Langsung ke konten utama

38. Pekerjaan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

‘Apa yang kau pikirkan, Grace? Pria di sampingmu ini adalah calon suami seorang perempuan baik-baik,’

Melihat Grace menarik napas panjang dan menghembuskannya berat seakan seluruh beban dunia dilimpahkan di atas pundaknya, Adro berdehem untuk kembali bicara, “Terkadang aku berpikir, apakah sekolahmu terasa menyenangkan,”

“Huh?” Grace menoleh pada Adro.

“Sejujurnya selama ini aku penasaran apakah kau merasa senang saat pergi kuliah. Itu karena kau selalu terlihat lelah saat pulang dari sana. Wajahmu… entah mengapa aku merasa kau terlihat sedih saat pulang dari belajar,” Jelas Adro.

Pertanyaan Adro membuat Grace terdiam. Gambaran-gambaran tentang kehidupan kampusnya yang tidak menyenangkan bahkan hingga detik ini seketika memenuhi kepalanya. Ya, satu-satunya yang membuat Grace bersemangat hidup hanyalah Adro. Selain itu, kehidupannya terasa seperti di neraka, terutama di kampus setelah Sarah pergi dan kejadian lift yang masih menjadi bahan olok-olok kepadanya hingga sekarang.

“Be-benarkah? Aku tidak tahu aku terlihat seperti itu. Namun aku yakin itu karena aku kelelahan di kampus. Kau tahu, belajar menguras banyak sekali energiku,” Jawab Grace sebelum terkekeh kecil.

Namun tawa kecil gadis itu dapat dideteksi sebagai kepalsuan oleh Adro. Ia meraih pipi Grace dan berkata, “Lihat mataku,”

Tertegun, Grace melakukan apa yang Adro perintahkan; yaitu menatap kedua manik biru kristal tersebut tanpa berkedip.

“Benarkah wajahmu selalu terlihat sedih dan gestur tubuhmu sangat lesu hanya karena kau lelah belajar di kampus?” Tanya Adro lagi.

Tatapan tajam Adro membuat kedua mata Grace bergetar. Dan seperti yang sudah Adro perkirakan, dua detik kemudian, Grace melarikan tatapannya dan menarik wajahnya untuk menghindar.

“Jadi itu benar,” Adro menarik tangannya dari wajah Grace.

Menggigit bibir bawahnya, Grace hanya bisa terdiam lagi tanpa berani menatap Adro yang ia sadari sedang terus menatapnya.

“Saat kau membelikanku baju di mall itu,” Ucap Adro, berusaha memancing Grace untuk menatapnya, namun kelihatannya nyali gadis itu terlalu tipis hingga membuatnya tetap menunduk. “Sebenarnya, aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan tiga wanita itu,”

Kedua mata Grace seketika melebar. Kalimat terakhir Adro berhasil membuatnya mengangkat wajah untuk menatap pria itu.

“Saat itu, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Aku berpikir aku tidak mau memberi masalah padamu dengan muncul di hadapan teman-temanmu yang lain, namun aku malah berakhir mendengar percakapan kalian,” Jelas Adro sebelum menarik napas panjang, dan melanjutkan, “Maaf selama ini aku menutupi hal ini darimu. Namun karena kita sudah berteman baik sekarang, aku rasa aku harus mengatakannya,”

“A-aku… Saat itu aku…” Grace terbata dengan kedua mata berkaca-kaca.

Adro mengangguk pelan sebelum meraih salah satu tangan Grace dan menggenggamnya. “Saat itu kau berkata bahwa kau baik-baik saja – Dan itu adalah kebohongan. Mereka mengatakan hal jahat padamu hingga membuatmu menangis. Dari hal itu, aku mengetahui bahwa kau memiliki waktu yang kurang menyenangkan di tempat belajarmu. Maaf jika aku berpura-pura bodoh. Aku tidak ingin membuat perasaanmu semakin buruk saat itu,”

“Ma-maaf aku sudah berbohong,” Gumam Grace.

“Tidak,” Adro mengusap air di ujung mata Grace dengan jempolnya. “Aku mengerti mengapa kau menutupi itu,”

“Aku hanya… tidak mau terlihat semenyedihkan itu di matamu. Aku pikir… jika kau melihatku selemah itu, kau akan meragukanku dan berpikir untuk tidak lagi meminta bantuanku. Sejujurnya, keberadaanmu membuatku merasa berguna sementara aku adalah seorang gadis tidak berguna di sepanjang hidupku,” Jelas Grace pelan.

“Saat itu, aku memutuskan untuk tidak mencampuri urusanmu karena aku pikir aku akan segera kembali ke duniaku. Namun kenyataannya adalah aku masih terjebak di sini hingga sekarang. Alasanku masih bisa hidup dengan baik di sini adalah kau, Grace. Jika bukan karenamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Kau tidak perlu berusaha menjadi berguna karena kebaikan hatimu melebihi segalanya.” Ucap Adro.

Melihat wajah Grace masih menunduk dengan air mata memenuhi mata bulat sendunya, Adro mengangkat dagu gadis itu. “Grace, aku ingin berteman baik denganmu, bahkan menganggapmu sebagai adik perempuanku bukanlah tanpa alasan. Kau itu lebih besar dari yang kau kira. Jangan terus menilai dirimu sangat kecil. Sebagai seorang teman baik, aku tidak suka melihatmu memendam penderitaanmu. Aku mau menampung semua itu jika kau ingin mengeluh,”

Menatap kedua mata teduh Adro, buliran hangat mengalir keluar dari mata Grace. Namun sebelum air mata itu bergerak ke pipinya, jemari Adro dengan cekatan menyeka bulir kristal itu hingga menghilang.

“Maaf karena aku selalu berbohong padamu, Adro. Aku tahu aku lemah dan orang-orang juga menganggapku lemah. Karena itu, aku tidak ingin menambahkan kesan buruk itu dengan menceritakan kehidupan menyedihkanku pada orang lain,”

Menggeleng pelan, Adro menjawab, “Aku pikir aku bukan lagi orang lain bagimu, Grace. Lagipula, bukan seperti itu caranya untuk menjadi kuat, atau bahkan terlihat kuat. Jika kau tidak memiliki seseorang untuk menjadi penampung kesedihanmu, maka jadikanlah aku penampung itu, karena aku peduli padamu. Aku tidak suka melihatmu sedih. Kau mengerti?”

Tertegun pada wajah lembut dan ucapan Adro, Grace merasakan kehangatan memenuhi ruang dingin di dalam dadanya. Lalu, sebuah senyuman tipis dengan sendirinya merekah di bibirnya yang lembab. Ia mengangguk pelan. “Aku mengerti,”

“Bagus,” Adro mengusap kepala Grace sejenak, lalu menghela kasar. “Jika perlu, aku akan memberi pelajaran pada orang-orang yang menyakitimu, terutama pria yang bernama Victor itu,”

Grace mengerutkan keningnya. “Dari mana kau tahu soal Victor?”

“Aku mendengar tiga wanita itu menyebutkan namanya – Entah mengapa nama itu langsung merekat begitu saja di pikiranku,” Jawab Adro. Lalu ia menoleh pada Grace lagi sebelum kembali berbicara, “Intinya, mulai sekarang, aku ingin kau mengatakan padaku jika kau membutuhkan bantuan. Aku akan dengan senang hati membantumu dengan apa pun. Aku ingin melihatmu tersenyum karena kau cantik saat tersenyum, mengerti?”

Menyematkan senyuman tipis di wajahnya, Grace mengangguk pelan. Sangat mudah bagi Adro untuk mengatakan hal itu. Ya, tentu saja. Bahkan meski ia berasal dari dunia lain, sama seperti pria kebanyakan, mereka dengan mudahnya memuji seorang perempuan.

Namun, tidak Adro ketahui bahwa kalimat manisnya itu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati Grace. Semakin lama, Grace semakin takut akan berakhir jatuh cinta pada pria yang tidak boleh ia cintai.

***

‘Max berkata uang mengalir seperti air ketika kau miskin – ternyata itu benar,’ Pikir Adro seraya menatap isi dompetnya.

Sekeras apa pun Adro mengingat, ia tidak merasa telah menghambur-hamburkan uangnya. Yah, ia memang telah membeli beberapa barang dan pakaian, termasuk benda yang sangat penting di dunia ini yang dinamakan Ponsel. Ia juga membelikan beberapa pakaian cantik dan makanan untuk Grace ketika ia berjalan-jalan keluar mengelilingi kota. Namun, ia sungguh merasa bahwa ia telah mengirit uangnya.

‘Sebagai seorang pangeran, aku tidak terlatih untuk menghemat uang. Kelihatannya ini menjadi kelemahan terbesarku sekarang,’ Pikir Adro seraya menarik beberapa lembar uang dari dompetnya. ‘Menjadi melarat tidak pernah terlintas di otakku selama ini, bahkan setelah aku pernah membayangkan diriku mati diinjak naga,’

“Bisa aku menerima pesananmu?” Tanya seorang pria berleher merah yang berdiri di balik mesin kasir.

“Paket burger Joy 2 makan di sini dan salad dibungkus,” Jawab Adro.

“Oke. Pesananmu akan segera diantar. Maaf untuk antrian yang panjang,” Ucap pria kasir itu.

Adro menggeleng, “Tidak masalah. Tempat ini ramai karena makanannya yang enak,” jawabnya sebelum memperhatikan jendela dapur yang menampakkan kesibukan orang-orang di baliknya dan sekeliling yang ramai.

“Totalnya tiga puluh tiga” Ucap pria kasir.

“Baiklah,” Adro menyerahkan uang yang sudah ia siapkan tadi seraya melirik tag nama pria kasir yang memiliki tulisan Manager di bawah namanya; Edd Willis.

“Ngomong-ngomong, Mr. Willis, karena tempat ini sangat ramai, apa kau mungkin membutuhkan pekerja tambahan?” Tanya Adro ketika pria itu sedang menyiapkan kembaliannya.

Pria kasir bernama Mr. Willis itu menatap Adro dengan mata agak menyipit. Ia menahan kembalian di tangannya. “Pegawai? Ya, kami berencana menambahnya. Jika kau memiliki kenalan untuk bekerja, ia bisa datang, dan aku akan berbincang dengannya sebentar,”

“Kebetulan, akulah yang ingin bekerja. Aku bisa mulai secepatnya,” Ucap Adro.

“Kau?” Kening Mr. Willis mengkerut. “Maaf, kau yakin ingin bekerja di restoran cepat saji ini?”

Memiringkan kepalanya sedikit, Adro menjawab, “Kenapa tidak?”

“Jika kau serius, tunggulah di salah satu meja. Aku akan segera menghampirimu,” Mr. Wiliis dengan cepat menyerahkan kembalian pria di depannya karena antiran menjadi semakin panjang.

Tersenyum lebar, Adro mengambil kembalian tersebut. “Tentu. Aku akan menunggumu,”




Komentar