Tiba-tiba lift berhenti dan pintunya terbuka. Peter melangkah keluar dan diikuti oleh Adro. Kedua mata Adro langsung menyisir sekitarnya. Ini sungguh adalah sebuah tempat lain, meski memiliki konsep yang sama dengan tempat yang sudah Adro datangi di dalam bangunan besar ini.
“Ayo ikut aku, Tuan Adro,” Ucap Peter dengan memberi gerakan dengan tangannya.
Keadaan rumah sakit sangat sepi karena hari sudah sangat larut. Namun ada sebuah pintu kaca yang masih terbuka. Di dalam sana terdapat beberapa kios yang menjual makanan.
“Jadi ini tempat yang bernama kantin?” Tanya Adro pada Peter.
Bocah itu mengangguk. “Aku akan membeli burger di sana,” Ia menunjuk pada sebuah kios yang menjual hotdog dan burger.
Adro hanya diam dan mengikuti ke mana Peter melangkah. Setelah sampai di kios itu, Peter nampak memesan makanan yang tertera pada papan menu yang lengkap dengan gambarnya.
“Apakah kau tidak memasan, Tuan Adro?” Peter menoleh pada pria dewasa di sampingnya yang nampak sedang memperhatikan berbagai hal di dalam kios tersebut.
“Tidak. Aku tidak membawa uang.” Jawab Adro dengan mengikut Peter duduk di meja terdekat.
“Ini adalah pertama kalinya aku mendengar orang dewasa tidak membawa uang. Itu aneh.” Ucap Peter.
“Aku berasal dari tempat yang sangat jauh dan uangku tertinggal di ista.. maksudku rumahku.” Jawab Adro.
“Apakah kau adalah orang miskin?” Tanya Peter.
Pertanyaan Peter membuat Adro tertawa kecil lalu menggeleng. “Aku memiliki hidup berkecukupan. Namun sebuah tragedi membuatku terdampar di tempat ini. Itu adalah kisah yang panjang,”
“Pesanan nomor 83,” Ujar pegawai kios makanan.
“Oh!” Peter langsung melompat turun dari kursinya dan berlari ke kios itu untuk mengambil makanannya.
“Bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?” Tanya Peter dalam perjalanan mereka kembali ke lift.
“Temanku mengalami cedera pada kakinya. Ia berkata bahwa ini adalah rumah sakit; tempat di mana semua orang sakit mendapat pengobatan.” Jawab Adro.
“Temanmu sama seperti kakakku. Kakakku mengalami kecelakaan sehingga ia harus menjalani beberapa operasi. Aku sudah berada di sini sejak tiga hari yang lalu,” Jelas Peter.
Adro mengangguk-angguk mengerti. Kelihatannya penjelasan Grace mengenai tempat ini adalah benar. Selama ini, Adro tidak pernah mendengar ada penyihir anak-anak. Mereka pun tidak bisa menyamar menjadi anak-anak karena anak-anak dikenal sebagai manusia yang masih setengah suci sehingga sulit ditiru jiwanya.
“Aku harap kakakmu bisa cepat pulih sehingga kau bisa kembali ke rumahmu,” Ucap Adro.
“Ya, aku juga harap begitu. Aku sudah mulai merasa bosan di rumah sakit ini.” Sahut Peter seraya menekan tombol lift.
“Apakah kita harus menekan benda itu agar pintunya terbuka?” Tanya Adro.
Peter mengangguk. “Itu benar. Apakah di tempat asalmu tidak ada lift?”
“Tempatku tidak semaju tempat ini.” Jawab Adro. “Apakah kau bisa menjelaskan sedikit tentang pintu bernama lift ini? Apakah dia bisa membawamu ke mana saja?”
“Tidak. Lift hanya akan membawamu naik dan turun ke setiap lantai di gedung ini. Ini bukan pintu ajaib yang bisa membawamu ke mana saja. Lagipula, ibuku berkata bahwa pintu seperti itu hanya ada di dalam film.” Jelas Peter.
“Film?” Ulang Adro bingung.
Peter mengangguk. “Ya. Film dan buku dongeng. Ibuku berkata semua itu tidak nyata. Teman-temanku juga berkata begitu. Bahkan.. aku sudah tahu bahwa sinterklas juga tidak nyata,” Jelasnya dengan berbisik di akhir kalimat.
Beberapa dari kata-kata yang Peter sebutkan memang terdengar asing bagi Adro. Namun ia mengerti bahwa anak itu berkata bahwa sihir adalah sesuatu yang tidak nyata di dunianya. Sama seperti yang Grace katakan, itu hanya ada di dalam dongeng; dunia di mana Adro berasal, yang mereka anggap sebagai cerita bohong.
Pintu lift terbuka dan kedua pria berbeda generasi itu keluar dari sana. Sama seperti sebelumnya, keadaan di lantai itu nampak kosong.
Peter memutar tubuhnya untuk menghadap Adro. “Aku akan kembali ke kamar kakakku,”
Adro tersenyum tipis dan mengangguk sekali. “Kelihatannya kita harus berpisah di sini, pria muda. Terima kasih sudah mengajakku melihat-lihat tempat ini.”
“Sama-sama. Semoga tidurmu nyenyak. Selamat tinggal!” Ucap Peter dengan melambaikan tangannya seraya melangkah pergi dengan pelastik berisi hotdog yang ia ayun-ayunkan sebagai mainan.
Adro masih berdiri di tempatnya seraya menatap bocah laki-laki yang akhirnya menghilang di balik dinding. Senyum tipis yang terulas di bibirnya seketika meredup.
Pintu bernama lift itu sesungguhnya tidak ajaib. Itu hanya sesuatu yang canggih, sama seperti banyak hal yang Adro lihat di dunia ini. Sampai di sini, Adro mendapat banyak pembuktian bahwa Grace tidak berbohong. Meski sejujurnya, jauh di lubuk hati kecil Adro, ia berharap bahwa Grace adalah penyihir yang sedang berbohong. Ia berharap bahwa ia tidak tersesat sejauh ini.
Kesempatan Adro untuk bisa kembali kian menipis. Dengan tidak adanya sihir di dunia ini dan penduduknya yang tidak percaya kepada sihir dan bahkan dunia asalnya, kepada siapa Adro harus bertanya mengenai pintu sihir yang membawanya ke tempat aneh ini?
***
Terbangun dari tidurnya, Grace belum bisa merasakan kakinya karena anastesi masih bekerja. Namun, ia dapat melihat sinar lampu-lampu yang bergerak lewat di atas matanya yang membuatnya merasa cukup terganggu.
Ketika Grace merasakan ranjang yang tengah membawa tubuhnya berhenti bergerak, ia mengetahui bahwa ia sudah kembali ke dalam kamar rawatnya.
Grace mengerutkan keningnya karena pandangannya masih sedikit berbayang. Kesadarannya juga masih belum terkumpul sempurna hingga ia merasa seakan sedang setengah bermimpi.
Seumur hidupnya, Grace tidak pernah mengalami kecelakaan atau apa pun yang mengharuskannya menjalani operasi yang cukup berat seperti ini. Sejujurnya, hal ini membuatnya merasa takut.
Ketika sedang kehilangan kesadaran, Grace tidak tahu apa yang terjadi dan menjadi tidak berdaya. Ia merasa seakan ia sedang terisolasi sendirian di dalam ruangan kosong tertutup yang sangat dingin, menggambarkan rasa sepinya selama ini.
Perlahan, Grace mulai mendapatkan kesadaran penuhnya. Pandangannya juga dengan cepat menjadi jernih. Namun, semua hal itu membuatnya menyadari bahwa Adro tidak berada di kamar itu. Pria yang tadi berkata akan menunggunya, kini telah menghilang.
“A-Adro,” Grace berusaha memanggil nama pria itu dengan suaranya yang masih lemah. Dan tentu saja, tidak ada jawaban karena ia hanya sendirian.
Grace termenung di atas ranjangnya. Ke mana Adro pergi? Pria itu sudah berjanji akan menunggunya di sini. Apakah Adro berbohong? Sama seperti yang lain, Adro berbohong dan berakhir meninggalkannya.
Kepergian Adro membuat Grace berpikir; Apakah pria itu sudah menemukan jalan kembali ke dunianya? Atau apakah ia menyadari bahwa Grace tidak berguna sehingga memutuskan untuk berusaha sendirian mencari jalan pulang?
Namun sebuah pemikiran ikut muncul di dalam benak Grace; Apakah pria bernama Adro itu sungguhan ada? Apakah Adro sebenarnya adalah halusinasi yang otak Grace buat karena ia sedang depresi?
“Apakah aku sungguh sudah gila?” Gumam Grace dengan menatap lurus dengan nanar.
.png)
Komentar
Posting Komentar