“Argh… Kau tahu, ini sungguh sulit dipercaya, ‘kan, Grace?” Keluh Sarah.
“Percayalah, Sarah; aku lebih depresi darimu atas hal ini karena aku yang mengalaminya sendiri. Sekarang seharusnya kau mengerti mengapa sejak awal aku enggan menjelaskannya pada kalian,” Sahut Grace lemah.
“Tsk! Baiklah… Jadi Adro berasal dari kerajaan dunia lain? Ia adalah seorang pangeran yang hendak menikah, dan sekarang tidak bisa kembali ke dunianya karena pintu yang membuatnya datang ke sini telah rusak?” Sarah mengulang poin-poin penjelasan panjang Grace.
“Itu benar. Tapi jika kau tidak percaya, itu tidak apa. Aku tidak akan memaksamu,” Ucap Grace. Bahkan setelah menjelaskan panjang lebar, ia masih mendengar keraguan jelas dari nada bicara gadis itu.
“Tidak. Tidak. Tentu aku percaya,” Jawab Sarah. Namun, ia hanya mendengar kesunyian di sebrang telpon. “Well, lebih jelasnya, yang aku percayai adalah bahwa kau tidak berbohong padaku. Namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa kau’lah yang ternyata dibohongi olehnya, ‘kan?”
“Ugh… Aku tidak tahu, Sarah. Aku sangat yakin Adro muncul dari pintu itu. Tidak ada penjelasan yang masuk akal bagaimana ia bisa tiba-tiba muncul di sana,” Grace mengusap keningnya.
“Aku mengerti. Tapi bisakah kau memberitahuku nama lengkap Adro? Aku ingin menyuruh orangku untuk mencari tahu tentangnya. Jika ia benar tidak berasal dari dunia ini, namanya tidak akan terdaftar di negara manapun, yah… meski ia sebenarnya bisa mengarang namanya sekarang,” Tutur Sarah.
Grace tertawa kecil seraya menggeleng. “Kau sungguh kritis, Sarah,”
“Tentu saja aku harus! Jika ia benar tengah menipumu, aku benar-benar akan memberinya pelajaran!”
“Baiklah… Tolong tenang sedikit. Sejauh ini, Adro tidak melakukan apa pun yang buruk. Percayalah padaku,” Sahut Grace, lalu ia terdiam sejenak untuk mengingat kembali nama Adro. “Adro Alymer Groendez. Ia berkata bahwa nama kerajaannya adalah Groendez a Lend.”
“Oke. Aku sudah mencatatnya,” Ucap Sarah. “Aku akan memberikan informasi ini pada orangku setelah ini. Biasanya ia hanya memerlukan waktu setengah hari untuk mencari tahu seseorang dari nama lengkapnya. Kalau begitu aku tutup telponnya. Selamat tidur,”
“Terima kasih, Sarah. Selamat tidur,”
Meletakkan ponselnya di samping bantal, Grace menghela panjang. Ia tidak heran pada sikap Sarah karena ia memang adalah orang dengan tingkat kecurigaan yang tinggi. Namun jika ternyata Adro benar adalah seorang penipu, apa yang akan terjadi nanti?
‘Apakah salah jika aku berharap ia sungguhan datang dari negri dongeng? Jika ia benar menipuku, itu artinya aku harus mengusirnya dan bahkan melaporkannya ke polisi, ‘kan? Tapi… hanya membayangkannya saja aku tidak sanggup,’
***
Sejak Sarah pergi, Grace berangkat dan pulang kampus menggunakan bus. Dan pagi ini, ia beruntung karena mendapatkan tempat duduk.
Merasakan ponselnya bergetar, Grace mengeluarkan benda itu dari dalam tas untuk mendapatkan sebuah pesan dari Sarah.
‘Grace! Hasilnya sudah keluar. Orangku tidak dapat menemukan nama Adro di mana pun. Jadi, ada dua kemungkinan: Ia sedang memalsukan namanya atau ia sungguh makhluk fiktif,’ – Sarah.
‘Oh, itu bagus. Tapi aku sangat yakin bahwa ia benar berasal dari dunia lain, Sarah.’ – Grace.
‘Ya, baiklah. Aku masih menyuruh orang-orangku mencari tahu lebih jauh,’ – Sarah.
‘Eum, Sarah, bolehkah aku meminta bantuan yang mungkin tidak akan kau sukai?’ – Grace.
‘Apa itu?’ – Sarah.
‘Karena Adro tidak memiliki identitas dan sudah terbukti bahwa namanya tidak terdaftar di manapun, apakah kau bisa membantunya dengan sesuatu agar ia bisa mendapatkan pekerjaan dan menyambung hidupnya sebagai pria mandiri di sini?’ – Grace.
‘Hm... Tentu. Aku akan meminta orangku untuk melakukannya,’ – Sarah.
‘Terima kasih banyak, Sarah. Maaf kau harus membantu Adro. Aku tahu kau tidak terlalu suka padanya,’ – Grace.
‘Nope. Aku tidak sedang membantu pria itu, melainkan sedang membantumu. Semakin cepat ia mandiri, semakin cepat ia pergi dari rumahmu. Jadi, tidak perlu memikirkan yang tidak perlu, oke? Aku memiliki tujuanku tersendiri,’ – Sarah.
‘Oke. Semoga harimu menyenangkan,’ – Grace.
***
Meski informasi mengenai tidak ditemukannya nama lengkap Adro di manapun seharusnya adalah sesuatu yang menyedihkan, Grace merasa lega karena itu artinya Adro bukan orang jahat. Dan di sisi lain… itu artinya Adro tidak perlu pergi secepat itu.
Seperti biasa, kampus pada hari ini pun terasa seperti neraka bagi Grace. Namun, tujuannya untuk segera melewati hari dan pulang ke rumah untuk bertemu Adro membuatnya tanpa sadar mengabaikan semua cemooh dan tatapan menyakitkan dari orang-orang.
Setibanya di rumah, Grace berhambur pada Adro yang menyapanya dengan hangat seperti biasa.
“Identitas diri?” Ulang Adro.
Grace mengangguk kencang dan cepat. Kedua tangannya saling menggenggam di depan dadanya. “Dengan identitas diri, kau bisa mendapat pekerjaan dan berkeliaran tanpa masalah. Sarah adalah orang hebat. Ia berkata akan membuat data palsu untukmu. Aku tidak tahu bagaimana ia akan melakukannya, namun kita bisa mempercayakan itu padanya,”
Terdiam sejenak, Adro kembali menatap Grace. “Aku pikir Sarah tidak terlalu menyukaiku?”
Pertanyaan Adro membuat senyum Grace berubah kecut. “Eum… Untuk itu… Ia memiliki alasan tersendiri untuk membantumu. Namun kau tidak perlu khawatir karena ia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Kau tahu, ia adalah sahabatku,”
“Aku tahu,” Adro tersenyum tipis. “Aku akan membalas jasanya jika keadaanku sudah stabil. Di samping itu, aku berterima kasih padamu karena aku yakin kau yang memintanya untuk membantuku, benar?”
“I-itu benar, namun itu tidak sulit untuk dilakukan,” Grace berdehem.
Memperhatikan Grace yang mengalihkan wajahnya ke samping, Adro kembali tersenyum. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti seperti apa pola pikir gadis di depannya ini. Grace adalah gadis pemalu yang bahkan akan merasa sungkan untuk mengakui jasanya terhadap orang lain. Ia berbaring serendah itu di atas tanah.
“Itu tidak menutup fakta bahwa kau telah membantuku lagi,” Ucap Adro. “Untuk balasannya, apa yang kau ingin aku lakukan?”
Mata membesar, Grace menoleh pada Adro. Lalu ia menggeleng cepat seraya menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Itu tidak perlu. Aku tidak ingin kau melakukan apa pun,”
“Ayolah…” Adro merapihkan rambut Grace yang berantakan karena ia menggelengkan kepalanya terlalu keras tadi. “Kau membantuku dengan segalanya. Setidaknya biarkan aku mengangkat harga diriku sendiri. Kau tahu aku adalah pangeran,”
Merasakan panas di pipi, Grace menggunakan ekor matanya untuk melihat tangan Adro yang masih mengambang di samping wajahnya. Sentuhan lembut pada helai-helai rambutnya membuat ia merinding, dan jantungnya seakan berhenti ketika jemari hangat itu membawa segumpal rambutnya untuk tersemat di belakang telinganya.
“Kau memiliki bentuk wajah yang indah. Ada baiknya kau tidak menutupinya terus dengan rambutmu,” Adro tersenyum seraya menarik tangannya turun. “Aku ingin membantumu dengan sesuatu. Cobalah pikirkan apa yang bisa aku lakukan untukmu,”
Berdehem, Grace berusaha mengumpulkan nyawanya kembali. Ia yakin pipinya sudah memerah sekarang, dan ia harap Adro tidak menyadarinya. Kenapa tiba-tiba pria itu menyentuh rambutnya? Ah… Apakah ini sebenarnya adalah kebiasaan pria itu - Menyentuh rambut dan memperbaiki penampilan seseorang?
“A-aku…” Grace teringat satu hal. “Aku memiliki projek melukis, namun masih tidak memiliki ide yang bagus untuk dilukis. Jadi… kau mungkin bisa membantuku,”
“Hm… Apakah itu bisa apa saja?” Tanya Adro.
Grace mengangguk kecil dengan wajah agak menunduk. Tadinya, ia hendak melukis pemandangan danau di malam hari. Namun karena Adro menanyakan soal bantuan tadi, ia jadi berpikir untuk mengganti ide melukisnya. Dibandingkan kesuraman danau di malam hari, kenapa ia tidak mencoba melukis sesuatu yang cerah dan idah seperti wajah seorang pangeran?
Ya, Grace berpikir untuk menjadikan Adro sebagai objek lukisannya. Pria bermata kristal dengan wajah sempurna yang dibingkai oleh rambut coklat adalah sesuatu yang menarik untuk dilukis.
“Aku-“
“Kalau begitu, bagaimana jika kau melukisakan calon istriku?” Ucap Adro langsung, tanpa sadar membuat Grace menelan kalimatnya kembali.
“Ca-calon istrimu?” Ulang Grace.
“Namanya adalah Putri Joselyn Marigold, wanita tercantik yang pernah aku lihat dalam hidupku. Dengan kemampuan melukismu, aku yakin kau bisa membuat wujudnya hidup di atas kanvas. Aku percaya lukisan itu akan menjadi sangat mengagumkan,” Adro tersenyum cerah.
Meneguk liurnya yang terasa seperti segenggam kerikil, Grace tidak percaya ia harus merasakan sensasi menusuk pada jantungnya setelah mendengar apa yang Adro katakan.
Kenapa ia harus merasa seperti ini? Adro hanya mengatakan pendapatnya terhadap calon istrinya. Apakah rambutnya yang diseka tanpa arti membuat Grace melupakan bahwa Adro sudah memiliki wanita yang ia cintai?
“Bagaimana menurutmu? Jika kau setuju, aku akan mendeskripsikan penampilan calon istriku untukmu,” Ucap Adro lagi.
.png)
Komentar
Posting Komentar