Langsung ke konten utama

30. Jika Aku Pergi // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Menyimpulkan sebuah informasi tentang seseorang berdasarkan sebuah percakapan dari orang-orang asing memang bukanlah hal yang bijak. Namun, Adro tidak bisa menahan diri untuk menyimpulkan bahwa kehidupan sosial dan percintaan Grace tidak baik.

Kelihatannya Grace telah dicampakkan oleh seorang pria yang memanfaatkannya. Pria itu pasti adalah pria buruk yang menggunakan kebaikan dan kepolosan Grace untuk kepentingan pribadinya. Tiba-tiba Adro teringat pada percakapan mereka yang sebelumnya ketika Grace mengatakan bahwa pria di dunianya ini kurang baik.

Dan, ketiga wanita itu adalah orang-orang jahat lainnya yang sengaja menggunakan kondisi Grace untuk menjadikannya sebagai bahan lelucon mereka.

Setiap kata yang para gadis itu lontarkan membuat Adro harus menahan kakinya untuk tidak membawa dirinya keluar dari ruang pas. Ia sungguh ingin menghentikan mereka, namun ia harus berpikir panjang. Ia hanya mengetahui sangat dikit tentang dunia ini dan ia tidak yakin Grace akan senang jika ia ikut campur pada kehidupan pribadinya.

Dalam diam dan tangan mengepal, Adro berdiri di sana, menunggu ketiga wanita kurang ajar itu pergi.

Tidak lama, akhirnya Adro mendengar ucapan perpisahan menyebalkan mereka. Kemudian, suara mereka menghilang, begitu pula dengan suara Grace yang memang sejak awal hampir tidak terdengar.

Adro termenung beberapa detik. Bagaimana perasaan Grace saat ini? Tentu saja gadis itu merasa buruk. Jika Adro berada di posisi Grace, ia akan memberikan pelajaran kepada wanita-wanita kurang ajar itu. Namun, Grace hanya diam terhadap mereka. Apa ia takut? Atau ia berusaha menahan diri karena alasan lain?

Menarik napas panjang, Adro memperbaiki ekspresi wajahnya sebelum melangkah keluar untuk mendapati Grace masih berdiri di posisi yang terakhir ia lihat. Berdiri di hadapan punggung lemah itu, Adro tanpa sadar menahan napasnya. Ia berdehem pelan hingga membuat Grace terkejut.

“Aku sudah selesai,” Ucap Adro pelan.

Keningnya mengkerut menyaksikan Grace yang nampak mengusap kedua matanya dengan terburu-buru.

Setelah mengusap matanya, Grace membalik tubuh untuk menatap Adro sambil tertawa kecil.

“Oh.. Kau sudah selesai?” Tanyanya, tidak mampu menatap wajah Adro. Ia tetap menurunkan pandangannya dengan tawa kecil. “Aku sangat mengantuk. Sebaiknya kita segera kembali. Apakah celananya muat?”

Andro menatap Grace dalam diam selama beberapa saat. Kemudian ia mengangguk pelan. “Ini muat,”

“Baiklah. Kalau begitu aku akan membayarnya sekarang. Kau bisa menungguku di sana,” Grace menunjuk kursi tunggu di dekat meja kasir.

“Celananya,” Tangan Grace hendak mengambil benda itu dari tangan Adro.

Namun Adro segera menjauhkan celana tersebut. “Aku yang membawanya. Ingatlah bahwa kau sedang menggunakan tongkat,”

“O-oh... Oke,” Gumam Grace seraya melangkah menuju kasir, meninggalkan Adro di belakangnya.

“Kau tahu, matamu agak merah,” Ucap Adro pelan di tengah langkah mereka.

“Be-benarkah?” Grace segera mengusap matanya seraya tertawa kecil. “Aku cukup mengantuk hingga menguap sangat banyak - Mataku bahkan mengeluarkan air. Dan tentu aku baik-baik saja,”

Adro membisu. Ia tidak mengingat pernah bertanya apakah gadis yang sedang berbohong ini baik-baik saja atau tidak.

***

Mata biru itu bergerak menatap gadis yang duduk di sampingnya sambil menatap ke luar jendela dalam diam.

Sejak bertemu dengan tiga wanita kurang ajar itu, Grace hampir membisu. Ya, sejak awal, gadis itu memang cukup pendiam. Namun, diam yang kali ini terasa sangat berbeda. Adro bahkan bisa merasakan aura suram yang mengelilingi gadis itu.

Grace telah berbohong pada Adro, atau lebih tepatnya, menutupi apa yang telah terjadi padanya. Karena Grace nampak tidak ingin membagi cerita tentang kehidupan pribadinya, Adro memutuskan untuk tidak bertanya. 

Meski begitu, apa yang sudah Adro saksikan dan dengar menumbuhkan rasa simpati yang cukup besar terhadap Grace. Nampaknya senyum manis gadis itu hanyalah penutup untuk kehidupan pahit yang ia jalani.

Adro menatap keluar jendela di sampingnya untuk melihat jalanan yang masih agak ramai dan lampu-lampu terang yang membuat malam di tempat ini sangat hidup layaknya di siang hari.

Tanpa terasa, Adro telah menghabiskan beberapa harinya di dunia aneh ini. Tentu ia masih memikirkan bagaimana cara agar ia bisa kembali ke dunianya dan bagaimana kondisi keluarganya dan Joselyn. Namun di luar ekspektasinya, ia mendapati dirinya tidak merindukan apa pun dari negri asalnya.

***

Cahaya mentari menyinari ruang unit apartment itu. Adro menatap Grace yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Namun tidak seperti hari sebelumnya, wajah Grace nampak murung.

Grace meletakkan sereal dan susu di atas meja konter. Ia tersenyum sekilas pada Adro sebelum berbalik untuk mengambil dua buah sendok.

“Maaf membuatmu menunggu. Kau bisa makan sekarang,” Ucap Grace seraya duduk di kursi bar.

“Aku merasa buruk harus membiarkanmu menjamuku terus setiap hari. Andai aku bisa membuat masakan enak sehingga bisa membalas sedikit saja kebaikanmu. Namun aku hanya terbiasa memasak daging buruan tanpa bumbu,” Tutur Adro seraya menuangkan susu ke dalam mangkuk serealnya.

Grace tersenyum tipis, lalu menggeleng dengan kedua mata tetap menatap mangkuk serealnya. “Kau tidak perlu merasa terbebani. Aku senang kau berada di sini,”

Kembali melirik Grace, Adro berdehem pelan. “Apa kau baik-baik saja?”

Pertanyaan Adro membuat Grace sedikit terkejut. Ia segera mengangguk. “Tentu aku baik,”

“Aku tidak ingin menyinggung perasaanmu atau berniat mencampuri urusanmu. Namun kau terlihat agak murung hari ini, seakan kau tidak ingin berangkat sekolah,”

Kedua alis Grace terangkat tinggi. “Be-benarkah? Ya, sebenarnya aku memang kurang bersemangat karena ternyata kakiku ini membuatku agak kesulitan di kampus,” Ia tertawa kecil seraya mengusap lengannya.

Adro ikut tersenyum tipis. Ia tahu Grace sedang berbohong lagi. “Itu mungkin terasa sangat sulit. Namun percayalah bahwa kau lebih kuat dari yang kau bayangkan. Percayalah kau bisa melewatinya dengan baik,”

Kalimat Adro membuat Grace termenung. Ia menolehkan kepalanya cepat pada pria itu dan mendapati sebuah senyum tulus yang membuat emosinya meluap.

“Bersemangatlah,” Ucap Adro lagi.

Dengan kedua mata berkaca-kaca, Grace mengangguk sekali. “Trimakasih, Adro.” Ucapnya, lalu mengusap ujung matanya sambil tertawa kecil. “Astaga... aku adalah seorang bayi konyol. Sedikit pincang saat berkuliah saja membuatku ingin menangis seperti ini. Maafkan aku,”

“Aku tidak akan menghakimi masalahmu. Semua orang memiliki alasan untuk mengeluarkan air mata bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun,” Balas Adro.

“Itu adalah kutipan yang bijak,” Grace tertawa kecil. “Sepertinya kau akan membuat hariku cerah,”

“Aku harap begitu,” Sahut Adro.

“Eum… Adro, ini hanya informasi yang tidak penting untukmu. Namun aku merasa ingin memberitahumu bahwa Sarah akan pindah rumah beberapa hari lagi. Aku berencana untuk mengantarnya ke bandara saat hari itu tiba.” Ucap Grace.

Kening Adro mengkerut. “Baiklah… Dan bandara adalah?”

“Oh, itu adalah sebuah tempat yang harus kita datangi jika kita ingin menumpang pesawat. Pesawat adalah transportasi udara yang bisa membawa puluhan hingga ratusan manusia dan barang-barang ke tempat yang sangat jauh.” Jelas Grace.

“Itu terdengar menakjubkan. Lalu, apakah kau memiliki sebuah tujuan untuk mengatakan hal ini padaku?”

“Aku hanya berpikir kau terlihat bosan jika hanya diam di rumah. Dan hari itu adalah hari luangku sebelum jadwalku menjadi cukup padat nantinya. Jika kau mau, kau bisa ikut untuk melihat-lihat kondisi kota di hari libur,” Jelas Grace.

“Oh, apakah itu terlihat jelas dari wajahku?” Adro menyentuh dagunya.

Grace mengangguk tidak yakin. “Sedikit. Namun aku memang menebak-nebak saja,”

Adro tertawa geli seraya menggeleng pelan. “Hah, seharusnya aku bisa mengendalikan wajahku lebih baik lagi,”

“Itu tidak masalah,” Sahut Grace sebelum menyuap serealnya lagi. “Tinggal sendirian memang terkadang terasa membosankan, bahkan untuk orang pendiam sepertiku sekalipun. Kelihatannya kakiku akan segera sembuh. Jika aku sudah bisa berjalan lebih lancar, aku akan pergi ke perpustakaan kota untuk mencari petunjuk lain agar bisa mengirimmu pulang,”

Adro terdiam sejenak, lalu membalas, “Jika aku berhasil pulang, bukankah itu artinya kau akan kembali sendirian di sini?”

Menghentikan makannya, Grace perlahan menoleh pada Adro. “A-apa?”




Komentar