Langsung ke konten utama

24. Jalan Kembali // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Eum... Apakah ada yang salah?” Tanya Grace pelan.

“Ini hanya...” Adro bergumam dengan mata tetap memandang senter itu. “Aku baru teringat bahwa itu adalah hal yang tidak pantas bagi keluarga kerajaan meletakkan kepalanya di atas lantai,”

Awalnya, kening Grace menampakkan raut bingung. Namun ia segera tersadar dan menarik senternya kembali seraya mematikannya. “Oh! Aku sungguh minta maaf. Aku lupa bahwa kau adalah pangeran. Selain itu, aku pun tidak mengetahui bagaimana peraturan di kerajaan,”

“Kalau begitu, aku akan mencarinya sendiri ketika kakiku sudah sembuh. Lagipula itu bukan barang yang penting,” Lanjutnya terburu-buru seraya menyimpan senternya kembali ke dalam laci.

“Maaf aku tidak bisa membantumu dengan ini,” Ucap Adro dengan wajah agak tertunduk.

Grace cepat menggeleng. “Kau bicara apa? Kau adalah pangeran di negrimu. Tentu saja aku mengerti hal itu,”

Adro tersenyum tipis. “Trimakasih sudah bersedia mengerti,”

Kesunyian selama beberapa detik menyelumbungi mereka berdua. Keduanya hanya berdiri dengan saling menatap dalam diam dan kecanggungan.

“Eum... Kau berkata bahwa kau tidak bisa tidur tadi, benar?” Tanya Grace setelah berdehem untuk menghancurkan suasana canggung itu.

“Itu benar,” Jawab Adro.

Grace tersenyum kaku. “Jika boleh bertanya, apa yang menyebabkanmu tidak bisa tidur?”

“Banyak hal memenuhi pikiranku. Sebagian besarnya adalah bagaimana caraku kembali, dan sebagian kecilnya adalah aku yang masih berusaha meyakinkan diriku bahwa ini bukanlah mimpi.” Adro tertawa kecil dengan maksud menertawai kekonyolan ini.

“Ini pasti sangat sulit bagimu. Aku turut menyesal atas apa yang kau alami,” Ucap Grace.

Senyum Adro berubah menjadi hangat. Kemudian ia berkata, “Grace Menken, kau adalah wanita yang sangat baik,”

Grace menggeleng. “Ini sungguh bukan apa-apa, percayalah.” Ia tertawa kecil. Kemudian wajahnya berubah cerah. “Jika kau tidak bisa tidur, apakah kau mau menonton film?”

“Film?” Ulang Adro dengan kening mengkerut. Ia langsung teringat pada anak kecil yang saat itu ia temui di rumah sakit.

“Kemari. Akan aku tunjukkan padamu,” Ucap Grace seraya melangkah menuju sofa. Kemudian ia meraih remot dari atas meja dan menyalakan televisi.

“Oh. Seingatku kau telah menunjukkan cara kerja benda itu tadi siang?” Tanya Adro.

Grace mengangguk membenarkan. “Hanya cara kerjanya saja. Aku menunjukkannya tidak sampai lima menit padamu; dan itu bukanlah film,”

“Lalu apa?”

Grace nampak berpikir sejenak sebelum meringis canggung. “Maaf, tapi sebenarnya aku tidak terlalu ingat apa yang aku tunjukkan padamu. Mungkin itu adalah iklan atau yang lain? Aku tidak yakin…” Ia berakhir bergumam kepada dirinya sendiri.

Menatap Grace dalam diam, Adri hanya bisa senyum heran. Ia menyadari gadis itu memiliki kebiasaan bicara pada dirinya sendiri.

Setelah Grace sibuk mengatur TV di hadapan mereka, akhirnya sebuah pembuka film tampil dan diiringi musik yang khas dengan film kolosal kerajaan fantasi.

Kening Adro mengkerut saat ia menyaksikan gambaran lembah-lembah hijau dengan sekelompok kuda liar berlari di atasnya.

“Ini adalah film fantasi tentang perang antar kerajaan,” Jelas Grace.

Adro menoleh padanya. “Kenapa kau menunjukkan ini padaku?”

Wajah Grace seketika berubah pucat. Dengan raut panik, ia menatap Adro balik dan bertanya, “A-apa kau tidak suka? Aku akan segera menggantinya,”

“Tidak. Bukan begitu,” Sahut Adro cepat. “Aku sempat berpikir apakah ini adalah salah satu cara untuk membawaku kembali,”

“O-oh...” Ekspresi menyesal seketika menghiasi wajah Grace. “Aku sungguh minta maaf. Namun aku menunjukkan ini hanya untuk memberikan film yang mungkin terasa familiar bagimu. Sejujurnya, di sisi lain, aku juga cukup penasaran apakah duniamu benar-benar sama seperti di film-film,”

Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Adro. Ia mengangguk. “Aku mengerti. Kau tidak perlu minta maaf. Baiklah, mari kita lihat apa yang ditampilkan oleh ‘film’ itu,”

Layar televisi mulai memutar sebuah film petualangan fantasi di mana terdapat banyak kerajaan dan makhluk-makhluk mitologi seperti Ogre, peri, kurcaci, dan naga.

Itu adalah film layar lebar yang sangat menarik dan telah memenangkan banyak penghargaan perfilman bergengsi. Efeknya juga terlihat sangat nyata dan setiap pemain memerankan peran mereka dengan epik.

“Kau yakin apa yang diputar di TV itu adalah bohongan? Maksudku, itu sungguh tidak terjadi?” Tanya Adro dengan wajah tegang.

Grace tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akan menunjukkan beberapa video pembuatan film ini setelah kita selesai,”

“Tapi itu terlihat sangat nyata. Bagaimana mungkin kalian bisa membuat naga tiruan yang terbang di langit dan menyemburkan api seperti itu?” Tanya Adro, mulai berpikir bahwa sesungguhnya dunia mereka sama.

“Itu adalah efek komputer. Ini agak sulit dijelaskan. Namun beberapa orang di dunia ini memiliki keahlian mengoperasikan komputer untuk membuat gambar-gambar yang bergerak bersamaan dengan manusia yang direkam kamera,” Jelas Grace.

“Itu luar biasa.” Adro kembali tertegun menatap TV. “Aku merasa seperti seorang dewa yang tengah menyaksikan para manusia bertarung di bawah kakiku,”

Grace tertawa kecil. “Jadi, apakah kerajaanmu nampak seperti kerajaan-kerajaan di film ini?”

“Beberapa kerajaan yang pernah aku datangi terlihat mirip dengan mereka. Namun kerajaanku lebih indah dibandingan yang ada di film itu,” Jawab Adro dengan dagu terangkat.

“Apakah naga di tempatmu terlihat seseram di film ini?” Tanya Grace.

Adro mengangguk. “Mereka memiliki beberapa warna dan bentuk kepala. Namun bentuk keseluruhannya cukup mirip dengan di film ini. Hanya saja, di duniaku ada naga yang hidup di dalam air dan yang tidak menyemburkan api,”

“Wah… Lalu, apakah mereka sering menyerang manusia?”

Adro menggeleng. “Naga hanya akan menyerang pemukiman manusia jika ia tidak memiliki cukup makanan. Ia juga akan menyerang jika diusik. Legenda mengatakan ada beberapa orang dengan ilmu sihir yang mampu mengendalikan naga dan monster-monster. Kerajaan jahat jaman dulu memanfaatkan leluhur penyihir untuk membuat naga menjaga kastil harta mereka. Setelah perang besar dan semua kerajaan serakah itu runtuh, hanya tersisa para naga yang menjaga kastil peninggalan mereka. Aku dan sekutuku beberapa kali melawan naga untuk mengambil harta-harta itu,”

“Kau sangat hebat sehingga berhasil mengalahkan naga-naga berbahaya itu,” Puji Grace dengan mata berbinar-binar.

Adro tersenyum tipis. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya dan sekutu yang ia pimpin memang hebat. Tidak banyak pemburu harta karun dapat pulang dalam keadaan hidup. Bahkan kebanyakan, mereka akan terpanggang di dalam kastil harta karun.

“Kami hanya mengalahkan naga-naga berukuran kecil. Kabarnya, masih banyak naga lebih besar dan mematikan dari yang pernah aku hadapi. Para penyihir bahkan tidak mampu mengandalikan naga-naga itu,” Jelas Adro.

Tiba-tiba Grace tertawa kecil hingga membuat Adro menatapnya dengan tanya. “Mendengar ceritamu terasa seperti mendengarkan ayahku ketika ia membacakanku buku dongeng saat kecil,”

Masih dengan senyum tipis, Adro menjawab, “Benarkah begitu?”

“Saat itu, aku berpikir bahwa negri dongeng sungguhan ada di suatu tempat. Aku bermimpi untuk datang ke sana karena tempat itu digambarkan dengan sangat indah,” Kedua iris coklat Grace nampak tidak fokus karena ia sedang membayangkan masa kecilnya yang penuh kebahagian namun hanya sempat ia rasakan sebentar saja.

“Namun kenyataannya, tempat itu sungguh nyata, ‘kan? Jika itu tidak nyata, kau tidak mungkin bertemu denganku,” Sahut Adro. “Aku harap aku bisa menunjukkan duniaku kepadamu, seperti kau menunjukkan duniamu kepadaku,”

“Aku harap aku bisa melakukannya. Namun karena kau berkata pintu sihir itu hanya bisa digunakan satu kali, sebaiknya itu hanya digunakan untuk kepulanganmu. Aku mungkin hanya akan mengintip saat mengantarmu,” Ucap Grace dengan tawa kecil. Namun entah mengapa, ia merasakan sensasi menusuk di dalam dadanya.

Senyum Adro berubah sendu. “Itu sungguh disayangkan,”

***

Mobil taxi kuning berhenti di depan sebuah mansion terbengkalai. Seorang pria tinggi berambut coklat keluar dari pintu penumpang dengan sepasang tongkat jalan di tangannya.

Ia melebarkan pintu mobil itu, dan membungkukkan punggungnya dengan tangan menjulur ke depan. Sebuah tangan kecil menempatkan dirinya di atas telapak tangan yang terbuka di udara itu.

“Berhati-hatilah,” Ucap supir Taxi setelah membantu menutup pintu penumpang.

Grace mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih,”

Setelah itu, taxi tersebut melaju pergi dan menghilang di persimpangan jalan yang nyaris kosong.

“Kau yakin ini tidak apa?” Adro menoleh pada Grace sebelum menatapnya dari kaki hingga kepala.

Grace menggeleng ringan. “Aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,”

“Aku akan memperhatikanmu. Katakanlah jika kau merasa lelah,” Ucap Adro seraya menjulurkan tangannya ke samping sebagai instruksi agar Grace mulai berjalan.

Rasanya sangat aneh saat harus kembali mendatangi sebuah tempat yang membuat hidupmu berubah. Prasaan itu menari di dalam dada Adro dan Grace, namun keduanya tidak menyuarakan itu.

Medan menuju pintu mansion itu agak menanjak. Langkah mereka sangat lambat karena kaki Grace yang masih picang. Namun, ia terus menolak ketika Adro menawarkannya bantuan. Di dalam pikirannya, ia harus mencoba mandiri. Siapa yang tahu jika mereka menemukan pintu kembali untuk Adro hari ini? Dengan begitu, Grace harus kembali sendirian dan ia harus sudah siap untuk itu.




Komentar