"Kertas? Bukankah pintu kulkasmu memang selalu penuh dengan kertas? Bisakah kau lebih spesifik?" Tanya Sarah.
Grace terdiam beberapa detik. Dari cara Sarah menjawab, ia jelas tidak mengetahui kertas yang Grace maksud. Apakah ia sungguh tidak menemukannya?
"Jadi kau tidak menemukan kertas apa pun?" Tanya Grace lagi.
Sarah menatap Grace dengan wajah lelah. "Aku bertanya: kertas seperti apa yang kau maksud, Grace? Jika itu hanya kertas, aku melihatnya sangat banyak di pintu kulkasmu dan tentu saja aku tidak akan memperhatikan semua omong kosong yang tidak aku mengerti itu,"
Jawaban Sarah adalah materai yang memvalidasi Grace bahwa gadis itu sungguh tidak menemukan catatan bunuh dirinya. Sarah bukanlah orang yang suka menutupi sesuatu. Ia akan langsung berbicara jika ia merasa ada yang salah. Grace yang kala itu hendak bunuh diri tidak mungkin meninggalkan Sarah setenang sekarang. Ia akan langsung menyerbu Grace dengan berbagai pertanyaan dan cermah jika mengetahuinya.
"Ah, aku rasa kau tidak menemukan kertas yang aku maksud. Itu... adalah daftar tugas yang harus aku kerjakan terlebih dahulu," Bohong Grace.
"Menempelkan daftar tugas di pintu kulkas? Kau memang aneh," Ucap Sarah.
Setelah masuk ke dalam gedung, kedua gadis itu berpisah di lobby kampus karena kelas mereka berbeda. Grace melangkah menghampiri lift untuk naik ke lantai lima di mana kelasnya berada.
Kakinya yang diperban hingga ia harus menggunakan tongkat berjalan membuat banyak mata menatapnya. Biasanya, Grace akan merasa tidak nyaman dengan hal itu. Namun sekarang, ia tidak menganggap pandangan itu sebagai hal negatif. Siapa juga yang tidak akan melirik satu orang pincang yang berjalan di antara kerumunan orang yang berjalan dengan normal?
Grace bukannya malu karena sekarang ia menggunakan tongkat - Siapa pun bisa mengalami kecelakaan. Namun yang membuat hatinya miris adalah dari tatapan mata sebanyak itu, tidak ada satu bibir pun yang menanyakan kabarnya. Itu karena ia tidak memiliki teman.
Pintu lift yang terbuka membuat Grace tergerak, bersiap untuk melangkah masuk. Namun, tubuhnya mematung saat ia mendapati Victor berada di dalam sana. Yang lebih parah, Victor sedang merangkul seorang gadis sexy berambut blonde. Ia juga bersama dua teman prianya di dalam sana. Seperti biasa, anak-anak keren kampus itu pasti naik dari basement, tempat mereka memarkir kendaraan mereka.
"Oh! Menken," Ucap salah satu teman Victor yang terbalut jaket jeans.
Grace diam menatap keempat orang yang mendominasi isi lift itu. Ia meneguk liur untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Lidahnya menjadi kelu dan satu-satunya kaki yang menopang tubuhnya seketika lemas.
Kedua mata coklat hazel itu bergerak menatap tangan Victor yang tengah merangkul pundak gadis populer yang sepertinya adalah kekasih barunya.
Grace tidak mengingat pria itu pernah merangkulnya. Ah... bahkan bergandengan tangan saja mereka tidak pernah. Tangan itu hanya pernah menepuk pelan kepala Grace ketika ia menerima dan menyerahkan tugas kuliah Victor, bagai seekor anjing yang dielus majikannya karena menjadi anjing baik.
"Hei, bukankah kau ingin naik?" Tanya teman Victor. "Aku menahan pintu ini untukmu, kau lihat?"
Tatapan mata keempat orang itu menusuk jantung Grace hingga berdarah. Ia merasa nyalinya menciut hingga hilang tak bersisa. Tanpa ia rencanakan, pundaknya mulai menekuk dan wajahnya mulai menunduk.
"Kau ingin naik atau tidak? Kau terlihat seperti menghindari sesuatu di dalam lift ini. Jangan buang-buang waktu kami!" Ucap si gadis pirang yang Grace ketahui bernama Kenzie.
Grace sedikit terlonjak terkejut lalu mengangguk. "A-aku akan naik,"
"Apa yang terjadi pada kakimu?" Tanya salah satu teman Victor begitu pintu lift tertutup.
"Aku... terjatuh," Jawab Grace tanpa mengangkat wajahnya. Ia ingin berbicara dengan menatap mata lawan bicaranya, namun ia tidak sanggup. Rasanya seluruh tulang pada lehernya telah berkarat hingga ia terus menunduk.
"Oh. Jadi itu karena kakinya terluka, Victor. Kau terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa ia tidak masuk kuliah berhari-hari karena kau memutus hubungan kalian," Ucap teman Victor yang terbalut jaket jeans. Ia terkekeh di akhir kalimatnya.
Kalimat pria itu membuat hati Grace hancur dan harga dirinya menguap lenyap. Ia tidak percaya mereka akan membicarakan hal itu terang-terangan di depannya tanpa rasa bersalah, seakan ia adalah hantu yang tidak dapat mereka lihat.
"Diamlah, sialan. Aku hanya bicara asal saat itu!" Sahut Victor.
"Vic, kau sungguh berkata begitu?" Tanya Kenzie dengan nada manja. "Sebodoh-bodohnya seorang gadis, mana mungkin ia sampai tidak hadir kuliah selama berhari-hari hanya karena seorang pria memutuskannya? Kau pasti bercanda..."
"Tentu aku hanya bercanda. Aku bahkan tidak berpikir sama sekali saat mengatakannya karena kedua bedebah itu terus menanyakan soal Grace yang tidak kunjung hadir kuliah," Jawab Victor cepat. Lalu satu alisnya terangkat dengan kedua mata menatap kedua teman prianya secara bergantian. "Kelihatannya mereka tertarik pada gadis itu sehingga menanyainya terus?"
"Sialan! Mana mungkin!" Umpat si jaket jeans.
Lalu temannya yang satu lagi tertawa meremehkan. "Maaf. Aku masih memiliki banyak waktu dan tenaga untuk mengerjakan tugas kuliahku sendiri,"
Kalimat terakhir itu memancing semua orang di dalam lift untuk tertawa terbahak, kecuali Grace yang hanya berdiri kaku dengan nyeri di seluruh tulang dan di hatinya. Tega sekali mereka mengatakan itu. Padahal, Grace pernah beberapa kali membantu mengerjakan tugas kedua teman Victor. Bagaimana mungkin sekarang mereka memiliki hati untuk mengatakan hal sejahat itu?
Perjalanan dari lantai satu menuju lantai lima terasa seperti selamanya bagi Grace. Ia sempat berpikir bahwa lift itu rusak sehingga tidak membawanya kemana pun. Ia terjebak di dalam lingkaran orang-orang yang mencemooh dan menertawakannya. Semakin lama, ia merasa semakin kecil dan mengekecil.
Ketika pintu lift akhirnya terbuka, Grace langsung melangkah keluar dengan kedua mata panas menahan tangis.
"Hei! Itu bukan lantai lima, bodoh!" Seru seseorang dari dalam lift. Namun Grace mengabaikannya dan terus melangkah menjauh dari neraka itu.
Ini memalukan. Sungguh memalukan. Ketika tersadar, Grace mendapati dirinya berada di lantai empat. Saat di dalam lift, ia terus menunduk dan keempat orang yang menyudutkannya itu membuatnya ingin segera keluar hingga ia tidak sadar turun di lantai yang salah. Grace tidak terpikirkan bahwa pintu lift mungkin akan terbuka di lantai lainnya.
Wajah Grace benar-benar sudah hancur. Ia yakin setelah ini, akan beredar kabar kebodohannya dan ia akan menjadi lelucon sampai lulus.
Grace Menken salah turun dari lift karena tidak tahan berada satu lift dengan mantan pacarnya. Grace Menken turun di lantai yang salah karena diejek oleh mantan pacarnya. Itu adalah judul-judul berita lelucon yang sudah Grace tuliskan di pikirannya yang kreatif.
Karena turun di lantai yang salah dan tidak bisa menaiki tangga, Grace harus menunggu satu-satunya lift di area itu untuk mencapai lantai lima.
Sejak awal, Grace memang sampai di kampus agak terlambat karena Sarah sedikit terlambat menjemputnya, ditambah dirinya yang berjalan terlalu lambat dengan kaki pincang. Karena itu, Grace berakhir terlambat lima menit untuk masuk ke dalam kelasnya.
Ketika Grace membuka pintu, sorang professor pria langsung menoleh padanya.
"Ma-maaf aku terlambat, pak," Ucap Grace.
Pria itu menatap Grace beberapa detik dan pandangannya turun ke kaki gadis itu. Kemudian ia menghela singkat, dan mengangguk sekali. "Aku wajarkan untuk kali ini. Silahkan duduk, Nona Menken,"
Grace tersenyum tipis. "Trimakasih, Pak Smith,"
Namun, Grace belum bisa bernapas lega. Ia harus melangkah menuju kursi kosong yang berada di baris belakang dengan semua mata orang di kelas yang menatapnya. Beberapa nampak tersenyum tipis dan bahkan sedikit terdengar kekehan kecil.
Dengan bibir mengatup rapat, Grace duduk di kursinya. Ia menghela panjang seakan berharap nyawanya ikut keluar bersama hembusan napas itu. Hari ini akan menjadi hari yang sangat berat baginya. Dan ia tidak yakin bagaimana ia harus menghadapi hari-hari esok.
Fakta bahwa Sarah akan pergi tidak lama lagi semakin membuat nyali Grace menciut. Ia ingin menjadi berani dan mandiri - maksudnya, mandiri yang sesungguhnya. Menurut Grace, dapat hidup seorang diri tidak selalu memiliki arti bahwa ia adalah gadis mandiri. Sejatinya, ia hidup sendirian karena dipaksa oleh keadaan, bukan karena ia mampu.
Sebenarnya siapa yang Grace bohongi selama ini? Ia berpura-pura percaya diri dengan mengatakan bahwa ia adalah wanita mandiri meski ia merasa ingin lari dari kenyataan. Ia merasa lemah meski sudah berusaha menjadi kuat. Kenyataannya adalah ia tidak sanggup.
Sarah adalah satu-satunya sahabat yang memiliki kepedulian yang besar kepada Grace. Sejak memiliki kekasih, Bella hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Semakin lama, ia terasa seperti orang lain.
Grace tahu ia tidak boleh terus mengharapkan teman-temannya. Kenyataannya sudah jelas: Pada akhirnya, semua orang memiliki hidup masing-masing dan mereka harus menjalaninya dengan kekuatan sendiri.
Namun Grace tidak menyangka ia harus mengalaminya secepat ini, di saat keadaan semakin berantakan. Bagaimana cara ia dapat bertahan? Apakah ia bisa bertahan? Bagaimana cara menghilangkan rasa takut ini?
.png)
Komentar
Posting Komentar