Adro menoleh ke belakang dan menyadari para serigala itu sudah jauh tertinggal hingga ia tidak melihat mereka lagi. Namun suara lolongan mereka masih terdengar sangat dekat.
Karena keadaan masih belum aman, Adro tetap melanjutkan niatnya untuk bersembunyi di rumah itu. Keluar dari pepohonan padat, Adro mendapati dirinya berada di halaman dari rumah yang ternyata cukup besar dan bagus itu.
Ia segera berlari menuju pintunya dan hendak membukanya, namun ternyata pintu tersebut terkunci. Meski begitu, Adro dapat melihat dari jendela rumah tersebut bahwa lampu di dalamnya masih menyala. Ia segera mengetuk pintu tersebut sekeras mungkin.
“Permisi! Apa ada orang di dalam? Tolong buka pintunya!”
Kening Adro mengkerut. Kedua tangannya mengepal dan sedikit bergetar. Ia terus mengetuk pintu itu, namun pintunya tidak kunjung terbuka hingga suara serigala-serigala tersebut semakin mendekat, seakan mengelilingi kepalanya.
Tiba-tiba kedua mata itu terbuka, menampakkan kedua iris biru kristal yang pupilnya dengan cepat menyempit saat terpapar bias cahaya dari lampu kamar. Adro langsung mengangkat kepalanya hanya untuk membenturkan pandangannya pada sepasang mata coklat yang berkelip menatapnya.
Grace memandang pria yang sejak tadi tertidur dengan kepala bersandar di pinggir ranjangnya. Pria bernama Adro itu sempat membuatnya terjaga dari tidurnya karena mengeluarkan suara-suara kecil aneh. Di saat bersamaan, beberapa orang perawat masuk ke dalam kamar rawat Grace untuk mempersiapkannya menjalani operasi.
Kedua mata berhias manik biru itu mengerjap, seakan bertanya pada Grace apa yang terjadi, meski seharusnya itu adalah pertanyaan milik gadis itu.
“A-apa kau baik-baik saja?” Tanya Grace ragu.
Adro meluruskan punggungnya seraya menyisir rambut halusnya dari kening ke belakang dengan jemari tangan. Napasnya terasa berat; bukan karena ia tidur dalam posisi yang tidak bagus, melainkan karena mimpi yang seakan menariknya kembali pada kejadian yang membuatnya berakhir di tempat aneh ini.
“Selamat malam, Nona Grace. Operasinya akan segera dilakukan. Apakah anda sudah siap?” Tanya seorang perawat pria.
Grace mengangguk. “Aku sudah siap,” Kemudian ia menoleh pada Adro yang masih nampak sedang mengumpulkan nyawanya.
“Adro, aku akan melakukan operasi selama beberapa jam. Apa kau akan baik-baik saja menunggu sendirian di sini?” Tanya Grace pelan.
Adro mengangguk sebelum mengerjap erat sekali hingga membuat kedua alisnya nampak menegang. “Tentu. Itu tidak masalah,”
Grace tersenyum tipis dengan kaku. Sesungguhnya ia tidak merasa yakin meninggalkan Adro sendirian. Namun ia tidak mungkin mengacaukan jadwal operasinya sendiri yang kemungkinan akan berdampak buruk bagi kesehatannya jika ia batalkan.
“Baiklah. Tunggulah di sini. Kau juga bisa kembali tidur jika ingin. Aku pasti akan kembali ke sini padamu. Tidak perlu khawatir,” Jelas Grace.
“Aku mengerti. Terima kasih.” Jawab Adro.
Kemudian Grace dipindahkan ke atas Brankar dorong. Kemudian ia dibawa oleh dua orang perawat keluar dari kamar berukuran agak besar itu, meninggalkan sosok pria yang hanya terdiam menatap satu-satunya orang yang ia kenal di dunia ini sedang pergi meninggalkannya.
Adro tidak tahu perasaan apa ini. Apakah seorang kesatria hebat sepertinya mungkin merasa takut hanya karena hal kecil seperti ini? Ia hanya perlu menunggu Grace kembali. Namun mengapa ada sebuah sensasi aneh di dalam dadanya?
Apakah ini adalah perasaan ibunya ketika ia hendak pergi berperang?
Selama ini, Adro menjalani hidupnya seperti elang jantan yang terbang bebas di atas tebing-tebing curam. Ia merentangkan kedua sayapnya selebar mungkin, melawan angin, dan membidik apa pun dengan kedua mata tajamnya seakan ia adalah penguasa langit.
Adro tidak pernah benar-benar mempedulikan apa pun di dalam hidupnya. Yang ia tahu, ia adalah putra mahkota, calon raja dari kerjaan Groendez a Lend. Selagi ia masih seorang pangeran, ia akan bertualang menghadap kematian tanpa rasa takut.
Ia tidak pernah mempedulikan, atau bahkan terpikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang menatap punggungnya keluar dari gerbang istana menuju dunia berbahaya di luar sana.
Grace adalah orang yang baru Adro temui dalam satu hari. Namun ia merasa khawatir ketika gadis itu meninggalkannya meski ia sudah berjanji akan kembali. Kini Adro mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang menaruh harapan besar padanya dan harus melihatnya pergi tanpa tahu apakah ia akan kembali lagi.
Adro tidak lagi dapat tidur. Ia berdiri di balik jendela, menatap pemandangan kota yang masih terasa ajaib baginya.
Kamar mereka berada di lantai duabelas. Dari ketinggian ini, pemandangan Kota Tobern yang selalu sibuk -bahkan di malam hari- membuat Adro bingung. Di dunia ini, langit tidak nampak berbintang. Namun kelap-kelip di langit seakan tertukar dengan apa yang ada di atas tanah. Semua lampu yang berkelap-kelip dan bergerak bagai deretan semut itu terlihat menakjubkan.
Bagaimana cara Adro pulang ke dunianya? Apa yang sedang Joselyn lakukan sekarang? Bagaimana keadaannya? Ia pasti sangat sedih karena berpikir calon mempelai prianya mati di tengah hutan tepat di hari pernikahan mereka.
Sebenarnya Adro tidak pernah mempedulikan statusnya sebagai putra mahkota. Meski ia tidak pernah menolak menjadi raja dan tentu akan menjalankan tugasnya dengan baik seperti raja-nya yang sekarang, ia selalu berusaha menggunakan waktunya untuk bersenang-senang sebagai pangeran karena ada Damian yang bisa menjadi penggantinya sebagai putra mahkota jika suatu saat ia mati dalam perang atau hal lainnya.
Tidak mempedulikan statusnya bukan berarti Adro tidak khawatir pada ada yang terjadi di kerajaannya sekarang. Selain keluarganya yang pasti sangat kebingungan mencarinya, Adro telah melihat sendiri bahwa keadaan berbahaya sedang mengancam kerajaannya.
Kelompok serigala monster yang mengejarnya tadi mungkin adalah hasil dari sihir penyihir atau bahkan monster yang dikeluarkan dari dunia para monster.
Seharusnya Adro tidak segegabah itu mengejar bola cahaya yang mungkin memang adalah pancingan penyihir untuk menyesatkannya ke tengah hutan dan membunuhnya.
Namun, kemunculan sihir di hari pernikahannya membuat Adro merasa harga dirinya sebagai kesatria tercoreng. Penyihir itu mungkin menganggap ia adalah pangeran lemah hingga berani mengejeknya. Sayang sekali, Adro terlalu sombong hingga berakhir terjebak oleh perangkap penyihir tersebut.
Karena merasa bosan, Adro memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar untuk memeriksa keadaan. Ia menoleh ke sekeliling dan mendapati koridor rumah sakit sangat kosong dan sunyi. Semua berwarna putih dan terang, berbeda dengan lorong di dalam istana yang agak gelap di malam hari karena menggunakan lentera atau obor sebagai penerangan. Di tempat ini, lentera bernama Lampu. Meski bentuknya kecil, cahaya yang dihasilkan sangat besar dan berwarna putih.
Kini Adro tidak lagi memiliki pedang sebagai senjatanya. Pedangnya mungkin masih menancap di tenggorokan serigala yang sudah ia bunuh kemarin. Namun, Adro tidak takut untuk melihat-lihat keadaan tempat ini yang lagi pula, tidak nampak berbahaya sama sekali.
.png)
Komentar
Posting Komentar