Langsung ke konten utama

31. Mengarang Cerita Bodoh // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Tadi kau mengatakan bahwa tinggal sendirian itu membosankan, bahkan untuk orang pendiam sepertimu,” Ucap Adro.

“I-itu benar. Tapi tentu saja kau tetap harus pulang, ‘kan? Aku bukannya ingin mengusirmu. Sejujurnya, aku cukup senang kau ada untuk menghidupi suasana di rumah ini. Namun tentu aku tidak ingin memanfaatkan keadaanmu hanya demi membuat perasaanku menjadi lebih baik,” Ucap Grace pelan.

Adro terdiam menatap gadis yang nampak termenung itu. “Jadi keberadaanku membuat perasaamu lebih baik?”

Tersadar atas apa yang baru saja ia ucapkan, Grace langsung menatap Adro dengan pipi yang terasa panas. “Ma-maksudku, perasaanku terhadap rumah ini. Kau tahu, tadinya aku memiliki nenekku di rumah ini - Kami tinggal berdua. Namun ketika tiba-tiba aku harus tinggal sendirian, aku merasa sedikit aneh karena rumah ini menjadi terlalu sunyi. Jika ada seseorang yang ikut tinggal di sini, tentu rasanya tidak sesunyi ketika aku sendirian,”

“A-aku rasa semua orang akan merasakan hal yang sama denganku. Aku pernah mengajak Bella untuk tinggal berdua bersamaku, namun ia lebih memilih tinggal bersama kekasihnya setelah lulus SMA,” Sambungnya cepat.

“Aku mengerti. Tidak perlu gugup seperti itu,” Adro tersenyum geli.

“Kau bercanda… Aku tidak gugup. Untuk apa aku gugup?” Sahut Grace, tertawa canggung.

“Kau benar. Kenapa kau harus gugup?” Adro mengangguk pelan dengan sedikit senyum miring.

Di dalam hati, Grace mengutuk dirinya sendiri yang dengan bodoh melontarkan kalimat yang terlalu jujur itu. Setelah berpuluh pengalaman yang membuatnya patah hati, ia masih saja tidak belajar.

Entah mengapa Grace harus menjadi seorang gadis polos yang tidak pandai bergaul. Mulutnya yang terlalu jujur tentang perasaannya ketika seseorang bersikap baik padanya selalu membawa ia ke dalam petaka. Itulah yang membuat Grace selama ini dijebak oleh berbagai laki-laki yang hanya ingin memanfaatkan kebaikannya.

Sebenarnya Grace tidak seharusnya terlalu percaya pada Adro seperti sekarang, ‘kan? Ia bahkan tidak tahu apakah sesungguhnya Adro adalah pria baik atau jahat. Namun, apakah ia sangat salah jika berpikir bahwa Adro adalah pria baik? Meski begitu, tidak seharusnya Grace mengatakan hal yang membuat mereka berdua menjadi canggung seperti ini, mengingat saat ini mereka sedang tinggal bersama.

***

Karena Adro telah setuju untuk ikut, Grace membawa pria itu mengantar Sarah ke bandara.

Pergelangan kaki Grace yang hanya terkilir pulih dengan cukup cepat. Ia tidak lagi perlu menggunakan perban yang terlalu tebal sehingga penampakan kakinya tidak lagi mencolok. Kakinya pun sudah bisa menapak pada tanah.

Sebelumnya, barang-barang Sarah telah diantar menuju rumah barunya sehingga ia hanya perlu membawa sedikit barang dalam penerbangannya ini.

“Katakanlah, Sarah...” Ucap Bella sambil mengaduk-aduk es kopi susunya.

Sarah menarik napas dalam dan menghelanya panjang. Ia menatap Grace yang duduk di hadapannya. “Baiklah, Grace…”

Tentu saja Grace menyadari bahwa Sarah hendak mengatakan sesuatu sejak pertama bertemu hari ini. Grace tidak menyangka sama sekali bahwa keberadaan Adro di antara mereka bertiga membuat keadaan menjadi agak canggung untuk teman-temannya, terutama Sarah yang sejak awal menaruh kecurigaan besar pada Adro.

Berhubung Adro sedang ke toilet, Sarah menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan isi pikirannya yang mengganjal mengenai Adro. Ia yakin harus membahas ini sebelum ia pindah ke luar negri.

“Pria itu… dia bukan saudaramu, ‘kan?” Tanya Sarah.

Grace terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya. Sikapnya itu membuat Sarah dan Bella mengerti bahwa Adro memang bukanlah saudara Grace.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Grace? Kenapa kau sampai berbohong seperti itu?” Tanya Sarah pelan seraya memegang tangan gadis itu.

“Grace, aku tahu aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Namun kita tetaplah teman sejak kecil dan aku sekarang merasa khawatir karena Sarah akan segera pergi,” Ucap Bella.

Sarah melirik Bella dengan sinis. “Setidaknya kau sadar bahwa dirimu tidak berguna dalam pertemanan ini,”

“Teman-teman…” Grace segera melerai kedua gadis itu. “Tolonglah... Aku tidak ingin menjadi beban untuk kalian. Aku sudah dewasa dan keselamatanku ada di tanganku sendiri. Aku tidak bisa selalu bergantung pada kalian,”

Bella mengangguk, lalu kembali menoleh pada Sarah. “Aku hanya menjaga perasaannya,”

Sarah mendecih. Ia mengembalikan pandangannya pada Grace dan memutuskan untuk tidak lagi meladeni Bella.

“Apakah pria itu adalah kekasihmu?” Tanya Sarah. Namun Grace menggeleng.

“Dia bukan kekasihmu dan juga bukan kerbatmu. Namun ia tinggal di rumahmu,” Bella bergumam sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.

“Grace, dengarlah: Bella benar. Ketika aku pergi, aku sungguh akan sangat kesulitan untuk membantumu dan Bella nampaknya tidak terlalu peduli karena ia bahkan mengakui sendiri bahwa ia akan terus sibuk dengan urusannya. Jika kau terus menutupi kebenarannya, kami tidak akan tahu jika nantinya ada sesuatu yang buruk terjadi padamu,” Ucap Sarah, menahan kesabaran.

“Aku cukup yakin tidak ada hal buruk yang akan terjadi padaku, Sarah. Kalian tidak perlu khawatir,” Balas Grace pelan.

“Grace, ini bukannya kami tidak percaya padamu. Namun kenyataannya, cukup banyak kasus penipuan melalui kencan online yang menjerat wanita-wanita akhir-akhir ini. Aku tahu Adro sangat tampan. Yah... ia bahkan terlihat sangat fiktif. Namun, justru itulah senjata mereka,” Ucap Bella.

Grace menghela panjang. “Teman-teman, percayalah bahwa Adro bukan pria seperti itu. Aku ingin mengatakan yang sesungguhnya pada kalian, namun aku yakin kalian tidak akan pecaya,”

“Mana mungkin kami tidak percaya padamu, Grace? Kita sudah bershabat sejak kecil,” Jawab Sarah, tidak percaya pada apa yang ia dengar.

“Itu benar.” Bella mengangguk-angguk sebelum menyesap es kopinya.

Grace menghela kembali. Ia menatap kedua sahabatnya secara bergantian sebelum menoleh ke sekeliling untuk memastikan bahwa Adro belum kembali.

“Sebenarnya, Adro berasal dari dunia lain,”

Ucapan pelan Grace membuat kedua sahabatnya yang sebelumnya berwajah serius kini memberikan decakan geram.

“Kau sungguh melakukan ini, Grace? Sejak kapan kau menjadi orang seperti ini?” Tanya Sarah.

“Aku serius. Ini mungkin terdengar gila, tapi aku sungguh tidak berbohong. Aku bertemu Adro di mansion terbengkalai itu. Ia muncul dari sebuah pintu buntu dan menolongku yang baru saja terjatuh dari lantai dua,” Jelas Grace cepat.

Saran dan Bella termenung, kemudian menatap satu sama lain dengan kening mengkerut. Hanya orang gila yang akan percaya pada cerita itu. Dan mereka berdua masih waras!

“Grace, bisakah kau berhenti bercanda? Ini sungguh bukan cara yang lucu untuk menghindari pertanyaan kami. Lebih baik kau katakan saja bahwa kau tidak mau menjawabnya daripada mengarang cerita bodoh seperti ini,” Ucap Bella seraya memegangi pelipisnya dan menggeleng-geleng pelan.

“Aku tidak berbohong, teman-teman. Ugh... Inilah alasan aku enggan menjelaskannya pada kalian. Kalian hanya akan menganggapku gila,” Ucap Grace.

“Karena hanya orang gila yang akan percaya pada hal itu, Grace. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Tanya Sarah.

“Sarah, apakah kau mengingat ketika Adro tidak bisa membuka pintu mobil dan-”

“Shhh!” Bella menghentikan kalimat Grace ketika ia menangkap sosok Adro tengah melangkah menuju meja mereka. Kaki panjang pria itu membuatnya tiba begitu cepat.

Ketiga gadis itu seketika menghentikan obrolan mereka karena topik dari obrolan tersebut sudah kembali. Jika bukan karena lokasi toiletnya yang cukup jauh, mereka tidak mungkin berkesempatan mengobrol cukup panjang.

“Oh, apakah itu sangat jauh?” Tanya Grace pada Adro dengan senyum kikuk.

“Sedikit. Toiletnya juga agak ramai sehingga aku harus menunggu sedikitm,” Jelas Adro seraya duduk di kursinya.

“Kita berada di caffe luar sehingga toiletnya memang cukup jauh dan ramai,” Ucap Grace.

Diam-diam, Sarah dan Bella bermain mata. Jika saja mereka tidak harus menjaga perasaan dan wajah Grace, mereka mungkin sudah mengintograsi Adro sekarang.

Tiba-tiba, ponsel Sarah berbunyi. Ia mendapatkan pesan dari asistennya bahwa ia harus menunggu di dalam bandara karena pesawatnya akan berangkat tidak lama lagi.




Komentar