Langsung ke konten utama

36. Indah Dan Menyakitkan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“I-itu ide yang bagus,” Grace tersenyum kaku. “Tapi… aku takut tidak bisa menggambarnya sesuai dengan harapanmu. Aku takut menghancurkannya,”

Dengan yakin, Adro menggeleng. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kau adalah seniman yang sangat berbakat. Bagaimanapun hasilnya, Joselyn pasti akan merasa terhormat jika dirinya dilukis oleh seniman sepertimu,”

Melihat Grace terdiam dengan wajah menunduk dan tangan yang terus mengusap lengannya sendiri, Adro menggeser duduknya lebih dekat pada gadis itu. Ia tersenyum lembut seraya menarik tangan Grace untuk berhenti mengusap lengannya itu. “Kau sangat berbakat, Grace. Percaya dirilah,”

Memaksa senyum tipis, Grace menarik napas dalam dan mengangguk. “Baiklah… Aku akan mencobanya,”

Sejujurnya, Grace bahkan tidak mengerti mengapa ia merasa terpuruk sekarang. Seperti apa pun ia berusaha berpikir logis, ia tidak bisa membohongi hatinya. Ia memang sedikit takut melukis calon istri Adro karena ia mungkin akan mengacaukannya. Namun, hatinya masih merasa berat karena Adro tiba-tiba memintanya melukis istrinya.

‘Apakah aku menyukai Adro?’

Grace mengerti bahwa ia memiliki hati yang lemah. Pesona Adro memang tidak dapat dibantah oleh wanita manapun, ia yakin. Namun, Grace tidak biasanya akan menaruh perasaan besar kepada pria hanya karena wajahnya saja. Jika ia merasakan sakit pada hatinya sekarang, bukankah itu artinya ia menyukai Adro bukan sekedar dari fisiknya saja?

Setelah membantu Grace mendirikan papan melukisnya, Adro menarik kursi kecil untuk duduk di belakang papan lukis tersebut. “Aku sudah siap menerangkan,”

Mengeluarkan pensilnya yang telah diiris tumpul, Grace mengangguk dengan senyum tipis. “Aku juga sudah siap. Kau bisa mulai menjelaskan dari hal terdalam wajahnya karena aku akan melukis dari perut hingga ke kepala,”

Adro mengangguk, dan mulai membayangkan gambaran calon istrinya.

“Joselyn memiliki sepasang mata teduh dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Ah… Ia adalah gadis dengan rambut Beige hingga alis dan bulu matanya memiliki warna yang sama. Mata teduhnya itu membingkai sepasang iris biru terang, seterang langit cerah di musim panas,” Jelas Adro, tersenyum lembut pada gambaran calon istrinya yang melekat di dalam kepalanya.

Mengintip dari balik kanvasnya, Grace dapat melihat dengan jelas betapa Adro mengagumi Putri Joselyn. Ia tidak pernah melihat pria itu begitu terpanah pada sesuatu yang bahkan hanya ia bayangkan di dalam memorinya. Putri Joselyn; ia pasti sangat mempesona.

“La-lalu?” Tanya Grace setelah membuat sketsa sepasang mata teduh sesuai yang Adro deskripsikan.

“Ia memiliki hidung yang agak tinggi dan mungil,” Adro tertawa kecil. “Saat kecil, aku kerap menyamakan hidungnya dengan sendok teh. Namun hidung sendok teh itu sungguh cocok berada di wajahnya. Selain itu, ia juga memiliki bibir mungil dan penuh seperti buah cherry,”

“Lalu? Bagaimana dengan bentuk wajah dan rambutnya?” Tanya Grace lagi dengan suara pelan.

“Wajahnya juga mungil. Ia memiliki tulang pipi yang agak tinggi hingga membuat wajahnya terlihat seperti simbol hati. Rambutnya panjang sepinggang dan sangat lembut seperti sutera dengan bentuk sedikit bergelombang dan menjadi ikal di bagian bawahnya karena ia kerap mengepang rambut panjang itu sejak kecil,” Jawab Adro.

“Selain itu, ia memiliki kulit seputih salju. Ketika terkena cahaya, kulitnya mengkilat bagai porselen. Lehernya agak jenjang dan terlihat rapuh. Beruntung, ia memiliki kepala yang kecil, meski rambutnya panjang dan tebal hingga seakan memberatkan kepalanya,” Lanjut pria itu sambil tertawa kecil.

Terus menggoreskan pensilnya di atas kanvas, Grace tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum karena tawa-tawa kecil yang terus mengalir dari bibir Adro. Meski hatinya terasa agak perih, menyaksikan bagaimana seorang pria begitu mencintai seorang gadis terasa sangat indah bagi Grace, meski gadis itu bukanlah dirinya.

Ya, tidak mungkin Grace bisa menjadi sosok seperti Joselyn di hati Adro. Ia pun tidak pernah berhadap atau berani membayangkannya. Putri Joselyn Marigold Pentapore adalah…

“Malaikat. Ia terlihat seperti malaikat,” Gumam Grace setelah menurunkan pensilnya.

Kedua alis Adro terangkat. “Kau sudah selesai?”

Grace mengangguk. “Ini baru sketsanya saja, namun sudah sangat indah,”

Segera bangkit berdiri dari duduknya, Adro menatap Grace penuh semangat. “Boleh aku melihatnya sekarang?”

“Tentu,” Grace memundurkan kursinya. “Aku akan mulai mewarnainya malam ini. Namun aku sudah menyiapkan warna-warna dasarnya,” ia menunjuk beberapa coretan cat akrilik di pinggiran kanvas.

“Kau bisa menggunakan semua waktu...” Adro tertegun menatap lukisan Grace. “…mu,”

Tersipu, Grace tertawa kecil seraya mengusap lengannya. “A-aku tidak tahu apakah calon istrimu benar terlihat seperti ini, tapi aku sudah menggambarnya semirip mungkin dengan penjelasanmu,”

“Grace, kau benar-benar berbakat. Bagaimana mungkin coretan tinta mampu membuat wajah seorang manusia yang begitu mirip?” Ujar Adro dengan mata berbinar.

“Itu adalah pensil,” Gumam Grace pelan dengan kekehan kecil. “Kau sangat berlebihan, namun trimakasih untuk pujiannya,”

“Aku tidak bermaksud berlebihan, Grace. Tanganmu telah diberkati oleh dewa sangat banyak,” Ucap Adro.

Mengembalikan pandangannya pada sketsa seorang gadis bangsawan yang sedang duduk menatap padanya, Grace tersenyum tipis. Itu hanyalah sketsa tanpa warna. Jika sketsa itu benar sangat mirip dengan Joselyn, sosok aslinya pasti teramat cantik. Tidak mengherankan jika Adro sangat mencintai Joselyn, seakan gadis itu adalah sebuah berlian berharga.

Semakin banyak mengetahui berbagai hal berharga yang Adro tinggalkan di dunianya, semakin Grace merasa harus berusaha membantu pria itu kembali ke sana.

***

Ketika kaki Grace benar-benar sudah sembuh, ia mengajarkan Adro cara menyetir. Berkat bantuan Sarah yang memalsukan sebuah identitas palsu untuk Adro, pria itu juga bisa membuat kartu mengemudi.

Hari demi hari terlewati. Meski petunjuk untuk jalan pulang tidak juga ditemukan, Adro tidak sesedih itu karena ia bisa beradaptasi dengan baik di dunia baru ini.

Di sisi lain, Grace juga sudah terbiasa dengan keberadaan Adro di rumahnya dan sikap alami pria itu. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Dibandingkan dengan pemilik rumah dan tamu yang menumpang, mereka berdua terlihat seperti rekan serumah.

“Apa kau yakin kasur itu akan muat di ruang tamu?” Tanya Adro.

Grace mengangguk. “Sofanya nanti bisa digeser. Lagipula kasurnya bisa dilipat sehingga tidak akan memakan tempat di siang hari,”

“Ini adalah pertama kalinya aku membeli sebuah barang karena ada potongan harga,” Adro tertawa kecil sembari menggelengkan kepala.

“Hei… Itu cukup pantas, kau tahu. Lebih baik tidur di kasur daripada di sofa. Kau bisa tidur lebih nyaman tanpa mengeluarkan uang terlalu besar, jadi tidak perlu menunggu hingga kau memiliki uang lebih banyak untuk membeli kasur mahal.” Sahut Grace. “Percayalah, Adro. Kasur itu sangat murah,”

“Baiklah. Aku mengerti,” Adro mengangguk asal. “Kau mengkhawatirkan uangku lebih besar daripada aku mengkhawatirkan mereka,”

“Sebagai seseorang yang berada dalam ekonomi sulit sejak kecil, aku terbiasa mengirit uang dan membandingkan berbagai hal,”

“Hmm… Bicara tentang uang, sebenarnya uangku juga sudah sangat menipis,” Adro mengusap dagunya.

Grace tersenyum kecut. “Itulah yang aku bicarakan dari tadi,”

“Aku harus mencari pekerjaan. Tidak boleh menunda lago. Ini sudah saatnya,” Ucap Adro seraya mengeratkan genggamannya pada stir mobil.

“Kau yakin sudah benar-benar siap?” Tanya Grace ragu. Sebenarnya, jika Sarah mengetahui bahwa ia menghalangi Adro untuk mencari pekerjaan, ia pasti akan dimarahi habis-habisan. Namun, ia hanya tidak bisa berhenti khawatir pada pria itu.

Adro tertawa kecil seraya melirik gadis itu sinis. “Jika bukan karena kau yang terus menghalangiku, aku sudah memiliki pekerjaan sekarang. Apa yang tidak mandiri dariku sekarang, Grace? Aku bahkan bisa menyetir dan berkeliling kota sendiri,”

“Yah… Itu benar. Tapi, kau tahu, bekerja dengan berkeliling kota sesuka hati itu adalah hal yang berbeda. Saat bekerja, kau menghadapi banyak sekali orang dengan sebuah tanggung jawab yang besar di pundakmu. Kau melakukan suatu hal berdasarkan perintah dan dalam pengawasan. Ada kalanya bosmu juga tidak menyukai hasil kerjamu dan mungkin membuatmu merasa tertekan,” Jelas Grace pelan, mengingat pengalaman magangnya.

“Itu adalah penjelasan yang cukup panjang. Namun, itu semua adalah kecil. Di dunia asalku, aku memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari itu. Sedikit saja kesalahan yang aku lakukan, nyawa prajurit, bahkan rakyatku yang bisa menjadi korbannya,” Jawab Adro ringan.

“Oh… Maaf, aku melupakan itu,” Grace mengusap lengannya.

“Kelihatannya aku berhasil beradaptasi dengan dunia ini sangat baik hingga kau melupakan darimana aku berasal, bahkan ketika kita sedang hendak mencari tahu cara aku kembali,” Adro tertawa.

“Beberapa kali ke perpustakaan membuatku merasa ini bukan hal istimewa, jadi aku sempat melupakannya. Maaf soal itu,” Ucap Grace.

“Tidak perlu minta maaf. Aku bisa mewajarkannya karena kau memang adalah pelupa,” Sahut Adro. “Meski begitu, kau tidak akan melupakanku jika nanti aku berhasil kembali, ‘kan?”

Menoleh pada Adro, Grace tersenyum tipis. “Tentu saja tidak,”




Komentar