Langsung ke konten utama

37. Dinding Pembatas // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Baiklah, semoga kita beruntung hari ini,” Ucap Adro sebelum melirik Grace. “Kau telah berkorban sangat banyak untuk ini,”

“Hei… Ini adalah hari liburku,” Grace tertawa kecil.

“Hari libur yang kau paksakan di tengah jadwal kuliahmu yang padat,” Balas Adro.

Namun Grace menggeleng santai. “Aku memang suka ke perpustakaan kota, jadi ini terasa seperti sebuah liburan singkat bagiku,”

Tersenyum lembut, Adro mengusap pundak Grace sebelum mengarahkannya untuk masuk ke dalam pintu perpustakaan. Ia tahu Grace hanya mencari alasan positif untuk menemaninya. Namun, ia tidak akan berusaha membuka itu untuk kali ini agar mereka bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Lagipula, semenjak Grace memasuki masa ujian, mereka sangat jarang bisa menikmati waktu bersama, bahkan hanya untuk mengorbol atau menonton film di rumah.

Di perpustakaan luas tersebut, Adro dan Grace kembali menyusuri lorong-lorong rak buku-buku tua. Sudah beberapa kali mereka datang ke perpustakaan ini, namun, jangankan berhasil menemukan sesuatu, mereka bahkan belum berhasil memeriksa semua rak bukunya.

“Adro!” Panggil Grace dengan mata yang masih terfokus pada sebuah buku dengan sampul kulit tua.

Menoleh pada panggilan setengah berbisik tersebut, Adro segera menghampiri Grace yang berdiri di ujung lorong rak buku. “Kau menemukan sesuatu?”

Grace mengangguk cepat. “Buku ini sangat mencurigakan. Sepertinya kita harus memeriksanya,” ia menunjukkan halaman buku yang telah ia buka.

Mempelajari halaman itu sejenak, Adro mengangguk dengan wajah serius. “Kau benar. Ini buku yang membahas tentang witchcraft dan ini terasa sangat familiar dibanding buku yang membahas penyihir lainnya di perpustakaan ini,”

Menuju meja terdekat, mereka segera mempelajari buku tersebut dari halaman pertama. Namun yang lebih mengejutkan lagi, buku itu bukan hanya membahas tentang witchcraft, melainkan membahas tentang penyebrangan antar dunia melalui sebuah portal, namun tidak dijelaskan seperti apa portal tersebut, cara membuatnya, dan yang lainnya.

“Aku tidak tahu, namun aku meyakini bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang telah mempraktekkan sihir. Kelihatannya ia sengaja tidak memberikan informasi lengkap tentang sihir tersebut di dalam buku ini,” Ucap Adro.

“Di sini hanya disebutkan bahwa buku ini ditulis oleh seseorang dengan nama pena LJ,” Ucap Grace sebelum membalik ke halaman berikutnya.

“Lihat ini,” Grace menunjuk sebuah paragraf baru. “Di sini dijelaskan bahwa ada penculikan anak-anak pada jaman itu. Anehnya, mereka diculik di kamar tidur mereka sendiri, bahkan ketika kamar itu tidak memiliki jendela. Beberapa anak ditemukan di tengah hutan namun dengan sikap dan sifat yang jauh berbeda dengan diri mereka yang sebelumnya, dan anak sisanya, menghilang untuk selamanya,”

“Itu adalah ulah penyihir,” Ucap Adro seraya mengusap dagunya. “Namun aku sekarang meragukan apakah buku ini benar ditulis oleh penyihir. Hati mereka sangat busuk, sehingga tidak mungkin mereka menuliskan perbuatan jahat mereka di buku,”

“Aku akan mencari tahu tentang buku ini di internet sekarang,” Grace mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.

“LJ adalah seorang sejarahwan dan penulis. Buku ini diterbitkan tiga puluh tahun yang lalu dan penulisnya sudah meninggal sekarang. Buku ini adalah hasil rangkuman dari gulungan-gulungan kertas yang ditemukan di reruntuhan bekas sebuah kerajaan di luar negri yang tertimbun sejak dua ratus tahun lalu,” Jelas Grace setelah berkutat dengan laptopnya sekitar lima menit.

Menatap Grace dengan mata membesar, Adro langsung bertanya, “Apakah masih tersisa penerus dari kerajaan itu?”

Menggeleng pelan, Grace menjawab, “Maaf. Tapi kerajaan itu hanya ditemukan jejaknya saja tanpa ada keterangan penerus. Itu sama seperti kerajaan-kerajaan punah lainnya yang tersebar di seluruh dunia,”

“O-oh, sungguh disayangkan,” Gumam Adro, menurunkan pandangannya lemah.

“Eum, Adro…” Grace berdehem.

“Ya? Apa kau menemukan hal lain?” Adro kembali mengangkat wajahnya.

“A-aku menemukan hal lainnya, tapi… ini bukan sesuatu yang bagus,”

Melihat wajah ragu Grace, Adro berusaha tersenyum tipis seraya mengusap punggung gadis itu sekilas. “Kau bisa mengatakannya padaku. Aku lebih memilih kenyataan yang pahit daripada kebohongan manis,”

Mengangguk singkat, Grace mulai berbicara, “Ini adalah artikel terpercaya yang berisi tentang bantahan terhadap buku yang ditulis oleh LJ. Mereka telah melakukan penyelidikan lainnya, dan menemukan bahwa penculik anak-anak itu adalah seorang ahli kimia psikopat yang meneliti otak anak-anak secara illegal. Mereka juga menemukan bukti bahwa ahli kimia itu akhirnya tertangkap dan dihukum mati. Mereka menuduh LJ menyelipkan kebohongan-kebohongan di dalam tulisannya agar menjadi terkenal,”

“Baiklah. Aku mengerti,” Gumam Adro, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Maaf, Adro,” Ucap Grace pelan saraya meletakkan ponselnya di atas meja.

Tertawa kecil, Adro menatap Grace dengan satu alis terangkat. “Kenapa kau harus minta maaf?”

“A-aku hanya merasa tidak enak padamu karena terus gagal mengirimmu pulang. Andai saja aku memiliki uang lebih dan teman lebih banyak, aku pasti akan menggunakan itu semua untuk melakukan hal lebih jauh yang mungkin akan berhasil menemukan jalan pulangmu,” Jelas Grace dengan kepala tertunduk.

“Grace,” Adro menjulurkan tangannya untuk meraih dagu gadis itu agar ia tidak lagi menunduk. “Apakah kau tahu betapa manisnya dirimu? Ini bukan tempatmu untuk merasa bersalah – karena kau sudah melakukan yang terbaik. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu. Jika kau terus menyalahkan dirimu, akulah yang malah merasa buruk sekarang,” ia tersenyum seraya mengusap pipi gadis itu dengan jempolnya.

“Eum…” Mata Grace bergulir ke bawah pada tangan besar dan hangat yang menempel di wajahnya, sementara tubuhnya menjadi kaku.

“Ah… Maaf,” Adro segera menarik tangannya.

“Ti-tidak apa,” Grace menunduk.

Mengeratkan rahangnya, Adro berdehem pelan. “Sepertinya aku tanpa sadar bersikap melewati batas. Kau bisa mengatakannya jika kau merasa keberatan dengan salah satu sikapku,”

Grace segera mengangkat wajahnya, dan mendapati senyum sendu pada wajah Adro. “A-aku tidak merasa keberatan. A-aku hanya… sedikit terkejut. Mungkin itu karena aku tidak memiliki banyak teman laki-laki,”

Wajah kembali cerah, Adro mengangguk keras. “Baguslah jika itu alasannya. Kau tahu, aku bersikap seperti ini karena aku melihat orang-orang di duniamu sering melakukannya. Di televisi, mereka yang berteman sering berpelukan dan saling merangkul. Bahkan di duniaku, mereka yang memiliki hubungan sangat dekat juga kerap melakukannya,”

Tersenyum kaku, Grace mengusap lengannya, “Bahkan di duniamu, orang-orang juga melakukan itu. Kelihatannya hanya memang akulah yang terlalu sensitif,” ucapnya dengan suara semakin mengecil.

“Sejujurnya, ini aneh,” Ucap Adro tiba-tiba.

“Apa yang aneh?” Grace menatap pria itu.

“Kita belum lama mengenal, namun aku merasa sangat dekat denganmu seakan kau adalah adik perempuanku – yah, meski aku tidak memiliki saudara perempuan. Tapi jika aku memilikinya, aku ingin ia memiliki sifat semanis dirimu,” Adro tertawa kecil, lalu tawa itu memudar perlahan. “Anehnya, aku tidak bisa menahan pandanganku ini terhadapmu, meski aku tahu kau masih menganggap kita tidak sedekat itu,”

“A-Adro, maaf jika kau merasa seperti itu. Aku hanya… hanya memiliki sebuah alasan tersendiri yang membuatku tidak terbiasa ketika seorang laki-laki bersikap sebaik dirimu padaku,” Jelas Grace gugup.

“Oh,” Adro mengerutkan keningnya. Ia teringat pada semua cerita Grace mengenai sikap beberapa pria di dunia ini yang kurang baik dan kejadian ketika Grace dirundung oleh beberapa wanita di pusat perbelanjaan. Saat itu, mereka mengatakan bahwa Grace dicampakkan oleh seorang pria yang memanfaatkannya. Tidak mengherankan mengapa Grace menjadi tidak terbiasa jika ada pria yang bersikap baik padanya.

Tersenyum lembut, Adro mendekatkan wajahnya pada Grace untuk menatap kedua mata bulat gadis itu lekat-lekat. “Tidak perlu minta maaf. Aku mengerti apa maksudmu. Jika kau memang tidak terbiasa, aku akan membuatmu terbiasa. Para laki-laki itu tidak bisa menilai sesuatu yang berharga,”

Grace hanya bisa tersenyum canggung pada Adro yang nampak berapi-api. Ia tidak tahu, namun kelihatannya Adro menyimpulkan sesuatu yang salah. Sayangnya, Grace tidak bisa meluruskannya karena alasan sesungguhnya yang ia miliki hanya akan menghancurkan hubungan baik mereka sekarang.

Lagi-lagi, Grace harus berbohong. Ia bukannya tidak terbiasa dengan sikap Adro yang semakin manis padanya, mengingat mereka sudah cukup dekat karena sering menghabiskan waktu bersama di bawah satu atap. Namun, ia berusaha untuk membangun tembok di antara mereka agar ia tidak menumbuhkan perasaan khusus pada Adro.

Sikap manis Adro tentu saja membuat Grace bahagia. Ia tidak pernah mendapat perlakuan sehangat ini dari seorang pria. Namun, jika ia membiarkan dirinya terbiasa dengan hal ini, dirinyalah yang akan tersakiti.

Nyatanya, kini dada Grace sudah merasakan sedikit tusukan menyakitkan karena Adro menganggapnya sebagai seorang adik perempuan, di saat hati kecilnya menginginkan sesuatu yang lebih.




Komentar