Langsung ke konten utama

29. Tentang Kehidupan Grace // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Ah, maaf. Aku hanya...” Grace menggigit bibir bawahnya.

“Aku mengerti. Kau hanya khawatir. Itu tidak perlu, Nona Manken. Sekarang, biarkan aku mencoba ini sebentar agar kita tidak lebih lama menyia-nyiakan waktu,”

“Ba-baiklah,” Grace melangkah mundur. “Aku akan menunggumu di balik dinding ini,”

“Aku mengerti,” Jawab Adro sebelum menutup tirai biru tua itu.

Grace melangkah ke luar dinding yang memisahkan toko dengan ruang berisi empat bilik ganti. Grace yang sedang pincang tidak kesulitan untuk berkeliling karena ini bukan hari libur sehingga department store tidak ramai. Mereka pun tidak perlu mengantri untuk mencoba baju seperti yang biasanya terjadi di hari libur.

Selagi menunggu Adro, Grace melihat-lihat pakaian yang tergantung di rak. Helaan panjang mengalir dari lubang hidungnya bersamaan dengan pundaknya yang bergerak turun.

‘Apakah aku memang terlalu baik hingga menjadi bodoh? Jika Adro tidak memiliki uang, maka aku yang harus membelikan ini semua untuknya. Aku bahkan menahan diri untuk tidak membeli sehelai pun pakaian baru selama satu tahun ini demi menghemat uang,’

Kata-kata Sarah kembali terngiang di telinga Grace. Sampai kapan Adro akan menetap di rumahnya? Bahkan hingga saat ini, mereka tidak memiliki setitik pun petunjuk untuk mengirim Adro pulang ke dunianya. Tidak. Mereka bahkan masih tidak mengetahui jelas bagaimana cara Adro bisa sampai ke dunia ini.

Jika pada akhirnya Adro tidak dapat kembali? Ia tidak mungkin selamanya tinggal bersama Grace, ‘kan? Meski berasal dari dimensi lain, Adro juga adalah manusia. Ia butuh makan, minum, pakaian, bahkan sabun dan shampoo untuk mandi. Tidak mungkin Grace selamanya harus menyediakan itu semua untuknya. Ia mungkin akan segera bangkrut!

“Grace Menken?”

Kedua mata Grace yang semula menatap kosong pada barisan baju yang tangannya pegang-pegang tanpa arti, lantas terbuka lebar. Ia menoleh dan mendapati tiga orang gadis tengah berdiri satu meter darinya.

Satu-satunya kaki yang menopang tubuh Grace seketika terasa melemah. Dari ribuan tempat di kota ini, bagaimana bisa ia bertemu mereka di sini?

“O-oh… Hai...” Sapa Grace kikuk.

Rossa Titania dan kedua sahabatnya: Lily dan Bree. Mereka adalah bagian dari siswa populer di kampus yang terkenal dengan kemodisannya dan kemampuan bergosipnya yang mengalahkan breaking news.

Bertemu ketiga gadis itu tentu adalah salah satu mimpi buruk yang tidak terduga bagi Grace. Ia dapat menebak kalimat apa yang akan dilontarkan oleh mulut busuk berbalut bibir sexy hasil implant mereka.

“Kami dengar kau dicampakan oleh Victor? Apa itu benar?” Tanya Rossa.

Grace menarik napas panjang untuk memupuk kesabaran. Kemudian ia menjawab, “Kami putus,”

“Tentu saja kau akan…” Bree memperagakan tanda kutip dengan kedua tangannya di samping kepalanya, “…putus jika dicampakkan,”

Melihat Grace hanya terdiam, Lily berusaha menahan teman-temannya tanpa usaha, “Hei... Bukan begitu caranya berbicara dengan orang yang sedang patah hati. Apakah kalian tidak memiliki perasaan?”

“Maaf, aku tidak terpikirkan soal itu,” Rossa terkekeh kecil.

“Tapi, Grace, apakah benar bahwa tadi siang kau turun di lantai yang salah karena tidak tahan berada di dalam lift yang sama dengan Victor dan Kenzie? Maaf, aku tidak bermaksud mengejekmu sekarang, namun aku hanya ingin memastikan bahwa berita itu benar. Kau tahu, teman-teman Victor membuka mulut mereka pada semua orang tentang itu. Aku akan menegur mereka jika kabar itu hanyalah bualan murahan mereka,” Lanjut Rossa.

Grace menggigit bibir dalamnya. “I-itu benar bahwa aku turun di lantai yang salah. Namun bukan karena aku bertemu-”

“Oh, gadis malang! Aku tahu pasti saat itu kau dirundung oleh teman-teman berengsek Victor, huh? Mereka memang keterlaluan,” Bree memotong penjelasan Grace.

“Victor dan teman-temannya memang pria berengsek. Semua orang sudah tahu tentang itu. Biasanya mereka tidak benar-benar menjalin hubungan jika itu bukan gadis yang mereka sukai. Mereka hanya suka bermain-main dengan gadis yang bisa mereka manfaatkan. Itulah yang menyebabkanku menolak James berkali-kali,” Ucap Lily.

“Jadi kau menyadari bahwa ia hanya berencana memanfaatkanmu?” Rossa berpura-pura bodoh.

Lily terkekeh. “Tentu saja tidak. Mana mungkin ia rela memohon padaku berkali-kali hanya demi memanfaatkanku sementara masih banyak gadis yang bisa dimanfaatkan. Aku hanya tidak menyukai pria sepertinya dan aku tidak sebodoh itu mau berkencan dengan pria playboy sepertinya,”

“Aku bersyukur kau tidak sebodoh itu, Ly,” Ucap Bree.

Rossa berdehem cukup keras lalu melirik Grace dan teman-temannya secara bergantian. Namun semua dapat melihat gelombang jenaka dari lekukan tipis bibirnya yang berkedut.

“Oh! Kami sungguh minta maaf, Grace. Kami tidak bermaksud menyinggungmu. Itu hanya... yah... apa yang sungguh aku alami. Seharusnya aku tidak membahasnya di sini, benar?” Ucap Lily dengan ekspresi bersalah palsu.

Grace hanya terdiam. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu untuk membalas kata-kata mereka namun otaknya tidak memiliki apa pun selain ruang kosong.

“Oh, kami sudah harus pergi sekarang. Kelihatannya kau suka berjalan sendirian seperti biasa, jadi kami tidak akan terlalu lama mengganggumu,” Lily melirik jam tangannya.

Bree mengangguk, lalu mengembalikan pandangannya pada Grace. “Aku harap kakimu cepat sembuh. Sejujurnya, kau semakin terlihat bodoh ditambah dengan kakimu yang pincang itu,”

“Bree..!” Tegur Rossa, namun dengan tawa.

“Ayolah, teman-teman. Kelihatannya Grace tidak terlalu merasa nyaman dengan keberadaan kita. Ia adalah seorang penyendiri, ingat?” Lily menggerakkan kedua jarinya di udara sebagai sinyal mengajak teman-temannya bergerak.

“Bye, Grace…” Ucap gadis dengan rok pendek itu.

“Berhati-hatilah di jalan, Grace. Aku tidak yakin ada yang mau menolongmu jika kau terjatuh,” Ucap Rossa dengan kekehan setelahnya.

“Seharusnya kau tidak berkeliaran sendirian dengan kaki seperti itu,” Tambah Bree dengan senyum miring sebelum menyusul langkah gadis-gadisnya.

Kedua tangan Grace menggenggam tongkat berjalannya hingga baku-baku jarinya memutih. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis.

Kenapa lidahnya kelu? Kenapa ia tidak bisa membalas ucapan jahat mereka setidaknya dengan satu kata saja? Kenapa otaknya harus selalu kosong saat berhadapan dengan orang-orang seperti mereka? Kenapa ia tidak memiliki sedikit saja keberanian?

***

Celana itu muat dengan baik di tubuh Adro. Kelihatannya ia tidak perlu kesulitan mencari pakaian karena tubuhnya memiliki porsi standar model yang akan cocok dengan berbagai jenis pakaian.

Setelah selesai mencoba celana-celana itu, Adro merapihkannya dan keluar dari bilik vitting. Ia melangkah ringan melewati dua bilik kosong seraya memperhatikan sekitar. Namun langkahnya melambat hingga benar-benar berhenti ketika ia mendengar suara beberapa wanita yang sedang berbincang.

Awalnya, Adro pikir itu adalah pengunjung lain. Namun ia mendengar suara pelan Grace di tengah perbincangan itu.

Kelihatannya Grace tidak sengaja bertemu dengan kenalannya di tempat ini. Mungkinkah itu temannya yang lain seperti Sarah dan Bella?

Melalui tembok penyekat ruang vitting dan toko, Adro mengintip sedikit untuk mendapati bahwa itu adalah tiga orang wanita cantik yang sedang berdiri di hadapan Grace yang sedang memunggunginya.

Karena tidak pernah melihat wajah ketiga wanita itu, Adro memutuskan untuk menunggu hingga mereka selesai bicara dan pergi meninggalkan Grace sendiri. Ia mungkin akan membuat Grace terkena masalah jika ia menunjukkan dirinya kepada terlalu banyak teman gadis itu.Tentu saja Adro tidak melupakan berapa banyak masalah yang Grace dapatkan karena dirinya.

Adro bersandar pada dinding seraya menatap kosong ke depan dengan potongan celana menggantung di tangannya. Ia sama sekali tidak berencana mendengarkan pembicaraan Grace dan ketiga temannya itu, namun suara ketiga gadis itu cukup besar untuk ia dengar hingga ia menyadari ada sesuatu yang salah di sana.

Dari apa yang keluar dari mulut ketiga wanita tersebut, Adro menilai bahwa mereka kemungkinan besar bukanlah teman Grace. Jika mereka teman pun, mereka adalah teman palsu yang hanya menyakiti gadis itu.

Adro terdiam mendengarkan semua ucapan kejam mereka. Namun melalui itu, ia juga tanpa sengaja mengetahui sedikit tentang kehidupan Grace.




Komentar