Langsung ke konten utama

21. Membutuhkan Bantuan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Grace tersenyum seraya memutar roda kursinya untuk menghampiri Adro. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap lukisan yang hampir setiap hari ia lihat tanpa merasa bosan.

“Bagaimana pendapatmu tentang lukisan ini?” Tanya Grace.

“Aku menyukainya. Wajah ketiga wanita itu memiliki ekspresi yang berbeda. Posisi tubuh masing-masing dari mereka seakan memberikan sebuah arti mendalam. Latar lukisan ini juga sangat dramatis dengan warna suramnya. Lukisan ini membuatku penasaran dengan arti sesungguhnya yang ia miliki,” Tutur Adro.

Senyum Grace merekah semakin lebar. Ia menatap sisi wajah Adro dengan kedua mata berbinar-binar. Itu adalah ungkapan terindah yang pernah Grace terima atas hasil karya seninya.

“Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Grace.

Adro menoleh pada gadis itu dan mengangguk sekali. “Tentu,”

Kemudian Grace menarik napas dalam dan bertanya, “Jika kau adalah pelukis dari lukisan ini, bagaimana kau mengartikan lukisan ini?”

“Hm… Ini adalah pertama kalinya aku mendapat pertanyaan semacam itu dari seseorang,” Ucap Adro dengan kening sedikit mengkerut dan kepala agak miring.

“Ji-Jika kau tidak bersedia menjawabnya, itu tidak apa. Ini hanya pertanyaan bodoh yang tidak penting,” Grace tertawa canggung seraya diam-diam menautkan kedua tangannya.

Adro langsung menggeleng. “Itu bukanlah pertanyaan bodoh, melainkan pertanyaan unik yang cukup cerdas. Aku suka mengamati karya seni dan semua orang tahu tentang itu. Namun, apa gunanya mengamati jika tidak menyimpulkan, benar? Kau adalah orang pertama yang memberikanku tantangan menarik seperti ini,”

“Jadi… Itu artinya sesuatu yang bagus atau...” Grace meneguk liurnya. Dari kalimat Adro, seharusnya itu adalah hal yang positif. Namun, Grace takut salah menafsirkan pernyataan tersebut jika ternyata pria itu bermaksud negatif.

“Itu jelas adalah sesuatu yang sangat bagus. Dan aku akan berusaha menjawabnya dengan sepenuh hatiku,” Adro tersenyum sembari meletakkan satu telapak tangan di dada bidangnya.

Grace menghela panjang seakan semua beban selama puluhan tahun di pundaknya akhirnya terangkat. Ia memang sering merasa takut pada penilaian orang lain terhadap dirinya. Ia senang Adro memberikan respon positif padanya.

Kedua mata biru kristal itu memandang lukisan di depannya dengan seksama. Bibir penuhnya mengatup, sementara satu jarinya mengusap-usap dagu bulatnya.

Kedua mata Grace mengerjap, terpaku kepada Adro. Pemilik wajah rupawan itu terlihat jelas sedang serius dan berpikir keras, seakan jiwanya sedang terserap ke dalam lukisan besar tersebut.

“Tiga wanita itu... Wajah mereka sangat mirip - Seperti anak kembar. Masing-masing memiliki ekspresi berbeda, namun tidak satu pun terlihat bahagia. Meski lukisan ini indah, ini seperti menggambarkan seseorang yang mengalami kehidupan yang berat sehingga ia terkurung di dalam kesuraman dan kesulitan mencari cahaya,” Jelas Adro dengan kedua mata tetap tertambat pada lukisan itu.

Perasaan Grace berkecamuk di dalam dadanya. Ia tersenyum lebar dengan kedua mata berkaca-kaca. Kelihatannya Adro sangat memahami arti lukisan itu dan mampu menyuarakannya dengan sangat indah.

Sebuah tawa kecil keluar dari bibir Adro. “Aku tidak tahu apakah itu cocok. Namun, itulah yang aku lihat dari lukisan ini. Aku harap pelukisnya tidak akan tersinggung dengan pendapatku,”

Grace menggeleng pelan. “Tidak sama sekali. Kau mendeskirpsikannya hampir akurat,”

“Oh, benarkah? Senang mendengarnya. Kau beruntung bisa bertemu dengan pelukisnya dan mendapat penjelasan langsung darinya,”

Ucapan Adro membuat Grace tertawa kecil. Ia menarik napas dalam sebelum menjawab, “Sebenarnya, pelukis itu adalah diriku sendiri. Jadi... aku tidak seberuntung itu,”

Alis terangkat tinggi, Adro menatap Grace tidak percaya hingga keningnya mengkerut. “Kau?”

Grace mengangguk. “Apakah wajahku terlihat tidak meyakinkan untuk bisa melukis?” Tanyanya dengan tawa kecil.

“Tidak. Tentu tidak seperti itu,” Jawab Adro langsung. Kemudian ia menatap lukisan itu lagi dan kembali pada Grace. “Aku hanya... cukup terkejut mengetahui bahwa aku telah berdiskusi tentang sebuah karya seni dengan senimannya langsung,”

“Kau adalah pangeran dan pengamat seni. Kau bahkan berkeliling dunia untuk mencari karya seni. Ini adalah sebuah kehormatan bagiku yang masih seorang pemula. Bagaimana pun, aku masih seorang mahasiswa seni,” Jelas Grace.

Adro menggeleng. “Aku tidak tahu bagaimana dengan di duniamu ini, namun di tempat asalku, seorang seniman sangat dihargai. Mereka yang dapat mengasilkan karya seni dan membuat berbagai hal indah menempati posisi yang hampir setara dengan bangsawan. Tidak mudah bertemu dengan seniman, bahkan di pameran karya seninya sendiri. Kau dapat menghasilkan karya seni seindah ini - Aku yang seharusnya merasa terhormat bisa berbincang langsung denganmu,”

Grace tertawa kecil. “Terima kasih. Tapi aku harap kau tidak akan bersikap canggung padaku hanya karena aku yang membuat lukisan ini. Di dunia ini, cukup banyak seniman berbakat. Aku menjadi salah satu yang mencoba menjadi terkenal,”

“Aku percaya kau bisa melakukannya. Kau sangat berbakat. Kedua tanganmu telah diberkati oleh dewi,” Ucap Adro.

Tertawa kecil, Grace menggeleng. “Maaf, aku rasa itu agak berlebihan. Tapi, sungguh, terima kasih.”

Kemudian Grace memutar kursi rodanya dan melajukannya menuju dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Ia membuka lemari es untuk mengeluarkan sebuah botol besar jus jeruk.

“Jika kau sangat menyukai karya seni, aku bisa membawamu ke pameran seni terkenal jika kakiku sudah sembuh-” Grace menghentikan kalimatnya dan berdehem. “Dan tentunya, jika kau belum kembali ke dunia asalmu,” Ia tersenyum canggung.

‘Ugh! Kenapa kau bodoh sekali, Grace?’ Seru gadis itu di dalam hati.

Grace melupakan bahwa Adro harus kembali ke dunia asalnya. Ia terlalu bersemangat dengan kehadiran Adro yang memiliki selera yang sama dengannya. Seharusnya ia tidak boleh menunjukkan antusias ini di depan Adro. Pria itu mungkin akan berpikir bahwa Grace merasa senang atas dirinya yang terjebak di dunia ini.

“Terima kasih untuk tawaranmu, Grace. Tentu aku akan senang melihatnnya. Namun prioritas utamaku adalah kembali ke dunia asalku,” Ucap Adro.

“Tentu saja. Aku juga akan berpikir seperti itu jika menjadi dirimu,” Jawab Grace terburu-buru sambil meletakkan botol jus dari kulkas ke atas meja konter dapurnya. Lalu ia meraih rak piring di samping tempat cuci piring untuk mengambil dua buah gelas.

Tangan terangkat tinggi, Grace berusaha menggapai gelas tersebut. Kakinya yang tidak terluka ia turunkan dari pijakan kursi roda ke atas lantai sebagai penyangganya. Karena rentangan tangannya ternyata ternyata tidak cukup panjang untuk menggapai gelas tersebut, Grace bangkit dari duduknya.

Namun, begitu Grace berhasil mengambil satu gelas, ia tidak menyangka bahwa gelas tersebut ternyata masih agak basah. Kelihatannya, tadi pagi Sarah menggunakan gelas itu saat masuk ke rumah Grace untuk menyimpan makanan.

Gelas dengan motif siluet pohon cemara itu seketika tergelincir dari genggaman Grace. Karena terkejut, Grace relfek mencoba menangkap gelas keramik tersebut hingga melupakan seperti apa kondisi kakinya sekarang. Hal tersebut membuatnya langsung terhuyung tanpa berhasil menggapai gelasnya.

Grace pikir ia akan menghantam lantai. Namun, ia malah menubruk sesuatu yang besar dan hangat. Kedua matanya mengerjap saat mendapati sebuah tangan besar telah menyelamatkan gelas itu dan... dirinya.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Adro, melingkarkan tangannya di perut Grace.

Segera mengangkat wajahnya, Grace tertegun mendapati wajah Adro sangat dekat dengan miliknya. Ia kembali mengerjap hanya untuk menyadari bahwa dirinya tengah menumpukan seluruh bobot tubuhnya pada pria itu.

“Ma-maafkan aku,” Ucap Grace langsung, berusaha keluar dari pelukan Adro.

“Hati-hati,” Adro tidak melepaskan tangannya dari tubuh Grace. Kaki gadis itu masih terluka dan ia tahu gadis itu tidak bisa berdiri dengan benar. “Biarkan aku membantumu,”

Grace memejamkan matanya seraya menggeleng singkat untuk menata pikirannya. Itu benar. Ia tidak bisa berdiri dengan benar sekarang. Ia membutuhkan bantuan untuk duduk di kursi rodanya setelah hampir terjatuh. Menerima bantuan dari pria tampan yang tengah memeluknya ini bukanlah mencari kesempatan. Ia memang membutuhkannya!




Komentar