Langsung ke konten utama

39. Berlibur Dengan Benar // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Besok kau mulai bekerja?” Kedua mata Grace membesar. Ia hampir menjatuhkan potongan sosis dari mulutnya.

“Benar. Aku bahkan sudah mendapat seragam,” Adro mengangguk tanpa menurunkan dagunya yang masih terangkat tinggi. Akhirnya ia memiliki pekerjaan!

“Tapi… kau sungguh yakin akan bekerja di sana?” Tanya Grace.

Memutar matanya, Adro mendecak, “Astaga, Grace… kenapa kau selalu melakukan ini? Hanya karena aku adalah pangeran yang hidup di istana, bukan berarti aku tidak bisa melakukan berbagai hal. Aku bersumpah akan memenggal kepala naga di hadapanmu jika ada kesempatan agar kau tidak terus menganggapku pangeran manja,”

“Bu-bukan begitu, Adro,” Ucap Grace cepat sebelum buru-buru meneguk air karena ia hampir tersedak. Lalu, ia membenahi duduknya untuk menghadap pria itu lebih baik. “Aku bukannya berpikir kau tidak akan kompeten menjadi seorang pramusaji restoran cepat saji. Aku hanya berpikir… mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok dengan, yah, penampilanmu… mungkin,”

Menyipitkan matanya, Adro mengingat bahwa hal yang hampir sama juga ditanyakan oleh Mr. Wilis, pria yang akan menjadi bosnya besok. Pria yang lehernya akan menjadi sangat merah ketika ia kelelahan itu mengatakan bahwa ia pikir Adro adalah seorang model terkenal sehingga tidak mungkin melamar kerja di restoran cepat saji.

“Adro?” Grace menatap Adro yang nampak sedang berpikir sambil mengusap dagunya.

“Ya?” Tersadar dari lamunannya, Adro tertawa kecil sambil menggeleng pelan. “Untuk saat ini, hal yang terpenting adalah aku memiliki pekerjaan dan penghasilan. Aku rasa aku akan cukup menikmatinya. Karena itu, kau tidak perlu khawatir,”

Menghela panjang, Grace tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Jika kau memang yakin, aku akan mendukungmu dengan apa pun itu. Katakanlah padaku jika kau membutuhkan bantuan,”

“Aku yakin aku tidak akan membutuhkannya,” Jawab Adro sebelum mengusap kepala Grace. “Itu adalah kalimatku,”

“Yah…” Grace memutar matanya.

“Hei… Ada apa dengan matamu itu?” Adro tertawa sembari mengacak-acak rambut Grace.

“Bukan apa-apa! Berhenti mengacak rambutku!” Grace berusaha menepis tangan Adro sambil tertawa geli.

***

Keesokan harinya, Adro hadir di tempat kerja barunya. Seperti yang dikatakan di awal, ia akan menjadi seorang pramusaji karena Mr. Wiliis memiliki niat tersendiri.

Lalu, tepat seperti yang Mr. Willis harapkan, wajah rupawan dan tubuh proposional Adro dengan cepat menarik mata banyak orang, bukan hanya para wanita, namun benar-benar hampir semua tamu yang datang di restoran itu.

Selain penampilannya yang bak pangeran, Adro juga memiliki keterampilan yang mengesankan di dalam pekerjaannya. Ia memiliki stamina yang tinggi sehingga selalu nampak bersemangat dan prima hingga jam terakhirnya. Ia juga sangat cekatan dalam mengerjakan pekerjaannya dan memiliki ingatan yang bagus. Selain itu, keramahan dan cara bicaranya yang sopan membuat para tamu semakin terpikat hingga memberikan tip besar untuknya.

Hanya dalam beberapa hari, berita tentang seorang pramusaji pria tampan di restoran cepat saji tersebar luas di media sosial, terutama di lingkungan kota Torben. Hal itu membuat restoran cepat saji itu menjadi semakin ramai dan terkenal. Berita tersebut pun tidak lama sampai di ponsel Bella yang langsung memberitahukan hal tersebut kepada Grace yang hampir tidak pernah bermain media sosial.

Dengan kunci cadangan, Adro membuka pintu rumah Grace. Hari sudah gelap dan ia tahu gadis itu sudah pulang.

“Hai,” Sapa Grace langsung begitu pintu rumahnya terbuka.

Adro tersenyum lembut. “Terima kasih sudah menungguku hingga jam segini,”

Grace menggeleng. “Tidak masalah. Aku juga baru selesai mandi. Makan malamnya masih hangat, jadi kita bisa langsung makan jika kau mau,”

“Tentu,” Jawab Adro seraya meletakkan ponsel dan dompetnya di atas meja sebelum mencuci tangan.

“Eum… Apa kau baik-baik saja?” Tanya Grace begitu Adro telah duduk di kursi konter. “Kau terlihat lelah, maksudku, jauh lebih lelah dari biasanya,”

Menghela panjang, Adro tersenyum kaku dan mengangguk. “Aku memang agak lelah,”

“Apakah pekerjaannya sangat berat? Aku dengar restoran itu menjadi lebih ramai akhir-akhir ini – di saat itu memang ramai sebelumnya,”

“Sebenarnya pekerjaannya tidak berat sama sekali. Namun karena para wanita itu terus memanggilku dan aku mau tidak mau harus menanggapi mereka, aku merasa jiwaku jadi agak lelah,” Jelas Adro sambil tertawa kecil.

“Itu pasti sangat melelahkan. Bella berkata bahwa kau cukup viral di media sosial dan banyak orang berfoto denganmu,”

“Meski begitu, bekerja di dunia ini sangat menarik. Di duniaku, rakyatku juga selalu menyorakiku, namun bedanya, mereka tidak berani mendekat karena aku adalah pangeran. Menyapa para tamu restoran dan melihat senyum mereka menyadarkanku bahwa aku seharusnya bisa lebih dekat lagi dengan rakyatku,” Tutur Adro.

“Ohya, besok adalah hari ujian terakhirku. Setelahnya, waktuku sudah benar-benar bebas, jadi kita bisa pergi ke perpustakaan lagi,” Jelas Grace.

“Oh, benarkah? Itu bagus,” Sahut Adro asal sebelum menyuap makan malamnya. Pekerjaannya beberapa hari ini membuatnya benar-benar melupakan soal tujuannya untuk mencari jalan pulang.

“Aku bosan harus pergi ke perpustakaan terus,” Ucap Adro tiba-tiba sambil menusuk-nusuk mashed potato-nya dengan garpu.

“Hm?” Grace menaikkan wajahnya untuk menatap Adro. “Eum, baiklah. Apakah kau ingin mencarinya di rumah saja lewat internet?”

“Bisakah kita berlibur dengan benar?” Tanya Adro.

“Apa?” Grace mengerutkan keningnya.

“Ya, selama ini kita menggunakan waktu liburmu untuk mencari cara membawaku kembali. Aku pikir bukan hanya diriku yang merasa bosan dengan itu. Bukankah berlibur artinya kita harus bersenang-senang tanpa beban? Aku ingin kita melakukan Berlibur itu dengan benar. Sekarang aku sudah memiliki penghasilan sehingga tidak akan membebanimu lagi. Aku ingin mengunjungi tempat yang menyenangkan bersamamu,” Jelas Adro.

“O-oh… Baiklah, aku mengerti,” Sahut Grace pelan.

Ya, itu memang tidak mengherankan mengapa Adro merasa bosan. Memang benar bahwa mereka selalu menghabiskan waktu liburan untuk pergi ke perpustakaan, menjelajahi internet, dan mengunjungi mansion terbengkalai itu demi mencari jalan pulang Adro. Sayangnya, itu semua tidak membuahkan hasil. Adro pasti merasa suntuk atas semuanya, terlebih sekarang ia telah bekerja.

Meski Grace merasa khawatir pada Adro yang nampak seakan hampir melupakan keinginannya untuk kembali, ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkitnya karena teringat kejadian ketika Adro menjadi marah karena ia mengingatkan agar pria itu tidak putus semangat untuk mencari jalan pulang.

“Apakah kau suka melihat ikan-ikan?” Tanya Grace dengan wajah berbinar.

“Ikan-ikan? Seperti di pasar?” Adro mengerutkan keningnya.

Grace tertawa kecil. “Bukan ikan itu yang aku maksud. Di dekat pantai, ada taman hiburan Aquarium raksasa di mana kita bisa melihat biota-biota laut. Menurutku tempat itu cukup menyenangkan,”

“Jika menurutmu begitu, maka kita harus pergi ke sana,” Jawab Adro, ikut tersenyum melihat wajah bersemangat Grace.

***

“Mr. Willis membungkus ini untukmu,” Adro menunjukkan sebuah kantung plastik pada Grace.

“Ah, dia baik sekali meski aku belum pernah bertemu dengannya. Apakah aku harus turun sebentar untuk menyapa Mr. Willis?” Grace mengintip isi kantung bening tersebut.

“Tidak perlu. Restoran sedang ramai,” Jawab Adro seraya menyalakan mesin mobil.

“Aku senang kau dikelilingi oleh orang baik,” Grace tersenyum.

Adro tertawa kecil. “Aku menganggap itu sebagai rasa berterimakasih. Kehadiranku mendongkrak omset penjualan restorannya,”

“Tapi ia sangat perhatian hingga sering membungkuskan salad untukku. Ia pasti sangat perhatian padamu hingga turut mempedulikan orang rumahmu,”

“Hm… Itu mungkin karena aku selalu membahasmu di tempat kerja. Aku mengatakan bahwa kau sangat menyukai salad restoan mereka,” Adro menggidik bahu.

“Kau… sering membahasku?” Grace menunjuk dirinya sendiri.

Adro mengangguk ringan. “Itu benar. Aku berkata bahwa aku memiliki seorang adik perempuan di rumah. Itu tidak apa, ‘kan? Aku tidak mungkin membahas dunia asalku pada mereka jika mereka bertanya tentang keluargaku,”

“I-itu benar. Tentu tidak apa, kau bisa menyebut namaku pada mereka, selagi kau terus membawakan salad,” Grace tertawa kecil.

“Tentu saja, Grace,” Adro mengusap kepala gadis di sampingnya.

‘Itu benar. Tentu Adro hanya akan menyebut namamu karena seseorang bertanya tentang keluarganya. Itu bukan karena kau seistimewa itu baginya, Grace,’ Pikir gadis itu.

***

Selama hidupnya, Adro tidak pernah berenang di lautan lepas – Ia hanya berlayar di atasnya. Tidak ia sangka, lautan menyimpan berbagai ikan dengan beragam jenis yang unik. Ia juga tidak pernah membayangkan bisa berjalan di lorong kaca yang dikelilingi oleh laut buatan dengan banyak ikan berenang di atasnya.

“Adro! Lihat kemari!” Seru Grace dengan kamera di depan wajahnya.

“Apa?” Adro tersenyum menatap Grace yang berdiri di hadapannya dan mulai melangkah mundur.

“Aku akan memotretmu. Cahaya biru di sini bagus sekali,” Ucap Grace sembari mengatur frame tangkapan kameranya. “Bergayalah,”

Tertawa kecil, Adro menurut untuk berpose di depan aquarium besar di belakangnya, dan membiarkan Grace mengambil beberapa gambarnya.

“Wah… Cahayanya membuatmu terlihat semakin keren!” Gumam Grace sembari menggeser-geser layar kameranya untuk melihat semua hasil jepretannya yang kebanyakan adalah foto Adro.




Komentar