Langsung ke konten utama

28. Bukan Anak Kecil // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Sarah berkata bahwa kau sedang tinggal bersama kerabatmu sekarang. Apa itu benar?”

Mengangguk, Grace tersenyum tipis. “Dan ia tidak terlihat terlalu senang dengan itu,”

“Dia terdengar begitu saat menceritakannya padaku,” Bella tertawa kecil. “Namun bukankah keberadaan kerabatmu seharusnya jadi sedikit membantu dengan kondisimu yang sekarang?”

“Itu benar. Ia membantuku sangat banyak di rumah,” Jawab Grace.

“Oh, itu bagus. Tapi... Kau tahu... aku harap kau tidak terlalu baik padanya, seperti dirimu yang biasanya. Haha...”

Ucapan Bella membuat Grace terdiam.

Lalu Bella berdehem dan melanjutkan, “Aku tidak bermaksud menyinggung atau mendiktemu, Grace. Maaf jika kau merasa tersinggung dengan perkataanku. Tapi kita semua tahu bahwa kau terkadang… yah... terlalu baik kepada orang-orang sehingga tanpa kau sadari, kau berakhir dimanfaatkan oleh orang-orang egois tidak tahu malu. Aku sejujurnya merasa cukup khawatir dengan itu. Mungkin aku terpengaruh oleh Sarah? Well… aku tidak yakin,”

“Mungkin Bella sedikit terpengaruh oleh Sarah. Namun sebagai orang luar, aku juga akan menyarankanmu untuk lebih berhati-hati,” Sambung Raymond, kekasih Bella yang sedang menyetir.

Grace tersenyum tipis. “Aku mengerti. Tentu aku tidak akan merasa tersinggung. Aku tahu kalian semua mengkhawatirkanku. Trimakasih, teman-teman,”

Mobil biru itu berhenti di depan sebuah bangunan apartment. Bella dan Raymond membantu Grace turun dari mobil. Setelah itu, Grace melangkah ke dalam bangunan apartmentnya seorang diri.

Di depan pintu rumahnya, Grace berdiri diam. Wajahnya tertunduk. Lalu ia menarik dan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Biasanya ia tidak pernah ragu untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri karena ia tahu tidak ada ada siapa pun di dalam. Ia akan melihat isi rumahnya berada dalam kondisi yang sama dengan yang terakhir ia tinggalkan. Namun sekarang ada seseorang di dalam. Rumahnya mungkin berada dalam keadaan berbeda.

Ini terasa sangat canggung, dan Grace malah mengetuk pintu rumahnya sendiri sebelum benar-benar membukanya dan melangkah masuk ke dalam.

“Selamat datang kembali,” Sebuah sapaan membuat Grace sedikit terkejut, meski ia sudah memperkirakannya.

“Oh, hai,” Balas Grace kaku seraya menutup pintu.

“Apa semua baik-baik saja?” Tanya Grace seraya memperhatikan sekeliling rumahnya. Ia menghela lega karena tidak melihat adanya tanda-tanda kekacauan.

“Tidak ada masalah. Terima kasih padamu yang sudah menunjukkan cara menggunakan berbagai peralatan di rumah ini,” Jawab Adro.

Grace tersenyum dan mengangguk. “Itu bagus.” Ia melangkah menuju sofa dan duduk di sana – hembusan napas berat tanpa dikehendaki mengalir keluar dari bibirnya.

“Apa… kau baik-baik saja?” Tanya Adro dengan senyum tipis canggung.

“Aku? Ya. Aku baik-baik saja,” Jawab Grace cepat.

Meski keningnya mengkerut, Adro memutuskan untuk mengangguk. Ia tidak tahu ini hanya perasaannya saja atau Grace memang terlihat sedih. Gadis itu seakan sedang menghadapi masalah besar - Ia harap, masalah itu bukanlah dirinya.

Grace menarik napas panjang, dan menatap Adro yang masih berdiri memperhatikannya. “Apa kau sudah makan siang?”

Tersadar dari lamunannya, Adro mengangguk. “Aku juga sudah mencuci piringnya,”

“Sungguh? Terima kasih; mengingat kau adalah pangeran,” Grace tertawa kecil.

“Karena aku adalah pangeran, maka aku harus memiliki martabat. Aku tidak mungkin bersikap layaknya raja di rumah orang yang menolongku. Kau bahkan bukan rakyatku,”

“Kau sangat baik,” Sahut Grace. Kemudian ia menoleh pada jendela yang menampakkan langit sore. “Setelah makan malam, bagaimana jika kita pergi mencari pakaian tambahan untukmu?”

Adro menoleh ke bawah untuk menatap pakaian yang tengah ia kenakan, lalu tertawa kecil. “Aku tahu itu akan merepotkan, namun aku jujur membutuhkannya sehingga tidak akan menolak,”

“Maaf sudah membiarkanmu mengenakan pakaian yang sama selama dua hari. Terlalu banyak hal di pikiranku...” Grace menggeleng pelan dengan wajah menunduk.

“Tentu tidak masalah. Kau sedang terluka, harus bersekolah, dan mengurus orang asing yang tiba-tiba harus tinggal di rumahmu. Tidak adil jika aku meminta lebih darimu,” Sahut Adro.

Grace mengibas tangannya di depan hidung. “Hei... Kau membuatnya terdengar berat. Aku sungguh baik-baik saja. Ini bukan apa-apa,”

“Aku harap aku bisa segera kembali agar tidak terus merepotkanmu,” Gumam Adro seraya duduk di sofa yang sama.

“Itu tidak perlu, Adro. Tapi, apa kau ada terpikirkan cara lain untuk kembali?” Tanya Grace.

Adro menggeleng pelan. “Aku menyesal tidak mempelajari tentang sejarah selama ini. Jika aku memperhatikannya, aku mungkin memiliki pengetahuan yang akan berguna sekarang.”

“Terkadang sejarah dianggap sepele oleh kaum muda seperti kita. Namun kita harus sadar bahwa hidup yang kita jalani sekarang adalah hasil dari sejarah itu sendiri,” Ucap Grace.

“Bagaimana sejarah di dunia yang kau tinggali ini?” Adro menatap Grace.

“Aku tidak tahu banyak – bahkan untuk sejarah negaraku sendiri. Kata-kata yang barusan adalah apa yang nenekku katakan dan tidak pernah aku pedulikan. Sekarang saat melihatmu, aku menyadari bahwa ia ada benarnya.” Jawab Grace dengan tawa sungkan.

“Pftt! Kau sama saja!” Adro tertawa.

Sangat jarang Grace dapat menertawakan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, ia jarang bercanda dengan orang lain. Sarah terlalu serius dan Bella terlalu sibuk dengan kehidupan pribadinya. Bahkan Grace sempat melupakan bahwa ia adalah gadis yang cukup suka berbicara pada orang yang dekat dengannya. Ia tidak menyangka tawanya muncul karena pria asing ini.

***

“Aku tidak dapat membelikan yang terlalu mahal untukmu. Maaf soal itu,” Ucap Grace sebelum menujuk sebaris kaus di sampingnya. “Kau bisa memilih dua atau tiga yang ada di sini,”

“Berapa harga pakaian-pakaian ini? Aku membawa uang namun kelihatannya bentuk uang kita berbeda,” Adro mengeluarkan sebuah kantung kecil dari kantung celananya. “Apakah emas dan perak berlaku di tempat ini?”

“E-emas?” Grace menatap kantung kecil berwarna merah gelap itu dengan kedua mata mengerjap-ngerjap.

Dengan satu tarikan, tali ikatan kantung itu terbuka dan memperlihatan isinya yang bersinar. Kedua mata coklat hazel Grace merefleksikan gemilang koin-koin emas dan perak itu. Dengan cepat, ia berkedip dan menutup kantung tersebut dengan kedua tangannya.

Adro menatap bingung pada Grace yang nampak panik. “Apa ada yang salah?”

Grace menggeleng cepat dan mengarahkan tangan Adro untuk menggenggam kantung itu kembali. Ia menggerakkan jarinya agar Adro menurunkan wajahnya karena ia akan mengatakan sesuatu dengan berbisik.

“Mereka berharga, Adro. Sangat berharga hingga kita mungkin bisa dirampok jika ada yang mengetahui kau membawa benda-benda itu di dalam satu kantung!” Bisik Grace.

“Oh,” Adro menegapkan punggungnya kembali. “Itu adalah kabar yang baik dan juga buruk. Namun kau tidak perlu khawatir dengan rampok. Aku bisa mengalahkan mereka dengan mudah,”

Lalu senyum lebar merekah di bibir Adro. “Tapi, bukankah itu artinya aku tidak setidak berdaya itu sekarang?” 

Menahan gejolak di hatinya, Grace mengangguk canggung. “Kau sungguh bisa membeli beberapa hal bagus dengan barang itu. Namun perak dan emas tidak bisa digunakan begitu saja di sini. Kau harus menukarnya dengan uang yang bisa kau gunakan untuk membeli berbagai hal,”

“Meski canggih, ternyata cara bertransaksi di dunia ini cukup merepotkan.” Gumam Adro.

Grace tertawa kecil. “Sebenarnya tidak seperti itu. Aku akan menjelaskannya padamu di rumah. Untuk saat ini, kau bisa memilih pakaian dahulu agar kita bisa cepat pulang,”

“Baiklah. Aku rasa aku sudah membuat pilihan.” Adro menarik satu buah kaus dan meletakkannya di atas tumpukan dua kaus yang tergantung di lengannya.

Setelah itu, mereka menghampiri barisan celana dan memilih satu celana jeans dan satu celana rumah. Khawatir celananya salah ukuran, Grace menyarankan agar Adro mencobanya dahulu di kamar pas.

“Kita tidak dapat mencoba kaus, tapi aku yakin ukurannya sesuai untukmu. Kau bisa mencoba celananya saja,” Jelas Grace saat Adro baru saja membuka tirai bilik kamar pas.

“Aku mengerti,” Adro mengambil dua celana itu dari tangan Grace.

“Eum... Kau... tidak membutuhkan bantuan, ‘kan?” Tanya Grace ragu saat Adro sudah melangkah masuk ke bilik ganti.

Adro tertawa kecil pada kepolosan Grace. Lalu ia menggeleng. “Aku bukan anak bayi atau orang bodoh. Tentu aku dapat melepas dan mengenakan celanaku sendiri,”




Komentar