Langsung ke konten utama

34. Bukan Lagi Orang Asing // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Kau sudah selesai?” Sapa pria itu.

“I-iya.” Jawab Grace. “Kau bisa menggunakan kamar mandinya,”

“Aku akan mandi nanti. Aku sudah membuat makan malam untuk kita. Aku harap kau menyukainya,” Ucap Adro selagi menata piring di atas meja konter.

Melangkah pelan menghampiri meja itu, Grace merasa ada sebuah padang tandus di kerongkongannya yang membuat ia sulit bicara. Namun, sikap Adro bagaikan air mengalir yang membuatnya bisa bernapas.

“Terima kasih sudah repot-repot,” Ucap Grace, menatap dua porsi kentang tumbuk, dada ayam panggang, dan brokoli yang tersaji.

“Tidak masalah,” Sahut Adro, lalu duduk di kursi bar di samping Grace.

Menyuap brokoli ke mulutnya, Grace diam-diam melirik Adro yang tengah menikmati masakannya sendiri. Kelihatannya pria itu sangat senang bahwa ia semakin berguna di sini.

“Katakanlah jika kau ingin bicara,” Ucap Adro tiba-tiba dengan mata yang masih fokus pada makanannya.

Tersentak, Grace segera mengalihkan matanya kembali ke piring di hadapannya. Tidak ia sangka Adro menyadari bahwa ia diam-diam memperhatikannya. Ini sungguh memalukan!

“Mungkin karena terlalu banyak hal yang aku temukan hari ini, aku menjadi agak sensitif di perjalanan pulang. Aku tidak terlalu banyak bergerak, namun anehnya aku merasa agak lelah,” Ucap Adro, lalu disusul dengan tawa kecil. “Padahal, aku tidak pernah menjadi sensitif meski berperang selama berminggu-minggu dengan sedikit tidur. Aku tidak mengerti mengapa aku bersikap seperti tadi,”

“Itu tidak apa, Adro. Aku juga telah mengintropeksi diriku. Yang kau katakan benar; tidak seharusnya aku mengatur-ngatur dirimu hanya karena kau menumpang tinggal bersamaku,” Ucap Grace pelan.

Adro menoleh pada gadis itu. “Ini adalah pertama kalinya aku merasa tidak senang pada seseorang yang mengakui kesalahannya,”

“A-apa?” Grace menoleh pada Adro.

“Aku harap aku bisa melihatmu membela dirimu sendiri bahkan hanya sekali saja, Grace.”

Kening Grace mengkerut, “Aku… tidak yakin aku mengerti apa yang sedang kau bicarakan,”

“Aku yakin kau mengerti,” Adro menatap gadis itu pada matanya. “Aku memang mengalami emosi yang aneh tadi. Namun aku serius ketika berkata bahwa aku tidak akan menahan diriku lagi,”

Tertergun, Grace merasa brokoli yang baru ia telan tersangkut di tenggorokannya. Apa maksud pria itu? Sebenarnya, sejak awal pun, ia tidak merasa memahami apa maksud Menahan Diri yang Adro ucapkan. Grace mungkin sudah gila, namun itu adalah kalimat yang agak mencurigakan jika diucapkan oleh seorang pria pada wanita. Seharusnya ia tidak terlalu banyak membaca novel romantis, ‘kan?

“Aku akan terus mencari cara untuk kembali. Namun aku tidak menyangkal kenyataan bahwa itu sangat sulit dilakukan sekarang. Kemungkinan terburuknya adalah aku tidak bisa kembali sama sekali,” Lanjut Adro, mengembalikan fokus Grace yang sempat melayang di udara.

“Selama itu, aku kemungkinan besar akan terus berada di sekitarmu jika kau tidak mendorongku pergi. Dan mulai sekarang, aku berpikir untuk tidak berusaha menahan sikapku seakan aku hanyalah tamu sementara di rumahmu dan hidupmu. Daripada tamu, aku berharap aku bisa menjadi temanmu di sini, meski itu artinya aku akan menjadi sedikit tidak sopan dan mungkin membuatmu kesal,”

Mengedipkan mata beberapa kali, Grace menurunkan pandangannya dari wajah Adro. ‘Aku benar salah paham terhadapnya. Tentu saja… Adro adalah seorang pangeran - Ia memiliki kualitas moral dan tata krama standar kerajaan. Ia hanya merasa sesak karena harus terlalu ketat mengendalikan sikapnya selama ini terhadapku,’

Sebuah senyum perlahan mengembang di bibir Grace. Ia segera menutup mulutnya dengan punggung tangan saat sebuah tawa kecil mengalir keluar dari sana. “Maaf. Tapi ini agak lucu menurutku. Aku sungguh minta maaf,”

Tersernyum heran, Adro memiringkan kepalanya sedikit. “Sesungguhnya, aku penasaran bagian mana yang lucu,”

“Dari penjelasanmu; apakah benar bahwa selama ini sikap sangat sopanmu tidak benar-benar berasal dari kepribadianmu?” Tanya Grace sambil mengendalikan tawanya.

Adro terdiam beberapa saat dengan kening mengkerut dan mata tertarik ke atas. “Ya… Aku dapat mengatakan bahwa aku adalah pria sopan yang berusaha untuk menjadi lebih sopan dan menyenangkan kepada orang yang telah menolongku dan memberiku tumpangan,”

“Pffttt…” Grace menggeleng tipis. “Adro… Kau sungguh tidak perlu melakukan itu. Aku bukanlah orang kaku dan galak yang mengharuskan siapa pun yang menumpang di rumahku bersikap sesuai yang aku inginkan. Sejak awal, aku tahu kau adalah pria yang baik dan tahu diri. Dan itu semua sudah cukup. Kau bisa menjadi dirimu sendiri,”

“Hah… Ini agak memalukan. Kelihatannya aku harus menjelaskan lebih rinci padamu, ‘kan?” Adro menggaruk belakang kepalanya. “Jadi, di tempat asalku, itu adalah sebuah budaya untuk bersikap sopan dan menyenangkan jika kau bertamu di rumah seseorang, bahkan menumpang di sana. Aku berusaha menjaga sikapku sebaik mungkin karena kau adalah seorang perempuan yang tinggal sendirian,”

Grace menggeleng. “Itu tidak perlu, Adro. Saat ini, kau berada di dunia bebas di mana semua orang dibesarkan dalam budaya berbeda-beda. Aku juga percaya bahwa kau bukan pria jahat yang akan melakukan hal buruk padaku. Jadi, kau bisa melemaskan pundakmu dan bersikap biasalah padaku,”

“Aku mengerti. Terima kasih sudah mempercayaiku,” Adro tersenyum lembut.

Bersikap baik kepada orang asing adalah hal yang mudah dilakukan oleh beberapa orang. Namun mempercayai orang asing sebanyak itu membutuhkan keberanian dan hati yang besar. Ia beruntung bertemu dengan seorang wanita seperti Grace di dunia asing ini.

“Karena sudah jelas sekarang antara aku dan dirimu, aku juga akan mencari cara untuk bertahan hidup dan beradaptasi di dunia ini. Aku tidak ingin selamanya menyusahkanmu,” Lanjut Adro sebelum menghela panjang. “Aku juga tidak mau terus mengandalkanmu dalam pencarian jalan kembali ke duniaku, sementara kau memiliki sangat sedikit waktu,”

Meski Adro adalah pria yang terlihat kuat, keadaannya saat ini membuat Grace merasa iba. Ia dapat mengerti bagaimana perasaan ketika kau kehilangan harapan meski kau telah berusaha untuk tetap menghidupkan harapan itu di dalam hatimu.

Grace memang pernah menyemangati agar Adro terus bersemangat mencari jalan pulang dan tidak kehilangan harapan. Namun, bahkan api semangat orang paling tangguh di dunia akan berangsur padam jika keadaan seakan menutup semua pintu mereka.

Menatap Adro lekat-lekat, Grace tersenyum hangat dan mengangguk. “Itu adalah rencana yang bagus. Aku akan membantumu beradaptasi dengan dunia ini agar kau bisa menjadi mandiri dan melakukan apa pun yang kau inginkan tanpa harus merasa membebaniku,”

Senyum Grace seakan menyihir Adro beberapa saat. Bukan hanya senyumnya, melainkan kalimat gadis itu yang membuat Adro menjadi tenang. Selama ini, ia tidak pernah bergantung pada orang lain atau pun hanya berniat begitu. Ia tidak pernah merasa membutuhkan siapa pun dalam hidupnya. Namun kini, nalurinya seakan memerintahkannya untuk bergantung pada Grace, dan ia tidak merasa ingin menolak.

Apakah itu karena dunia ini masih terlalu asing baginya? Atau itu sesederhana karena sosok Grace yang mengatakannya?

***

Memutar-mutar pergelangan kakinya perlahan, Grace merisingis tipis atas rasa ngilu pada ototnya. Namun, senyum lega dengan cepat mengganti ringisan itu karena ia menyadari bahwa ia mungkin akan bisa berjalan dengan normal tidak lama lagi.

“Semoga setelah kakiku sudah bisa berjalan normal, aku tidak lagi terlalu mencolok sehingga mereka akan mengabaikanku,”

Lalu Grace menarik selimutnya dan merebahkan kepalanya ke atas bantal. “Hah… Perbincangan dengan Adro tadi membuatku merasa lega. Aku tidak tahu bahwa selama ini ia sungguh menahan dirinya agar bersikap sesopan itu. Ia pasti merasa tidak nyaman,”

Tiab-tiba, nada panggilan ponsel Grace mengalun. Ia menoleh pada benda yang sedang menyala itu, dan mendapati bahwa Sarah tengah menghubunginya.

“Sarah… Apa kau sudah di rumah barumu?” Tanya Grace langsung dengan senyum lebar di bibirnya.

Terdengar suara hembusan panjang dari sebrang. “Yah… Aku baru saja selesai mandi dan akan tidur. Rasanya tulang-tulangku akan remuk,” Jawab Sarah. “Apakah kau akan tidur?”

Grace mengangguk kecil. “Aku baru saja masuk ke kamar. Aku senang kau akhirnya menghubungiku. Jadi, urusan kepindahanmu sudah selesai hari ini?”

“M’m. Lusa nanti aku akan mulai berkuliah di universitas yang baru,” Jawab Sarah. “Um, ngomong-ngomong, Grace, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau tidak keberatan?”

“Sekarang? Tentu,” Jawab Grace.

“Aku ingin membahas perbincangan kita di café bandara tadi. Sebenarnya kenapa tadi kau mengatakan cerita konyol seperti itu mengenai Adro? Aku tahu, seberapa depresi atau bodohnya dirimu, kau tidak mungkin mengarang cerita seperti itu kepadaku, Grace,” Tanya Sarah.

Menghela panjang, Grace menjawab lemah, “Karena hal yang terdengar konyol dan tidak masuk akal itulah yang sungguhan terjadi. Aku tidak berbohong, Sarah. Awalnya aku pun tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Namun aku melihat dengan kedua mataku sendiri saat Adro keluar dari pintu buntu itu,”




Komentar