Langsung ke konten utama

19. Menampung Orang Asing // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

‘Seorang pangeran yang keluar dari pintu buntu? Pangeran dari negri dongeng yang harus kembali ke negri asalnya karena pengantinnya sedang menunggu? Bahkan anak kecil di jaman sekarang banyak yang sudah mengerti bahwa kisah seperti itu tidak masuk akal – Itu semua hanyalah cerita bohong. Apakah semua masalah dalam hidupku membuat alam bawah sadarku berusaha lari dari kenyataan?’ Pikir Grace sambil memegangi kepalanya dengan dua tangan.

Namun, tiba-tiba terdengar suara dari pintu kamar hingga Grace menoleh. Bersamaan dengan itu, nampak seorang pria bermata biru cemerlang melangkah masuk dan langsung menatapnya.

“Oh, kau sudah selesai?” Tanya Adro seraya menutup pintu kembali, dan melangkah menghampiri Grace.

“Maaf aku keluar sebentar tadi. Aku merasa sangat bosan di kamar ini. Bagaimana keadaanmu?” Tanya Adro begitu mencapai ranjang Grace.

Gadis bermata coklat itu hanya menatap Adro dengan tubuh mematung, membuat Adro menjadi bingung.

“Eum... Apa terjadi sesuatu? Kau baik-baik saja?” Tanya Adro.

Grace meneguk liur sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain. Matanya masih bergetar dan ia harus mengatur napas untuk melancarkan oksigen ke dalam otaknya yang sedang berusaha mencerna keadaan ini.

“Grace? Apa yang terjadi?” Tanya Adro lagi seraya menyondongkan tubuhnya untuk mengintip wajah gadis yang terlihat terguncang itu. Kelihatannya itu benar bahwa ada yang terjadi sebelumnya.

Sembari menaik napas dalam-dalam, Grace memejamkan matanya erat untuk menahan air mata yang sudah mulai menggenangi rongga matanya. Sensasi nyeri di kerongkongan dan rongga hidungnya membuatnya tidak dapat berbicara, karena jika ia melakukannya, tangisnya mungkin akan pecah.

Adro tidak lagi menanyakan apa pun pada Grace. Ia hanya diam dengan terus memandang gadis itu dengan kening mengkerut dan tanda tanya besar di atas kepalanya.

Setelah berhasil menata perasaan dan emosinya kembali, Grace menoleh untuk menatap Adro. Ia hanya mengulas senyum tipis di bibirnya meski sebenarnya ia ingin membuatnya lebih lebar.

“Maaf. Aku... Sepertinya aku sedikit merasa emosional,” Tutur Grace pelan.

“Boleh aku mengetahui mengapa kau merasa seperti itu?” Tanya Adro dengan hati-hati. Tentu ia menyadari dengan jelas wajah Grace yang seperti hendak menangis. Namun, ia tidak berani membahasnya karena mereka belum terlalu jauh saling mengenal.

Masih dengan senyum sendu, Grace menggeleng seraya terburu-buru meraba kedua kantung matanya untuk memeriksa apakah itu kering atau basah. Akan sangat memalukan jika ia menangis di depan orang yang baru ia kenal.

“Ini mungkin terdengar konyol, namun aku tadi berpikir bahwa kau pergi meninggalkanku. Maksudku, kau pergi dan tidak akan kembali lagi. Aku bahkan berpikir bahwa pertemuan kita hanyalah halusinasiku belaka karena itu sangat tidak masuk akal,” Jelas Grace dengan tawa kecil canggung.

“Pikiranku agak kacau setelah menjalani operasi selama beberapa jam. Aku diberi obat bius setengah tubuh, namun sepertinya mereka juga sengaja membuatku tertidur,” Lanjut gadis itu.

Adro menatap Grace lalu menggeleng pelan. “Aku sudah berjanji padamu akan menunggu di sini. Dengan begitu, aku akan menepatinya.”

Grace hanya tersenyum sekilas dan mengangguk kecil. “Itu terdengar melegakan,”

“Kelihatannya kedatanganku sangat tidak masuk akal, ya?” Gumam Adro dengan senyum sendu.

“Ma-maaf, Adro. Barusan aku masih agak linglung, bahkan hingga sekarang. Jadi… tolong jangan menganggap ucapanku terlalu serius,” Jelas Grace terburu-buru.

Adro menggeleng dengan pandangan kosong. “Tadi, aku bertemu dengan seorang anak kecil. Ia mengatakan bahwa sihir tidak nyata di duniamu ini. Apakah kau tahu pintu bernama Lift? Meski sebelumnya aku berkata bahwa aku percaya padamu, sejujurnya, aku sempat berpikir bahwa kau berbohong. Bagian kecil di dalam benakku berkata bahwa kau dan semua orang di sini adalah penyihir dan pintu bernama Lift itu adalah pintu sihir yang bisa membawaku ke mana saja. Namun, aku telah salah mencurigaimu, dan aku minta maaf soal itu,”

“Kau tidak perlu minta maaf, Adro. Melihat apa yang kau alami, sangat wajar jika kau sulit mempercayai orang lain.” Grace tersenyum lembut. “Tapi, apakah itu artinya tadi kau keluar untuk mencoba menggunakan lift?”

“Aku tidak tahu bagaimana cara kerja pintu itu. Namun anak yang tadi aku temui menjelaskan sedikit bahwa pintu itu hanya mengantar penumpangnya naik dan turun bangunan tinggi ini,” Jelas Adro sebelum tersenyum miris. “Aku merasa seperti orang bodoh di dunia ini,”

Penjelasan Adro membuat Grace hampir tersenyum geli. Rasa sedihnya seketika menghilang saat membayangkan bagaimana Adro merasa bingung pada lift. Grace sendiri tidak sempat terpikirkan bahwa lift akan terlihat sangat ajaib bagi Adro yang berasal dari negri dongeng.

“Kau tidak bodoh, Adro. Itu adalah hal yang wajar karena kau datang dari tempat yang sangat berbeda dengan tempat ini,” Sahut Grace, dan melanjutkan, “Kau bisa menanyakan apa pun padaku mengenai dunia ini. Aku pasti akan menjelaskannya untukmu,”

Adro tersenyum. “Trimakasih, Grace. Aku beruntung kau adalah orang pertama yang aku temui di dunia ini,”

Ucapan Adro membuat Grace berdehem. Kemudian ia menggidik bahunya. “Ini adalah hal normal. Kau tahu… membantu orang lain tidak sesulit itu,”

“Jadi, sikapmu adalah hal yang normal di dunia ini?” Tanya Adro.

Grace mengangguk dengan mata bergerak ke samping atas. “Kurang lebih begitu. Mungkin?”

“Tahukah kau bahwa kau terlihat tidak yakin dengan ucapanmu?” Tanya Adro dengan tawa kecil. “Namun, terima kasih sudah berniat membantuku. Aku mungkin akan banyak merepotkanmu untuk ke depannya,”

***

Perawatan Grace di rumah sakit memakan waktu dua hari hingga ia diperbolehkan pulang. Selama itu, Grace tinggal di rumah sakit bersama Adro.

“Jadi, kapan kau akan kembali ke kampus?” Tanya Sarah setelah selesai membantu Grace mengurus administrasi rumah sakit.

“Mungkin lusa nanti,” Jawab Grace.

“Lusa?” Sarah langsung menoleh pada sehabatnya. “Apa itu tidak terlalu cepat?”

“Aku sudah cukup lama absen kelas. Aku harus mengejar ketertinggalan. Lagipula, yang terluka adalah kakiku, jadi aku yakin ini tidak akan mengganggu waktu belajarku,” Jelas Grace.

“Baiklah jika menurutmu begitu. Lalu...” Sarah menaikkan pandangannya pada tinggi pria yang sedang mendorong kursi roda Grace.

“Apakah Adro akan ikut ke rumahmu?” Tanya Sarah dengan mata sedikit memicing.

Sebuah senyum kecut terbentuk di bibir Grace. Ia diam-diam melirik ke atas untuk mendapati Adro juga tengah menatapnya dengan wajah yang seakan mempertanyakan apa yang akan ia jawab.

“Eum… Begini, Sarah; Adro tidak memiliki tempat tinggal dan uang sekarang. Jadi, sebagai kerabat, aku harus menampungnya karena aku tidak mungkin membiarkannya terlantar di jalanan. Benar, ‘kan?” Grace menatap Sarah dengan kedua alis terangkat tinggi dan senyum canggung.

Sarah mengangkat satu alisnya sekilas. Lalu ia memutar matanya sambil menarik napas panjang. “Baiklah. Itu adalah rumahmu dan kau adalah orang dewasa mandiri. Kau bisa melakukan apa pun sesukamu di dalam hidupmu,”

Senyum Grace berubah semakin canggung. Ia tahu Sarah sangat mengkhawatirkannya, namun sedang berusaha untuk tidak peduli padanya. Jika bukan karena Sarah, Grace mungkin tidak akan bertahan di dunia yang kejam ini. Ia memiliki kepribadian yang lemah dan Sarah bagaikan perisai yang selama ini melindunginya. Itulah yang menyebabkan Grace memiliki rasa hormat tersendiri kepada Sarah.

Rumah Grace berada di sebuah bangunan apartment. Mobilnya yang sebelumnya ditinggalkan di depan mansion terbengkalai kala itu sudah diantar ke parkiran apartmentnya kemarin. Dan tentu saja, Sarah yang membantunya mengurus itu semua.

Menghentikan mobilnya di lahan parkir apartment dua puluh lantai dengan warna merah bata itu, Sarah mematikan mesin mobilnya dan hendak membuka pintu. Namun, perasaannya agak mengganjal hingga ia memutuskan untuk menoleh pada Adro yang duduk di kursi sebelah.

“Maaf, bisakah kau menunjukkan bagaimana cara melepas benda ini?” Tanya Adro dengan satu tangan menggenggam seatbelt yang membentang di depan tubuhnya.




Komentar