“Putri Grace Menken tidak akan menjadi calon ratu.” Ucap Adro hingga membuat semua orang menoleh padanya. “Aku, Adro Alymer Groendez, akan menanggalkan kedudukanku sebagai putra mahkota kerajaan ini.”
“Apa yang kau katakan?” Raja Groendez menatap Adro dengan mata membulat besar. “Kau tidak bisa melakukannya. Sejak lahir, kau telah ditakdirkan menjadi calon raja.”
“Maaf, tapi aku menolak takdir itu.” Jawab Adro.
“Apa alasanmu? Kini kau bisa bersanding dengan wanita yang kau inginkan. Kerajaan ini juga sudah bebas dari monster dan penyihir. Tidak ada alasan bagimu untuk menolak menjadi calon raja.”
“Ada.” Sahut Adro dengan tenang. “Aku telah menemukan sebuah kehidupan yang membuatku merasa bahagia, dan kehidupan itu berada di dunia di mana aku terdampar. Aku kembali ke dunia ini hanya untuk menyelamatkan kerajaan ini dan berpamitan dengan keluargaku, bukan untuk kembali pada kehidupan lamaku sebagai pangeran.”
“Adro,” Ratu menatap tajam putra sulungnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku minta maaf atas keputusanku yang telah mengecewakan kerajaan ini, namun aku harap kalian semua mengerti. Karena itu, aku menanggalkan gelar pewarisku dan memberikannya kepada adik laki-lakiku, Damian Elandaro Groendez.”
Damian menatap Adro dengan kedua alis terangkat tinggi. “Maaf, kita belum membicarakan ini dan siapa bilang aku menginginkan takhta itu?”
“Damian,” Adro menoleh pada adiknya dengan mata membesar. “Kau serius?”
Damian mengangguk. “Aku tidak pernah ingin menjadi raja.”
“Hei, aku mohon padamu. Aku akan memberikan apapun yang kau mau. Ayolah, aku harus kembali ke dunia itu,” Bisik Adro seraya menyikut lengan adiknya.
Mendencak, Damian mengangkat wajahnya untuk kembali menatap raja. “Jika harus menjadi calon raja, aku memiliki sayarat yang harus dipenuhi. Aku ingin menikah dengan Putri Jocelyn dan menjadikannya calon ratuku, terlepas dari kondisi kakinya yang pincang dan usianya yang sudah melewati batas.”
Permintaan Damian yang diucapkan dengan lantang itu membuat Grace langsung menoleh pada Jocelyn. Gadis yang telah kehilangan sedikit berat badannya karena kondisi kakinya yang menjadi cacat permanen akibat kecelakaan di gua kematian itu nampak menutup mulutnya dengan satu tangan dan matanya berkaca-kaca.
Senyum lembut tanpa sadar merekah di bibir Grace. Pertemuan mereka memang masih sangat singkat, namun ia sudah berteman baik dengan Jocelyn. Gadis sempurna itu selama ini berpikir Damian hanya melindunginya sebagai teman dan sebagai tugas, namun kini pria itu membuat semuanya jelas; Ia memang menginginkan Jocelyn sebagai pasangan hidupnya, terlepas dari segala kekurangan fatal yang disebutkan tidak boleh dimiliki oleh pasangan raja.
Memejamkan matanya erat selama beberapa detik, raja kembali ke atas takhtanya dan duduk di singgahsananya. Ia tidak percaya kedua putranya akan menjadi seperti ini hanya karena wanita.
“Upacara penobatan ini berakhir sampai di sini. Aku akan memikirkan permintaan kedua pangeran dan memberikan jawabannya besok.” Ucap Raja Groendez.
***
“Raja dan ratu sepertinya sangat kecewa hingga mereka tidak hadir di acara makan malam tadi.” Ucap Grace.
Adro terkekeh kecil. “Mereka memang tidak akan senang, namun aku yakin pada akhirnya mereka akan mengerti dan menyetujui permintaan kami. Lagipula, Damian lebih dari kompeten untuk menjadi calon raja.”
Tidak terasa, mereka sampai di depan pintu kamar Grace. Adro mengecup singkat bibir gadis itu. “Baiklah. Beristirahatlah dengan baik. Sampai bertemu besok-“
“Tu-tunggu,” Grace memotong ucapan Adro. Lalu, ia berdehem dan melanjutkan, “Bukankah kau berkata akan memberiku kejutan malam ini?”
Adro menatap Grace beberapa detik, memperhatikan gadis itu mengusap-usap lengannya sendiri. Kemudian, ia tersenyum tipis dan mengangguk. “Kau benar. Maaf aku melupakannya. Bagaimana jika aku memberikannya di dalam?”
Melangkah masuk ke dalam kamar, Grace membuntuti langkah santai Adro hingga ke ranjang, di mana pria itu akhirnya duduk di pinggirnya. Kemudian, Adro merentangkan satu tangannya. “Kemarilah,”
Grace meletakkan tangannya di dalam genggaman Adro, lalu membiarkan pria itu menariknya untuk duduk di pangkuannya. Kemudian, pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Grace dari belakang dan menyandarkan dagu di samping lehernya. “Kau sudah melewati kejutannya, sayang,” bisiknya.
“Apa?” Grace memiringkan tubuhnya dan menatap Adro dengan mata membesar hingga membuat pria itu terkekeh geli.
“Apakah kau tidak terkejut saat kau tiba-tiba dilamar langsung oleh ayahku dan menyaksikanku mengundurkan diri dari posisiku sebagai putra mahkota?” Tanya Adro seraya mengeratkan pelukannya kembali dan mengubur wajahnya di lembutnya rambut Grace yang terurai.
“I-itu direncanakan?” Tanya Grace.
“Bisa dibilang, setengahnya. Aku menagih raja untuk mengijinkanku menikahi wanita yang pantas untuk Kerajaan Groendez. Kau adalah pahlawan bagi kerajaan ini sehingga raja wajib mengangkat statusmu sebagai bangsawan. Lalu, ia malah berkata akan menggumumkannya secara langsung di upacara penobatan itu, sehingga aku bepikir itu akan menjadi momen yang tepat untuk mengumumkan niatku menyerahkan posisi putra mahkota kepada Damian.”
“Tunggu sebentar. Jadi maksdumu, raja yang berpikir untuk melamarku tanpa kau minta?” Simpul Grace.
“Kenapa kau terkejut?” Adro mengerutkan keningnya.
“Karena aku pikir raja dan ratu masih tidak menyukaiku. Buktinya, mereka tidak mau menjengukku sejak aku kembali dari gua kematian.”
“Oh, sebenarnya akulah yang melarang mereka menemuimu karena aku pikir kau membutuhkan istirahat dan ketenangan. Mereka bahkan beberapa kali memintaku mengajakmu makan malam. Ibuku takut kau mengabaikannya karena ia sempat kasar padamu.” Jelas Adro.
“Be-benarkah? Mana mungkin aku bersikap seperti itu pada ibumu?”
Adro tertawa kecil. “Itu benar. Kenapa ia berpikir seperti itu tentang kekasih malaikatku?” ucapnya sebelum mengecup-ngecup leher hangat Grace.
“H-hei… Malaikat apanya?” Grace menggeliat hanya untuk membuat Adro semakin mengeratkan pelukannya.
“Kalau dipikir-pikir … sepertinya aku akan menghabiskan malamku di sini. Apakah boleh?” Hembusan napas panas Adro di telinga Grace membuat gadis itu tercekat.
Mendapati Grace hanya diam, Adro melanjutkan, “Tunanganku sudah memiliki calon suaminya sendiri. Dan tebak siapa calon istriku sekarang?”
Menahan gejolak tubuhnya yang membuat bulu kuduknya meremang, Grace meneguk liurnya sebelum menjawab, “Aku.”
Adro tersenyum tipis. “Itu gadisku,” ucapnya seraya menyentuh salah satu pipi Grace dan mengarahkannya untuk menoleh karena ia akan menghadiahkan sebuah ciuman.
Memejamkan matanya rapat-rapat, Grace membalas ciuman panas Adro. Ketika bibir mereka saling melumat, ia dapat merasakan sisa anggur merah yang tadi mereka minum saat makan malam. Bukan hanya Adro, bahkan dirinya sendiri mungkin memang agak mabuk sekarang.
Tanpa sadar, Grace telah berbaring di atas ranjang sementara Adro telah mengukungnya dengan kancing kemeja malamnya yang sudah terbuka separuh hingga menampilkan kekar otot dadanya.
Kecupan-kecupan hangat dan lembab yang berjalan turun dari rahang, leher, ke dada Grace membuat tubuh gadis itu bergetar. Ketika ia membuka matanya, sepasang iris kristal berkelip menatapnya lembut.
“Di dunia manapun, kau adalah orang yang paling aku cintai, Grace,” Suara serak Adro mengalir dari bibir merahnya.
Dengan mata menghangat, Grace menjawab, “Aku juga mencintaimu, dalam keadaan apapun.”
Meletakkan tangannya di pipi Adro, Grace mengangkat tubuhnya untuk kembali mendaratkan kecupannya di bibir pria itu. “Jangan biarkan aku tidur malam ini,”
***
Di jari manis itu, Adro melingkarkan sebuah cincin bertabur sepuluh jenis batu mulia langka. Setelahnya, ia memberikan tangannya pada gadis di hadapannya dan menyaksikan gadis tersebut memasangkan cincin di jari manisnya.
Grace tersenyum hangat, menatap Adro dengan mata berkaca-kaca. Kemudian, keduanya berbalik menghadap pastur untuk mengucapkan janji pernikahan mereka.
Begitu upacara pernikahan selesai, Grace menghampiri Jocelyn. “Apa kau membawanya?”
Gadis itu mengangguk dan memberikan benda berbentuk persegi panjang pipih kepada Grace. “Sebenarnya, benda apa itu?”
“Terima kasih. Ini adalah ponsel,” Jawab Grace seraya menyalakan benda tersebut. Lalu, senyumnya merekah lebar. “Ah, syukurlah aku mematikan ponselku saat tiba di sini. Baterainya masih tersisa setengah!”
Kemudian, ia menatap Jocelyn. “Ayo kita berfoto!”
Dengan sisa baterainya, Grace dan Adro berfoto bersama keluarga mereka. Meski tidak menggunakan kamera profesional, pemandangan cantik kerajaan Adro membuat foto-foto itu nampak menakjubkan. Dan tentu saja, benda berteknologi canggih itu membuat semua orang terkagum-kagum dan berpikir itu adalah itu digerakkan oleh sihir.
Setelah hari pernikahan, Grace dan Adro meghabiskan bulan madu mereka dengan petualangan kecil selama beberapa hari. Dalam kesempatan itu, Adro membawa Grace ke berbagai tempat indah. Namun, pada akhirnya, kehidupan seperti mimpi itu tidak bisa berlangsung selamanya.
Pernikahan Damian dan Jocelyn menjadi hari terakhir Adro dan Grace berada di negri dongeng. Keesokan paginya, raja, ratu, Damian, dan Jocelyn mengantar Adro dan Grace menuju sebuah pintu sihir yang dibuatkan oleh para sorcerer hebat Eastar.
“Pintunya sangat cantik,” Gumam Grace.
“Dari pintu ini, putra sulungku dan menantuku akan pergi. Namun, dari pintu ini, mereka tidak akan kembali. Meski begitu, pintu ini kami buat seindah mungkin sebagai pertanda bahwa kalian sesungguhnya masih sangat dekat dengan kami.” Ucap raja.
“Tidak bisakah kalian kembali beberapa waktu sekali?” Tanya ratu sambil mengusap air matanya yang menetes.
“Sihir pintu sangat sulit dilakukan jika kau bukan merupakan penyihir pintu. Ini adalah kesempatan sekali untuk bisa menyebrang.” Jawab raja.
“Maaf, ibu. Portal dunia yang terus dibuka tutup akan menyebabkan ketidakseimbangan, sama seperti yang Julius lakukan.” Jelas Adro, lalu memeluk ibunya. “Aku akan sangat merindukanmu. Namun tolong jangan mengkhawatirkan kami. Hiduplah berbahagia di sini karena kami juga begitu di sana.”
Kemudian, ratu melepas pelukannya dan beralih memeluk Grace. “Maafkan sikapku yang sempat menyakitimu, putriku. Kau adalah wanita baik dan pemberani. Tolong temani putraku selama masa hidupnya. Doaku akan selalu mengiringi kalian. Hiduplah berbahagia dan milikilah anak-anak yang sehat,”
Grace tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, ibu,”
Setelah mengucapkan salam perpisahan mereka pada masing-masing anggota keluarga, Grace dan Adro berdiri menghadap pintu sihir itu. Kemudian, Adro memutar gagangnya dan mendorongnya terbuka.
“Selamat tinggal,” Ucap Adro dan Grace untuk yang terakhir kalinya pada keluarga mereka di belakang.
Kegelapan perlahan memudar, diikuti oleh suara pintu yang menutup. Adro dan Grace tersadar bahwa mereka tengah berdiri di ruangan yang memiliki jendela besar dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Mereka telah kembali ke ruang kerja Adro.
Keduanya saling menatap. Tangan mereka masih saling menggandeng dan tubuh mereka masih terbalut pakaian kerajaan beraroma segar. Adro melepaskan gandengannya, lalu berbalik untuk menemukan pintu kamar mandinya yang tertutup. Itu adalah pintu yang sempat Suzan sihir – pantas saja para sorcerer mampu menemukan pintu yang tepat.
Dalam diam dan dengan jantung berdebar keras, Adro melangkah menghampiri pintu tersebut dan hendak meraih gagangnya. Namun, ia menghentikan tangannya di udara.
“Maaf kau harus berpisah dengan keluargamu dan tidak bisa kembali ke duniamu lagi. Aku tahu itu sangat berat,”
Suara lembut Grace membuat Adro berbalik. Ia mendapati gadis itu tengah berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.
Tersenyum hangat, Adro menghampiri Grace dan langsung menggendongnya seperti ketika pertama kali mereka bertemu di mansion terbengkalai. “Keluargaku dan duniaku ada di sini sekarang, di dalam tanganku.”
.png)
Komentar
Posting Komentar