Langsung ke konten utama

33. Lepas Kendali // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Di dalam taxi, Adro menatap jalanan yang dibanjiri oleh cahaya kejinggan. Tiba-tiba, ia memanggil Grace yang tengah termenung menatap jendela pintu lain.

“Sebenarnya apa kendaraan besar itu?” Tanya Adro, menunjuk ke luar jendela.

Grace menyondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang sedang Adro tunjuk. “Oh, itu adalah bus,”

“Benda itu sangat banyak berkeliaran di jalanan. Mereka membawa banyak orang yang sering naik dan turun di pinggir jalan,”

“Bus adalah kendaraan umum yang banyak digunakan oleh warga Torben. Kau bisa berkeliling hampir ke manapun dengan bus,” Jelas Grace.

Kening Adro mengkerut. “Apakah biaya bus lebih murah dari taxi?”

“Itu benar. Tapi, bus kerap kali ramai oleh penumpang dan hanya berhenti di halte sehingga lebih mudah dan nyaman menggunakan taxi,” Jelas Grace.

“Lalu kenapa kita selalu menggunakan taxi?” Kening Adro mengkerut tipis.

“Eum… Itu karena kakiku sedang terluka. Lagipula, aku tidak yakin kau akan merasa nyaman jika harus berdesakkan di dalam bus,”

“Berhubung kita tidak berlimpah uang saat ini, jika kakimu sudah sembuh, sebaiknya kita menggunakan bus saja untuk ke depannya. Kau tidak perlu memikirkan diriku. Aku tidak masalah berada di keramaian. Ohya, karena sekarang aku telah memiliki uang, aku juga akan membantumu dengan biaya hidup dan mengganti semua pengeluaranmu untukku,” Tutur Adro.

“Saat kakiku sudah benar-benar sembuh, kau mungkin saja sudah kembali, jadi kau tidak perlu berpikir sejauh itu. Maaf, tapi kenapa kau selalu berbicara seakan kau tidak akan kembali ke tempat asalmu?” Tanya Grace pelan dengan wajah agak menunduk.

“Kenapa kau selalu berbicara seakan aku akan segera pergi dari sini?” Balas Adro.

Grace langsung menatap pria itu, dan berdehem tipis. “Nenekku pernah berkata bahwa jika kita menginginkan sesuatu, kita harus yakin bahwa itu akan terjadi,”

“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Grace? Bisakah kau menjelaskan mengapa kau sangat ingin aku pergi dari sini?” Tanya Adro.

Grace menatap Adro dengan mata membesar. “A-aku tidak bermaksud begitu,”

“Namun kau terlihat begitu,” Sahut Adro.

“Ma-maksudku adalah… aku hanya berusaha menyemangatimu agar kau selalu optimis,” Jelas Grace, perlahan jemarinya terasa dingin.

“Grace, untuk kali ini, aku akan mewajarkan pemikiranmu terhadapku karena kita baru saja saling mengenal. Namun biarkan aku jelaskan padamu satu hal: Aku bukanlah tipe pria yang perlu dikhawatirkan atau disemangati untuk berpikir optimis. Aku telah memimpin dan memenangkan banyak perang dan adalah calon pemimpin sebuah kerajaan. Karena itu, tolong jangan asal menilaiku, mengerti?”

Melihat Grace terdiam, Adro menarik napas dalam sebelum menghembuskannya panjang dan keras. Ia pun tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba merasa agak emosional hingga harus mengomel seperti ini.

“Maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Tidak seharusnya aku menekanmu seperti itu,” Ucap Adro seraya membasuh rambutnya dari kening ke belakang dengan jemarinya.

“Aku ingin menjadi berguna daripada terus membebankan orang-orang,” Gumam Grace tiba-tiba.

Adro menatap gadis itu dengan kening mengkerut.

“Selama ini, aku selalu merepotkan teman-temanku. Ketika Sarah akhirnya pergi, aku menyadari bahwa pengaruhnya terhadap diriku lebih besar dari yang aku pikirkan sebelumnya. Aku menyadari bahwa selama ini, aku mungkin telah menyita waktu dan perhatian mereka cukup banyak, namun aku tidak pernah berguna untuk mereka.

Kehadiranmu membuatku merasa dibutuhkan. Untuk pertama kalinya, aku merasa berguna sebagai manusia. Namun akhir-akhir ini, aku menyadari bahwa posisi kita telah bertukar. Aku merasa kini aku yang bergantung padamu dan mulai merepotkanmu,” Sambung Grace.

“Grace, aku sama sekali tidak keberatan untuk membantumu. Kau telah menolongku - Apa salahnya aku membantumu sedikit?” Sahut Adro.

Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir peach ranum Grace. “Ini sungguh memalukan untuk diakui, namun aku berpikir kau mungkin sedang mengasihaniku dan merasa berhutang budi padaku hingga mengesampingkan tujuanmu untuk kembali,”

“Grace Manken.” Adro meraih kedua pundak gadis itu.

“Dengarlah. Aku ingin jujur padamu. Sebenarnya selama ini, aku sedikit menahan diriku terhadapmu. Kita adalah orang asing yang bertemu tanpa sengaja. Aku terpaksa harus menumpang di rumahmu dan meminta makan padamu sehingga aku terus menjaga sikap dan terus menghormatimu.

Namun aku tidak tahan lagi jika kau terus bersikap seperti ini. Siapa kau hingga berani menyimpulkan isi pikiranku seenakmu? Siapa kau hingga berhak mengatur keputusanku?”

Grace termenung menatap Adro yang tengah memaku tatapan tegas padanya.

“Tolong jangan berpikir tentangku seenakmu hanya karena perasaan pribadimu. Aku memang menumpang padamu, namun latar belakang dan pengalaman hidupmu tidak ada hubungannya denganku. Bahkan jika aku tidak ingin kembali sama sekali pun, itu adalah pilihanku dan tidak ada hubungannya denganmu. Yang berhak kau lakukan adalah membiarkanku tetap berada di rumahmu atau mengusirku ke jalanan. Apa kau mengerti?” Tutur Adro lagi.

Dengan kedua lengan atas yang masih berada dalam cengkraman Adro, Grace mengangguk. “A-aku mengerti. Maafkan aku,”

Menggigit bibir bawahnya, Adro menghela kasar seraya melepaskan kedua tangannya. “Sial! Apa yang aku lakukan?” gumamnya.

Grace melirik Adro dengan takut. “A-aku minta maaf sudah bersikap seenaknya. Aku tidak akan-“

“Bisakah kau berhenti meminta maaf?” Tanya Adro dengan kepala bersandar ke belakang dan tangan yang memegangi keningnya.

“Ma… A-aku bisa,” Jawab Grace terbata dengan kedua tangan dingin mengepal di atas pahanya.

Adro melirik gadis di sampingnya dengan kening terus mengkerut. Ia tidak pernah bersikap seperti ini kepada perempuan. Apakah itu karena selama hidupnya, ia tidak pernah menghabiskan waktu seintens ini dengan perempuan?

Namun kenapa perasaannya menjadi seperti ini sekarang? Ia bahkan tidak dapat menjelaskan perasaan yang membuatnya lepas kendali seperti ini. Tidak. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan!

Sebenarnya apa yang gadis ini lakukan padanya? Apakah ia akan mengalami hal yang serupa jika ia tinggal serumah dengan perempuan lain?

***

Tangan itu mengambang di depan gagang pintu kamarnya. Setelah sampai di rumah, Grace langsung menuju ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Ia bukannya merajuk, namun merasa canggung setelah perbincangan agak keras terakhirnya dengan Adro.

Jika ia pikirkan, bukankah itu adalah komunikasi dengan emosi pertamanya dengan Adro? Berjam-jam, ia berusaha mengintropeksi diri atas semua kalimat yang Adro lontarkan.

Pria itu benar. Tidak seharusnya Grace secara sepihak menyimpulkan apa isi pikiran pria itu. Adro yang tidak berdaya di dunia yang tidak ia ketahui kelihatannya membuat Grace lancang untuk merasa bertanggung jawab penuh atas pria itu.

Namun di sisi lain, ada sebuah alasan yang Grace kunci rapat-rapat di dalam hatinya. Grace memang khawatir jika Adro menunda niatnya untuk kembali hanya karena merasa kasihan dan berhutang budi padanya. Namun, ia lebih takut pada perasaan kehilangan yang akan ia rasakan ketika Adro akhirnya pergi.

Hidup dengan perasaan aman yang bergantung pada orang lain membuat Grace semakin lemah. Kepergian Sarah bagaikan sebuah cambuk baginya. Jika sekarang ia membiarkan dirinya bergantung pada Adro, bagaimana jika Adro harus pergi nanti, sama seperti yang lain?

“Kenapa otak dan perasaanku seperti ini? Aku hanya menyulitkan hidupku sendiri,” Grace beberapa kali membenturkan belakang kepalanya ke sandaran ranjang.

Selama ini, ia tidak pernah berkelahi dengan Sarah atau Bella. Ia adalah tipe orang yang akan mengalah dalam segala argumen dan pertengkaran. Kini setelah ia menyadari di mana kesalahannya, ia merasa canggung untuk menghadapi Adro. Mungkin, inilah sisi negatif dari berbagi tempat tinggal bersama orang lain.

Rasanya sangat berat untuk melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tamunya sendiri. Dari suara-suara di balik pintu, ia yakin Adro sedang beraktifitas di dapur.

Meski begitu, Grace tidak mungkin terus mengurung diri di kamar, ‘kan? Ia selalu saja menghindari masalah. Namun, bukankah ia harus belajar untuk menghadapi ketakutannya? Bukankah ia ingin menjadi mandiri?

Pintu kamar itu terbuka dengan seorang gadis berbalut kaus abu melangkah keluar.

Hal pertama yang langsung Grace temukan adalah sepasang mata biru kristal yang menatapnya dari meja konter dapur.

Kedua mata Grace mengerjap dan bibirnya mengatup rapat. Namun, ekspresi Adro tidak seperti yang ia bayangkan. Pria itu menatapnya dengan hangat seakan tidak ada apa pun yang terjadi.




Komentar