Adro melangkah menyusuri koridor dan mendapati banyak pintu berderet yang saling berhadapan. Saat ia tiba di sebuah lobby kecil, ia mendapati dua orang sedang duduk di kursi tunggu panjang yang cukup ramai ditempati saat siang tadi.
Kini Adro tidak lagi ditatap dengan sorot aneh. Kelihatannya itu karena pakaian yang ia kenakan saat ini tidak nampak aneh bagi mereka.
“Apa kau butuh sesuatu?”
Adro langsung menoleh pada sumber suara. Seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik meja setengah lingkaran menatapnya dengan senyum hangat.
“Apakah kau berbicara padaku?” Tanya Adro.
Wanita itu mengangguk. “Kau terlihat bingung. Apa kau sedang mencari sesuatu?”
“Ah...” Adro melangkah mendekati meja itu. “Jika kau mungkin bisa membantuku, apakah kau mengetahui di mana aku dapat menemukan pintu yang dapat mengantarku ke mana saja?”
Wanita perawat itu mengerutkan kening mendengar pertanyaan Adro. Ia memiringkan kepalanya sedikit seraya menjawab, “Maaf, apakah kau bisa menjelaskan lebih rinci apa pintu yang kau maksud?”
Adro terdiam untuk berpikir. Ia mengingat ucapan Grace yang menyuruhnya untuk tidak banyak bicara karena sekarang, ia adalah orang aneh di tempat ini. Ia mungkin akan dianggap gila dan berakhir dikurung.
“Eum… Itu... adalah pintu yang mengantarku dari bawah ke atas,” Jelas Adro tidak yakin setelah memikirkan kalimat paling tepat untuk mendeskripsikan pintu aneh yang ia maksud.
“Oh... Apakah maksudmu lift?” Wanita itu tertawa kecil.
Adro ikut tersenyum kaku. “Aku rasa… itu adalah namanya,”
“Kelihatannya kau adalah orang asing, yah?” Tanya wanita itu, berpikir bahwa Adro berasal dari negara lain dan masih belum fasih berbahasa lokal.
Adro mengangguk setenang mungkin.
“Kau bisa menemukan lift jika kau berjalan lurus ke sana, lalu belok kanan. Liftnya ada di sebelah kiri,” Jelas perawat tersebut dengan menunjuk jalan yang ia maksud.
“Aku mengerti. Terima kasih,” Ucap Adro.
Sesungguhnya, Adro tidak yakin apakah pintu yang wanita itu maksud sama dengan pintu yang ada di dalam pikirannya. Namun ia akan memeriksanya sekarang.
Sesuai arahan perawat tadi, Adro tiba di depan lift. Ia tersenyum puas karena itu benar adalah pintu yang ia maksud. Ya, sejak awal ia memang sangat penasaran pada benda bernama lift ini. Ia tidak sempat menanyakannya kepada Grace karena terlalu banyak hal lebih penting yang harus mereka bicarakan.
Kini, ia akan mencoba meneliti bagaimana cara kerja pintu ajaib yang seharusnya tidak mungkin tidak digerakkan oleh sihir. Jujur saja, meski pernah berkata bahwa ia mempercayai Grace, ia bukan kesatria seceroboh itu untuk sepenuhnya mempercayai orang asing.
Menatap pintu berwarna metal itu, Adro mengambil satu langkah mundur untuk menerawangnya dari bawah ke atas dan mengulangnya lagi. Pintu itu berjumlah dua buah dan terletak bersebelahan.
‘Ini aneh. Bagaimana cara membukanya? Tadi orang-orang itu membawa Grace terlalu cepat hingga aku tidak sempat memperhatikan lebih banyak bagaimana cara mereka menggunakan pintu ini.’ Pikir Adro dalam hati.
Ia meraba pintu itu dan semakin heran karena tidak ada kenop di permukaannya. Pintunya juga terbuat dari besi seperti pintu ruang penyimpanan harta di istana. Namun, di tengah-tengah kedua pintu tersebut, terdapat sebuah kotak dengan dua tombol bulat yang mengeluarkan cahaya berwarna.
‘Dunia ini sangat aneh. Akal sehatku kesulitan untuk memahami cara kerjanya. Jika aku pikirkan ulang, tidak mungkin segala hal hebat dan aneh di sini tidak digerakkan menggunakan sihir. Apakah sebenarnya semua orang di sini adalah penyihir, dan Grace adalah salah satunya?’ Pikir Adro lagi seraya mengusap dagu.
Namun tiba-tiba, pintu yang berada di depan Adro bergeser terbuka hingga membuatnya terkejut dan kembali melangkah mundur. Tangannya reflek bergerak ke samping pinggangnya karena terlalu terbiasa dengan adanya pedang yang pasti menemaninya di sana. Sayangnya, ia tidak bersenjata sekarang.
Seorang pria dan wanita yang berada di dalam lift menatap Adro dengan bingung seraya melangkah keluar. Tentu saja wajah itu akan membuat orang lain menganggapnya aneh. Di sana nampak ekspresi terkejut, bingung, dan waspada yang bercampur menjadi satu.
Adro menatap mereka seakan mereka adalah hantu. Ia beruntung pasangan itu tidak mempermasalahkan tatapan menyinggungnya tersebut.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki melangkah melewati Adro dan masuk ke dalam lift yang sudah kosong tersebut. Ia berdiri di belakang pintunya dengan satu tangan memencet tombol buka sambil menatap Adro.
“Apa kau akan masuk?” Tanya anak yang sepertinya berusia sekitar tujuh tahun itu.
Adro segera tersadar dari keterkejutannya lalu segera melangkah masuk. “Ke mana pintu ini akan membawa kita?”
“Aku akan pergi ke kantin rumah sakit. Kau ingin ke lantai berapa, tuan? Bolehkah aku memencet tombolnya untukmu?” Tanya anak itu.
Adro menatap anak berambut blonde tersebut dengan kening mengkerut. Kemudian ia agak terkejut ketika pintu di depannya bergeser menutup.
“Apa kau mendengarku?” Anak itu memanggil Adro lagi.
Adro berdehem seraya mengatur ekspresinya. “Sebenarnya aku hanya ingin jalan-jalan saja. Aku tidak memiliki tempat pasti untuk dituju,”
“Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika kau mengikutku ke kantin di lantai bawah?” Tanya anak itu.
“Itu terdengar cukup bagus dan akan lebih bagus jika kau menjelaskan tempat apa itu,” Sahut Adro.
Sembari memencet tombol menuju lantai satu, anak itu menjawab, “Kantin adalah tempat menjual berbagai makanan. Aku kelaparan di malam hari. Ibuku bilang itu karena aku sedang beranjak menuju usia remajaku,” Jelas anak tersebut dengan lengan melipat di depan dada. Ia terlihat bangga dengan itu.
“Terima kasih atas penjelasannya.” Ucap Adro.
“Tidak masalah,” Jawab anak itu dengan raut bangga.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau berkeliaran sendirian di bangunan besar ini? Apakah ibumu mengijinkannya?” Tanya Adro dengan kening mengkerut karena merasakan sensasi aneh lagi pada isi tubuhnya ketika lift mulai bergerak turun.
“Tentu saja. Aku sudah menghafal jalan dari kamar kakakku menuju kantin, pintu keluar, taman, dan toilet. Ibuku berkata aku bisa sehebat ini karena aku sedang beranjak dewasa,”
Sebuah senyum tipis terulas di bibir Adro. Ia tahu seseorang yang terlihat seperti anak ini. Ya, itu adalah dirinya sendiri. Ketika ia masih kecil, ia sangat ingin menjadi orang dewasa sehingga bisa berpetualang dan berperang. Ia selalu merasa dirinya sangat hebat saat bisa melakukan hal-hal yang biasa orang dewasa lakukan.
“Kau terdengar hebat,” Ucap Adro untuk memberi makan ego anak itu. “Lalu, siapa namamu? Bolehkah aku mengetahuinya?” Tanya Adro.
“Namaku adalah Peter Stemon. Aku berusia tujuh tahun dua bulan. Bagaimana denganmu?” Ucap anak itu dengan menjulurkan tangannya pada Adro dengan gelagat orangdewasa.
“Namaku Adro Groendez. Senang berkenalan denganmu, pria muda,” Ucap Adro.
Keformalan Adro membuat anak bernama Peter itu menjadi bersemangat. Ia melihat Adro sebagai pria tinggi dengan tubuh kekar dan wajah tampan. Ia seakan sedang berbicara dengan toko superhero favoritnya.
.png)
Komentar
Posting Komentar