Langsung ke konten utama

26. Ditinggalkan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Karena pencarian mereka sama sekali tidak membuahkan hasil, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah Grace.

Di dalam perjalanan, Grace menyadari bahwa Adro terus diam menatap jendela. Pria itu pasti merasa sangat kecewa dan gundah. Mansion itu adalah satu-satunya tempat yang bisa mereka andalkan untuk menemukan jalan pulang Adro karena dari sana’lah pria itu muncul. 

Dengan tidak adanya petunjuk apa pun di mansion itu menandakan bahwa kemungkinan Adro bisa kembali sangatlah kecil atau bahkan mustahil.

“Maaf jika pencarian hari ini tidak memiliki hasil,” Ucap Grace pelan.

Adro menoleh pada gadis itu. Ia menyadari mungkin wajahnya sekarang terlihat cemberut meski ia tidak bermaksud begitu. Ia segera mengukir senyum. “Kau tidak perlu minta maaf. Ini semua bukan salahmu. Akulah yang seharusnya berterimakasih padamu karena sudah membantuku meski kondisi kakimu sedang cedera,”

“Sejak orangtua hingga akhirnya nenekku juga meninggal, aku sering merasa ketakutan,” Ucap Grace tiba-tiba. “Itu adalah perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan. Aku merasa sendirian di dunia ini meski aku memiliki Sarah dan Bella sebagai temanku. Dan meski aku sudah dewasa dan sangat wajar jika aku hidup sendiri, itu terasa berbeda ketika aku mengetahui bahwa aku tidak lagi memiliki keluarga di dunia ini. Ketika aku merasa kesepian, tidak ada lagi tempat untukku mencari kehangatan. Bahkan seorang pengembara pun memiliki rumah untuk pulang, ‘kan? Bagiku, rumah tidak selalu berbentuk sebuah bangunan beratap, melainkan seseorang yang aku sayangi,”

Adro terdiam dengan tatapan kosong ke bawah. Kemudian ia menoleh pada Grace. “Aku menyesal kau harus merasakan hal itu. Dan kau benar, bahkan seorang pengembara memiliki tempat atau seseorang untuk kembali. Sangat disayangkan aku baru menyadarinya,”

“Kau tidak menyadarinya?” Kedua alis Grace terangkat.

“Dapat aku katakan bahwa selama ini aku kurang menghargai rumahku, atau yang dapat aku sebut sebagai keluargaku – ayah, ibu, saudara laki-lakiku, dan lainnya. Aku tahu mereka adalah keluargaku, namun aku tidak melihat mereka dengan pandangan sedalam dirimu kepada keluargamu. Aku mengembara dan pergi berperang tanpa pernah memikirkan mereka. Namun di dasar hatiku, rasanya aku menyadari bahwa ada rumah sesungguhnya di mana aku dapat beristirahat dengan tenang,” Jelas Adro.

“Nenekku berkata bahwa kau baru akan menyadari betapa pentingnya suatu hal ketika kau kehilangan itu,” Gumam Grace.

Adro menatap gadis itu lagi. “Aku rasa kau benar.” Gumamnya. “Dan kini aku mulai merasakannya,”

Grace menarik napas dalam hingga kedua pundaknya terangkat. Lalu ia menatap Adro penuh semangat. “Karena itu, Adro. Aku akan terus membantumu kembali sehingga kau bisa bertemu dengan keluargamu lagi. Aku tidak bisa menjanjikan akan berhasil, namun aku berjanji akan melakukan yang terbaik yang aku bisa,”

***

“Apa kau yakin meninggalkan pria itu di rumahmu sendirian?”

Grace menoleh pada Sarah yang sedang menyetir. Sejak tadi, ia hanya diam. Bukan karena ia tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada sang sahabat, namun ia memiliki terlalu banyak kalimat di otak yang berujung tersangkut di tenggorokannya. Ia ingin bertanya pada Sarah mengenai kertas pesan terakhirnya, namun bingung bagaimana memulainya.

Namun, hingga saat ini, Sarah tidak kunjung memberikan tanda-tanda bahwa ia mengetahui sesuatu tentang surat itu. Ia malah kembali membahas tentang Adro.

“Aku… cukup yakin ia tidak akan menghancurkan rumahku. Aku sudah mengajarkannya cara menggunakan oven, pancuran, dan lainnya,” Jawab Grace.

Sarah mendecakkan lidahnya. “Bukan itu maksudku, Konyol. Maaf jika aku seakan menguliahimu, namun kita telah berteman sejak kecil dan aku bertemu denganmu hampir enam hari dalam seminggu selama empat belas tahun. Satu kali pun aku tidak pernah melihat kau memiliki kerabat yang datang ke rumahmu atau berita tentang itu. Apakah aku salah jika menyebut pria aneh itu sebagai orang asing?”

Grace terdiam selama beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Kau... tentu tidak salah, Sarah. Namun, aku cukup percaya kepadanya,”

Sarah menghela panjang. “Menurutku, cukup percaya adalah hal yang riskan untuk membiarkan seorang pria asing menetap di rumahmu, bahkan meninggalkannya di sana sendirian,”

“Aku tidak mungkin mengusirnya, Sarah. Ia tidak memiliki uang, apalagi tempat tinggal. Ia adalah... kerabatku…” Suara Grace mengecil di akhir kalimatnya.

“Kerabat dari dunia lain yang hanya muncul ketika ia membutuhkanmu,” Imbuh Sarah dingin.

Grace hampir tersedak udara yang sedang ia hirup saat mendengar kalimat Sarah. Dunia lain? Ya, Sarah memang sangat kreatif dengan kalimat-kalimat sarkasnya. Namun ini adalah pertama kalinya Grace dibuat berdebar olehnya.

Meski Sarah tidak mungkin mengetahui dari mana asal usul Adro, perassaan khawatir tidak bisa lepas dari pikiran Grace.

“Kau bukan orang kaya, Grace. Kau hidup menggunakan asuransi dan tabungan kedua orangtuamu. Satu perut seorang pria sebesar itu akan sangat memberatkanmu cepat atau lambat. Sebaiknya kau tidak membiarkan pria itu terlalu lama menetap seenaknya di rumahmu. Jika ia tidak memiliki tempat tinggal, setidaknya ia bisa mencari makan untuk perutnya sendiri,” Lanjut Sarah.

Grace menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. “Aku tahu, Sarah.”

Lagi-lagi, Sarah mendecakkan lidahnya. Kini wajahnya berubah khawatir. Ya, ia memang selalu terlihat khawatir kepada sahabatnya yang satu ini. Namun, rasa kekhawatiran itu menggandakan diri berkali lipat sekarang.

“Grace, aku akan pindah,” Ucap Sarah tiba-tiba.

“Apa?” Grace kembali menoleh pada Sarah. “Pindah? Universitas atau rumah?”

“Keduanya, Grace. Keduanya. Aku akan pindah ke luar negri.” Jawab Sarah. Nada sedih tidak dapat ditutupi dari suaranya.

Kening Grace mengkerut. “A-apa kau serius?”

“Apakah kau pernah melihatku bercanda?” Tanya Sarah seraya menghela lagi.

“Terdapat kasus di perusahaan cabang terbesar ayahku. Salah satu direksi melakukan korupsi karena kurangnya pengawasan. Ayah memintaku untuk menetap di sana. Aku juga akan langsung bekerja di sana setelah lulus kuliah,” Lanjut gadis bermata tajam itu.

Grace mengembalikan pandangannya ke depan dengan tatapan nanar. Itu adalah kabar yang sangat mengejutkan. Jika Sarah pergi, siapa yang akan menemaninya? Sedangkan Bella sudah sangat sibuk bersama pacarnya.

“Kapan kau akan pergi, Sarah?” Tanya Grace pelan.

“Mungkin satu atau dua minggu lagi,”

“Secepat itu?” Kedua mata Grace membesar.

“Ayahku sudah mempersiapkan universitas pengganti dan tempat tinggal. Kau tahu itu tidak sama sekali sulit baginya. Ini memang mendadak karena masalahnya cukup serius dan terlalu rumit untuk aku jelaskan padamu,” Jelas Sarah.

Grace mengerti bahwa ia hampir buta pada bisnis. Sejak kecil hal yang Grace sukai hanyalah seni, sehingga ia sangat berfokus pada hal itu. Ia paham bahwa bisnis adalah sesuatu yang kompleks dan menguras otak bagi mereka yang tidak tertarik.

“Maafkan aku harus pergi mendadak dan meninggalkanmu sendirian, Grace,” Ucap Sarah pelan.

Grace segera menggeleng. “Itu tidak perlu, Sarah. Kau adalah temanku, bukan orangtuaku. Bakan usiaku sudah terlalu tua untuk diawasi oleh siapapun. Sudah seharusnya aku menjadi wanita mandiri. Aku mohon jangan merasa terbebani olehku, Sarah,”

“Kau sudah seperti adikku sendiri, Grace. Namun kau benar. Kita adalah orang dewasa dan pada akhirnya akan memilih jalan kita masing-masing dalam hidup ini,” Sahut Sarah pelan.

Lalu ia menarik napas panjang dan melanjutkan, “Dengan kepergianku, aku harap kau akan baik-baik saja. Aku berbicara soal kondisimu di kampus. Jangan mendengarkan kata-kata mereka dan jauhilah masalah. Jika kau memang tidak bisa berbaur dengan yang lain, jangan buat itu sebagai penghalang bagimu untuk mencapai tujuanmu. Ah… Dan tentang pria di rumahmu itu - Kau harus lebih teliti dan berhati-hati. Jangan diam saja jika kau merasa tidak nyaman atau terberatkan olehnya. Kau mengerti maksudku, ‘kan?”

Grace menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. “Aku mengerti. Trimakasih sudah mengkhawatirkanku, Sarah,” Ia tersenyum miris. “Selama ini kau seperti seorang kakak yang melindungi dan mengurusku. Tanpamu, aku tidak tahu akan menjadi apa,”

“Kau tetap akan menjadi seorang Grace Menken dengan atau tanpa diriku. Pada akhirnya, kau bisa melewati semua ini karena itulah hidup - Waktu terus berjalan dan hari terus berganti. Salahku yang terlalu mencampuri hidupmu selama ini dan aku minta maaf soal itu. Namun, sejatinya kau bisa melakukan segalanya dengan kekuatanmu sendiri. Percayalah pada dirimu, Grace,” Ucap Sarah sebelum memberi senyum lembut pada sahabatnya.

Grace membalas senyuman Sarah dengan haru. “Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu, Sarah. Kau tidak perlu meminta maaf karena bagaimanapun, kau berperan sangat besar untuk hidupku,”

Mobil merah itu berhenti di lahan parkir. Kedua gadis yang menumpangnya berjalan menuju gedung universitas yang sudah mulai ramai.

“Kapan kau akan melakukan pemeriksaan lagi ke rumah sakit?” Tanya Sarah dalam langkah lambatnya yang menyesuaikan langkah satu kaki dan dua tongkat Grace.

“Hari minggu ini. Aku akan menumpang taxi jadi kau tidak perlu khawatir,” Jelas Grace secara berlebih karena ia sudah mengenal Sarah terlalu baik.

Sarah mengangguk-angguk. “Maaf aku tidak bisa mengantarmu, oke? Aku harus mengurus banyak hal,”

“Tentu tidak apa, Sarah. Aku sudah dewasa,” Grace tertawa kecil.

Kemudian Grace teringat akan sesuatu yang telah mengganggu pikirannya sejak kemarin. Ia berdehem dan mulai berbicara sesantai mungkin, “Eum, Sarah. Apakah kau... sempat menemukan kertas di kulkasku saat masuk ke rumahku hari itu?”




Komentar