Langsung ke konten utama

32. Kau Akan Baik-Baik Saja // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Grace, Bella, dan Adro mengantar Sarah hingga ke batas pintu ruang tunggu penerbangan. Ketiga sahabat itu saling berpelukan. Bella dan Grace bahkan tidak kuasa meneteskan air mata karena mereka harus berpisah dengan Sarah untuk waktu yang lama.

“Aku akan sangat merindukanmu, Sarah,” Ucap Grace seraya memeluk Sarah sekali lagi.

Sarah tersenyum tipis, lalu mengusap punggung Grace. “Tentu saja aku juga. Kau harus hidup dengan baik, Grace. Hindarilah stress karena itu akan membuatmu cepat tua. Kejarlah impianmu dan jangan dengarkan kata-kata orang lain. Mereka hanya ingin melihatmu jatuh, dan kau tidak boleh sebaik itu untuk memberikannya,”

Grace mengangguk. “Aku mengerti. Jangan lupa menghubungiku jika kau memiliki waktu,”

“Tentu. Waktuku mungkin akan sangat sempit, namun aku akan berusaha menyimpan sedikit untuk kalian,” Jawab Sarah.

Kemudian ketika Sarah merasakan Grace hendak melepaskan pelukannya, ia segera mengeratkan kedua tangannya di punggung gadis itu.

“Dan, Grace. Ingatlah untuk tidak terlalu baik dan mempercayai orang lain, terutama seorang pria,” Ucap Sarah dengan kedua mata menatap Adro yang berdiri di belakang Grace.

“Kita tidak bisa menilai hati seseorang dari rupanya dan ucapannya saja, ‘kan? Kau harus berhati-hati karena kau tidak tahu di mana iblis bersembunyi. Ingatlah bahwa aku akan membantumu jika ada hal buruk yang terjadi. Kau harus ingat bahwa aku bukan orang sembarangan,” Lanjutnya.

Kening Adro mengkerut seraya menatap Sarah balik. Ia bisa mendengar jelas kalimat yang Sarah katakan dengan agak keras. Tidak perlu menjadi orang pintar untuk menyadari bahwa Sarah sedang menyindirnya – Atau bahkan mengancamnya.

Mata mengerjap beberapa kali, Grace berdehem dan mengangguk. “Aku tahu. Trimakasih, Sarah,” Ucapnya sebelum melepaskan pelukannya.

Sarah tersenyum. Ia menatap kedua sahabatnya. “Kalau begitu, aku masuk ke dalam. Jaga diri kalian dengan baik. Sampai bertemu lagi,”

Kedua mata coklat Grace menatap punggung gadis bertubuh sintal itu. Sarah melangkah semakin menjauh meninggalkan mereka; meninggalkannya.

Selama ini, Grace telah banyak bergantung pada Sarah. Gadis galak itu terasa seperti keluarga terdekatnya. Namun pada akhirnya, semua orang itu pergi meninggalkannya seorang diri.

Sesungguhnya Grace merasa takut dan khawatir. Kepada siapa ia harus bergantung? Apakah ia sudah mampu menjadi mandiri secara psikologis? Apakah ia sungguh mampu menjaga dirinya sendiri?

Tiba-tiba, Grace tertarik keluar dari semua pemikirannya itu. Ia menoleh pada tangan yang tiba-tiba bertengger di atas pundaknya.

Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke pemilik tangan tersebut untuk menemukan sebuah senyum dan sepasang mata biru kristal menyapanya.

“Kau akan baik-baik saja,” Ucap Adro.

***

Sarah telah pergi. Dengan Bella yang memang sejak awal tidak berperan sebesar itu dalam hidupnya, Grace entah mengapa merasa separuh jiwanya meninggalkannya.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama, Grace,” Ucap Bella.

Grace tersenyum dan menggeleng. “Tentu itu bukan masalah. Aku tahu kau sibuk,”

Mengalihkan padangannya pada Adro, Bella berdehem dan berkata, “Aku harap kau bisa menjaga temanku,”

“Hei… Itu tidak perlu, Bella,” Tegur Grace.

“Kau tidak perlu khawatir. Kau dapat melihat bahwa Grace masih baik-baik saja sekarang,” Jawab Adro ringan, namun dapat terdengar ketegasan di sana.

Bella menyipitkan matanya sekilas saat Adro memberikan tatapan penuh arti padanya. Ia tahu apa maksud penekanan tipis pada nada bicara Adro. Pria itu sungguh menyadari apa yang ada di dalam pikirannya dan Sarah. Ya… Siapa juga yang tidak? Mereka menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tidak mempercayainya.

“Kalau begitu, aku pergi. Sampai ketemu di kampus,” Bella memeluk Grace singkat sebelum melangkah pergi seraya melambaikan tangan.

“Jika kita bertemu,” Gumam Grace pelan di tengah senyuman dan lambaian tangannya.

Di samping Grace, Adro terus memperhatikan gadis itu. Harus ia akui, semakin jauh mengenal Grace, ia merasa kasihan padanya.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya Adro, membangunkan Grace dari lamunan.

“Eum... Sebenarnya aku tidak yakin. Aku pikir aku akan menghabiskan waktuku bersama Bella setidaknya hingga malam hari. Sekarang ia telah pergi, aku tidak memiliki rencana lain selain pulang ke rumah,”

“Aku tiba-tiba mengingat bahwa kau pernah berkata bahwa emas dan perak memiliki harga di tempat ini. Aku berpikir untuk menukarnya dengan uang yang berlaku di sini. Apakah itu bisa dilakukan hari ini?” Tanya Adro.

Kedua alis Grace terangkat. Ia bahkan melupakan hal itu. “Ah! Maaf aku melupakannya. Aku rasa itu bisa dilakukan. Apa kau membawa koin-koin itu?”

“Sayangnya, aku meninggalkan semua di rumahmu. Namun karena kau berkata kau tidak memiliki kegiatan lain hari ini, apakah mungkin jika kita mengambilnya dan membawanya ke tempat penukaran?” Tanya Adro.

Berpikir sejenak, Grace kemudian mengaluarkan ponselnya. “Aku permisi sebentar,”

Ketika Grace berbalik punggung dan memeriksa sesuatu di ponselnya. Adro mengandalkan tubuh tingginya untuk mengintip layar ponsel itu. Ia memang tidak terlalu mengerti cara penggunaan ponsel, namun ia melihat angka-angka tampil pada layar ponsel tersebut.

Grace yang nampak berpikir dan menghitung-hitung dengan jemarinya secara sembunyi-sembunyi membuat Adro mengerti bahwa ia sedang memperkirakan apakah uangnya akan cukup jika ia terus menumpang taxi.

Ketika Grace menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, Adro segera melangkah mundur dan berpura-pura tengah melihat ke arah lain.

“Baiklah. Kita harus cepat sebelum tempatnya tutup,” Ucap Grace dengan wajah cerah.

Adro tersenyum tipis padanya dan mengangguk.

***

Setelah kembali ke rumah untuk mengambil uang yang Adro bawa dari dunianya, mereka lagi-lagi menumpang taxi menuju toko jual beli logam mulia. Malam hampir turun, namun mereka datang tepat waktu sebelum toko itu tutup.

“Apa kau yakin akan menjual semuanya? Uang dunia ini tidak berlaku di duniamu, ‘kan?” Bisik Grace.

“Itu tidak masalah. Jika aku kembali, maka uang-uang hasil menjual koinnya akan aku berikan untukmu,”

“A-apa?” Kedua mata Grace membulat.

Adro terkekeh kecil. Ia menatap gadis itu. “Aku adalah calon raja, ingat? Kepingan koin-koin itu tidak berarti besar untukku,”

Meneguk liurnya, Grace menyeringai kaku. “Aku sempat melupakan itu. Namun trimakasih untuk kebaikanmu,”

“Itu bukan apa-apa,”

Kemudian, pria pemilik toko kembali dengan membawa semua emas dan perak yang baru saja ia periksa kemurniannya. “Ini semua adalah emas dan perak murni,”

“Tentu saja itu murni,” Sahut Adro langsung. Ia tidak tahu ada emas dan perak tidak murni di dunia ini. Lagipula, orang bodoh mana yang akan mencampur kedua bahan itu dengan bahan lain?

Khawatir Adro akan mengatakan hal tidak perlu, Grace segera mengambil alih. “Apakah kau bisa menghitung totalnya? Kami akan menjual semuanya. Tolong disamakan dengan harga emas dan perak yang sedang berlaku sekarang,”

Begitu Grace dan Adro keluar dari toko itu, pemiliknya langsung menutup tokonya karena kehabisan uang tunai.

Ketermenungan masih nampak kental pada wajah Grace. Ia merasa sedang bermimpi setelah melihat jumlah uang di rekening tabungannya. Di dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia melihat nominal sebanyak itu.

Bukan hanya uang di rekeningnya, melainkan juga uang tunai yang saat ini berada di dompetnya. Sebelumnya, Adro meminta agar pemilik toko membayar melalui transfer bank dan sedikit tunai.

“Kelihatannya kau harus memiliki dompetmu sendiri, Adro. Aku tidak yakin aku merasa nyaman menyimpan uang sebanyak itu yang bukan milikku,” Ucap Grace dengan tawa canggung.

“Aku rasa kau benar. Aku pun juga harus membeli beberapa pakaian tambahan, ‘kan? Bagaimana jika kita ke toko pakaian yang kemarin? Tapi, apakah kau merasa lelah?”

Grace menggeleng. “Kakiku sudah berada dalam tahap pemulihan. Sepertinya berjalan-jalan sedikit lagi tidak akan memberikan pengaruh apapun untukku,”

“Katakan jika kau mulai lelah,” Ucap Adro sebelum melangkah maju untuk memberhentikan taxi.

Tanpa sadar, Grace menyulum senyum tipis. Jika melihat Adro yang sekarang, ia sering melupakan bahwa pria itu berasal dari dunia lain. Pria itu jelas dapat beradaptasi dan mempelajari hal baru dengan baik dan cepat. Ia adalah pria yang dapat diandalkan.




Komentar