Langsung ke konten utama

40. Sebuah Penawaran // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Di sebuah restoran yang dikelilingi oleh jendela besar menghadap taman bunga, Grace dan Adro memutuskan untuk mengisi perut mereka sekaligus mengistirahatkan kedua kaki mereka setelah berjam-jam berjalan dan bermain di taman luar wahana aquarium.

“Tempat ini sungguh menakjubkan,” Ucap Adro.

“Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan banyaknya taman hiburan besar di kota-kota besar dan negara lain,” Sahut Grace.

“Ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Rasanya aku tidak pernah merasa sesenang ini selama hidupku – Ini adalah sebuah perasaan yang baru,” Lanjut Adro dengan sedikit bergumam dan pandangan terjatuh ke meja.

Tertawa kecil, Grace menanggapi, “Jangan berlebihan. Aku yakin itu karena ini adalah hal baru bagimu. Kau tadi berkata bahwa kau belum pernah menyelam di laut, ‘kan?”

Terdiam sejenak, Adro mengangguk kecil seraya bergumam, “Mungkin kau benar,”

Meski berkata begitu, Adro memiliki keraguan tidak nyaman di pikirannya karena selama hidupnya, ia telah berpetualan ke berbagai negri, melewati laut, lembah, dan pegunungan. Namun, rasa bahagia yang tengah ia rasakan sekarang entah mengapa terasa berbeda. Apakah melihat biota laut dan tempat menakjubkan barusan memiliki arti sebesar itu hingga membuatnya merasa seperti ini?

Lalu, Grace menarik kursinya lebih dekat dengan meja bundar di tengah mereka. “Bagaimana? Apa kau menyukai restoran ini? Saat itu, Sarah membawa kami ke sini. Makanannya sedikit mahal namun pemandangannya bagus,”

Adro tersadar dari lamunannya, dan mengangguk. “Tempat ini bagus – terlihat agak mirip dengan rumah kaca di istanaku,”

“Kau memiliki rumah kaca seindah ini di istanamu?” Kedua mata Grace membesar.

“Aku memiliki beberapa, dan beberapa itu lebih besar dari restoran ini,” Sahut Adro. Lalu ia tersenyum tipis. “Aku harap aku bisa menunjukkannya padamu karena kau terlihat menyukai tempat seperti ini,”

“Ah… Aku tidak-“

“Permisi. Boleh aku mencatat pesananmu?”

Kalimat Grace terpotong oleh seorang pramusaji tiba-tiba menghampiri meja mereka. “Oh, ya, aku akan memesan…”

Di sisi lain meja, Adro duduk diam memperhatikan Grace yang tengah berbicara dengan pramusaji. Tempat ini tidak silau karena matahari tidak lagi terik. Namun, ia mendapati cahaya hangat namun menyilaukan seakan menerpa Grace. Pergerakan gadis itu seakan melambat dan seluruh suara di sekitarnya memudar.

‘Apakah otakku bermasalah? Atau ini karena… dia?’ Pikir Adro.

Selama hidupnya, Adro memang banyak berpetualang dan menemukan hal-hal menakjubkan. Namun, ia selalu melakukan perjalanan seorang diri atau bersama anak buahnya yang adalah laki-laki. Apakah kali ini ia merasa berbeda karena Grace adalah seorang perempuan? Meski menyenangkan, petualangan yang biasa ia lakukan terasa dingin, sedangkan kali ini, ia ditemani oleh sosok Grace yang hangat dan baik.

“Adro,”

“Ya?” Adro mengerjap.

“Apa yang ingin kau pesan? Apa kau perlu dijelaskan?” Tanya Grace sebelum melirik buku menu satunya lagi yang berada di bawah tangan Adro.

“Oh, ya. Aku ingin memesan yang sama sepertimu. Itu terdengar enak,” Jawab Adro cepat.

“Ba-baiklah,” Grace lalu menoleh pada pramusaji. “Tolong jadikan pesanannya dua,”

“Baik. Kami akan segera mengantarnya. Terima kasih,” Ucap pramusaji itu sebelum meninggalkan meja mereka.

“Apa kau baik-baik saja, Adro?” Tanya Grace segera. “Tadi aku memanggilmu beberapa kali namun kau malah melamun. Apa kau merasa tidak nyaman atau sakit?”

Adro tertawa kecil. “Aku tidak apa. Tapi kau benar bahwa aku sedang melamun tadi. Aku berpikir untuk meminjam kameramu dan mencoba memotretmu karena aku menyadari bahwa sejak tadi kaulah yang selalu memotretku,”

Ikut tertawa, Grace menggoyangkan kedua tangannya di depan dada. “Itu tidak perlu. Aku tidak biasa memotret diriku sendiri dan bergaya untuk dipotret oleh orang lain, apalagi dari jarak dekat seperti ini. Lagipula, wajahku kurang menarik di foto dan poseku selalu terlihat canggung,”

“Ayolah. Itu tidak masalah. Lagipula, fotonya akan kita simpan sendiri, bukannya dipajang di tengah kota, ‘kan?” Adro menjulurkan tangan panjangnya untuk meraih kamera yang tergeletak di depan Grace. “Aku sungguh ingin mencoba memotretmu,”

“Haduh… Aku sungguh tidak percaya diri. Aku malu jika harus bergaya di depanmu dan tempat umum seperti ini,” Grace mengusap lengannya.

Adro tertawa kecil. “Itulah dirimu; gadis cantik yang tidak percaya diri. Dengan kau terang-terangan mengatakannya, aku jadi lebih bersemangat untuk memotretmu agar kau menjadi terbiasa dan belajar untuk percaya diri,” Ucapnya seraya mengutak atik kamera itu sejenak. Lalu, ia tersenyum tipis. “Ternyata ini cukup mudah digunakan. Aku bahkan tidak perlu bertanya lagi padamu cara menggunakannya,”

“Kau memang hampir tidak pernah lagi bertanya padaku tentang elektronik apa pun, bahkan yang baru sekalipun,” Gumam Grace.

“Haha… Itu ada benarnya,” Tawa Adro sebelum mengangkat kamera itu di depan wajahnya. “Sekarang, kita lihat apakah kamera ini dapat menangkap apa yang aku lihat,” gumamnya.

“Tu-tunggu,” Grace bergerak tidak nyaman.

“Tanganku akan terus berada di posisi ini hingga kau siap,” Ucap Adro dengan tawa kecil.

“Kau… Ini adalah pemaksaan, kau tahu?” Grace mendengus.

“Tersenyumlah, Grace,” Pinta Adro, tidak menghiraukan protes gadis itu.

Grace menoleh ke sekeliling, merasa seakan semua orang di sana sedang menatapnya penuh penilaian buruk. Namun, ketika Adro memanggil namanya lagi, ia menyadari bahwa itu semua hanya perasaannya saja. Nyatanya, tidak ada yang mempedulikan mereka.

Seperti yang Adro katakan, titik-titik kepercayaan diri mulai berkumpul di dalam diri Grace. Itu benar. Untuk apa ia merasa tidak percaya diri di sini, di saat orang-orang tidak meletakkan perhatian mereka padanya? Teman-teman kampusnya yang bagai palu yang akan memukul kepalanya setiap kali ia bersikap sedikit saja menonjol atau bahkan hanya dengan terlihat bahagia tidak ada di sini. Namun, bahkan jika mereka ada di sini, tidakkah Adro akan melindunginya?

“Grace, tersenyumlah. Kau terlihat menawan,” Ucap Adro lembut, menyadari keraguan pada wajah gadis itu.

Kalimat Adro membuat Grace membuang semua rasa takutnya. Rasa percaya diri itu bagai menarik kedua sudut bibirnya untuk perlahan melengkungkan sebuah senyuman.

“Bagus, tersenyumlah lebih lebar,” Adro tertawa kecil seraya menatap layar kamera di tangannya.

Senyum malu-malu tertarik semakin lebar hingga senyuman tersebut juga nampak pada kedua mata Grace. Ekspresi ragu pada wajahnya berubah menjadi lembut dan tidak ada lagi ketegangan pada lehernya. Lagi-lagi, pemandangan itu terlihat bersinar di mata Adro hingga membuatnya secara naluriah ikut tersenyum semakin lebar ketika menekan tombol jepret kameranya.

“Gadis manisku,”

***

“Kerja bagus hari ini, Adro,” Ucap Mr. Willis. Namun, Adro yang sedang mengelap meja konter tidak menanggapinya.

“Adro?” Ia menepuk pundak pria itu.

“Oh, ya, Mr. Willis?” Adro berbalik.

Mr. Willis tertawa kecil. “Apakah kau mengelap meja sambil melamun? Ini adalah minggu yang melelahkan, bukan? Aku melihatmu melakukannya selama dua hari ini, sepertinya,”

Adro tersenyum, lalu menggeleng. “Aku memang sedang memikirkan sesuatu. Apa kau butuh sesuatu?”

“Aku harap itu bukan sesuatu yang serius. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kita bisa pulang lebih awal hari ini karena ternyata orang tambahan yang baru masuk tadi siang sangat membantu. Aku akan menunggumu di kantorku untuk gaji mingguanmu,”

Adro mengangguk. “Baik. Aku akan ke sana setelah membantu yang lain membereskan meja – Masih ada beberapa pelanggan di sana,”

“Kau bekerja sangat giat. Terima kasih,” Mr. Willis menepuk pundak Adro sebelum pergi ke ruangannya.

Meletakkan lap kotor di keranjang cucian, Adro menghela panjang. Itu benar bahwa akhir-akhir ini ia sering tenggelam di dalam pikirannya sendiri ketika pekerjaan sudah agak senggang seperti sekarang. Sejak berlibur seharian bersama Grace, entah mengapa ia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu.

‘Kenapa wajahnya yang tersenyum itu selalu muncul di pikiranku? Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana cara memunculkan senyuman yang sama lebih banyak lagi?’

Adro tidak mengerti mengapa ia harus merasa seperti ini. Ia menyadari bahwa ia menyayangi Grace. Ia ingin melindungi gadis itu seperti ia selama ini melindungi semua anak buah dan keluarganya.

Namun, apa maksud dari perasaan mengganjal yang tidak dapat dijelaskan ini? Dari mana datangnya sensasi ini? Apa penyebabnya? Apakah itu karena Grace yang menyelamatkannya? Apakah ini rasa berterimakasih atau ketergantungan?

“Maaf, apa kau sudah selesai? Kebetulan kami akan tutup sebentar lagi,” Adro menghampiri meja terakhir yang masih terisi.

“Oh, ya,” Jawab pria berkepala botak licin dengan kacamata yang duduk sendirian di meja itu. “Maaf, tapi bolehkah aku bicara denganmu sebentar?”

Ado mengerutkan keningnya. “Tentang apa?”

“Aku akan menjelaskannya lebih rinci secara cepat agar tidak membuang waktumu. Apakah kau bisa duduk sebentar?” Tanya pria itu. “Sebenarnya, aku sengaja menunggu di sini agar bisa bicara denganmu,”

Menoleh ke sekeliling sekilas, Adro duduk berhadapan dengan pria itu, lalu bertanya tanpa melepas kerutan di keningnya, “Baiklah,”

Pria botak itu tersenyum semangat sembari menjulurkan tangannya ke depan. “Perkenalkan, namaku Johan Tryvon, wakil direktur dari Sky Talent Agency,”

“Aku Adro Alymer Groendez,” Adro menjabat tangan pria itu. “Apa yang ingin kau bicarakan, Mr. Tryvon?”

“Aku telah meletakkan perhatianku padamu selama beberapa hari ini, dan kini aku yakin bahwa kau adalah orang yang tepat untuk menjadi model khusus bagi beberapa klien desainer kami. Aku menawarkanmu untuk bekerja sebagai model terkontrak kami secara eksklusif,”




Komentar