmu melalui perjalanan yang panjang dan berat. Sekarang, tidak ada yang lagi yang perlu kau khawatirkan, Grace.”

Perlahan, Adro mendekatkan wajahnya pada wajah Grace dan mereka memejamkan mata ketika bibir mereka bertemu. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir mereka bisa saling berbagi kasih tanpa berucap seperti ini. Meski ini adalah pertama kalinya mereka merasakan sensasi aneh saat berciuman karena kondisi bibir keduanya yang dihiasi luka yang terasa perih, mereka tetap bisa menikmatinya dengan sepenuh hati.

Seperti sebuah lahan tandus yang disiram hujan, keduanya hanyut di dalam buaian dan manisnya persatuan kembali mereka hingga sebuah rasa asin dengan bau khas membuat keduanya mengerutkan kening dan membuka mata.

Grace mengerjap menatap iris biru kirstal yang berada tepat di depan matanya. Kemudian, ia menarik kepalanya hingga tautan bibir mereka terlepas. “Bibirmu,”

“Ah…” Adro mengusap bibirnya hingga bercak darah menempel pada kedua jemarinya. Ia tertawa kecil. “Maaf telah menghancurkan semangatmu. Kelihatannya aku harus mengobati ini lagi.”

Pipi Grace seketika memanas. “Apa maksudmu dengan Semangatku? Aku hanya membalas ciumanmu,”

Tertawa semakin besar, Adro memberikan anggukan meremehkan pada Grace. “Itu tidak aneh, Grace. Kau kini adalah seorang kesatria kuat yang telah menyelamatkan dunia ini. Bahkan jika kau mengoyak bibirku pun itu tidak masalah.”

“Kau sungguhan sedang menggoda kesatria yang telah menyelamatkan kerajaanmu sekarang?” Grace menyipitkan matanya.

“Wow, wow… Kau memiliki aura menakutkan sekarang,” Adro mengangkat kedua tangannya ke udara. Lalu ia meraih kedua pipi Grace dan mengecup bibirnya secepat mungkin hingga membuat gadis itu mengerang kesal.

“Apakah ini sungguh sikap seorang pangeran?” Grace menggeleng-geleng seraya mengambil serbet untuk mengusap titik darah pada bibir Adro.

“Grace, jika kau sudah sehat, raja dan ratu akan mengadakan upacara kecil untukmu,” Tutur Adro.

“Upacara untuk apa?” Grace memiringkan kepalanya.

“Kau akan tahu nanti, namun aku berjanji itu adalah sesuatu yang bagus.”

Grace terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Tapi sebelum itu, ada hal yang ingin aku lakukan.”

“Apa itu?” Tanya Adro.

“Aku ingin bertemu Julius.”




Komentar