Langsung ke konten utama

20. Pangeran Pecinta Seni // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Sarah tertawa kecil. Lalu ia menatap pria itu kembali dengan mata memicing. “Kau serius tidak bisa melakukannya?”

Di kursi belakang, Grace hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan frustasi. Karena kakinya masih terbalut gips, ia ditempatkan di kursi penumpang belakang, sementara Adro menempati kursi penumpang depan di samping Sarah.

Sebelumnya, Adro kesulitan membuka pintu mobil dan memasang seatbelt. Dan tentu saja, hal itu membuat Sarah heran setengah mati hingga berpikir bahwa Adro hanya bercanda.

“Adro itu… berasal dari sebuah desa yang sangat teramat terpencil, Sarah. Ia hampir tidak pernah menaiki mobil pribadi, jadi… kau tahu...” Grace berusaha menjelaskan.

Sarah hanya menarik napas dalam seraya menggeleng pelan. Ia masih tidak percaya ada orang se-primitif Adro di dunia ini. Baginya, itu sangat tidak masuk akal.

Di awal, Sarah mendengar bahwa Adro adalah aktor opera- atau teater? Entahlah. Apa pun itu, tidak mungkin jika Adro tidak pernah menaiki mobil pribadi sekali pun hingga tidak paham sama sekali bagaimana cara membuka pintu mobil yang paling standar seperti miliknya.

Semakin lama, Sarah semakin curiga bahwa ada yang salah dengan Adro, dan Grace berusaha menyembunyikan itu. Mungkinkah Adro sebenarnya adalah kekasih baru Grace yang sedang memanfaatkannya?

Tanpa bermaksud memandang rendah sahabatnya sendiri, Sarah sejatinya menyadari bahwa Grace adalah perempuan dengan hati yang sangat lemah. Ia mudah dimanfaatkan oleh orang lain, apalagi pria yang menawarkan cinta yang entah palsu atau asli padanya.

Meski Sarah merasa penasaran dan khawatir terhadap Grace atas semua keanehan ini, ia tetap memutuskan untuk diam. Ia tidak suka kehidupan pribadinya dicampuri, sehingga ia tidak akan melakukan itu pada orang lain.

Mereka menaiki lift ke lantai 17 dan berhenti di depan pintu rumah Grace. Gadis itu memberikan kunci rumahnya pada Sarah sehingga ia bisa membukanya. Lalu, Sarah memberi sinyal kepada Adro untuk mendorong kursi roda Grace masuk ketika pintu terbuka.

Melangkah ke dalam unit apartment itu, Adro terperangah pada isi rumah Grace yang dipenuhi oleh lukisan dan memiliki dekorasi yang unik.

“Aku sudah membeli beberapa makanan yang bisa dipanaskan. Aku menyimpan semuanya di dalam kulkasmu,” Ucap Sarah setelah menutup pintu. Kemudian ia melangkah menuju kamar mandi setelah meletakkan tasnya dengan asal ke atas sofa.

“Aku meminjam toiletmu, oke?” Ucap Sarah sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

“Oke,” Sahut Grace.

“Ini benar adalah rumahmu?” Tanya Adro yang masih berada di belakang kursi roda Grace.

“Benar. Ah... Kau tidak perlu mendorong kursi rodaku lagi dan bisa duduk di sofa. Aku bisa menggerakkan benda ini sendiri di sini,” Ucap Grace.

“Baiklah,” Sahut Adro sebelum melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Lalu ia menatap Grace yang berada di tengah ruangan. “Katakanlah jika kau membutuhkan sesuatu. Aku akan dengan senang hati membantumu,”

Grace tersenyum dan mengangguk. “Trimakasih,”

Tidak lama, Sarah keluar dari kamar mandi. Ia langsung menghampiri sofa untuk mengambil tasnya. “Aku akan langsung pergi,”

“Kau langsung pergi? Kau tidak ingin duduk sebentar di sini? Aku bahkan belum memberikan minum untukmu,” Sahut Grace.

Sarah menggeleng. “Aku harus ke kantor lagi untuk bertemu dengan beberapa orang penting. Lagipula, bagaimana kau bisa membuatkan aku minum dengan kondisimu sekarang?” Ia tertawa kecil dan melanjutkan, “Kau pasti bercanda,”

Sebuah senyum kecut terbentuk di bibir Grace. Ia memutar kursi rodanya mengikuti ke mana Sarah melangkah. “Hei... Yang terluka adalah kakiku. Kedua tanganku baik-baik saja,”

“Ya, katakanlah itu lagi jika kau sudah membuktikan bahwa kau tidak akan kesulitan,” Sahut Sarah seraya meraih pintu dan membukanya.

Sebelum Sarah benar-benar keluar, ia menoleh pada Adro. “Kau… kerabat Grace,”

“Ya?” Adro mengerutkan keningnya. Ia sungguh tidak terbiasa dengan sikap Sarah yang terlalu dominan.

“Tolong bantu sahabatku dalam kesehariannya. Jadilah berguna,” Ucap Sarah.

Sebuah senyum miring tidak senang menghiasi wajah Adro. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Satu alis Sarah terangkat. “Oh, bagus kalau begitu,”

“Ah, Sarah, terima kasih banyak untuk bantuanmu hari ini. Jika tanpa kau-”

“Aku tahu,” Sarah langsung memotong kalimat Grace. “Sama-sama. Aku pergi dulu. Bye!”

Kemudian pintu itu tertutup, meninggalkan dua orang di dalam yang masih termenung menatap daun pintu itu.

Dengan senyum canggung, Grace memutar kursinya lagi untuk menghadap Adro. “Maaf. Sarah memang agak keras. Namun ia sebenarnya sangat baik,”

Adro menggeleng. “Itu tidak perlu. Aku mengerti ia adalah teman yang sangat baik untukmu. Yah... Meski aku cukup tidak terbiasa dengan sikapnya yang suka mengatur dan gerakannya yang sangat cepat seakan ia selalu terburu-buru,”

Grace tertawa kecil. “Sebenarnya, Sarah memang sedang terburu-buru. Dan… ia selalu seperti itu. Aku sudah terbiasa dengannya. Sarah adalah satu-satunya penerus bisnis besar ayahnya, sehingga ia sudah sangat sibuk dengan berbagai hal sejak kecil. Meski begitu, ia yang selalu ada untuk membantuku,”

“Aku mengerti,” Adro mengangguk-angguk. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Rumahmu sangat indah,”

Ucapan Adro membuat Grace seketika tersenyum. “Terima kasih. Sungguh, itu sangat berarti untukku. Teman-temanku berkata rumahku dipenuhi benda aneh. Yah… itu karena mereka tidak tertarik pada seni, jadi aku bisa memahaminya,”

“Aku lebih menganggap rumahmu memiliki karakter,” Sahut Adro. “Kebetulan aku menyukai karya seni,”

Kedua alis Grace langsung terangkat tinggi. “Benarkah?”

Adro mengangguk. “Selama ini aku telah mengelilingi berbagai kerajaan dan mengarungi benua. Hal yang wajib aku bawa pulang adalah karya seni dari berbagai seniman di penjuru dunia. Aku memiliki ruangan megah di istana khusus untuk menyimpan koleksi karya seniku,”

Fakta bahwa Adro menyukai seni membuat Grace sangat bersemangat. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan pria baik yang ternyata sebesar itu menghargai karya seni.

Ya, Grace memang memiliki banyak teman pecinta seni karena ia mengambil jurusan seni untuk kuliahnya. Namun, kata ‘Teman’ itu perlu digaris bawahi sebagai teman satu jurusan, bukan teman yang sesungguhnya. Ia bahkan sangat jarang mengobrol dengan mereka.

Entah mengapa, sejak kecil, Grace agak sulit bergaul. Mungkin ia salah, namun ia sempat berpikir bahwa sifat tertutup dan canggungnya muncul ketika ia ditinggal mati oleh kedua orangtuanya.

Teman yang tersisa untuk Grace hanyalah Sarah dan Bella yang sejak awal adalah teman masa kecilnya. Orangtua mereka juga saling mengenal. Sayangnya, ketiga sahabat itu mengambil jurusan kuliah yang sangat barbeda setelah lulus SMA.

Untuk Sarah dan Bella, mereka tidak mengalami masalah pada khidupan kuliahnya. Namun untuk Grace yang sulit bergaul, kebanyakan harinya tidak menyenangkan di kampus.

Sebenarnya, Grace sangat suka membicarakan hal-hal tentang seni dengan orang lain. Namun, seni tidaklah semenarik itu bagi Bella dan Sarah. Itu membuat Grace harus selalu menahan diri dan menyimpan ketertarikannya pada dirinya sendiri.

Dengan hadirnya Adro, Grace merasa seakan ia mendapatkan teman sungguhan yang dapat berbagi kecintaannya terhadap karya seni. Jahat memang; namun Grace tidak perlu takut Adro akan mengucilkannya karena di dunia ini, hanya dirinya yang pria itu kenal.

“Apa aku boleh melihat-lihat koleksimu?” Tanya Adro, menyadarkan Grace dari lamunannya.

“Ah… Tentu saja,” Jawab Grace dengan senyum lebar. “Kau pun bisa menanyakan berbagai hal tentang semuanya padaku,”

Senyum Adro merekah manis. Ia mengangguk-angguk kecil seraya melangkah dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Benda pertama yang ia hampiri adalah sebuah lukisan besar yang menggantung di dinding.

Itu adalah lukisan tiga orang wanita tanpa busana yang berbagi satu helai kain panjang untuk menutupi tubuh mereka.

“Benar-benar indah,” Gumam Adro.




Komentar