Langsung ke konten utama

108. Penawaran Raja // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 


“Di sini lembab dan bau. Kau yakin tidak apa-apa?” Tanya Adro.

Grace menghela panjang. “Ini sudah yang ke tiga kalinya kau menanyakan hal yang sama, Adro. Aku sungguh tidak apa. Jangan khawatir.”

“Baiklah, baiklah,” Sahut Adro, lalu meraih tangan Grace dan menggandengnya erat. “Tapi kau tetap berjalan di sampingku dan tidak melepas tanganku.”

“Kita jalan sekarang.” Ucap Adro pada penjaga yang berdiri di depan mereka sebagai pemandu.

Kemudian, mereka mulai melangkah menuruni lorong gelap dengan lebar satu meter yang mengarah ke penjara bawah tanah yang dikhususkan untuk mengurung penjahat berbahaya.

“Aku tidak percaya, bahkan setelah berhasil masuk ke gua kematia, melawan berbagai monster, dan mengalahkan Batu Sakti, kau masih terlalu mengkhawatirkanku.” Ucap Grace ketika merasakan genggaman Adro mengetat dalam perjalanan mereka.

“Aku tidak peduli seberapa kuatnya dirimu sekarang. Karena kau adalah wanitaku, maka aku bertanggungjawab untuk melindungimu dan memastikan kau baik-baik saja.” Jawab Adro tegas, lalu menghela lelah. “Sudah cukup kakimu terluka parah.”

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih telah menghawatirkanku,” Ucap Grace seraya memeluk lengan pria itu.

Sampai di ruang bawah tanah, mereka bertemu tiga pintu besi yang masing-masing dijaga oleh dua penjaga. Seperti yang Adro katakan, penjara bawah tanah itu memang sangat lembab dan beraroma sedikit busuk.

Melewati pintu terakhir, mereka menemukan sebuah lorong panjang. Namun, Adro menghentikan langkah mereka sebentar, lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah ditetesi parfum dari kantung kemejanya.

“Gunakan sapu tangan ini untuk menutup hidungmu. Di dalam akan berbau sangat busuk.” Adro memberikan benda itu pada Grace sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Kulit Grace seketika mergidik ketika mereka sampai pada bagian sel-sel penjara. Aroma busuk dan amis membuatnya mengeratkan sapu tangan di hidung dan mulutnya. Jika ia adalah Grace yang dulu, ia mungkin sudah muntah di tempat ini.

Penjaga yang memandu mereka berhenti di depan sebuah pintu penjara. Ketika penjaga yang berjaga khusus di depan pintu sel itu membukakan pintunya yang dikunci dari luar, nampak seorang pria sangat tua bertubuh kurus kering dan berambut putih tipis tengah duduk di lantai kotor dengan kalung rantai melingkari leher ringkihnya.

Mata Grace membesar. Ia tidak pernah melihat manusia berwujud semenyedihkan itu. Ia langsung menatap Adro dan berbisik, “Apa itu sungguh Julius?”

Adro mengangguk. “Ia telah kembali pada wujud aslinya sebagai manusia. Ia adalah seorang penyihir yang sudah hidup ratusan tahun – Seperti itulah bentuknya.”

“Aku mengerti,” Ucap Grace pelan, lalu melangkah memasuki ruangan berukuran cukup besar namun tidak memiliki benda apapun itu.

Mengangkat wajahnya, Julius menatap seorang gadis yang berdiri berdampingan bersama Adro beberapa meter darinya. “Kau … Kau’kah yang menghancurkan batunya?”

“Itu benar. Aku telah membunuh Batu Sakti sehingga kutukanmu menghilang dan semua monster kembali ke dunia bawah tanah.” Jawab Grace.

“Kau akan membayarnya,” Ucap Julius dengan suara bergetar. Sayangnya, ia hanya bisa mengatakan omong kosong meski ia sadar ia tidak bisa melakukan apapun lagi.

“Aku datang ke sini bukan untuk membahas soal kekuatanmu atau Batu Sakti, melainkan untuk membicarakan dua temanku bersamamu.”

Kalimat Grace membuat pria itu menatapnya beberapa detik. “Siapa?”

“Eve, seorang ibu yang kehilangan putra kesayangannya karena kau bunuh dan … Suzan, putri kandungmu.”

Nama kedua wanita itu membuat mata Julius membesar. Namun, itu juga membuat kedua rahangnya mengatup rapat. Kepalanya memberat hingga wajahnya tertunduk.

“Saat ini mereka masih hidup. Kau telah membunuh Febian dalam kecelakaan buatan dan melukai Eve hingga ia harus dirawat di rumah sakit jiwa sekarang. Dan tentang Suzan, ia hidup dengan baik sekarang, namun ia bertanya-tanya tentang keberadaanmu.” Lanjut Grace.

Julius bergumam, “Suzan… Anak itu … ia telah mengkhianatiku.”

“Ia bukan lagi seorang anak-anak. Suzan adalah wanita dewasa dengan seorang suami dan anak-anak. Jika kau berkata Suzan adalah pengkhianat, lalu bagaimana denganmu? Kau telah meninggalkannya semenjak ia masih kecil. Selain itu, kau memanfaatkan seorang wanita tidak bersalah untuk mengandung anak yang kau ciptakan melalui sihir, memberikan wanita itu harapan, dan malah membunuh anak itu setelah kau mendapati rencanamu tidak berhasil.”

Julius hanya diam, hingga Grace melanjutkan bicaranya. “Semua rencanamu telah berakhir. Kau juga telah menerima hukuman atas semua kejahatanmu. Namun, tidakkah kau ingin menyampaikan permintaan maafmu atau sebuah penjelasan pada kedua orang yang pernah mencintaimu itu?”

“Tidak. Aku tidak menyesali apapun. Kalianlah yang sejak awal membuatku menderita!” Seru Julius seraya mengarahkan tangannya ke arah Grace.

“Apa kau bodoh? Kau tidak lagi dapat menggunakan sihir setelah Lady Camelia menghancurkan tendon sihirmu.” Desis Adro.

“Jadi kau masih berpikir untuk menyerangku?” Grace mengepalkan tangannya, lalu mengangguk. “Baiklah jika kau tidak ingin mengatakan apapun pada mereka. Sepertinya kematian pun tidak akan mempan untuk menyadarkanmu. Orang sepertimu memang pantas membusuk di penjara. Semoga penderitaanmu di neraka nanti bisa menjadi balasan atas orang-orang yang sudah kau sakiti.”

Pintu sel tertutup, dan Grace melangkah pergi dalam diam. Di sampingnya, Adro hanya memperhatikan gadis itu sambil terus menggandeng tangannya.

“Apa kau mungkin ingin menunda upacaranya?” Tanya Adro begitu mereka keluar dari bangunan penjara itu.

Grace menggeleng pelan. “Semua makanan dan yang lainnya pasti sedang disiapkan sekarang.”

Kemudian, Adro menahan tangan Grace hingga mereka berhenti melangkah. Ia menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah pohon rindang, lalu menarik gadis itu ke bawahnya.

Menuntun Grace untuk duduk bersama di atas rumput, Adro meraih wajah Grace yang terus menunduk dan berbucap, “Tidak ada alasan untuk menahan dirimu,”

Perlahan, isak tangis terdengar. Grace mengusap air matanya. “Bukan tempatku mencampuri urusan mereka, namun rasanya sungguh mengesalkan mengenal orang seperti Julius. Aku pikir aku setidaknya bisa membawa permintaan maafnya kepada Eve dan Suzan.”

“Kau sudah berjuang sangat keras untuk banyak orang dan sekarang kau masih memikirkan perasaan Eve dan Suzan? Kenapa kau harus sebaik itu?” Tanya Adro sambil terkekeh. “Namun, sama seperti katamu, bukan tempatmu untuk mencampuri urusan mereka. Aku mengerti perasaanmu, namun cobalah berhenti memikirkan oranglain, dan nikmatilah kebahagiaan yang ada saat ini.”

Grace mengangguk kecil seraya mengusap air matanya lagi. “Maaf jika aku membuat suasana menjadi tidak nyaman.”

“Dan kenapa kau jadi sering meminta maaf lagi?” Tanya Adro dengan tawa kecil, lalu mendekap tubuh gadis itu. “Kelihatannya kau sudah ingin pulang,” ucapnya seraya mengusap punggung Grace dengan ujung jemarinya.

Grace menarik tubuhnya dari dekapan Adro, lalu menatap pria itu. “Kenapa kau berpikir begitu?”

Menatap balik kedua mata basah itu, Adro tersenyum lembut. “Sekarang dunia ini sudah damai. Tidak ada lagi perang, tidak ada monster, dan kerajaanku hanya perlu memperbaiki instratuktur. Namun, jika dibandingkan dengan keadaan kacau kemarin, kau malah terlihat tidak bersemangat.”

“Kau sudah membawaku berkeliling istana dan kerajaanmu, menunjukkan hal-hal bagus dan indah. Itu semua sangat menyenangkan. Namun, mungkin karena semua tujuanku di tempat ini sudah selesai, aku jadi merasa agak hampa.” Tutur Grace, lalu ia tersenyum geli. “Aku sudah gila, namun entah mengapa aku sedikit merindukan asap polusi dan bisingnya jalanan macet di jam sibuk.”

Ucapan Grace membuat Adro terbahak. Lalu, ia meraih tangan gadis itu dan mengecup punggungnya. “Tunggulah sebentar, aku memiliki kejutan untukmu malam ini.”

***

Sejak kembali dari gua kematian dalam keadaan terluka, Grace tidak pernah bertemu dengan kedua orangtua Adro. Lebih tepatnya, mereka tidak pernah mengunjunginya. Sepertinya itu karena mereka masih tidak menyukainya.

Terbalut gaun terbaik, Grace berdiri di samping Jocelyn, Damian, dan kedua pengawal tersisa yang menemani mereka dalam misi menghancurkan batu sakti.

Di samping raja, sebuah kotak kaca mengurung pecahan batu sakti yang dibawa oleh Damian. Sementara itu, raja sendiri memegang pedang kerajaannya dengan ditemani oleh ratu dan para petinggi kerajaan.

“Keberanian kalian telah menyelamatkan kerajaan dan dunia ini. Sebagai tanda terima kasih, kalian dinobatkan menjadi pahlawan yang akan dicatat dalam sejarah Groendez a Lend.” Seru raja.

Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah Kerajaan Groendez a Lend, raja berjalan turun dari takhtanya dalam upacara penobatan. Ia menghampiri satu per satu pahlawan-pahlwan itu dan mulai menobatkan mereka dan memberikan mereka lencana.

“Dan kepada kedua kestaria pemberani kita, Elvaro Eraprez dan Kederic Dajuan, aku memberi kalian gelar bangsawan.” Lanjut raja.

Melangkah menuju ujung barisan, raja berhadapan dengan seorang gadis berambut coklat yang sedang menunduk hormat kepadanya.

“Nona Grace Menken,” Ucap sang raja.

“Ya, Yang Mulia.” Jawab Grace.

“Kau adalah pahlawan utama yang menyelamatkan kerajaan ini. Kau dengan gagah berani mengalahkan Batu Sakti sehingga kekuatan Penyihir Julius menghilang. Tanpamu, peperangan dengan monster dan bangsa penyihir tidak akan berakhir. Dengan itu, aku, Raja Archer Elex Groendez, memberikan gelar bangsawan padamu, Putri Grace Menken.” Ucap raja lantang seraya meletakkan pedangnya di kedua pundak Grace.

“Terima kasih, Yang Mulia.” Ucap Grace pelan.

“Berikutnya,” Raja Groendez merentangkan satu tangannya ke samping. Lalu, kepala pelayan meletakkan sebuah kotak berlapis emas dan berhias permata di atas tangannya.

Membuka kotak tersebut, raja tersenyum tipis dan memperlihatkan isinya pada Grace. “Putri Grace, aku menawarkanmu untuk menjadi istri dari putra mahkotaku, Pangeran Adro Alymer Groendez, dan sebagai calon ratu Kerajaan Groendez a Lend.”






Komentar